KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 86



Reno termenung cukup lama di pos satpam. entah sudah ke berapa kalinya ia membaca ulang pesan yang di kirimkan sahabat nya setengah jam lalu.


Pak satpam yang sejak tadi tidur saat Reno datang rupanya sudah terbangun karena suara ponselnya yang berdering sangat keras.


Reno melihat satu orang satpam lagi datang dan menghampiri mereka. lalu duduk di samping Reno.


"Mas nunggu siapa?" tanya pak satpam yang baru tiba.


"Saudara saya di rawat di dalam pak, saya tadi keluar cari makanan, bapak ganti shift?" Reno menoleh ke arah pak satpam yang sibuk menuliskan sesuatu di sebuah buku folio tebal.


"Iya saya gantikan teman yang tadi keluar terima telpon, oh ya saya mau pesan kopi dulu ke kantin, mas mau juga?"


"Saya tadi pagi sudah ngopi pak, terimakasih tawarannya, biar saya aja yang jaga pos, kalau bapak lapar sekalian aja makan" ucap Reno memberi usul.


"Wah, terimakasih ya udah saya ke kantin dulu, jaga pos ya sebentar saja"


"Oke pak"


Reno kembali termenung saat pak satpam sudah berlalu. angannya jauh melayang dan beberapa kali ia menghela nafas berat. seakan tidak percaya dengan isi pesan Beno.


hampir empat tahun berlalu setelah tragedi menyakitkan itu terjadi, tiga tahun lalu memang mbak Vivi pernah mengatakan hal yang sama seperti Beno. tapi ia tak pernah menyangka jika hingga detik ini Keisya rupanya masih menunggunya.


Masih pantaskah ia hadir dalam hidup Keisya setelah apa yang pernah ia lakukan pada wanita itu di masa lalu?


"Eh mas bengong aja" tegur pak satpam yang datang membawa secangkir kopi dan dua bungkus nasi uduk.


"Astaghfirullah pak ngagetin saya aja" ucap Reno mengelus dada. bibir nya menyunggingkan sebuah senyum.


"Ini ada nasi uduk mas, kita makan bareng ya" kata pak satpam menawarkan nasi uduknya pada Reno.


"Wah saya masih kenyang ini pak, gimana kalau nanti buat bapak makan malam saja?" kata Reno mengusulkan


"Hem, nanti malam sudah ada jatah nya pak dari kantin, ini mas bawa aja lah" ujar pak satpam menolak.


"Jangan gitu pak, kemarin malam saya lihat bapak kelaparan sekali, makan cuma sama gorengan pemberian keluarga pasien yang membesuk" ucap Reno membuat pak satpam itu terdiam


"Udah nggak papa buat mas aja" ucap pak satpam ngotot


"Pak, dalam kondisi begini bapak masih mikirin orang lain, apalagi bapak tugas sampai pagi, nanti malam saya temani ya pak, ini buat anak bapak saja nanti kalau datang kesini ikut bantuin jaga pos" kata Reno membuat pak satpam yang sudah berusia setengah baya itu berkaca-kaca.


"Mas kenapa baik sekali sama saya?" tanya pak satpam itu setelah menyesap kopinya


"Karena kewajiban dari Tuhan pak, hehehe, saya sudah disini selama lima hari dan baru dua hari lalu saudara saya siuman, setiap malam saya keluar duduk di depan ruang tunggu sana depan pintu masuk, saya selalu lihat anak bapak datang kalau malam sambil bawa tas dan buku, maaf pak kalau saya lancang dan kalau subuh bersih-bersih semua ruangan rumah sakit" kata Reno jujur dengan.


Pak satpam yang mendengar ucapan Reno langsung menunduk sedih dan menyeka sudut matanya yang berair.


"Terimakasih mas sudah perhatikan kami dan peduli, istri saya sudah meninggal dua tahun lalu, anak saya tiga orang, kami tinggal bersama ibu saya yang sudah tua, kalau malam anak saya yang pertama ikut menginap disini, kedua adiknya dirumah" cerita pak satpam


"Ya gaji UMR mas, tapi semua itu cuma cukup pakai bayar kontrakan dan biaya sekolah anak-anak, untuk makan sehari-hari kalau nggak cukup ya kami minjam dulu di warung, nanti gajian di bayar"


"Masak sih pak?"


"Iya mas, saya cuma lulusan SD, dulu salah satu dokter di rumah sakit ini mempekerjakan saya di rumahnya karena saya bisa beladiri, tapi setelah beliau pindah tugas di kota lain, saya di oper ke rumah sakit ini dengan bayaran sesuai UMR." cerita pak satpam


"Bapak sudah sabuk apa?"


"Sabuk hitam"


"Kenapa bapak nggak melatih anak-anak aja, buka kursus gitu"


"Trauma mas, saya pernah di fitnah ngajarin anak jadi melawan sama orang tua, padahal mah anaknya sendiri yang begajulan, malah orang tuanya nyalahin saya, katanya gara-gara belajar beladiri sama saya. orang tua nya aja nggak tahu gimana pergaulan anaknya" kata pak satpam mengenang.


"Hahaha lucu juga kisahnya pak, menginspirasi sekali, memang ya terkadang ada orang tua yang terlalu percaya sama anak dan selalu menganggap benar perkataan anak meski anak itu berbohong, dan setiap kali anak melakukan kesalahan pada orang lain, justru anak selalu di bela, saya menghadapi hal seperti itu di sekolah pak setiap hari" kata Reno


"Iya mas terkadang juga banyak orang tua yang hanya mau benarnya saja, makanya anak-anak saya selalu saya disiplin kan untuk selalu jujur dalam bersikap" tambah pak satpam


"Oh ya pak saya permisi dulu ini sudah satu jam lebih say keluar, nanti kalau saudara saya nyariin gimana, nanti malam saya temani ya pak disini" ucap Reno pamitan pada pak satpam.


"Oke mas saya tunggu" ucap pak satpam tersenyum senang karena mendapatkan teman baru.


****


"Kamu sudah yakin nak?" tanya tuan Wibowo pada Keisya


"Insha Allah ayah, aku menerima mas Hanan" ucap Keisya meyakinkan ayahnya juga dirinya sendiri.


"Ya sudah, nanti biar ayah yang bicara dengan Gus Rohid, sebulan yang lalu memang Gus Rohid pernah menanyakan kamu tapi ayah cuma bilang mau tau gimana keputusan kamu dulu, ayah nggak mau salah langkah lagi kei, kamu berhak menentukan masa depan mu, dengan siapa pun pilihanmu ayah dan semua keluarga mendukung dan mendoakan" ucap tuan Wibowo menepuk pundak anaknya.


"Sebulan yang lalu memang mas Hanan pernah nanyain langsung ke aku, tapi aku cuma jawab belum siap untuk menikah, kalau dia mau mencari wanita lain silahkan saja"


Tuan Wibowo mendnegua untuk kesekian kalinya. anaknya ini benar-benar mirip dengannya yang sangat sulit untuk move on. tipe setia pada pasangannya.


"Ya sudah, nanti ayah kabari kalau sudah ada keputusan dari Hanan dan bapaknya kapan mau melamar, dan soal..,...." tuan Wibowo berhenti sejenak karena takut akan menyingung perasaan sang anak.


"soal apa yah?" tukas Keisya cepat


"Soal Reno, ayah minta maaf sudah menyembunyikan ini dari kamu, Reno sendiri yang meminta karena rasa bersalah nya sama kamu nak, dan terakhir kali yang ayah dengar Reno sudah menikah belum lama ini" ucap tuan Wibowo hati-hati


Deg.


Keisya terdiam, terasa perih mendengar kenyataan bahwa Reno sudah menikah. berarti apa yang ia dengar dari bu Fitri itu benar. sesakit ini mencintai tetapi takdir tidak meridhoi.


"oh ya? berarti bener dong berita yang aku dengar yah, Alhamdulillah kalau mas Reno sudah menikah" ucap Keisya getir memaksakan senyuman.