KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
76 Rumah Duka



Aldo, Azka dan Kinara masih berada di rumah yang Keisya tempati. Keisya memilih beristirahat setelah makan siang, sedangkan Kinara asyik selonjoran di karpet ruang kelurga sembari berselancar di media sosial. Azka dan Aldo lebih memilih bermain ps5 setelah makan siang.


drrt drrrt


Dering ponsel milik Aldo yang tergeletak di meja berdering sejak tadi. dengan malas Kinara menekal tombol hijau menjawab panggilan.


"Ada apa mas Yusuf?" tanya Kinara


"Aldo lagi main ps sama Azka, ada berita penting apa?"


"Tunggu, aku panggilin si Aldo" Kinara meletakkan ponsel yang masih terhubung dengan panggilan dari Yusuf di atas meja.


"Woii... Mas Yusuf nelpon, penting!" ucap Kinara berteriak karna beberapa kali di panggil Aldo hanya bergeming saja.


"Ah..ckk ganggu aja sih" gerutu Aldo meninggalkan tempat di ikuti Azka di belakangnya.


"Noh, masih nyala tuh panggilan lo" ucap Kinara


"Halo bang, napa sih?"


"APA?!"


"G..Gue Kesana, oke!" terlihat raut wajah gelisah dari Aldo membuat Azka yang sedari tadi berusaha mencuri dengar merasa penasaran.


"Istri pak Bagas di temukan meninggal di sungai tiga minggu lalu, bukti forensik baru keluar setelah otopsi dan olah tkp. sekarang jenazah sedang dalam perjalanan ke rumah pak Bagas"


Azka membeku mendengar ucapan Aldo. tapi tidak bagi Kinara karna ia merasa tak mengenal seseorang bernama Bagas.


"Kita kesana" ucap Azka dengan mata memerah dan tangan yang sudah mengepal kuat.


"Gue aja. lo disini jaga Kinara, jangan keluar rumah tanpa bodyguard, semua karyawan di liburkan di pusat dan cabang. ini nggak akan aman buat lo keluar rumah." Aldo menyarankan.


"Tapi..."


"Udah lo nurut gue jangan ngebantah, lo masih mau terulang lagi kalau Kinara hilang? apalagi sekarang ada Keisya, lo harus bisa jagain mereka berdua sampai gue pulang dari rumah pak Bagas" ucap Aldo tegas


"Ya , udah hati-hati lo" Azka menyerah dengan keputusan Aldo.


"Gue pergi, hati-hati lo" pamit Aldo


"Eh sembeb, lo mau pergi pake baju sekolah?" tegur Azka. Aldo menghentikan langkahnya tersenyum malu.


"Gue lupa nggak bawa ganti, lo ada nggak?" ucap Aldo garuk kepala.Azka hanya memutar bola mata jengah.


"Minjem mang ucup atau bodyguard yang di depan sono dah, gue juga nggak bawa baju ganti" ucap Azka.


"Ya udah lah, gue pergi"


"hati-hati lo jangan keserempet cewek lampu merah" seloroh Azka membuat Aldo mendelik tajam membuat Azka malah terpingkal-pingkal


Aldo meneruskan langkahnya keluar dari rumah dan menemui bodyguard yang sedang berjaga di pos.


"Ra, .." Azka menghampiri Kinara yang lesehan di karpet ikut mensejajarkan posisinya dengan Kinara.


"Hm apa?"


Cup


Kinara menoleh saat Azka secara tiba-tiba mencium pipinya.


"Paan sih?" ucap Kinara sok cuek


"Ke kamar yuk" ucap Azka berbisik di telinga Kinara


Plak


"Ini rumah orang bukan rumah kita mas"


"Siapa bilang?"


"Gue lah?"


"Aku mau nagih janji" ucap Azka


" Giliran ada maunya, manggilnya pake aku kamu ya. kemaren kemana aja bang?" sindir Kinara pedas


"Ck, gitu ah" Azka mencebik


"Emang iya, masih mau ngeles?"


"Iishh nggak ngeles ya gue,"


"Mana ada orang ngeles mau ngaku"


"Mau ku cium beneran nih biar diem?"


"Ogah, sanaan dikit dong, ini rumah orang nggak enak sama yang punya mas"


"Ya udah deh, ntar di rumah gue tagih"


"Tanggal merah pak, maaf ya!"


"Ck, alasan aja"


"Mau gue bukain disini biar lo percaya?"


"Eh no no no, nggak boleh. iya deh percaya!"


"Gitu dong, suami manisku bwahahaahhaaaa"


"Apaan sih..."


Interaksu mereka tak luput dari pandangan seseorang yang sedari tadi tengah melihat kemesraan mereka. ada sesuatu yang mencubit di sudut hatinya.


"Kenapa aku mau nangis ya melihat kakak sama suaminya?"


"Aldo" panggil seseorang tak jauh dari tempat Aldo memarkirkan mobil.


"Eh bapak?" sapa Aldo pada pria paruh baya yang sudah sangat ia kenal sejak lama. Aldo gegas menghampiri dan menyalami punggung tangan yang tak lain adalah orang tua Ririn


"Kamu juga melayat kesini?" tanya Pak Anton


"Injeh pak, kebetulan salah satu anak mendiang teman manggung saya" jawab Aldo sopan


"Oh gitu" pak Anton manggut-manggut. " Dah ayok ke dalem biar saya kenalin sama kolega kalau kamu calon mantu ku" lanjut pak Anton membuat Aldo salah tingkah


"Bapak bisa aja, emang mau ya saya lamar anaknya sepulang dari sini?" ucap Aldo menimpali


"Emang kamu mau datang melamar beneran?"


"Ya mau lah pak, biar si Ririn nggak di gebet preman bule"


"Ngaco kamu, anak ku nggak ku kasi orang lain kalau bukan kamu"


"Beneran pak?"


"Emang kamu mau saya bercanda?"


"Ya nggak lah pak"


"Ya udah ayok masuk, saya kenalin sama kolega saya sesama pengabdi negara, siapa tahu kamu ketularan jadi abdi negara"


"Hihihi monggo pak, dengan senang hati," Aldo mengikuti langkah calon mertuanya masuk ke dalam rumah duka.


Suasana masih mencekam, isak tangis keluarga besar pak Bagas menghiasi seluruh ruangan. di salah satu ruangan yang menghubungkan ruang keluarga dan ruang tamu, Jenazah nyonya Vera di baringkan.


Rumah mewah itu kini mendadak sesak karna banyaknya pelayat yang datang dari berbagai kalangan. karna pak Bagas di kenal pebisnis yang ramah dan rendah hati pada siapapun begitu pula mendiang sang istri dan anak-anaknya.


Berita tentang kematian Nyonya Vera memberikan luka dalam pada keluarga pak Bagas. setelah hampir empat bulan menghilang tanpa di temukan jejaknya, kini saat di temukan hanya jasadnya yang sudah kaku. baru semalam pak Bagas mendapatkan kabar dari pihak kepolisian yang memastikan jika jasad itu adalah istrinya yang selama ini hilang.


Setelah mendapat telepon pak Bagas gegas menuju ke kantor polisi dan mengecek langsung kondisi jenazah dengan ciri-ciri yang masih dapat ia kenali. meski kondisi jenazah sudah membusuk namun demi meyakinkan hatinya pak Bagas rela mengecek secara langsung.


Betapa sakit hatinya mendapati kenyataan jika jenazah yang di temukan dipinggir sungai dekat hutan terlarang itu benar istrinya. luruh sudah usaha nya mencari keberadaan sang istri yang nyatanya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Setelah menyelesaikan semua urusan dengan kepolisian dan menunggu bukti forensik pak Bagas langsung menghubungi semua keluarganya tentang kematian Vera sang istri.


"Tuan," Aldo menyapa tuan Anderson yang duduk di sudut ruangan bersama dengan beberapa petinggi perusahaan.


"Aldo, kamu sendiri?" tanya tuan Denias


"Sendiri tuan, Azka saya larang ikut karna siang tadi Kinara memaksa untuk pergi kerumah tuan Denias, jadi saya meninggalkan mereka disana, dan saya sudah meminta bodyguard untuk tetap waspada, dan tadi ada beberapa lagi yang datang bertugas entah dengan izin siapa saya tidak mengenali mereka."


"Oh berarti Amira sudah melakukan aksinya, jangan khawatir, mereka orang yang di suruh oleh besanku tante nya Kinara, nyonya Amira"


"O..oh baiklah tuan"


"Cepatlah pulang tetap disana malam ini, karna kami akan disini sampai selesai takziyah"


"Baik tuan, tapi saya izin dulu untuk mengambil pakaian ganti dirumah"


"Tidak perlu, aku sudah meminta ibumu membawanya kemari"


"Hah? baiklah tuan terimakasih!"


Aldo bergabung dengan dengan para peziarah, sejak tadi pak Anton selalu mengekorinya. pak Anton sendiri adalah kapolres dari kabupaten tetangga yang ikut datang berziarah karna jenazah di temukan di perbatasan kabupaten dan masih masuk wilayah tempatnya mengabdikan tugas negara.


Aldo sendiri tidak ikut mengantar jenazah ke pemakaman karna harus menjalankan perintah dari tuan Anderson.


"Ma, ngapain bawa koper segala?" oceh Aldo tak terima saat mamanya menemuinya di parkiran dengan menenteng koper besar.


"Udah jangan banyak omong kamu, nurut aja apa kata bos besar" balas sang mama


"Iishh kayak orang mau pindahan aja"


"Jangan banyak omong, .cepetan masukin bagasi trus pergi, mama masih mau bantu-bantu disini untuk orang takziyah nanti malam"


"Mama udah nggak sayang sama anak" sungut Aldo sembari masuk ke dalam mobil. sang mama hanya tersenyum melihat tingkah manja sang anak.


"Dasar manja"


**


Setelah prosesi pemakaman selesai, semua pelayat pamit pulang. hanya tinggal beberapa pejabat tinggi dan kolega saja serta keluarga besar pak Bagas yang masih tinggal.


"Pak Denias malam nanti bisa kah anda luangkan waktu?" tanya tuan Bagas


"Saya akan berada disini sampai selesai tujuh hari mendiang"


"Terimakasih"


"Saya minta maaf tidak bisa menyelamatkan istri anda pak."


"Ini sudah takdir pak, saya hanya ingin pelaku segera di temukan dan mendapat hukuman"


"Tenang saja, sudah ada yang melakukannya, saat ini mereka sedang bekerja, bagaimana dengan Riko?"


"Riko sejak datang tidak pernah bicara sepatah katapun pak, dia masih terguncang setelah tahu ibunya meninggal, meski Vera bukan ibu kandungnya, tapi anak itu begitu sayang pada nya"


"Sabarlah, biarkan Riko disini dulu untuk sementara waktu, kalau bisa ajak salah satu temannya di pesantren untuk datang menemaninya disini hingga kondisinya pulih"


"Saya sudah memikirkannya pak, dan baru akan meminta keponakan saya untuk datang ke pesantren meminta izin dengan pak kyai di sana"


"Baguslah, untuk kasus Anthony, kita sudah bisa bernafas lega tak lama setelah di temukannya jenazah mendiang, Anthony juga bangkrut, sekarang dia tak memiliki apapun selain baju yang ada di tubuhnya saja."


"B..benarkah?"


"Ya aku tidak berbohong"


"Bersabarlah, kita akan menemuinya saat eksekusi mati untuknya nanti".