
"Dim, mas mu mana?" tanya Bu Fitri saat baru tiba di rumah bersama Arkan.
"Pamit Bu, buru-buru mau ke kota M ada lomba fotografi sama temen kampusnya dari Kalimantan sekaligus wisata alam dan budaya, katanya empat harian disana" jawab Dimas tanpa ekspresi.
"Kenapa nggak pamit sama ibu?"
"Tadi rencananya mau mampir ke puskesmas tapi temennya sudah nunggu di batas mereka nggak tahu jalan makanya mas Reno buru-buru dari subuh, salah satu temannya juga ada yang keserempet mobil katanya" terang Dimas tanpa menambah alasan apapun karena memang pukul satu dini hari Reno mendapatkan telepon jika temannya dalam perjalanan mengalami kecelakaan.
"astaghfirullah, mas mu bawa bekal nggak?"
"Sebelum berangkat sudah sahur Bu, sekarang makin rajin puasa dia" kata Dimas
"Itu barang-barangnya Arkan bawa masuk, kasih uang sewa mobilnya pak RT ya, ambil di tas ibu" titah Bu Fitri pada Dimas.
"Iya Bu" ucap Dimas berlalu meninggalkan ibunya yang memapah Arkan masuk ke dalam kamar.
"sudah Bu, aku mau duduk di kursi saja, ibu istirahat aja, ada Dimas kok" kata Arkan agar tidak merepotkan ibunya yang terus menuntunnya duduk di tepi ranjang.
"Yakin kamu baik-baik aja?" tanya Bu Fitri cemas.
"Iya Bu, kalau cuma pindah dari kursi ke ranjang aku bisa, udah ibu kesana aja temui pak RT" ucap Arkan
"Ya udah, kalau ada apa-apa panggil ibu ya?"
"Iya iya"
Sepeninggal ibunya Arkan menoleh ke arah jendela kamar yang sudah terbuka, matanya tertuju pada bagian atap gudang belakang yang hanya terlihat atapnya saja dari kamar.
"Maaf mas, kalau selama ini aku sudah Banyak berprasangka buruk padamu, Ku pikir kamu dan Dimas yang paling di sayang sama bapak ibu sedangkan aku tidak, ternyata ada rahasia yang kalian simpan selama ini dari ku, kenapa nggak ngomong sejak dulu?" batin Arkan sedih
Bu Fitri dan almarhum suaminya memang sengaja merahasiakan hal ini dari Arkan karena tak ingin membuat anak mereka merasa menjadi beban, Bu Fitri hanya ingin agar anaknya bisa hidup normal seperti saudara nya yang lain meskipun masih harus terus mengkonsumsi obat yang mereka katakan sebagai vitamin.
Bu Fitri hanya ingin Arkan bisa hidup tenang tanpa merasa terbebani dengan sakit yang ia rasakan meskipun dokter sudah mengatakan sembuh tapi kemungkinan untuk mengalaminya di saat dewasa juga perlu jadi bahan pertimbangan. manusia hanya berusaha tapi segala sesuatu hanya tuhan yang menentukan.
Arkan bisa hidup dan sembuh dari penyakit bawaannya sejak lahir saat usianya dua tahun, merupakan satu anugerah terbesar bagi Bu Fitri dan almarhum suaminya kala itu.
Arkan tertidur di kursi karena rasa ngantuk yang teramat sangat. Bu Fitri baru masuk kembali ke dalam kamar satu jam kemudian setelah menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya.
"Ar, bangun udah Maghrib sholat dulu baru makan malam" Bu Fitri membangunkan Arkan tapi Arkan tetap tidak bergeming
"Ar, bangun nak ayo sholat"
"Ar, Arkan bangun nak" ucap Bu Fitri ke sekian kalinya dengan wajah cemas
"Ar...Arkan...Ar....bangun nak, bangun" panggil Bu Fitri sekali lagi
"Kenapa Bu? Arkan belum bangun?" tanya Dimas yang masuk ke kamar karena mendengar ibunya memanggil Arkan berkali-kali
Arkan memeriksa denyut nadi dan nafasnya lalu berucap, "Pingsan Bu, bantu angkat ke ranjang". kata Arkan
Dimas mengangkat tubuh Arkan ke atas ranjang, lalu mengambil air minum yang tergeletak di atas nakas, lalu mengusapkan air itu ke wajah Arkan tiga kali.
"Ke..kenapa disini? tadi aku di kursi" ucap Arkan bingung
"Ibu yang ngangkat kamu kesini, makanya jangan tidur sore, kerasukan Lo, bisa bangun kan? ayo sholat" ucap Dimas
"Bu..."panggil Arkan pada ibunya
"Udah cepat bangun sholat baru makan malam, kamu juga harus minum obat" ucap Ibunya tak terbantahkan.
*****
"Ren, kamu kenal mereka?" tanya salah teman kampusnya di Kalimantan
"Iya, beberapa dari mereka aku kenal karena kami pernah ikut ajang yang sama saat SMA dulu, bahkan mereka ada loh yang dari SMP sudah ikut fotografi begini" jawab Reno
"Oh ya? wah mereka orang hebat ya, apa mungkin kita bisa pulang bawa piala?" kata salah satu teman rombongan nya yang lain
"Jangan pesimis, kita dan mereka juga sama-sama belajar, yang paling penting dari lomba ini bukan pialanya tapi kerjasama kita dan juga pengalaman baru serta teman-teman baru yang nggak mungkin bisa kita ulangi lagi".
"Bener kata kamu ren, yang paling penting aku bisa tamasya keluar kota hahaha"
"Ahhaa bisa aja kalian, oh ya btw besok aku pulang duluan ya ada urusan mendadak soalnya, bisa nggak kalian pulang sendiri atau mau nunggu gue jemput?" tanya Reno
"Kamu mau kemana Ren? nggak ikut lomba?"
"Setelah lomba, aku langsung pulang dulu,"
", Bukannya rumah kamu kesini perjalanan setengah hari?"
"Iya juga, tapi ini juga kondisi darurat, aku harus pergi, nanti kalau ada masalah kalian telpon aja, atau kalau mau kalian bisa nunggu aku di rumah yang tadi, jangan khawatir itu milik ibuku yang memang lama di kontrakan"
"Okelah semoga urusan kamu cepat selesai Ren, makasih udah nolongin kami tadi"
"Iya sama-sama, jangan sungkan"
"Yok kesana itu udah pada ngumpul semua disana" ajak Reno pada teman-temannya.
"Ternyata malam disini rame ya nggak kayak di tempat kita" seru salah satu teman rombongan
"Desa Cui, ini kota jelas beda lah, dimana-mana namanya desa tetap aja sepi kalau udah malam"
"Hahaha, iya nih ngaco aja kamu, jangan katrok lah malu tau"
"Ya nggak katrok juga, cuma ini juga desa tapi bisa seindah ini aja, malam aja rame nya kayak pasar,"
"Namanya juga desa wisata, di tempat kita mana ada yang begini, baru rencana tapi nggak pernah kesampaian hahah"
"Jangan gitu, semua tempat sama saja, tinggal kita aja bagaimana menjaga sikap di tempat asing" ujar Reno menengahi kedua temannya yang berdebat
"Bener juga kamu Ren, yok kita udah di panggil tuh"