KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
89 Malam Menegangkan II



Setelah semua anak-anak masuk ke dalam kamar, tuan Keenan dan Dokter Fritz mengajak tamu mereka ke teras depan. mereka tengah berbincang serius perihal kejadian barusan yg mereka alami.


"Maaf pak Keenan kalau boleh saya bicara" ucap Tetua adat


"Silakan pak"


"Begini pak, mungkin saja adek yang tadi itu masih ada hubungan darah dengan mendiang nenek buyut saya, kalau saya boleh cerita, dahulu kala nenek buyut saya menikah dan merantau ikut suaminya, pada saat Belanda masih menjajah, nenek saya dan suaminya masuk ke hutan larangan ini untuk bersembunyi, karena nenek sudah di bekali ilmu beladiri dan ilmu turunan nenek moyangnya, beliau nekat untuk membuat rumah di tengah hutan ini, dan bertapa selama 4o hari 40 malam sebelum mewujudkan keinginannya. sejak saat itulah desa ini ada adalah awal mula dari nenek saya dan suaminya"


"Yang saya dengar sebelum meninggal almarhum pernah berpesan pada almarhum bapak saya untuk mencari saudaranya dan memberikan kabar jika ia sudah meninggal. beliau ingin di kuburkan secara baik-baik dan secara Islam karena sebelum meninggal beliau sempat bertemu seorang kiyai dan mengucap dua kalimat syahadat untuk masuk Islam, nenek saya tidak mengenal tuhan yang di kenalnya hanya leluhur dan harus menyembah leluhurnya saja"


"Sudah bertahun-tahun almarhum bapak saya mencari saudara nenek saya, tapi tidak pernah berhasil hingga akhir hayatnya, dan tragisnya nenek saya meninggal gantung diri tepat di tempat adek tadi pingsan, sampai hari ini saya masih tidak tahu penyebab nenek saya gantung diri karena bapak tidak bercerita secara detail"


"Seperti itu rupanya, saya tidak tahu harus bicara apa pak karena kalau untuk hal mistis seperti ini sejak kecil saya tidak pernah tahu dan tidak percaya bukan berarti saya memungkiri mereka tapi kembali pada diri kita masing-masing, jika kita takut mereka akan lebih senang. itu saja sih yang saya dengar dari asisten saya dulu" ucap tuan Keenan


"Selama ini saya juga tidak tinggal di sini kecuali ada tamu yang mengharuskan menginap baru saya akan disini, saya kira bapak tahu akan hal itu, selain itu saya juga menjaga amanat bapak untuk tidak menempatkan siapapun di dalam kamar tersebut." ujarnya lagi


"Pak Keenan benar, maaf jika sudah puluhan tahun disini justru saya tidak bercerita banyak tentang asal usul desa ini dan semua aturan yang harus di patuhi oleh warganya" ujar tetua adat


"Tidak apa-apa pak saya cukup tahu, karena dulu asisten saya pernah bercerita pada saya, saya tidak menampik jika selama ini saya juga sering di hantui bahkan melihat mereka, terlebih saat rumah ini saya beli, saya seperti di teror terus menerus, beruntung saat itu saya bertemu besan saya di kabupaten sebelah yang seorang kiyai, saya mendapat doa dari sana dan sejak saat itu tidak pernah lagi di hantui"


"Emm begini saja pak, maaf jika ini sekiranya menyinggung, sebenarnya saya sudah lama berniat untuk kembali ke negara saya, setelah istri saya meninggal, adik saya menghubungi jika ia kelelahan mengelola bisnis keluarga yang di wariskan pada anak saya Fritz, karena yang bersangkutan belum mau mengambil kendali bisnis keluarga, dan ini sudah saya putuskan jika saya akan ikut pulang bersama keponakan saya besok lusa" ucap tuan Keenan


"Sepertinya besok pagi saja kita pulang pa, aku kasihan sama anak-anak" sahut Fritz


"Sebaiknya memang seperti itu pak Dokter lebih cepat lebih baik, kasihan mereka jika terlalu lama disini, saya berniat akan mencari tahu informasi adek tadi, siapa tahu apa yang menjadi firasat saya benar adanya" ujar tetua adat


"Darimana bapak berkesimpulan seperti itu?" tanya dokter Fritz


"Ini hanya firasat saja pak belum tentu benar, hanya Tuhan saja yang tahu"


"Bagaimana jika malam ini kita ronda saja bersama disini, khawatir jika salah satu dari kita ada yang pulang kejadian seperti tadi terulang lagi."ujar kepala desa


"Saya setuju pak desa" usul Dokter Fritz


Malam semakin merangkak naik, tuan Keenan bersama Rojali, tetua adat dan kepala desa masih bercengkerama di teras, sedangkan dokter Fritz ikut bergabung dengan Azka dan yang lainnya di kamar.


Ting tong Ting tong


Ting tong Ting tong


Jam dinding berbunyi menandakan waktu tengah malam pukul 00.00. dokter Fritz terjaga tiba-tiba, ia lihat ke kiri dan kanan, nampak anak-anak tertidur lelap tanpa beban.


Dokter Fritz memeriksa ponsel, tak lama terdengar suara kaki melangkah melewati kamar hingga tak terdengar lagi. dokter Fritz melangkah menuju pintu hendak memeriksa keadaan, namun langkahnya terhenti saat mendengar Isak tangis dari arah kamar samping yang ditempati Kinara dan kawan-kawan.


Dokter Fritz menajamkan pendengarannya di dinding, perasaan tiba-tiba tak enak, ia segera membangunkan Azka dan yang lainnya. setelah beberapa menit mereka masih tidak ada perubahan tetap terlelap seolah tidak merasakan apapun. dokter Fritz mengucap istighfar sebanyak-banyaknya, suara tangis itu semakin kencang membuatnya semakin ketakutan.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar" mengucap dengan suara lantang sembari menepuk wajah Azka dan yang lainnya dengan keras seketika mereka tersadar. keringat memenuhi wajah dan tubuh Dokter Fritz.


"Om bule kenapa sih pake nepuk pipi gue keras banget panas lagi" keluh Azka


"Astaghfirullahhaladzim, kalian dari tadi di bangunin susah amat, gue pake jurus kyai Hasyim baru kalian bangun, sepertinya kalian kena sirep ya"


"Ngaco deh om, ada apa sih?"


"Gue denger suara orang nangis di kamar sebelah semakin keras makanya gue bangunin, ayo keluar, Beno, Reno, Fikar kalian ke depan liat papa apa mereka semua masih di sana, Aldo, Azka Lo ikut gue ke kamar sebelah". titah Dokter Fritz.


"Siap" jawab mereka serempak kemudian beranjak ke arah tujuan masing-masing sesuai perintah dokter Fritz.


"Soal kenapa pintunya malah ke kunci dari dalem ini?" keluh Azka


"sini gue cobain" giliran Aldo yang mengambil alih


"Kita pake jurus biasanya Ka, ayo satu dua.. ti.... baru saja Aldo hendak mengambil ancang-ancang tiba-tiba


Krieet


Pintu terbuka muncul Nana dengan muka bantal dengan tatapan heran melihat Azka,Aldo dan dokter Fritz ada di depan pintu dengan wajah tegang.


"Kalian kenapa?"tanya Nana


belum sempat menjawab Azka langsung menerobos masuk dan melihat sang isteri yang tidur terlelap dengan posisi sujud.


"Ra bangun sayang" Azka mengguncang tubuh Kinara yang tertutup mukenah. tak lama Kinara bangun dan terkejut melihat Azka ada di sampingnya dengan muka cemas.


"Kalian nggak papa semua kan?" tanya Aldo yang juga menerobos masuk, semua terbangun dan terkejut melihat ada tiga pria di dalam kamar mereka.


"Kalian kenapa sih kayak orang ketakutan gitu?" tanya Nana yang kembali masuk ke dalam kamar.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja" ucap dokter Fritz


"Emang ada apa sih pak dokter?" tanya Nana lagi yang mulai merasa jengah karena pertanyaannya tak mendapat respon


"Kalian nggak papa?" tanya Om Keenan yang ada di depan pintu, semua yang ada di kamar merasa bingung. tak lama muncul tetua adat, kepala desa dan Rojali yang menyusul masuk ke dalam kamar.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya kepala desa


"Kamu baik-baik saja pak, ada apa ya?" tanya Ririn heran


"Apa papa punya jam klasik?" tanya Fritz


"Jam klasik? nggak ada tuh, dari dulu jam ya cuma satu di rumah nggak pernah ganti kok" ucap tuan Keenan


"Trus tadi jam yang bunyi bukannya jam klasik yang tiap tengah malam pasti bunyi?"


"Kamu ngaco ya Iz, disini nggak ada jam klasik, dari awal renovasi nggak ada satupun papa rubah dari rumah ini kecuali dindingnya saja, kalau di gudang belakang sana memang ada bekas jam tak terpakai"


"Jadi tadi yang bunyi apa pa? trus yang jalan di depan kamar tadi siapa?"


"Sudah - sudah pak Keenan dan pak dokter tolong kalian tenang dulu, ini malah saya yang bingung" tetua adat melerai ayah dan anak.


"Begini saja kalau saya boleh usul bagaimana kalau kita semua ke rumah pak Keenan saja tanpa terkecuali, nanti kita bahas semua disana" usul kepala desa


Pada akhirnya semua yang ada di rumah itu menyetujui usul kepala desa dan bergegas membereskan semua barang bawaan mereka.


"Sebenarnya ada apa pak dokter?" tanya Rojali saat mereka sudah tiba di rumah tuan Keenan yang biasa di tempati.


"Iya ada apa sebenarnya?" tanya tetua adat yang sejak tadi sudah merasa gelisah.


Dokter Fritz akhirnya menceritakan secara detail apa yang dia alami tadi secar runtut.


"Sepertinya memang saya harus melakukan amanah almarhum pak Keenan, saya berencana akan ikut ke desa tempat tinggal dek Nana siapa tahu disana saya bisa mendapatkan jawaban dari teka-teki selama ini, " ujar tetua adat menjeda sejenak ucapannya.


"Sejak lama saya juga di hantui oleh mendiang nenek buyut saya, hampir setiap malam saya terbangun dan ketakutan setiap melihat penampakan pocong yang menggantung di langit-langit kamar saya, saya bingung harus mencari kemana keturunan dari saudara nenek saya, almarhum bapak saja tidak berhasil lalu saya harus mencari kemana lagi, sejak kedatangan mereka perasaan saya semakin gelisah terlebih lagi pada saat saya melihat tanda hitam di dahi dek Nana sama seperti tanda yang di miliki bapak dan nenek saya."


"Ini sudah puluhan tahun berlalu lalu bagaimana caranya kita memandikan jenazah yang sudah sisa tulang belulang?" tanya Tetua adat gelisah.


"Maaf pak kalau boleh saya usul bagaimana kalau besok bapak saya temani untuk mengantar dek Nana ke desanya sekaligus mencari informasi tentang keluarganya. tapi sebelum itu kita mampir dulu di pesantren rumah kakak besan saya di kabupaten sebelah, sekiranya disana kita bisa mendapatkan petunjuk" usul tuan Keenan di angguki oleh yang lain.


"Baiklah saya setuju, besok pagi saya akan bawa anak istri saya turun ke kota, saya minta untuk tinggal sementara di rumah adik ipar saya"ucap tetua adat


"Saya rasa itu bagus pak, sebaiknya kita berjaga dulu,besok pagi kita putuskan semuanya" usul pak desa.