KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
35 Tampang Pemulung



"Jadi gimana dok? apa saya sudah boleh pulang?" tanya Kinara pada dokter Arif.


"Sudah tapi ingat lain kali hati-hati jangan sampai hal semacam ini terulang lagi, untungnya hanya luka kecil." Ujar Dokter Arif


"Iya dok makasih banyak."


"Azka kamu tebus obat yang sudah saya resepkan ya setelah itu baru kalian boleh pulang."


"Baik dok. saya tebus sekarang." Azka segera keluar menuju ke apotek untuk menebus obat.


"Ya sudah saya pamit dulu ya Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam sekali lagi makasih dok!" ucap Kinara dan hanya di balas acungan 2 jari dari dokter Arif.


Kinara segera membereskan barangnya yang akan di bawa pulang dan tak lupa ia membersihkan diri lalu kemudian mengobati lukanya saat Azka sudah tiba membawa obat.


Tok tok tok


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam..." Azka dan Kinara terkejut melihat siapa yang datang.


"Alexa ?" Azka tak sengaja menjatuhkan obat merah yang ia pegang


"Hai selamat pagi menjelang siang, maaf ya aku telat jenguk kamu." ucap Alexa seraya menyalami Kinara


"Mau ngapain lo datang?" tanya Azka ketus.


"Eh santai dong sepupu ku sayang..aku denger semalem kalo Kinara kecelakaan jadi aku sempetin datang kesini buat jengukin. emang salah ya?"jawab Alexa seraya mengelus pundak Azka dan membuat Azka semakin risih.


"Lepasin tangan lo!" sarkas Azka melepas tangan Alexa di pundaknya. Kinara hanya diam memperhatikan reaksi keduanya. entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. Ia curiga Alexa sengaja menjenguknya hanya untuk mengancam untuk kedua kalinya seperti yang di lakukannya waktu itu.


"Kali ini aku gak bisa diam saja, perempuan seperti dia harus di lawan dengan realistis. meski aku gak tahu seperti apa pernikahan ku dan Azka ke depannya, namun setidaknya aku masih bisa menunjukkan bahwa aku tak takut dengan ancamannya."batin Kinara.


"Mas udah selesai kan beberesnya? Yuk kita pulang aku udah kangen si kembar, Lagian nanti anak-anak pada mau datang kerumah. sekalian deh kita ajak Aldo pulang bareng. udah lama kita gak ngumpul bareng!" ujar Kinara lembut


"Yuk lah kita bikin pesta barbeque di taman belakang sekalian kita undang juga nenek sama kakek." balas Azka


"Waah bener tuh mas lama kita gak ngumpul bareng keluarga juga setelah kita nikah." ucap Kinara girang.


Alexa menjadi geram melihat interaksi kedua suami istri itu.


"Oh kalian gak ngundang aku? kan aku masih sepupu kamu Azka."


"Boleh aja yang penting bareng pasangan" ucap Azka ketus. Ia tahu jika Alexa tak pernah mau bersama Varo suaminya jika bukan karna ada nenek dan kakek.


Azka dan Kinara memilih melanjutkan membereskan barang yang akan di bawa pulang dan membiarkan Alexa seolah tak ada dan itu membuat Alexa semakin geram.


"Awas saja kau Kinara akan ku balas perbuatan mu kali ini. tidak akan ku biarkan Azka ku jatuh ke pelukan mu, dia hanya milik ku saja" batin Alexa geram lalu meninggalkan kedua pasangan tersebut.


🍂🍂


"Aku udah di bandara Soekarno Hatta" ucap seorang pria dengan setelan kaos oblong yang agak kusam dan celana jeans selutut serta topi hitam yang di pakai terbalik dan sendal jepit merek ternama swallow warna merah yang sudah tipis serta kacamata hitam ala preman pasar.


Pria itu tak lain adalah Dokter Hermawan alias Om Wawan, ia sengaja mengubah penampilan nya agar tak ada yang bisa mencurigainya. Ia datang belakangan sedangkan Kakak dan keponakannya Revan sudah tiba sejak semalam bersama para bodyguard nya.


Tanpa menunggu terlalu lama seorang pria bertubuh kurus dengan seragam tukang ojek datang dan membawa Dokter Wawan pergi dari bandara menuju kerumah tuannya.


"Makasih njul..nih buat anak istri lo dirumah." ucap Dokter Wawan memberikan sepuluh lembar uang merah.


"Kebanyakan bos tapi makasih banyak" ucap panjul


"Sama-sama"


Dokter Wawan segera masuk ke dalam rumah minimalis yang tak lain adalah rumah pak Denias Pranata.


"Assalamualaikum..anybody home??"


"Waalaikumsalam sebentar ya pak saya ambilkan uangnya dulu"ucap salah satu asisten rumah. Dokter Wawan merasa lucu melihat tingkah polos art Pak Denias.


"Emang ada tampang pemulung gagah kek gue gini hahaha" gumamnya.


Dokter Wawan langsung merebahkan tubuhnya di sofa sembari menunggu si Tuan rumah keluar menemuinya.


"Loh mas lapar ya kok tiduran di sofa? ini uangnya mas bawa aja" ucap sang art dengan polosnya seraya memberikan 2 lembar uang merah.


Dokter Wawan melongo tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Atau masih kurang ya mas? nih saya tambahin!" ucapnya lagi memberikan 2 lembar uang merah.


"Eh busyet matanya cantik bener nih cewek, polos lagi!" batin dokter Wawan seraya memandangi wajah ayu sang art


"Halo mas di terima dong uangnya.. apa mas lapar? saya ambilin makanan ya mas tunggu sebentar" ucap sang art berlalu


"Demi apa....??" Gumam dokter Wawan melongo melihat sang art berlalu menuju ke ruang makan. "Gue kerjain aja sekalian kalau gini xixixi" 🤭🤭🤭🤫🤫


Tak lama sang art datang membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air minum.


"Ini mas silakan..panggil saya ya kalau sudah habis, saya ada di sana!" ucapnya seraya menunjuk ke arah meja makan, dokter Wawan hanya mengangguk lalu segera melahap makanannya tanpa sisa.


"Loh Wan? kamu kapan sampainya ?tanya pak Denias yang baru saja tiba dari kantor.


"Eh big bos.. udah setengah jam lah disini." jawab Dokter Wawan.


"Kenapa Rena gak hubungi saya kalau kamu tiba?"


"Itu...it......." ucapan dokter Wawan terpotong karna sang art datang


"Loh Bapak sudah datang? maafkan saya pak, saya kasian lihat dia tidur di sofa, jadi saya ambilin makanan soalnya saya kasi uang dia gak mau menerima." ucap polos sang art yang tak lain adalah Rena. dia asisten baru yang membantu bik asih menjaga dan merawat Keisya.


Pak Denias terheran melihat tingkah Rena yang tak mengenali Dokter Wawan.


"Maksud kamu dia Rena?" tanya pak Denias menunjuk Dokter Wawan


"Iya Tuan!"


"Hahahahhahaahhahahhaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aduh Rena sesiang ini kamu udah bikin perut saya kram!" pak Denias tertawa ia juga baru menyadari jika penampilan Dokter Wawan sudah seperti pengemis pantas saja kalau Rena benar mengira Dokter Wawan pengemis.


"Loh bapak kenal dengan mas ini?"tanya Rena tanpa dosa


"Dia ipar saya Rena.."Ucap pak Denias


"Hah?? ipar? demi apa tuan?"


"Demi Allah dia ipar saya baru datang dari Singapura, dia adik kandung ayahnya Keisya." papar Pak Denias membuat Rena merasa malu setengah mati dengan kesalahannya.


"Aduh maaf tuan sa...saya gak kenal soalnya. maafkan saya tuan!"


"😂😂 udah gak papa wajar aja kan kamu masih baru, Panggil bik Asih suruh siapin kamar buat Wawan sekarang." titahnya.


"baik Tuan."


"Emang tampang gua cocok jadi pengemis kali ya?" tanya nya pada pak Denias


"Eh? lah kamu dari tadi enggak ngomong kalo ipar ku?"


"Mana sempet lah orangnya nyerocos mulu kayak kereta enggak ada kesempatan buat ngomong."


"Maklum lah ya dia pegawai baru cucu keponakan bik Asih, bapaknya baru meninggal sebulan yang lalu karna sakit jantung dan enggak punya biaya berobat sedang ibunya sudah tiada sejam setelah dia lahir.


"Umurnya sama dengan Kinara dan Keisya. dia putus sekolah sejak kelas X SMA karena tidak punya biaya, dia jadi buruh cuci dan kerja serabutan untuk biaya sehari-hari. sudah lama saya minta bik Asih mengajak nya kemari tapi anak itu selalu menolak karena kasihan dengan bapaknya padahal saya sudah tawarkan pengobatan tapi dia tetap menolak."


"Kasihan juga, emang enggak ada keluarganya yang lain dari bapaknya ato ibunya?"


"Orang tuanya sama-sama anak tunggal enggak punya sodara. hanya bik Asih satu-satunya keluarga dari mendiang neneknya dari pihak bapak."


"Jadi bik asih neneknya ceritanya?"


"Iya bik Asih adik bungsu neneknya dari pihak bapak. oh ya nanti malam ada acara di rumah besan katanya sih ini maunya si Kinar bikin acara barbeque dirumah sekalian ngumpul reunian keluarga."


"Tumbenan tuh anak enggak biasa nya!"


"Turutin aja lah apa maunya, aku juga masih merasa bersalah, sejak aku membentaknya waktu itu dia udah enggak pernah lagi datang kesini."


"Hemm mas Bowo sama Revan mau datang Enggak?"


"Enggak tau juga,!"


"Aakhh.....tidaaakk.... jangan bunuh aku..tolong jangan!" suara teriakan dari kamar Keisya


"Itu Keisya...." pak Denias dan Dokter Wawan segera berlari ke kamar Keisya.


🍂🍂