
Assalamualaikum para reader ku tercinta maaf satu malam saya nggak update bab baru karena kondisi psikologis dan fisik yang lagi down,jadi cuma bisa stuck di tempat.
Di satu sisi si kecil juga lagi rewel banget sakit-sakitan. jadi malam ini pun aku langsung nulis saat si kecil udah tenang boboknya. udah hampir tengah malam juga sih tapi ya udahlah demi kalian aku rela begadang buat nulis. hehehe.
------------------------------------------------------------------------------
Revan masih terbaring di brangkar rumah sakit sedang menjalani pemeriksaan tes darah untuk di donorkan.
Revan tidak menyadari apa yang tengah terjadi karena tuan Denias, ayahnya dan tuan Anderson sudah meminta para dokter yang menangani Anthony untuk diam.
Namun di sudut hati Revan entah mengapa merasa gelisah sejak semalam. itulah mengapa ia memilih menginap di rumah sang ibu dari pada di apartemen miliknya.
Tuan Wibowo yang memang sudah tahu apa yang tengah terjadi pada Anthony lebih memilih mengiyakan saja saat Revan meminta izin untuk tinggal dirumah ibunya.
Bukan karena tak tahu apa yang tengah di alami anak angkatnya itu, tuan Wibowo lebih memilih diam saja karena menjaga perasaan Revan. ia tak mau menguak tentang Anthony di saat hati Revan masih belum bisa menerima kenyataan.
Tuan Wibowo tahu apa yang tengah Revan rahasiakan darinya, tentang status ayah biologisnya, lagi-lagi tuan Wibowo lebih memilih diam saja. ia tak mau membuat hati anak angkatnya itu kecewa. ia lebih memilih membiarkan Revan memilih jalannya sendiri. meski suatu saat mau tidak mau semua kenyataan itu harus ia ungkapkan.
Ada rasa sedih jika mengingat tentang Revan yang sejak lahir tak tahu menahu tentang orang tua kandungnya. rasa sayangnya pada anak angkatnya itu melebihi rasa sayangnya pada diri sendiri. sudah begitu banyak pengorbanan yang Revan berikan untuk keluarganya. begitu besar hati Revan yang dengan rela memendam sendiri kenyataan tentang jati dirinya.
Kini, jik di hadapkan pada kenyataan yang tengah terjadi, sudut hati tuan Wibowo merasa bersalah karena telah menyembunyikan kenyataan ini. namun apalah daya lidahnya kelu jika hanya untuk berbicara saja.
"And, jika Revan tahu kalau yang dia donor kan adalah ayah biologisnya, pria yang selama ini menjadi duri dalam keluarga nya, apa yang akan terjadi And?" ucap tuan Wibowo pada besannya dengan rasa sedih.
Tuan Anderson pun merasa bersalah ada Revan, namun dengan cara apalagi mereka menolong Anthony jika bukan dengan perantaraan Revan.
"Aku tak tahu harus bicara apa Had, meski aku benci pada Anthony tapi aku juga tidak bisa berbuat apapun jika kakak mu sudah memutuskan sesuatu" balas tuan Anderson dengan wajah risau.
"Bagaimana jika Keisya kita pertemukan dengan Anthony, sudah dua purnama Anthony selalu memanggil Keisya bahkan dalam tidurnya" ujar tuan Wibowo lagi.
"Sebenarnya aku juga berfikir begitu, tapi biarkan keputusan di ambil oleh kakakmu saja Had, dia yang lebih bijak untuk menentukan langkah apa yang akan kita ambil"
"Ku rasa Revan mungkin sulit untuk menerimanya di awal, tapi seiring waktu semoga saja Tuhan bukakan pintu hatinya untuk memaafkan kan Anthony. aku sudah bertemu tuan Andrew, jika Anthony akan tetap menjalani hukuman jeruji jika kondisinya benar-benar sudah pulih" ucap tuan Anderson seraya menyilang kan tangan di depan dada.
"Sejak awal memang inginnya mas Denis memang begitu, meskipun semua bukti sudah masuk di kepolisian, tapi untuk saat ini mereka belum bisa bertindak karena kondisinya memang belum membaik"
"Apa kau punya rencana jika mereka bertemu?"
"Maksudmu, Anthony dan Keisya atau Revan?"
"Ketiganya"
"Ah entahlah, biarkan takdir yang bicara,"
"Tuan, tuan muda Revan sudah selesai donor darah, tuan Denias pergi entah kemana, apa yang harus aku lakukan karena tuan Revan memaksa ingin bertemu dengan penerima donor darahnya" ucap Sobri dengan khawatir
"Haduh Iki piye, udah kamu hubungi tuan Denias?" tanya tuan Anderson
"Sudah tapi panggilan saya tidak di jawab tuan"
"Apa tadi dia pamit akan pergi kemana?" tanya tuan Wibowo gusar.
""Beliau nggak ngomong apa-apa tuan"
"kamu temui Revan aja lah bikin alasan apapun yang bisa bikin dia lupa ingatan sebentar" ujar tuan Anderson pada besannya.
"Lah, kok gitu, aku nggak biasa nyelimorke bocah" ucap tuan Wibowo bingung.
Sobri yang memang sudah lelah lahir batin sejak kemarin malh semakin bengek melihat tingkah kedua bosnya yang kayak anak kecil rebutan mainan.
"Haduh tuan jangan adu argumen saja, kita harus gimana?" tanya Sobri tambah bingung
"Ya udah aku lihat Revan dulu, kamu pergi temuin Fritz, dan kamu Sobri jaga di dalem aja sampe mas Denias datang" ucap tuan Wibowo
Mereka bertiga akhirnya berlaku dengan tujuan masing-masing. setelah sampai didepan ruang perawatan Revan saat mengambil sampel darah, hati tuan Wibowo mencelos, ada rasa bersalah pada anak angkatnya itu.
"Van, kamu baik-baik saja?" tanya tuan Wibowo begitu masuk di dalam.
"Eh ayah, iya ini baru aja selesai, dan udah di bawa juga kok darahnya ke pasien., ayah kok tahu aku disini?"
"Tante mu Amira yang bilang kamu donor darah disini, soalnya tadi nelpon ayah katanya anak buahnya yang baru kecelakaan dan butuh donor darah secepatnya, ayah bilang aja kamu di rumah ibumu"
"Oh gitu, trus Tante mana sekarang?"
"Lagi liat anak buahnya dulu trus mau pulang, ada asistennya yang jaga kok, Steffy juga ternyata ada juga ikut menjaga"
"Ooh, kirain anak ningrat kayak dia itu nggak minat kalau di suruh jagain art yang sakit hahaha" Revan berkelakar tentang sepupu angkatnya Steffy
"Huss kamu itu jangan seenaknya kalau ngomong, emang nggak pusing abis donor darah kamu langsung duduk santai gitu?"
"Lumayan lah yah, tapi udah di kasih vitamin tadi sama suster Devi"
"Kamu kenapa kok kelihatan nggak semriwing kayak biasanya, kalian ada masalah ya?"
"Maksudnya yah?"
"Ayah lihat kamu sejak semalam kayak gelisah kelihatan banget dari wajah kamu, apa ada masalah dengan Vivi?" tanya tua Wibowo dengan sengaja memancing
"ahh nggak ada, aku sama Vivi nggak ada masalah apapun, lagian Vivi udah mulai sibuk perawatan sama bapak ibunya udah nggak boleh keluar, kan tinggal dua Minggu lagi acaranya yah"
"Oh jadi kamu gelisah karena nggak bisa ketemuan?" goda tuan Wibowo
"Ayah ini, kayak anak muda aja"
"Ya kan pernah muda Van,"
"ahahha..nggak..serius bukan itu kok yah"
"Trus apa?, ibumu?"
"Bukan juga" raut muka Revan tiba-tiba berubah sendu.
"Yah, boleh aku bertanya?" tanya Revan hati-hati
"Silakan saja" ucap tuan Denias dengan hati berdebar-debar
"Apa ayah tahu siapa ayah biologis ku??" tanya Revan
Deg deg deg.....
taraaaaaaa.... jantung nya tolong di jaga...😁😁
silakan pinisirin ya.... next up besok malam guys....