
Dua minggu berlalu setelah lamaran Keisya dan tragedi kue jatuh yang berujung petaka pada Reno yang harus di rawat di rumah sakit karena peradangan lambung akibat minuman keras terlalu banyak.
Kini Reno sudah kembali pulang ke kosannya dan mengurung diri. hanya Fikar, Aldo dan Beno yang sesekali menjenguknya di kos tanpa sepengetahuan Azka ataupun Kinara karena bagaimanapun mereka tak ingin Keisya sampai tahu.
Keisya sempat ingin menemui Reno di rumah sakit untuk meyakinkan pendengarannya malam itu, tapi urung karena ia tak tahu harus bertanya pada siapa di mana Reno sedang di rawat.
Reno menatap langit sore yang menampilkan warna jingga kemerahan di ufuk barat, hatinya masih bergejolak tapi ia tetap mensugesti diri sendiri agar tak terlalu dalam larut dalam kesakitan yang tidak berperi.
Sudah beberapa hari semenjak ia pulang dari rumah sakit, Andin sering menghubungi nya dan itu berawal dari om Danu dan Tante Meri yang tengah menjenguk Andin di rumah kontrakannya setelah gadis itu di perbolehkan pulang oleh dokter dan kini om Martin menjadi orang tua angkat Andin karena mendengar langsung cerita tentang Reno dan Andin dari om Danu saat berkunjung kerumah sepulang dari liburan panjang bersama Arzan.
Reno sudah memutuskan untuk tidak lagi kembali mengulang masa lalu dan memperbaiki diri, bahkan ia masih tetap berniat menikahi Andin jika ia pulang ke Kalimantan dan berusaha membuka hati untuk gadis itu.
Tepukan tangan di bahunya membuyarkan lamunan nya. seorang wanita berjilbab biru tersenyum dan memberinya kode untuk sholat maghrib.
"Makasih mbak" ucap Reno
"Ke bawah ya dah di tungguin anak-anak kos, kita jama'ah di mushola baru hehe" kata mbak Indah.
Memang selama di rumah sakit hanya mbak Indah yang selalu mendorongnya untuk tetap tersenyum, mbak Indah yang selalu memberinya wejangan baik bahkan pernah membacakan sebuah cerita kisah nabi padanya saat ia masih dalam kondisi tidur karena pengaruh obat yang di diresepkan oleh dokter.
Meski setengah sadar, Reno tahu bahwa mbak indah tak ingin melihatnya terlalu bersedih hanya karena seorang wanita yang memang bukan takdir nya. mbak indah hanya ingin dia bisa bangkit dan menatap masa depannya yang masih panjang.
Mbak indah mengingat kan nya akan masa depan dan cita-citanya yang ingin menjadi seorang menteri pendidikan. mbak indah pula yang selalu membisikkan kata-kata penyemangat agar ia bisa bangkit kembali.
Reno tersenyum lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Saat Reno datang memang mushola di kos sementara dalam proses finishing, ini memang keinginan Bu Fitri sendiri yang sejak dulu ingin ada mushola untuk anak-anak kos yang muslim karena tepat berjarak dua rumah dari kos berdiri sebuah gereja. anak-anak kos yang beragama non muslim selalu berdoa di Gereja setiap Minggu.
Sebenarnya jarak antara kos dan masjid juga tak jauh dan masih dalam satu kompleks perumahan. hanya saja Bu Fitri lebih mengambil sisi hematnya saja, kalau ada mushola baru di area kos-kosan miliknya.
Reno melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan penghuni kos-kosan yang sekarang sudah nampak ramai seperti pasar ikan.
Di tambah ada taman bunga mini dan ladang sayur mini serta gazebo di area belakang menambah kesan betah untuk para penghuni kos.
Reno masuk kembali ke dalam rumah setelah sholat berjamaah dan membaca Alqur'an agar hatinya lebih tenang.
" Ren, ada tamu di depan, cewek pakai jilbab" suara mbak insha di ambang pintu membuatnya berhenti membaca barisan huruf Hijaiyah di depannya.
"Siapa namanya mbak? saya lagi nggak mau ketemu siapapun kecuali Andin" kata Reno tersenyum.
"Namanya Bu Kinar langganan ibu itu..." kata mbak indah pelan karena merasa tak nyaman.
"Oh suruh tunggu sebentar aku masih mau ngaji dulu"
"Oh iya"
Kinara memang sengaja datang ke kosan Reno untuk memastikan keadaan Reno, terakhir kali ia mendengar dari Azka kalau Reno sudah pulang. memang selama ini Kinara tak pernah menemui Reno dirumah sakit karena larangan dari sang suami yang mengatakan kalau Reno tak ingin menemui siapapun termasuk sahabatnya sendiri.
Meski kesal kinara tetap nekat menemui Reno karena hanya ingin bertemu pria itu setalah empat tahun mereka berpisah.
"Hai, apa kabar Bu bos?" sapa Reno di ujung tangga.
Kinara mendongak dan tersenyum, hatinya merasa takjub dengan penampilan Reno sekarang. banyak berubah. begitu bisik batinnya.
"Hai, orang jauh kabar baik, Lo apa kabar?" tanya balik Kinara
"Gue baik" kata Reno menjabat tangan Kinara erat-erat. ada desir rindu dalam hati Reno dengan wanita yang sudah terlihat lebih dewasa dari empat tahun sebelumnya itu.
"Alhamdulillah sudah masuk paud, jalan empat tahun" jawab Kinara menunduk
"Tumben Lo datang, ada kabar baik kayaknya nih" tanya Reno
"Hehe, nggak kok cuma pengen ketemu Lo aja, gue denger dari Aldo kalau Lo udah lama di sini ya?" tanya Kinara
"Hem, baru dua mingguan kayaknya, nggak lama lagi gue pulang karena waktu cuti gue udh hampir habis, susah lagi ngurus visa hehe" kata Reno sedikit menutupi keadaan sebenarnya
"Oh jadi Lo di luar negeri selama ini?"
"Iya, begitulah, ini juga gue sementara ngurus beasiswa S2 ke Mesir dan London tergantung mana yang lolos" kata Reno membuat Kinara menganga karena terkejut.
"Owh baguslah, semoga cita-cita Lo jadi menteri pendidikan terwujud, oh ya btw ini ada sedikit kado buat Lo, gue ingat dua hari lalu kalau ulang tahun Lo, maaf kalau sekiranya gue lancang, gue nggak ada maksud apa-apa" kata Kinara menyodorkan paper bag pada Reno di atas meja.
"Astaghfirullah gue aja yang ulang tahun nggak ingat sama sekali, terimakasih ya, Lo masih peduli sama gue" ucap Reno menerima paper bag.
"Hehe iya, semoga Lo suka"
"Apapun itu dari Lo gue tetap suka, oh ya gimana kabarnya Keisya?" tanya Reno meski pedih ia rasakan saat mengucapkan nama keramat itu.
"Keisya? ah...he..he... dia baik-baik saja Alhamdulillah sekarang sementara ngurus proposal penelitian buat ujian meja tahun depan insha Allah" kata Kinara sedikit tak enak hati
"Wow makin sukses ya, kuliah jurusan apa emang?"
"designer" kata Kinara
Reno terdiam dan menunduk, ada genangan air di sudut matanya yang sejak tadi berusaha ia tahan. beberapa saat ia terdiam lalu berucap, "Ra, maaf udah nyakitin Lo dan keluarga Lo, terutama Keisya, sampaikan maaf gue ke dia, gue .... gue udah buat dia jatuh berkali-kali sampai nekat bunuh diri, maafin gue Ra" ucap Reno sendu menahan sesak yang menyayat hatinya.
Kinara hanya terdiam dan tak menyangka Reno akan mengingatkannya dengan masa lalu mereka. dimana Keisya berkali-kali nekat mengakhiri hidupnya setelah Reno memutuskan pertunangan mereka saat itu.
"Iya nanti gue sampein, semua sudah berlalu Ren, nggak usah di ingat lagi, apalagi Lo kan udah beristri, kayaknya nggak baik kalau Lo tetap mengingat masa lalu Lo, itu bakal nyakitin istri Lo" kata Kinara lirih.
Reno sungguh terkejut dengan ucapan Kinara yang menyebutnya sudah beristri. tapi Reno tetap memilih diam dan tak menanggapi.
"Biar bagaimanapun aku punya hutang maaf sama kalian Ra, aku nggak pernah tenang kalau belum minta maaf setidaknya sama Lo, soal Keisya gue nggak berani ketemu takut kalau bakalan bikin dia tambah sakit, cukup sudah Keisya berjuang untuk sembuh karena kesalahan gue, dan gue nggak mau buat dia semakin terluka karena gue"
Kinara terdiam menyimpulkan arti kata yang di ucapkan Reno padanya.
"Ren, Lo cinta sama Keisya?" tanya Kinara membuat Reno sedikit salah tingkah.
"Ehm... nggak, gue cuma merasa bersalah aja Ra, lagian gue udah beristri kenapa masih mencintai masa lalu, hehehe" jawab Reno berusaha menyembunyikan perasaan nya.
"Trus kenapa Lo sampai masuk rumah sakit, apa karena Keisya?" cecar Kinara
"Ahhaha ngaco Lo, gue masuk rumah sakit nggak ada hubungannya sama Keisya, gue cuma kecapekan doang, banyak pikiran aja, lagian istri gue juga nungguin gue pulang" sanggahnya.
"Oh gitu" ucap Kinara menelan kecewa karena Reno tak mau jujur.
"Ini udah malam, kenapa Lo datang sendiri nggak sama Azka atau ngajak anak-anak Lo gitu?" tanya Reno merubah topik
"Gue dari butik langsung kesini, ya udah gue pamit ya, anak-anak udah nungguin di rumah" tanya kinara pamitan
"Oh iya makasih udah di kunjungi"
"Sama-sama"