KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 80



"Assalamualaikum" ucap Tante Meri di depan pintu rawat inap Puput.


sudah lebih dari lima belas hari Puput di rawat dirumah sakit. selama itu pula hanya Andin dan Bu RT yang bolak-balik menjaga Puput bergantian.


Andin masih melayani pesanan nasi sehingga ia tetap harus bolak-balik rumah sakit-kontrakan. hanya itu saja satu-satunya mata pencahariannya di kota orang. jika Bu RT juga sedang sibuk, hanya perawat yang menjaga Puput hingga mereka berdua datang saat hari sudah malam.


Sama seperti hari ini, Bu RT yang mendapat giliran menjaga Puput, sedangkan Andin pulang untuk mengisi lapaknya dengan aneka makanan dan jajanan.


"Waalaikumsalam, eh masuk Bu, darimana ya?" tanya Bu RT bingung karena baru pertama kali melihat Tante Meri


"Kenalkan Saya tantenya Reno bu, ini anak saya yang bungsu" ucap Tante Meri memperkenalkan diri menyambut uluran tangan Bu RT.


"Oh iya, saya Bu Jum selaku istri ketua rt yang menjaga Puput Bu" kata Bu RT


"Iya, iya, oh ya mana Andin Bu?"tanya Tante Meri


"Andin? ibu kenal Andin?" tanya balik Bu RT


"Kenal, temennya keponakan saya sudah pasti kenal Bu Jum" ujar Tante Meri


"Hehe Andin pulang untuk menjual Bu, setiap hari seperti ini, kalau pagi sampai sore saya yang jaga Puput, kalau malam gantian Andin yang jaga sampai pagi" Kata Bu RT.


Tante Meri duduk di sofa setelah di persilahkan masuk, sedangkan Angel justru naik ke atas brankar di samping Puput yang tengah tidur.


"Reno nggak ikut Bu?" tanya Bu RT.


"Ke kamar mandi dulu tadi, saya di minta kesini duluan" jawab Tante Meri


Tak lama Reno datang menenteng kantong kresek berlogo sebuah mini market terkenal.


" mas Reno udah lama nggak kesini, pasti sibuk ya" seru Bu RT seraya menerima keresek dari tangan Reno.


"Iya Bu, lagi sibuk-sibuknya sekarang, ngisi rapor onlinenya anak-anak, Andin kemana Bu?" kata Reno


"Andin pulang, saya sudah larang buat libur jualan dulu sampai Puput sembuh, tapi Andin kekeuh, katanya siapa lagi yang mau ngasih dia uang kalau dia nggak kerja" ujar Bu RT


Tante Meri yang mendengar ucapan Bu RT terenyuh. bukan ia tak tahu asal usul Andin, tapi mendengar kegigihan Andin yang ingin mandiri dan tak mau bergantung dengan siapapun membuat rasa keibuannya meronta.


"Emang Andin jualan apa Bu RT kalau boleh tahu?"


"Ya segala macam Bu, minuman dingin, nasi kuning, nasi campur di dekat kampus, kan mas Reno yang dulu bantuin buka usahanya Andin, ya kan mas Reno?" tanya Bu RT pada Reno


"Iya Bu, hehe" kata Reno malu menatap Tante Meri.


"Reno udah pernah cerita dulu Bu RT, tapi saya nggak ngerti usaha apa yang di buka Andin, berarti kalau jam segini dia udah jualan Bu?" tanya Tante Meri


"Iya Bu, dari jam tujuh pagi dia udah buka, karena anak-anak kampus kan udah rame kalau yang masuk kuliah pagi, biasanya Andin menjual sampai jam tiga sore, bikin menunya juga nggak banyak Bu, yang penting kembali modal katanya" terang Bu RT.


"Ren boleh dong nanti singgah ke tempat Andin, mau ya?" tanya Tante Meri menatap Reno penuh harap.


"Iya," jawab Reno singkat.


Obrolan mereka masih terus berlanjut hingga suara langkah kaki suster bersama dokter Fritz datang untuk melakukan visit.


"Loh, Ren, kapan datang? kata istri mu kamu pergi ke luar kota" tanya dokter Fritz membuat seisi ruangan termasuk Bu RT melongo sedangkan Reno terlihat salah tingkah.


"Mas Reno udah nikah ya?" tanya Bu RT tanpa di rem. Tante Meri yang tahu maksud dari dokter Fritz langsung menyeret Bu RT keluar dengan alasan ingin makan di kantin.


Reno bernafas lega setelah Tante Meri dan Bu RT keluar, tinggal Angel yang rupanya tertidur di samping Puput.


Reno gegas mengangkat anak kecil itu dan membaringkan di sofa.


"Anak kamu Ren?" tanya dokter Fritz


"Istri kamu kemana kok nggak ikut?"


"Di rumah, gantian yang jaga Puput karena aku juga sibuk di sekolah sampai sore, ini kebetulan hari Minggu jadi aku bisa datang jengukin" ucap Reno beralasan.


"Oh" kata dokter Fritz seraya memeriksa kondisi Puput.


"pasien sudah bisa pulang, hanya mental nya saja yang sepertinya masih terguncang, dia butuh dukungan positif dari keluarga atau orang terdekat. depresi nya sepertinya cukup berat, bisa di ajak konsultasi dengan psikolog setiap beberapa kali dalam seminggu." ujar dokter Fritz pada Reno


"Butuh waktu berapa lama untuk sembuh?" tanya Reno


"Tergantung bagaimana kondisi mental pasien dan dukungan dari kalian, insha Allah sembuh" terang dokter Fritz


"Bisa di bawa pulang hari ini?"tanya Reno lagi


"Bisa, atau mau saya rekomendasikan psikiater untuk menangani traumanya?" tawar dokter Fritz


"Boleh dok, nanti saya bicara dulu sama Andin, gimana keputusan nya, karena pasien juga disini sebatang kara"


"Oh ya? silahkan di rundingkan dulu kalau begitu, kalau sudah deal, melapor langsung ke asisten saya ya" kata dokter Fritz tersenyum


"Baiklah dok terimakasih sudah merawat keluarga saya"


"Sama-sama, kita kan juga keluarga Ren"


"Hehe dokter mah bisa aja"


Setelah kepergian dokter Fritz dan asisten nya, Reno langsung menghubungi Andin tapi berulang kali sambungan telepon nya di tolak membuat Reno akhirnya menggunakan nomor rahasia nya selama ini.


"Kenapa nggak jawab telpon aku ndin? ini soal Puput, aku di rumah sakit sekarang" cecar Reno saat sambungan telepon terjawab.


"Mas Reno? Puput kenapa?"


"Jawab dulu ndin, kamu kenapa nolak panggilan ku berkali-kali?"


"Ck, lagian ada keperluan apa mas Reno ke rumah sakit?" tanya balik Andin


"Aku kesini karena Tante Meri yang ngajak, kalau bukan karena kemauan Tante Meri aku juga nggak mau datang ndin, aku tahu kamu masih marah, tapi ini demi kemanusiaan, karena Puput masih keluarga kamu makanya aku nelpon. Dokter Fritz bilang Puput sudah bisa pulang tapi tetap harus di kontrol kondisi mentalnya, depresi nya harus di tangani psikiater khusus, dan aku minta persetujuan kamu" terang Reno panjang lebar membuat Andin di sebrang sana merasa bersalah.


"Maaf mas, tapi aku nggak punya biaya kalau harus ke psikiater, keluarga mantan calonnya sudah bantu bayarin semua administrasi Puput aja aku udah seneng, meski nggak bisa balas apa-apa" kata Andin merendah.


"Nggak usah mikirin biaya, aku yang handle semuanya, sekarang kamu bisa kesini nggak? kalau nggak bisa biar aku sama Bu RT yang urus semua berkasnya. kamu tunggu di rumah saja" saran Reno.


"Ya udah terserah kamu aja mas, nanti aku bayar nyicil biaya berobatnya Puput" kata Andin menyerah


"Nggak usah di bayar" tegas Reno lalu mematikan sambungan telepon karena kesal dengan sikap dingin Andin.


Tak lama Puput terbangun dan mencari sosok Andin serta Bu RT.


"Mas Reno? Andin mana?" tanya Puput dengan suara parau.


"Andin nunggu kamu dirumah, hari ini kita pulang ya" kata Reno membujuk


"Nggak mau pulang, nanti mas Rizki bunuh aku kalau aku pulang hiks hikss, aku takut" ucap Puput meracau.


"Pulang kerumah ku aja, disana aman, Rizki nggak bakalan tahu kok. atau dirumah Bu RT?"


"Di rumah Bu RT? mau mau disana, kalau disana aku aman mas, kan pak RT punya pistol buat nembak mas Rizki" racau Puput lagi membuat Reno akhirnya geleng kepala saking laget melihat reaksi Puput.


Tak lama datang Tante Meri dan Bu RT, merek a akhirnya berdiskusi perihal kepulangan Puput dan rekomendasi psikiater khusus yang menangani depresi Puput.


Setelah berunding akhirnya dokter Fritz menyetujui permintaan Tante Meri untuk merawat Puput hingga kondisi psikologis gadis itu membaik.