
Reno berjalan dengan kepala sedikit menunduk tanpa melihat sisi kiri dan kanannya, ia tetap melangkah sesuai arahan dari Intan pegawainya.
Saat beberapa langkah lagi mendekati meja, suara seseorang yang amat ia kenali dan ia rindukan selama ini membuat jantung nya berhenti berdetak beberapa saat.
"Saya menerima pinangan mas Hanan..........
............." suara khas Keisya melalui alat pengeras.
Hening
Hening
Hening
Mbak indah yang berjalan di belakangnya harus banyak mengumpat dalam hati karena Reno seperti patung tidak bernyawa secara tiba-tiba.
"Ren, Reno, jalan atuh" bisik mbak indah kesal.
Beberapa kali teguran Reno tetap bergeming, kepalanya tiba-tiba tegak dan sorot mata tegas nya menatap gadis berjilbab biru tua dengan riasan tipis tapi tetap terlihat anggun dan cantik, kebaya yang menutupi tubuhnya membuatnya menjadi wanita elegan nan sopan.
Reno terhipnotis dengan wujud paripurna dari Keisya yang duduk di apit oleh mama Hanna dan Kinara serta sederet keluarganya dari pihak ayah dan ibu.
Tak ada air mata, hanya kebekuan yang tiba-tiba melanda sudut hati Reno. langkah tegapnya tiba-tiba saja terasa lumpuh, otot-otot kekar di lengannya yang biasa di kagumi oleh kawanan club' basket nya tiba-tiba mengendur dan meleleh begitu saja.
Brak
byur
"Astaghfirullah..." ucapan istighfar tiba-tiba menggema.
Entah sejak kapan mbak indah tiba-tiba sudah duduk jongkok dan meminta maaf pada tuan rumah dan para tamu yang hadir.
Mbak indah memungut packingan kue yang hendak di taruh di atas meja.
"Ini gimana ceritanya sih?" suara cempreng dari seorang wanita yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun datang menghampiri mbak Indah dan memarahinya.
Panca indera Reno tiba-tiba tak berfungsi, ia tetap pada posisinya tapi dengan kepalan tangan yang semakin mengerat entah sejak kapan. kepalanya menunduk tapi kakinya terasa sulit untuk bergerak, bibirnya kelu saat ingin berucap.
Satu tepukan dari seseorang mampu mengembalikan kesadaran emosionalnya.
"Pulanglah, anak buah ku yang mengantar mu, maaf kan saya nak" ucap tuan Denias yang entah sejak kapan sudah berada di samping Reno tanpa seorang pun menyadari keberadaannya termasuk Keisya.
Reno menurut dan mengikuti langkah tetap pria tua di depannya. ia tak peduli dengan mbak indah yang mendapat Omelan dari Kinara. hatinya benar-benar membeku.
Reno masuk ke dalam sebuah mobil Jeep berwarna hitam, meski salah satu pegawainya menyadari jika Reno salah masuk mobil dan sempat menegur, tapi anak buah tuan Denias cekatan memberikan pengertian hingga pegawai Reno terdiam.
Bagai di hipnotis Reno benar-benar tidak menyadari keadaannya kali ini. jantung nya seolah berhenti berdetak untuk detik terlama.
Tuan Denias duduk di samping Reno dan mobil langsung melaju membelah jalanan kompleks yang nampak sepi lalu keluar dan berbelok arah menuju jalan poros trans.
Tenyata apa yang ia khawatirkan benar terjadi, entah karena apa Reno memutuskan pulang dan bahkan nekat ke Jakarta. tuan Denias sudah menduga jika salah satu dari ketiga sahabat mereka yang sengaja memberitahu kan perihal Keisya pada Reno. hingga membuat anak itu nekat datang ke Jakarta.
Cukup sudah Keisya hidup menderita sejak kecil, ia tak ingin merusaknya lagi. tuan Denias benar-benar merasa bertanggungjawab atas hidup keponakannya itu. Di satu sisi ia tahu Keisya sudah berusaha ikhlas menerima takdirnya meskipun ia masih berharap Reno yang akan menemaninya hingga akhir. tapi karena sikap Reno yang selama ini selalu menghindar dan menutup akses membuat tuan Denias dan tuan Wibowo juga sedikit kesal. meskipun sebagai orang tua mereka juga merasa bersalah dan kasihan.
Andai Reno sejak awal tidak melarikan diri dan bersembunyi bertahun-tahun hal ini tidak akan terjadi. bahkan sejak awal baik tuan Wibowo dan tuan Denias sudah memutuskan untuk tidak lagi mengusik ketenangan Reno karena menghargai keputusan anak itu.
Tak ada tawa apalagi suara tangisan, hanya air mata yang tiba-tiba saja lirih di kedua sudut mata Reno. pandangannya kosong, kesedihan itu nyata dan tak terlihat namun sangat membekas di lubuk hatinya yang terdalam.
Hancur sudah angan dan harapannya, tak ada lagi senyum indah itu yang akan mengisi hari-harinya. takdir itu bukan untuknya, benar-benar bukan miliknya. tapi milik orang lain yang sejak awal mungkin sudah Tuhan gariskan perantara dirinya.
Ya, perantara dirinya Keisya bisa menemukan takdirnya. dirinya tak lain hanyalah sebuah jembatan penghubung antar Keisya dan Hanan bisa menyatu dalam mahligai indah bersama nantinya.
Perih..
Sesal yang selama ini menggema kini tak lagi berguna. kenyataan jika takdir Tuhan lebih baik dan tak ada satupun manusia bisa menolaknya. termasuk dirinya. ya termasuk dirinya.
Sesakit ini, tapi hidup harus tetap berjalan. Reno akhirnya tergugu dengan bahu berguncang keras. ia sudah tak lagi peduli dengan orang-orang yang ada di sampingnya. Ia hanya ingin menangis dan menangis agar tak ada lagi beban yang menghimpit nya di masa depan.
Cerita antara dirinya dan Keisya sudah berakhir disini. sesal pun tak ada gunanya. pasrah dan ikhlas adalah satu-satunya pilihan untuk tetap bisa bangkit dan melupakan semua yang telah terjadi. Keisya sudah menemukan masa depannya, dan itu yang sudah harus ia terima.
Mobil melaju cepat ke tempat tujuan, meski di perempatan jalan tuan Denias memilih turun dan menghilangkan jejak tanpa di sadari oleh Reno.
Sementara itu di rumah Kinara acara masih tetap berlangsung meskipun sudah terjadi sedikit gangguan dari pihak katering yang sudah di pesan Kinara. meski begitu pada akhirnya Kinara juga meminta maaf pada mbak indah yang sudah ia marahi saat salah satu pegawai nya menjatuhkan kue khusus yang sudah ia pesan untuk Keisya dan Hanan.
Setelah rombongan mbak indah dan karyawan pulang, Kinara melihat sorot mata tajam dari sang suami yang entah sejak kapan itu terjadi.
Hati dan pikirannya yang tadi tenang kini merasa gundah karena sikap suaminya yang tiba-tiba saja dingin. Meski diam Kinara tabu betul bagaimana saat Azka tengah marah.
"Mas mau kemana?" tanya Kinara saat sesi acara sudah selesai dan para tamu sedang menikmati sajian.
"Keluar bentar" jAwab Azka cuek lalu pergi membawa kunci mobil.
Di dalam ruang kerjanya, tiga orang yang bertugas mengawasi cctv tengah berdebat karena insiden kue jatuh tadi.
"Gue yakin ini Reno ogeb" sahut Beno meraih kunci motor milik Azka dan keluar pintu lalu membantingnya keras.
"Ck, tuh anak nggak bisa apa sabaran bentar aja" sungut Fikar kesal.
"Lo yakin juga kan kalau ini Reno?" tanya Aldo menatap cctv yang menampilkan sosok Reno menumpahkan kue.
"Lo zoom jutaan kali gue tetap yakin itu Reno, Lo yakin juga kan?" tanya balik Fikar.
"Tapi kita jangan bertindak gegabah, ingat pesan Azka jangan sampai Keisya tahu, Azka cuma ingin Reno doang, bukan buat ngerusak acara lamaran Keisya" kata Aldo.
"Ya udah lah kita nurut aja sama takdir, gue yakin banget dari awal om Denias tahu tapi tetap diam, nggak mungkin juga om Denias langsung datangin Reno dan ngajak pergi, padahal nggak ada orang yang menyadari termasuk Kinara" tambah Aldo.
"Lebih baik kita diem dulu, sambil ngisi perut, Lo laper kan? gue keluar dulu ambil makanan" pamit Fikar lalu berjalan keluar.