
Pagi itu Bu Fitri memang berkunjung ke toko roti untuk melihat kondisi toko setelah enam bulan lebih tidak ia kunjungi.
Setelah kedatangan tuan Denias beberapa waktu lalu, Bu Fitri sempat menunda niatnya datang ke kota tapi karena beberapa pertimbangan akhirnya Bu Fitri nekat pergi beberapa hari setelah kedatangan tuan Denias.
Saat tiba di toko Bu Fitri seperti biasa langsung berkutat dengan pekerjaan lamanya seperti biasa. membantu istri bang Somat membuat adonan di bantu beberapa karyawan.
"Bu, toko kita sering dapat orderan dadakan dari perusahaan asing, biasa dalam sehari pesan 1500 kotak" ucap salah satu karyawan.
"Oh ya? bagus dong artinya bonus kalian juga mesti banyak" sahut Bu Fitri tersenyum
"Ya Alhamdulillah, istrinya bang Somat itu baik banget, sabar, telaten, jujur tapi kalau pas marah nakutin Bu" seru karyawan bernama Rumi itu.
"Ahahah dia emang gitu, makanya kamu kerja yang bener, belajar baik-baik siapa tahu suatu saat kami juga bisa buka toko roti di kampung kamu sana" ucap Bu Fitri memberi wejangan
"Amiiin, semoga ya Bu" sahut Rumi senang.
"Kamu lanjutin ya, saya mau ke depan sepertinya ada pelanggan datang" ucap Bu Fitri
"Siap Bu"
Bu Fitri melangkah keluar dari pantri menuju ke etalase yang memajang berbagai macam jenis roti.
"Silahkan di pilih mas, hari ini toko kami sedang ada diskon 30 persen untuk pembelian 100 ribu untuk macam-macam roti dan kue" ucap Bu Fitri menyapa seorang pelanggan yang juga tengah terkejut dan memandang nya lekat
"Eh ma...maaf Bu, saya kaget aja di ajak ngomong" ucap pelanggan pria itu pada Bu Fitri
"Oh maaf, iya nggak papa, silakan di pilih roti dan kue nya mas" ucap Bu Fitri ramah.
Pelanggan tersebut mengangguk dan berjalan mengelilingi etalase. Bu Fitri langsung ke meja kasir saat seorang anak SMP akan melakukan pembayaran.
"Semuanya 100 ribu ya dek, karena hari ini ada diskon maka cukup bayar 75rb saja untuk semua jenis roti." ucap Bu Fitri.
"Wah, makasih ya Bu dapet diskon akhir nya, besok-besok diskon lagi ya Bu, biar saya kesini terus hehehe" ucap anak berseragam SMP.
"Haha boleh lah untuk anak cantik seperti kamu apa yang nggak sih?" sahut Bu Fitri
"Ini uang kembaliannya ya, terimakasih sudah berkunjung ke toko kami" ucap Bu Fitri menyerahkan kantong plastik berisi roti dan uang kembaliannya.
"Sama-sama Bu, hari ini saya ujian Nasional Bu, doakan saya lulus ya biar bisa masuk SMA favorit nanti" ucap gadis berseragam SMP itu.
"Oh ya, semoga kelak ilmunya berkah ya, jangan lupa berdoa, doa Tante juga tetap ada untuk mu" kata Bu Fitri tersenyum tulus.
Setelah gadis berseragam SMP itu benar-benar pergi, hatinya kembali merasakan sakit saat mengingat anak yang ia kandung berjenis kelamin perempuan meninggal sesaat setelah lahir ke dunia, adik dari si kembar Arkan dan Dimas.
"Bu maaf ini semua berapa?" tanya pelanggan pria yang tadi beliau sapa.
"Semuanya 250 RB mas, cukup bayar 200 ribu saja" ucap Bu Fitri sembari memasukkan kue ke dalam kantong plastik berlabel nama Al-Fitrah cake and bakery.
"Terimakasih mas sudah berkunjung ke toko roti kami, semoga selalu sehat" ucap Bu Fitri tersenyum seraya menyerahkan belanjaan pelanggan.
"Ini uangnya Bu, pas ya, terimakasih banyak" ucap pria itu berlalu dengan wajah tak bisa terbaca.
Bu Fitri masuk kembali ke dalam pantri setelah salah satu karyawan datang menggantikannya di kasir.
Bu Fitri tersenyum memandang semua sudut ruangan yang sudah menjadi tempatnya kedua setelah rumah mereka. disinilah awal-awal ia berjuang untuk anak-anaknya setelah kepergian sang suami saat si kembar masih kecil.
"Bu ini laporan keuangan bulan ini, semua sudah saya rekap" ucap Silvi salah satu staf toko roti yang di percaya mengurus keuangan toko.
"Oh iya nanti saya cek ya, gimana kabar ibu kamu Silvi?"
"Alhamdulillah ibu sehat, kemarin sudah bisa jalan-jalan ke mall, cuci mata katanya"
"Haha, ibu kamu masih membara semangat nya ya, salam buat ibu ya, sekalian hari ini kamu minta Rumi buatin kue kesukaan ibu kamu, bawa pulang"
"Lah Bu, kemarin sudah di bawain bos baru, sekarang masa mau di bawain lagi, yang kemarin belum habis Bu, lain Ki aja" ucap Silvi menolak.
"Udah buat tetangga kamu juga nggak papa, bawa aja" ucap Bu Fitri
"Iya nih mbak Silvi ada rejeki kok di tolak," sahut Rumi yang datang membawa sebaskom Cherry untuk hiasan kue tart. Silvi hanya tersenyum jahil pada Rumi.
"Ini buat pesanan siapa ya?" tanya Bu Fitri yang baru ngeh dengan kue tart yang sejak tadi di kerjakan oleh Rumi.
"Buat si anak kembar Keenan dan Keana anaknya bos muda yang cantik itu loh Bu, yang besanan sama perusahaan asing, eh salah menantunya pemilik perusahaan asing itu loh Bu" jawab Rumi.
Bu Fitri tercekat, tidak salah lagi sudah pasti ini anak Kinara dan Azka. tidak terasa mereka sudah berusia sembilan bulan lebih. Bu Fitri pamit ke belakang tanpa berkata apa-apa membuat Silvi dan Rumi sempat saling lirik.
Bu Fitri mengusap air matanya yang turun tanpa di minta, kesedihan itu kembali mengusik hati kecilnya.
"Maafkan anak Tante Ra, Tante nggak bisa didik Reno dengan baik, maafkan Tante sudah bikin masalah buat keluarga kamu" ucap batin Bu Fitri.
***
Revan hanya mengelus dada setelah mobil Pajero hitam itu keluar melewati pagar rumahnya membawa sang istri pergi bertugas untuk satu minggu ke depan.
Ia sudah berusaha meminta maaf semalam tapi rupanya Vivi benar-benar sulit untuk di takluk kan hatinya jika tengah marah.
Revan benar-benar menyesali ucapannya kemarin sore pada sang istri. karena fisiknya yang lelah bekerja seharian belum lagi mendapatkan kabar dari anak buahnya kemarin membuat Revan uring-uringan dan ia lampiaskan pada Vivi.
"Maafkan aku Vi, maaf" batin Revan sedih.