KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
158 Bertemu Keisya



"Gue Nerima Ra, gue terima perjodohan ini, gue nggak bisa janjiin apapun, tapi gue akan tetap bertanggung jawab sama Keisya nantinya entah suatu saat kami tetap bersama sampai menua atau hanya berhenti di persimpangan, gue bakal terima apapun yang terjadi kedepannya" ucap Reno tegas menatap manik mata Kinara


Azka dan kinara saling pandang, mereka tidak menyangka Reno seberani itu mengambil keputusan. keduanya tersenyum. Azka memeluk erat dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


"Terimakasih Ren" ucap Kinara senang.


Pukul sembilan malam Reno pamit pulang. tujuannya kali ini bukan ke rumah melainkan ke rumah sakit melihat keadaan Keisya serta menemui ibunya yang malam ini menjaga Keisya.


"Keisya butuh orang yang bisa membuatnya menjadi orang yang berarti, mungkin kamu bisa Ren, entah suatu saat apa yang akan terjadi pada kalian, gue harap Lo nggak menyesalinya,setiap orang berhak bahagia dengan pilihannya " ucapan Azka saat ia pamitan tadi masih terngiang terus.


"Mungkin ini cara Tuhan menghadirkan Keisya, biar gue bisa ngelupain Kinara, tapi tetep aja mereka kembar" batin Reno.


Mobil memasuki pelataran rumah sakit, keadaan sudah sepi hanya ada beberapa kendaraan roda empat yang terparkir, rumah sakit ini memang ketat jika ada pembesuk yang datang, lewat dari jam tujuh malam layanan sudah di tutup dan hanya di perbolehkan satu atau dua orang saja keluarga yang bisa menjaga pasien saat malam dan jika siang hari pembesuk hanya di batasi dua hingga empat orang saja.


Reno berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan sesekali menyapa petugas yang lewat.


"Loh mas Reno, lagi shift malam?" tanya salah satu perawat pria yang ia kenal


"Eh bang, iya ini mau gantiin ibu jagain Keisya"


"Oh, ya udah saya duluan mas Reno"


"Iya silakan bang"


Reno melanjutkan langkah ke lantai lima tempat dimana Keisya dirawat. ia bersenandung sholawat menghilangkan rasa takut saat melewati ruang jenazah di lantai dasar tadi. Reno yang memang memiliki kelebihan khusus terkadang juga mampu melihat penampakan makhluk astral.


"Tante, pintar masak ya, besok ajarin aku masak kayak kak Kinar yang pintar masak"


"Iya sayang, yang penting kamu harus sembuh dulu sekarang, besok kita belajar masak bareng dirumah Tante"


"Tapi aku kan mau ke pondok kalau udah sehat, nggak enak izin kelamaan sama pak kyai, nanti aku ketinggalan banyak pelajaran"


"Sebelum kamu ke pondok kamu tinggal sama Tante dirumah kita belajar masak dirumah Tante sampai kamu bisa"


"Benarkah? wah seneng banget, makasih Tante, tapi anak tante marah nggak kalau aku tinggal dirumah Tante?"


"Nggak, kenapa harus marah, kamu juga anak Tante, anak Tante cowok semua"


"Owh gitu, bukan muhrim dong, tetap aja aku malu Tante"


"Anak Tante yang gede seumuran kamu, teman sekelasnya Kinara, kalau yang kedua si kembar baru kelas dua SMP"


"Owh, emang yang mana anak Tante yang gede? aku pernah lihat?"


"Udah kok biasanya sama Azka, namanya Reno"


"Reno? oh ya aku ingat yang atlet basket itu ya? tinggi orangnya kan?"


"Iya itu kamu ingat, gimana anak Tante gagah kan?"


"Hemm iya gagah kata mbak Rena macho tapi jutek kalau sama cewek"


"Hahaha dia emang begitu, tapi kalau udah kenal nggak begitu juga aslinya dia baik banget,perhatian dan tipe setia"


"Ahahha Tante promosi kayaknya ini"


"Kalau iya kenapa? hahaha"


Reno berhenti di depan pintu ruang rawat Keisya sejak tadi, tapi langkahnya terhenti karena mendengar percakapan ibunya dan Keisya di dalam.


Reno menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu. entah kenapa mendengar tawa ibunya ia merasa bahagia, sudah lama ia tak mendengar tawa seperti itu lagi semenjak kematian bapak sambungnya.


Harusnya Reno bersyukur tidak menolak perjodohan ini, dan harusnya memang Reno legowo apapun yang terjadi nanti, terlebih setelah pertunangan nanti mereka akan berpisah dalam waktu yang lama, akankah mereka bisa saling mengenal? ataukah perjodohan ini hanya sarana untuk menyembuhkan Keisya?


Reno memegang kenop pintu setelah menenangkan perasaannya yang masih kacau. saat pintu terbuka pemandangan yang tak pernah ia bayangkan dilihat di depan matanya. ibunya sedang menyuapi Keisya buah.


"Assalamualaikum Bu, Kei, maaf menganggu" ucap Reno sedikit sungkan karena Keisya memandangnya dengan wajah heran.


"Waalaikumsalam Ren, kamu datang, tumben banget malam-malam gini kamu kesini" ucap Bu Fitri


Reno mencium punggung tangan ibunya dan memeluk sebentar.


"Tadi dari kampus singgah kerumah Azka, mau kerumah tapi kata Dimas ibu udah kesini jadi sekalian aja"


"Ooh gitu, mungkin dua hari lagi Keisya bisa pulang dan sisanya rawat jalan jadi ibu sudah bisa dirumah"


"Oh gitu" Reno tersenyum kaku mendengar ucapan ibunya.


"Kamu udah makan?"


"Udah tadi di rumah Azka, tadi katanya Kinara baru pulang dari panti bagi-bagi bingkisan tujuh bulanan"


"Karena mertuanya Kinara lagi di luar negeri semua Bu, jadi nggak bisa bikin acara tujuh bulanan katanya, sebagai gantinya bagi-bagi sedekah untuk anak yatim-piatu gitu sih"


"Oh iya bagus itu, sebenernya itu hanya adat saja, di laksanakan bisa nggak juga bisa tergantung masing-masing orangnya sih, Kinara sehat?"


"Alhamdulillah sehat Bu, katanya hamil kembar juga"


"Ya Alhamdulillah semoga aja lahirannya lancar"


"Amiiin, ibu nggak ada ketemu tuan besar?"


"Baru aja pulang di jemput Revan, nak Keisya mau lagi buahnya?" Bu Fitri menawarkan buah lagi pada Keisya yang sejak tadi Hua diam saja.


"Nggak Bu, udah kenyang, aku mau ngantuk"


"Mau tidur sekarang? Tante matiin lampunya ya?"


"Em nggak usah Tante, biar gini aja, Tante nggak pulang kan?"


"Nggak, Tante disini besok pagi baru pulang"


" ya udah, aku tidur duluan ya tante selamat malam, kak Reno selamat malam" ucap Keisya memandang Reno sejenak kedua manik mata mereka bertemu namun Reno lebih cepat menghindarinya.


"Iya selamat malam" jawab Reno kaku tanpa menoleh.


Ibunya sibuk menyelimuti Keisya dan menata bantal agar tidur Keisya lebih nyenyak. Reno memperhatikan sikap ibunya yang begitu sayang dengan Keisya sama seperti saat dulu merawat Kinara saat masih kanak-kanak.


Sampai detik ini Reno memang masih belum bisa melupakan Kinara cinta pertamanya sejak masih anak-anak. tapi Reno bukan pria pengecut yang mengambil hak milik orang lain demi ambisinya. meski ia juga tahu semua sahabatnya juga menyimpan rasa yang sama pada gadis itu sejak lama. demi menjaga kewarasan mereka tetap menjalin persahabatan tanpa menyakiti satu sama lain.


Reno memperhatikan seksama sikap ibunya pada Keisya, ada rasa bangga ibunya bisa melakukan hal itu pada Keisya, mungkin karena ia tidak memiliki saudara perempuan hingga membuat ibunya begitu menyayangi Keisya dan Kinara seperti anak sendiri.


"Bu Reno pulang ya, ini udah jam sepuluh malam, besok aku harus ke kampus pagi-pagi karena ada rapat untuk turnamen bukan depan" pamitnya.


"Oh iya tunggu ibu di depan ya, ibu mau panggil suster dulu buat jagain Keisya"


"Oh ya udah aku tunggu disini"


Saat ibunya berlalu keluar hendak memanggil suster, Reno duduk terpekur di sofa dan sesekali melirik Keisya yang tidur miring dengan kepala tertutup selimut tipis agar tidak tertimpa cahaya tepat di wajahnya.


"Bu, aku mau minum" Keisya merubah posisinya berlahan menjadi terlentang.


Reno yang mendengar itu hanya bisa diam kaku bingung mau berucap apa.


"Ibu masih manggil perawat kei, bisa tunggu sebentar?"tanya Reno hati-hati


"E..eh kak bisa minta tolong ambilin air minum aja aku haus sekali" ucap Keisya memohon


"Baiklah"


Reno berjalan ke arah nakas mengambil air mineral.


"Ini minumnya gimana? kamu bisa duduk?" tanya Reno bingung


"Ada sedotan kecil di laci nakas kak, bisa tolong ambilin?"


Reno mengikuti ucapan Keisya dan menemukan sedotan baru masih terbungkus.


"Mau di geser atau mau duduk? bisa duduk kan?" tanya Reno bingung pasalnya ia tak pernah menyentuh wanita manapun kecuali anak-anak dari saudara bude atau pakde ya di kampung sana. bahkan almarhum bapak angkat nya memiliki keponakan yang semuanya juga laki-laki.


"Nggak usah kak ini bed nya udah agak tinggi, kakak pegangin aja botol nya biar aku langsung minum"


"Ooh i...iya" Reno menyodorkan botol itu dan Keisya langsung meminumnya.


"Bahkan di saat seperti ini gue masih keinget Kinar" batin Reno.


Bu Fitri masuk dengan seorang suster saat Reno sudah menyimpan botol air mineral diatas nakas


"Bu aku pamit ya?"


"Oh...iya ibu anter ke depan"


"Nggak usah...nan......"


Ibunya sudah menyeret nya keluar ruangan dan berjalan menjauh.


"Kamu udah ambil keputusan kan?"


"Udah buk, aku menerima Keisya"