
"Mas, ngerasa aneh nggak, kenapa Keisya Langsung setuju tanpa pertimbangan saat ayah ingin menjodohkan nya dengan Reno?" tanya Kinara seraya menatap tampilan dirinya di cermin memakai baju seragam keluarga untuk pertunangan Keisya besok lusa.
"Nggak tahu juga, mas juga penasaran sih sebenarnya tapi nggak berani mau nanya-nanya, kalau Reno sekarang ada di posisi mas dulu saat pertama kali kita di jodohkan, saat itu mas shock, bener-bener nggak bisa nerima dan jujur saja mas merasa terpaksa, tapi bukan berarti mas mau lepas tanggung jawab, mas nggak seperti itu, seiring waktu, mama meyakinkan mas dengan membawa foto masa kecil kita, jujur aja mas kaget sekaligus bahagia setelah tahu kalau yang di jodohkan itu kamu" ujar Azka panjang lebar.
"Mas curhat?" Kinara mengerling menggoda sang suami.
"Ck, ah kebiasaan orang ngomong panjang lebar cuma bilang, mas curhat?" ucap Azka kesal.
"HahahahA abis mas lucu sih, orang nggak nanya kesana mas jawabnya kesono"
"Udahlah, cepetan ganti lagi, kita terlambat nih" Azka melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bentar, lagian acaranya jam 11 siang, ini baru jam sepuluh" Kinara mengibaskan tangannya
"Perjalanan rumahnya si Yuni jauh di pinggiran kota" tukas Azka
"Hadeh ya udah deh"
Hari ini Kinara dan Azka akan menghadiri undangan pernikahan teman sekelas Azka. libur semester ini memang tidak ada rencana kemanapun karena dokter melarang untuk melakukan perjalanan jauh.
"Kenapa nggak ngajak Reno tadi ya mas?"
"Reno udah bilang tadi malam di telpon, katanya sibuk karena mau ada turnamen sebentar lagi, dia ketua panitia jadi nggak bisa kemana-mana" ucap Azka berbohong tentang Reno sudah menghubungi nya semalam.
"Owh udah libur semester masih sibuk aja dia"
"Maklumlah emang udah pekerjaan nya gitu"
"Mas nggak ada ikutan organisasi lain selain prodi?"
"Ada"
"Apa?"
"Jadi ajudannya nyonya Kinara hahahah"
plak
"Apaan sih ngelawak mulu"
"Eh bentar lagi ada bazar bisnis kerjasama dengan penggerak umkm daerah, mas kebetulan ikut berpartisipasi di sana"
"Kapan mas?"
"Semester depan rencananya tiga bulan lagi, pak dekan udah meminta mas jadi juru bicaranya mewakili prodi saat pembukaan nanti"
"Wah bagus dong, emang bisa?"
"Maksudnya?"
"Praktek pidato bahasa Indonesia aja mas grogi, mau jadi juru bicara segala" cibirnya
"Itu dulu karena mas belum lancar bahasa Indonesia jadi takut salah trus di ketawain gitu"
"Owh kalau sekarang kan udah lancar, malah bahasa Jawa juga udah tahu sedikit, jadi masih yakin bisa jadi juru bicara?"
"Astaga...kamu nyepelein mas?"
"Ya nggak juga"
"Issh lihat aja nanti penampilan mas yang memukau"
"wleeek"
Sepanjang jalan mereka bercerita seru saling menggoda, saling melempar lelucon.
Di tempat lain, Reno datang ke kediaman Tante Ratih seorang diri karena permintaan wanita paruh baya itu. besok lusa adalah hari pertunangannya dengan Keisya. untuk hal itu Tante Ratih memintanya datang seorang diri.
"Keisya kemana Tante?" tanyanya saat sudah berhadapan dengan Tante Ratih.
"Keisya ada di kamar, mau ngomong?"
"Minum dulu Ren, Tante ke dalam dulu mau ambil sesuatu"
"Iya Tante"
Reno menyesap teh hangat yang sudah di suguhkan. sesekali matanya melirik ke arah bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tamu.
Reno menarik nafas panjang, tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya akan ada titik ini. menikah belum ada dalam kamus hidupnya apalagi bertunangan tanpa pernah melibatkan perasaan masing-masing. Benar-benar hal yang tidak terduga
Tak lama Tante Ratih datang bersama mbok Jum yang membawa nampan berisi kue basah yang masih mengepul sisa uap panasnya.
"Silakan den Reno, baru di angkat dari panci ini, kebetulan tadi non Keisya minta di buatin mendut" ucap mbok Jum
"Terimakasih mbok, jangan terlalu formal lah, panggil Reno aja"
"Ya nggak sopan lah den,"
"Gitu ya mbok, tapi tetep aja saya yang jadi sungkan kalau gitu mbok hehehe"
"Lah den Reno ini..ya udah silakan di nikmati saya mau ke belakang lagi"
"Iya mbok makasih ya"
Tante Ratih dan Reno memperhatikan mbok Jum yang hilang di balik pintu pemisah antara ruang keluarga dan ruang tamu.
"Nak Reno maaf sebelumnya kalau Tante minta kamu datang"
"Iya Tante nggak apa-apa,Tante sehat?"
"Alhamdulillah Tante sehat, terimakasih kamu sudah nyempatin waktu datang kesini,"
"Nggak papa Tante, saya juga nggak lagi sibuk kok"
"Begini nak Reno, sebenarnya ini bukan ranah Tante, karena ini hak ayahnya Keisya, tapi karena beberapa hal yang mendesak jadi saya yang harus mewakili"
"Apa ya Tante?"
Tante Ratih mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam jilbab besarnya dan meletakkan diatas meja.
"Ini milik almarhumah calon ibu mertua mu, set perhiasan ini memang sudah di atas namakan Keisya jika kelak dia kembali dan menemukan jodohnya, pak Wibowo mengamanahkan saya untuk memberikan ini padamu nak Reno, terimalah ini untuk hari pertunangan kalian lusa" ucap Tante Ratih pelan.
Reno terdiam jauh di sudut hatinya ia merasa tersinggung dengan pemberian ini, nalurinya sebagai pria seolah di tindas secara halus tanpa meninggalkan jejak.
Ia akui memang jasa almarhumah begitu besar untuknya dan keluarganya tapi jika hanya untuk memberikan sebuah mahar pada anak perempuan mereka bukanlah hal sulit bagi Reno.
"Maaf Tante, lebih baik ini berikan saja pada Keisya sebagi kenang-kenangan dari almarhumah Bu Amina, saya sudah menyiapkan perhiasan sendiri untuk Keisya" ucap Reno sopan karena takut ucapannya akan menyinggung Tante Ratih.
Tante Ratih tersenyum samar, ada rasa bangga pada sosok anak muda yang duduk di depannya saat ini.
"Kamu yakin nggak mau Nerima ini nak Reno? kamu bisa menghemat biaya loh" tukas Tante Ratih dengan senyum smirk.
"Maaf Tante, keputusan saya tetap tidak bisa di ubah, saya tidak bisa menerima ini sebagai hadiah untuk pertunangan kami, sama halnya saya mencuri secara terang-terangan, saya dan ibu sudah menyiapkan perhiasan sendiri untuk Keisya " ucap Reno tegas membuat senyum Tante Ratih semakin mengembang.
"Tante kenapa senyum gitu?" tanya Reno heran.
"Terimakasih, kamu sudah lulus ujian saya nak Reno" ucap Tante Ratih tersenyum. lalu, " perhiasan ini memang milik almarhum yang sudah di amankah pak Wibowo pada saya untuk di berikan pada kalian saat hari pertunangan dan saya terbersit ide untuk menguji kelayakan kamu sebagai calon menantu, maafkan kelancangan Tante ya nak"
Reno tersenyum hambar, hampir saja ia terjebak pada permainan orang tua di hadapannya ini. sudut hatinya sedikit lega karena ia hanya kena prank saja.
"Terimakasih atas perhatiannya Tante, saya tidak menjanjikan apapun untuk Keisya tapi saya akan tetap bertanggung jawab atas hidupnya nanti setelah hari itu"
"Terimakasih juga nak, kamu priabyang jujur dan tegas Tante suka kepribadian kamu yang sayang dengan keluarga "
"Haha Tante bisa aja, jadi malu saya"
"Mau ketemu Keisya?"
................