KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
173 End?



"Assalamualaikum...."Ucap Kinara didepan pintu rumah. Azka membantu Kinara berjalan karena luka bekas jahitan masih sakit meskipun dia melahirkan secara normal.


Reno dan Kriting sedang sibuk mengeluarkan barang-barang mereka di dalam mobil.


"Yang tamu siapa sih sebenernya Ren?" tanya Kriting


"Diem Lo banyak omong" sahut Reno


"Argh tau gitu gue kesini pinjem mobilnya mbak Yas aja tadi" gerutu Kriting saat mengeluarkan sebuah tas besar dari bagasi mobil


"Banyak omong, tinggal aja bawa ke dalem" seru Reno, Kriting mencebik lalu memanyunkan bibirnya kesal.


"Eh mas Reno kenapa dibawa? kan ada satpam yang bisa ambilin barangnya, masuk aja gih, siniin tas nya" seru bik Siti di depan pintu rumah berjalan tergesa menghampiri Reno dan Kriting yang kesusahan membawa barang.


Bak mendapatkan angin segar, Kriting lalu menaruh tas besar di lantai saat menyadari wanita paruh baya itu menghampiri mereka. Reno pun melakukan hal yang sama meletakkan bawaannya di lantai. ia tahu betul bagaimana keluarga Azka memperlakukan tamunya. hanya saja selama ini ia merasa punya hutang budi, hingga ia rela membantu membawa barang-barang Azka dan Kinara.


"Mas Reno ajak temennya masuk aja, di dalem ada nyonya, dah masuk aja, nggak usah malu" titah bik Siti yang menyadari gelagat Reno yang merasa sungkan untuk masuk.


"Ya udah bik, makasih, yuk Ting" Reno menarik lengan kriting untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum...." ucap Reno di depan pintu, mama Hanna yang sedang berbicara dengan mbak Reni langsung menoleh dan tersenyum.


"Waalaikumsalam masuk Ren, udah lama ya tante nggak ketemu kamu hampir setahun kayaknya" ucap mama Hanna


Reno dan Kriting bergantian menyalami mama Hanna.


"Maaf ya waktu tunangan Tante nggak bisa hadir, tapi untuk pernikahan kalian nanti Tante pastikan sekeluarga pasti hadir" ucap mama Hanna antusias


"Hehe terimakasih Tante, semangat bener mau bawa warga sekompleks hehe"


"Ahhaa.... ya dong, ibu kamu aja bawa orang se RT, belum lagi penghuni kos-kosan yang sebanyak itu dibawa semua hahah tante juga bisa dong biar dapet rekor muri xixixi" ucap mama Hanna terkikik, Reno menanggapi nya dengan tersenyum.


"Tante mah bisa aja, oh ya dedek bayi nya mana, boleh lihat?"


"Oh iya-iya tapi dengan syarat kalian harus wudlu dulu ya, itu ada kran air di luar bisa kan?" ucap mama Hanna, Reno dan Kriting melongo mendengar ucapan mama Hanna.


"Baik Tante" ucap Reno akhirnya lalu pergi ke teras dekat taman untuk mencari letak kran air yang biasa ia gunakan membasuh wajahnya saat datang kesini dalam keadaan lelah. Kriting mengikuti langkahnya di belakang dengan alis bertaut. sejak tadi ia mendapati kejadian aneh saat memasuki rumah megah itu. dari sikap Reno yang seperti seorang asisten, kedua mau lihat bayi aja harus berwudhu dulu. ah benar-benar pengalaman baru baginya.


sementara itu di dalam kamar Kinara duduk di sisi ranjang sembari menggendong salah satu anaknya.


"Iihh gumussh banget, bangun dong, ini mama sayang, maafin mama baru datang, mama baru selesai berjuang demi kalian" ucap Kinara pada bayi mungil berwajah cantik mirip papanya.


"Mas ini kok malah mirip kamu banget sih, nggak ada miripnya sama aku" oceh Kinara membuat Azka terkekeh.


"Abis mamanya dulu di ajak buat kebanyakan drama sih, makanya mukanya mirip papa bukan mama, ya kan sayang" ucap Azka menoel pipi gembul sang putra di pangkuannya.


"Iiishhh.... mas ihh"


"Hehehe emang iya kan? wleeek" ucap Azka menjulurkan lidahnya.


"Assalamualaikum para baby-baby chubby gumuuuiii om ganteng datang" ucap Kriting di depan pintu kamar.


"Stop" Azka melotot memberi kode dengan tangan kanannya yang kosong.


"Lo basah, jangan deket-deket ntar masuk angin anak gue" ucap Azka


Reno memutar bola mata jengah, "Ini........" ucapannya terputus karena mama Hanna sudah menyahuti dari belakang


"Mereka abis wudlu Ka,mama yang nyuruh, biar nggak kena sawan, ngerti? kamu tadi masuk kesini wudlu dulu nggak?, cuci muka, cuci kaki, cuci tangan?" mama Hanna memberondong Azka dengan pertanyaan balik. membuat Azka menggeleng lemah. Reno dan Kriting mencibir merasa ada yang membela mereka.


"Rasain tuh di omelin mamanya sendiri kikikikik."ucap Kriting dalam hati. sedangkan Reno hanya tersenyum mengejek.


"Mama tanya Azka udah belum?" ulang mama Hanna tegas


"Nggak, mama nggak ada ngomong" sahut Azka


"Astaghfirullah, tadi mama udah ngomong kamu nggak denger?" tanya mama Hanna kesal


",Ma, tadi telinga nya di sumpelin headset makanya nggak denger " ucap Kinara membuat Azka semakin kesal.


"Ya udah sana mandi dulu, bersih-bersih baru pegang bayi, sini bayinya biar sama mama aja, lagian ada om muda yang jagain, ya kan sayang?" ucap mama Hanna memberi perintah seraya mengambil bayi laki-laki di pangkuan Azka.


"Reno duduk di kursi, kamu pegang baby nya ya, kan nggak lama lagi juga punya bayi" ucap mama Hanna menyerahkan bayi laki-laki itu ada Reno yang langsung duduk sesuai perintah.


"Ra, kamu juga bersih-bersih dulu, di kamar bik Siti sekalian perawatan, mulai hari ini sampai selesai tiga bulan kedepan bik Siti yang bakal merawat kamu, si cantik sama om ganteng dulu ya" ucap mama Hanna meraih bayi mungil cantik itu di pangkuan Kinara.


"Loh ma..." ucap Kinara tak terima


"Ra, kalaupun memang almarhum ibumu masih hidup, sudah pasti akan melakukan hal yang sama, seperti yang mama lakukan sekarang, menurut lah"sahut mama memohon


meski dengan perasaan terluka mengingat sahabat baiknya Amina yang dulu pernah ikut merawatnya dan bayinya saat melahirkan Sean.


Kinara menurut dan meninggalkan kamar menuju kamar bik Siti sesuai perintah mama Hanna.


"Nah, anak cantik ikut om ganteng dulu ya" ucap mama Hanna menyerahkan bayi mungil cantik itu di pangkuan Kriting yang juga duduk di sofa tanpa di perintah.


"Wah, comelnya anak siapa sih ini? Anak papa cama mama dong om" ucap Kriting menirukan suara khas anak-anak.


Mama Hanna yang mendengar celotehan kriting ikut terkikik geli, rupanya tidak salah ia meminta Reno datang pagi tadi.


"Nama kamu siapa?" tanya mama Hanna pada Kriting.


"Supriyanto Tante, tapi biasa di panggil Kriting karena miliki gen rambut yang berbeda dari keluarga besar yang rata-rata memiliki rambut hitam legam dan lurus, saya punya kelainan genetik yang aneh dan harusnya lucu sih, karena saya sendiri yang rambutnya kriting di keluarga besar." ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Kriting membuat mama Hanna tertawa terbahak-bahak.


"Emang dasarnya gitu Tan, dia calon adik ipar perawat yang jagain Kinara di rumah sakit tan"


"Maksud kamu Yasmin atau Intan?"tanya mama Hanna


"Yasmin Tante" jawab kriting menyahuti.


"Wah ternyata calon adik ipar suster cantik itu ya?"


"Iya dong, berkat saya juga Abang saya yang udah jomblo karatan akhirnya bisa menikah sekarang kikikikik" ucap kriting terkikik. Tante Hanna tertawa mendengar banyolan Kriting.


"Tan, ke depan aja lebih nyaman, ini pegel tangan ku hehehe"ucap Reno.


"Oh ya udah yuk, kalian bawa ke depan televisi aja ya, kita lesehan disitu, Tante ambilkan kasurnya sama bantal"


Reno dan Kriting melangkah penuh hati-hati menggendong para bayi mungil itu hingga ke ruang keluarga, lalu duduk di atas sofa bersebelahan.


"Ren, kalau aja gue punya bini, 24 jam gue nggak keluar rumah hihihi" oceh Kriting. Reno mencebik


"Ya cepetan nikah, jangan kebanyakan ngitung angka" sahut Reno


"ah bisa aja Lo, itu modal gue buat ngelamar si Catty,"


"Catty...emang kucing?"


"Taraaa sini cucu-cucu Oma bobok di atas kasur"ucap mama Hanna seraya menggelar kasur bayi di atas karpet bulu. Reno dan Kriting lalu menidurkan mereka di atas kasur.


"Ting tong


"Tan, bunyi bel nya tuh" ucap Reno seraya mengusap lembut pipi gembul bayi perempuan Kinara.


"Ini siapa namanya tan?" tanya kriting


"Nggak tahu, tanya aja Bapaknya heheh" jawab Tante Hanna seraya beranjak menuju ke depan membuka pintu.


"Iya... waalaikumsalam siapa sih, nekan bel segitu amat, orang masih hidup telinganya belum tuli" omel mama Hanna kesal karena bel sejak tadi berbunyi tak berjeda.


"Iya......Waa.......... Astaghfirullah kaliaaan??" teriak mama Hanna terkejut melihat kedatangan keluarga besar Kinara dan suaminya.


"Taraaaaaaa kejutaaaan...." ucap Steffy meringis seraya mengangkat paper bag berukuran besar ke hadapan mama Hanna.


"Bengong aja, kita nggak di suruh masuk nih?" sahut Tante Amira memasang wajah kesalnya


"Ee...eeh i...iya, ini gimana ceritanya, papaaaaaa" panggil mama Hanna kesal karena suaminya sedang asyik bercerita dengan seorang satpam dan Mr.Andrew suami Tante Amira di dekat pos satpam.


"Huss jeng, sabar lah, mereka lagi reuni, biarin aja, yuk masuk kita tuh capek perjalanan 18jam transit tiga negara tau nggak?" omel Tante Amira menggamit lengan besannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Steffy mengikuti langkah keduanya sembari menyeret koper dan sebuah paper bag.


Tanpa mama Hanna sadari satu persatu rombongan yang tadi bersembunyi di halaman samping di dekat bagasi, mulai masuk mengikuti langkah Steffy.


Pakde Wahyu beserta anak dan istrinya, Revan dan Lutfiah, Tante Ratih, Mala, nenek dan kakek Handoko, tuan Denias beserta anak isteri serta cucu dan menantunya, tuan Anderson, Sean, dan keluarga besar mereka dari Jerman, tuan Wibowo dan Keisya serta keluarga besar dari desa, dan tak lupa Aldo, Ririn, Riska, Fikar, Beno, Cici, ibu dan adik almarhumah Nana, dan masih banyak teman satu kelas Kinara, Firda dan Uswa serta tak ketinggalan Lina si biang rusuh yang insyaf, Gugun dan masih banyak lagi relasi yang datang kerumah siang itu.


"Astaghfirullah....." teriak mama terkejut saat menoleh ke belakang melihat banyaknya rombongan yang masuk ke dalam rumahnya


"Kejutan" seru semua orang yang ada di dalam ruangan sebagian sudah duduk di sofa, ada yang lesehan di lantai dan sebagian juga masih di teras depan.


"Ini......" ucap mama Hanna menoleh pada besannya yang meringis sejak tadi.


Mama Hanna menyalami semua keluarga satu persatu. Tante Amira memilih celingak-celinguk mencari dimana letak kamar bayi mungil kembar cucu keponakan pertamanya.


Tidak ada yang sadar jika tadi saat mama Hanna berjalan tergesa ke depan membuka pintu, kriting yang jahil mengikuti dari belakang, dan sekilas melihat dari arah jendela kamar tamu yang terbuka pintunya, ada banyak orang bersembunyi di halaman samping.


Kriting segera menemui Reno dan memberikan kode untuk membawa kedua bayi itu masuk kembali ke kamar mereka dan menguncinya dari dalam.


"Lo gimana sih Ting,ntar marah Tante Hanna"


"Udah diem Lo, tutupin tuh semua gorden jendela, mumpung bayinya bobok anteng nggak rewel, inget nggak, tadi kita di kerjain dulu suruh wudlu, nah tuh orang sebanyak itu nggak boleh ada yang nyentuh bayi sebelum mandi, bau-bau asap knalpot semua, kalau para bayi sakit gimana?" bisik Kriting realistis di balas anggukan oleh Reno.


"Barusan Lo pinter, emang dasar printer hihihi" ucap Reno terkikik, "tapi kalau Tante mau masuk Lo yang bukain pintu ya?" lanjut nya.


"Beres, lagian emak bapaknya lagi perawatan kita jadi baby sitter dadakan dulu kikikikik" balas kriting tertawa pelan. matanya menelisik pada satu box yang sangat ia kenali. " itu lihat ASI-nya masih ada stoknya nggak di box coklat itu tuh" titahnya pada Reno.


Reno mengikuti perintah kriting lalu mengacungkan jempol saat sudah membuka tutup kotak.


sementara itu diluar rumah terjadi kegaduhan karena papa Anderson memesan tenda darurat dari seorang tetangga yang baru selesai hajatan untuk tempat berteduh tamu yang datang, untuk tempat tinggal keluarga yang datang dari jauh mereka sudah siapkan beberapa rumah yang di milikinya serta sebagian juga tunggal di rumah besannya tuan Wibowo.


Tante Amira yang sudah kesal berkeliling akhirnya menuju ke dapur mengambil air minum, bik Siti yang dulu juga sempat bertemu almarhumah nyonya Amina di buat terkejut dan langsung berteriak.


"Astaghfirullah hantu...... hisss hussss" teriak bik Siti ketakutan sembari mengarahkan spatula di depan Tante Amira.


"Bik apaan sih?" tanya Reni yang kaget karena teriakan bik Siti lalu setelahnya tertawa saat menyadari siapa yang membuat wanita tua itu ketakutan.


"Ini Tante nya nona muda, adik kembarnya almarhumah nyonya Amina bik, udah berapa kali kesini kayaknya ya" ucap mbak Reni di angguki oleh Tante Amira yang masih memegang gelas.


"Kenapa teriak bik?" ucap mama Hanna di depan pintu dapur


"Nggak papa nyah tadi ada tikus besar lewat bikin kaget saya teriak"


"Oh kirain"


"Hei, daritadi aku keliling pengen lihat cucu, kamu sembunyikan dimana?" cecar Tante Amira kesal


"Hah?" mama hanna melongo