
Semua pelayat sudah pergi meninggalkan pemakaman hanya tersisa Beno dan Cici saja yang masih setia duduk di dekat pusara. Beno menangis seperti anak kecil kehilangan mainan kesayangannya.
"Udahlah Ben, kasihan Nana kalau kamu nangis terus, kamu nggak lihat gimana bibik pingsan terus dari tadi, nggak cuma kamu doang yang kehilangan, bibik dan Diki juga lebih kehilangan satu-satunya anggota keluarga., harusnya kita yang beri mereka semangat, jangan gini dong Ben, gue jadi pengen nangis lagi, udah ya kita pulang" rayu Cici.
"Gue punya hutang budi sama Nana, dia pernah bayarin utang emak gue di warung padahal dia nya sendiri kelaparan dan butuh makan." ingatan Beno melayang pada beberapa tahun lalu saat mereka masih SMP.
Nana tanpa sengaja bertemu ibu Beno yang sedang di tagih hutangnya oleh pemilik warung, saat itu Nana hendak membeli persediaan makanan karena baru saja mendapatkan kiriman dari kampung dan baru saja beasiswanya cair. saat melihat ibu Beno di bentak karena belum bisa bayar hutang, Nana merasa kasihan dan menanyakan pada ibu pemilik warung berapa hutang yang dimiliki oleh ibu Beno.
"Hutangnya 500 ribu neng, ini udah nunggak enam bulan belom di bayar" ujar ibu pemilik warung
Nana melihat kedalam tas selempang nya ada 10 lembar uang seratus ribuan, untuk membeli kebutuhan sekolah nya tiga ratus ribu, dan keperluan makan nya di kos selama dua bulan paling tidak empat ratus ribu sudah dengan uang sewa kos-kosan. masih tersisa tiga ratus ribu untuk membeli peralatan sekolah dan keikutsertaan lomba sains bulan depan. untuk makannya bulan depan belum tentu dapat kiriman lagi dari kampung. ya sudahlah.
"Ya sudah Bu, ini saya saja yang lunasin hutangnya, saya baru dapat rejeki banyak hari ini" ucap Nana mengambil uang nominal lima ratus ribu dari dalam tasnya dan memberikan pada sang pemilik warung.
"Emang Eneng kenal sama ibuk ini, kok situ yang mau bayarin?"
"Ibu ini pernah menolong saya Bu, tolong di terima ya, dan kalau bisa bungkus saja itu pesanan ibu ini biar saya bayar sekalian" ujar Nana membuat ibu Beno seketika terperangah tidak percaya pada Nana yang heroik. bahkan ia saja lupa pernah bertemu dengan gadis ini apa lagi menolongnya.
"Ini total semuanya 580 ribu ya sama belanjaan nya hari ini" ujar ibu pemilik warung menyerahkan bungkusan plastik yang berisi makanan dan beras. Nana menerima dan menyerahkan pada ibu Beno.
"Nak, terimakasih banyak, maaf sudah membuat kamu repot, ibu berhutang budi sama kamu, ibu akan ganti uang kamu hari ini" ucap ibu Beno sedih menitikkan air mata melihat betapa baiknya gadis di depannya ini.
Selang tiga Minggu setelah pertemuan mereka, Nana akhirnya bertandang kerumah Beno untuk kerja kelompok tugas akhir semester genap penaikan kelas. saat itulah Nana bertemu kembali dengan ibu Beno yang baru pulang dari memulung sampah. dari situ Beno tahu kalau Nana pernah menolong ibunya.
"Gue juga sedih Ben, kita semua sedih bukan cuma Lo doang, ayok pulang atau Lo mau tidur disini sama mbak Kunti yang duduk di samping Lo itu heh?" gertak Cici kesal karena Beno tak mau beranjak dari duduknya terlebih lagi matahari sudah mulai condong ke arah barat.
"Ck, ayo pulang" ajak Beno akhirnya karena memang takut dengan ancaman Cici. yang benar saja Beno memang tidak tahu kalau apa yang di katakan Cici adalah kebenaran yang dilihat di depan mata. mbak Kunti memang sedang duduk di samping Beno. ternyata ini kelebihan Cici selama ini tapi tidak satupun sahabat nya yang tahu. hihihi.
Mereka melangkah beriringan keluar area pemakaman. seorang supir yang sudah di amanah kan oleh mama Hanna rupanya sudah menunggu sejak tadi tidak jauh dari area pemakaman.
""Singgah dulu di masjid, sholat ashar ya, ini udah lewat Ashar setengah jam." ucap Cici
"Mandi dulu lah sembeb, mana gue nggak bawa baju ganti, cuma tas ini doang sama berkas-berkas gue."
"Nanti biar pak Mudin yang gue suruh beliin baju ganti buat Lo, tunggu aja di masjid"
"Pake duit Lo dulu ya, gue belom narik ATM, soalnya buru-buru berangkat tadi malam mana nggak sempat ngabarin emak juga gue."
"Emak Lo udah pulang duluan kali, dari abis subuh emak Lo di sini, tadi pulang di anterin Reno, kirain Lo kagak pulang"
"Abis mama bos maksa banget gue kirain boongan, pas di kirimin fotonya Nana gue langsung cabut urus visa dan penerbangan"
"Nasib Lo lah, ketinggian sih Lo punya cita-cita ke Oxpord segala kayak nggak ada kampus milenial aja di negeri sendiri"
"Sewot Lo, gini-gini gue terkenal seantero kampus"
"Terkenal jago makan, eh tapi Lo kurusan deh sekarang, apa jangan-jangan nafsu makan Lo ilang dalam sekejap?"
"Buset dah, gue makan kali, cuma agak di irit dikit karena di sana apapun harus ngirit, karena gue Nyambi kerja paruh waktu di sela kuliah buat nambah biaya hidup"
"Bukannya Lo dapet beasiswa, trus dapat dukungan sekaligus sokongan dana dari om Rudi si bos berlian?"
"Ya emang sih, tapi mau sampai kapan gue berharap sama om Rudi? uang dari om Rudi cuma gue pakai bayar diktat sama keperluan kuliah yang lain, kalau kebutuhan hidup sehari-hari gue nyari kerja paruh waktu lah"
"ahahahaha mana sempat gue mikirin cewek, lah gue sibuk kayak kipas angin muter-muter mulu"
"Kirain udah move on"
"Ck paan sih Lo, udah nggak bisa lah wong lagi hamil juga mana ada gue mau embat istri sahabat gue sendiri"
"Tuh nyadar, gue tahu Lo tipikal orang yang susah move on dan rela ngelakuin apapun, termasuk ngelepasin Kinara buat sahabat Lo sendiri"
"Aish kenapa Lo bahas yang sudah-sudah sih ci?"
"Ya nggak papa, cuma ngetes aja Lo masih ngarep apa kagak hahahaha"
"Buset dah, cepetan sana pergi sama pak Mudin cariin gue baju ganti sama Daleman sekalian"
"Yah Lo ngomong sama pak Mudin lah, gue juga nunggu disini kali, kan gue bawa baju ganti di mobil"
"Ah elah, masih aja Lo begitu amat ci, nyusahin tau nggak"
"Ribet amat hidup Lo, tinggal ngomong aja"
Sementara itu di rumah kontrakan yang di tempati Bu Halim dan Diki masih terlihat ramai dengan banyaknya ibu-ibu komplek dan beberapa alumni seangkatan Kinara dan adik kelas yang turut membantu untuk tahlilan nanti malam.
Rana-Rani juga sibuk membantu para ibu-ibu di dapur menyiapkan makanan untuk para tamu nanti malam. sedangkan bayi Bayu sedang bersama Bu Halim.
Kinara dan Azka izin pulang dan berjanji akan datang setelah sholat Maghrib.
Bu Halim masih saja bersedih dan tidak kuasa kala mengingat sang anak yang telah tiada. sejak kecil Nana memang sudah mandiri dan terampil berkat dukungan almarhum sang suami Nana akhirnya bisa bersekolah di kota sejak SMP bermodal nekat dan bantuan beasiswa karena ia murid berprestasi sejak SD.
Dulu saat Nana masih kecil almarhum pak Mulyana memang sempat merantau ke kota besar untuk memulai usaha nya. namun beberapa tahun kemudian ia akhirnya memilih pulang ke kampung dan membuka usaha disana karena tidak tega dengan kondisi ibu Nana yang saat itu tengah hamil Diki, terlebih Nana juga sering sakit-sakitan dan belum lagi nenek mereka juga sudah renta meskipun masih kuat bekerja.
Seiring waktu karena tempaan hidup yang begitu sulit Nana yang saat itu masih kelas dua SD akhirnya ikut bapaknya berjualan di pasar setelah pulang sekolah, meskipun bapaknya melarang dia tetap kukuh ingin membantu. meskipun begitu Nana tak pernah absen belajar. karena semangatnya yang tinggi itulah pak Mulyana akhirnya menghubungi kenalannya yang seorang guru di sekolah ternama di kota besar tempat ia mengais rezeki dahulu.
Perantara Pak Budi yang tidak lain adalah kepala sekolah SMA Harapan, akhirnya Nana mendapatkan bantuan beasiswa dari yayasan yang di naungi oleh KSW group yang tidak lain adalah perusahaan tuan Wibowo yang sudah di wariskan pada sang putri, Kinara.
Pak Mulyana menjanjikan Nana sekolah di kota di sekolah favorit asalkan Nana rajin belajar dan berprestasi dan selalu rendah hati pada siapapun. Nana menyanggupi dan membuktikan apa yang ayahnya minta.
Dan di saat semua keinginan dan cita-cita ayah dan anak itu belum terwujud, Tuhan lebih dulu memanggil mereka. tapi rekam jejak kebaikan pak Mulyana dan Nana masih teringat jelas bagi mereka yang mengenal dekat Nana dan pak Mulyana.
Sama halnya pak Budi dan semua guru serta staf disekolah, begitu mendengar Nana sakit keras pak Budi lah yang getol menggelontorkan dana untuk kesembuhan Nana bahkan rumah yang di tempati Bu Halim saat ini pun sebenarnya adalah rumah lama pak Budi yang sengaja di berikan pada keluarga Nana secara cuma-cuma tanpa sepengetahuan Bu Halim sendiri kecuali Diki yang memang sudah mengetahuinya sejak awal ia datang ke kota.
"Jasa bapakmu pada saya begitu banyak Diki, dulu saat saya masih susah karena baru lulus kuliah, beliau menampung saya di ruko yang ia sewa di kompleks pasar. bahkan bapakmu yang mencarikan saya lowongan kerja sesuai dengan ijazah saya, saat ada pengangkatan CPNS almarhum yang getol memberikan saya semangat agar saya mendaftar CPNS padahal saat itu saya sedang frustasi karena belum mendapatkan pekerjaan sama sekali, saya berhutang budi pada almarhum Ki, tolong kamu terima rumah yang saya berikan jangan di tolak atau saya akan menanggung rasa bersalah seumur hidup" ucap pak Budi kala itu.
"Bukde, Bayu mau saya mandikan dulu" ucapan Rana membuyarkan lamunan Bu Halim.
"Ehh iya ini mandikan disini saja ada kok kamar mandi di dalam" ujar Bu Halim menunjukkan arah kamar mandi di dalam kamar yang ia tempati.
"Bukde makan dulu ya, kata mas Diki belum makan seharian ya" ucap Rani yang masuk membawa nampan berisi makanan.
Bu Halim tersenyum bahagia, setidaknya setelah kepergian sang anak ada Rana-Rani yang bisa mengobati kesedihan nya. dan tentunya ia juga harus berterimakasih pada keluarga Kinara yang sudah mau susah payah memboyong satu-satunya kelurga yang ia miliki dari luar pulau.