
Dag
Dig
Dug
Keisya langsung masuk ke dalam kamar dan terlebih dahulu meminta mas Bintoro membuat minuman untuk tamu.
Tuan Wibowo heran saat berpapasan dengan Bintoro yang membawa nampan.
"Loh Keisya mana bin?" tanya tuan Wibowo
"masuk kamar tuan, saya di suruh buatin teh" jawab Bintoro
"Haduh anak itu, masih takut sama orang ternyata" gumam tuan Wibowo menggeleng lemah.
Tuan Wibowo menyambut tamu nya dengan senang hati dan sangat terkejut saat ummi Tin menyerah beberapa paperbag padanya. beruntung Bintoro cepat tanggap dan membawanya ke dalam.
"Wah barusan datang kerumah saya Gus, padahal kita tetangga ya, gimana sehat semua?" tanya tuan Wibowo berbasa-basi
"Alhamdulillah sehat semua Pak, panjenengan sudah krasan disini ya" kata Gus Rohid memandang lukisan kaligrafi di dinding ruang tamu.
"Alhamdulillah kembali ke tempat asal tetap betah lah Gus, ini desa kelahiran saya hehehe"
"Iya juga ya, itu kaligrafi siapa yang lukis pak, kok bagus eram" tanya Gus Rohid
"Oh itu idenya anak perempuan saya, Kinara, di rumah lama disana semua dinding rumah harus di gambar kaligrafi bukan di tempelkan lukisan saja" ujar tuan Wibowo serta memperhatikan semua lukisan kaligrafi.
"Idenya cemerlang, udah jarang loh anak jaman sekarang memperhatikan hal-hal seperti itu" kata Gus Rohid.
"Gimana Gus Hanan, betah kerja sama anak saya?" tanya tuan Wibowo
"Alhamdulillah betah tuan, tuan muda juga baik orangnya meskipun galak kalau di kantor" jawab Hanan tersenyum.
Tuan Wibowo terkekeh-kekeh mendengar jawaban Hanan.
"Kamu realistis sekali Gus, si Revan itu memang di kenal angkuh dan galak kalau di kantor tapi sebenernya dia baik kok, kalau Kinara sering marah-marah nggak kalau pas sidak ke kantor?" tanya tuan Wibowo
"Alhamdulillah nggak pernah marah-marah cuma galak pas ada waktunya saja" jawab Hanan
"Hahaha mereka memang begitu, Kinara mirip sama ibunya, wanita bertangan dingin, tegas tapi lembut, keras hanya untuk hal-hal tertentu yang menurutnya nggak bagus" ujar tuan Wibowo
"Kuliah kamu gimana, ada kendala, sudah semester lima ya"
"Alhamdulillah lancar nggak ada rintangan, kemarin sempat dapat proyek gantikan mas Bambang dan Alhamdulillah berjalan lancar" jawab Hanan
"Itu proyek skala besar kerjasama dengan pemerintah, kalau kinerja kamu semakin bagus insha Allah nanti tahun depan pergantian kepemimpinan kamu bisa naik jabatan" ujar tuan Wibowo membuat ummi Tin semakin di rundung penyesalan.
"Mau di ganti Tuan?"
"Iya, tahun depan saya serahkan tampuk kepemimpinan perusahaan pusat pada anak perempuan saya Kinara karena dia pemilik sah perusahaan KSW group, dan Keisya saya bebaskan mau memilih apapun, mau menikah, atau mau kuliah terserah dia, karena dia sekarang sudah memegang kendali atas anak perusahaan milik almarhum ibunya" ujar tuan Wibowo.
"Oh begitu"
"Apa Keisya pernah menyusahkan kamu di sana Gus?" tanya tuan Wibowo
"Alhamdulillah belum pernah tuan, nona muda selalu baik, dan sudah banyak perkembangan, mengaji nya juga sudah sangat lancar, murojaah juga tidak pernah telat meskipun saya nggak bisa datang membimbing" ujar Hanan
"Alhamdulillah kalau begitu, besok-besok biarkan murojaah sama saya atau paklik nya saja karena Keisya sudah menetap disini, itu juga kemauannya sendiri, saya juga bersyukur anak itu sudah banyak berubah" ucap tuan Wibowo dengan wajah sedih.
"Terimakasih Gus mau menjadi guru spiritual anak saya, terimakasih juga sudah mau meluangkan waktunya untuk mendidiknya menjadi pribadi yang lebih baik." lanjut tuan Wibowo.
"Sama-sama tuan saya juga terimakasih sudah di berikan pekerjaan hingga bisa bayar kuliah tanpa merepotkan orang tua lagi" ucap Gus Hanan
"Oh ya tumbenan datang kesini bareng-bareng ada apa ya?" tanya tuan Wibowo penasaran
Hanan menoleh pada sang Abah, yang juga menatapnya tersenyum.
"Begini pak, maaf kalau sekiranya ada ucapan ataupun sikap saya dan keluarga yang salah, maksud kedatangan kami kesini sebenarnya ingin menanyakan tentang dek Keisya, apakah masih sendiri dalam artian sedang tidak menunggu atau di tunggu, atau sudah ada yang meminang nya?" tanya Gus Rohid sangat hati-hati
Tuan Wibowo sudah menduga hal ini terjadi, karena sore tadi adik iparnya sudah mengatakan sesuatu yang terjadi tadi malam di rumahnya.
"Ehmm, Keisya masih sendiri, tapi semua keputusan ada padanya, karena dia yang lebih berhak, mungkin Gus sendiri sekeluarga sudah tahu apa yang pernah terjadi pada Keisya sebelumnya, biarkan anak saya yang memutuskan Gus" ucap tuan Wibowo.
"Apa Gus Hanan siap menerima apapun keputusan anak saya?" tanya tuan Wibowo
"Insha Allah siap tuan" jawab Hanan tegas
Tuan Wibowo meminta Bintoro memanggil Keisya di kamarnya.
Tak menunggu waktu lama, Keisya datang di dampingi oleh Bintoro. Keisya menyalami Gus Rohid dan ummi Tin lalu duduk di samping ayahnya dan menunduk tak ingin menatap wajah Gus Hanan.
"Nduk kedatangan mereka kesini bermaksud untuk melamar kamu, sekarang ayah tanya apa kamu mau menerima pinangan Gus Hanan?" tanya tuan Wibowo lembut memegang telapak tangan Keisya.
Dengan sikap elegan Keisya mendongak dan menatap ayahnya terlebih dahulu dengan tersenyum lalu menatap wajah ketiga tamunya bergantian.
"Maafkan sebelumnya jika ucapan saya menyakiti bapak dan ibu juga Gus Hanan pribadi, saya belum siap untuk menikah, jujur saja saya masih trauma dengan apa yang saya alami sebelumnya, mungkin lebih baik kita berteman seperti sediakala, urusan jodoh kalau memang mas Hanan pilihan Allah untuk saya, suatu saat pasti akan ada jalan, jika bukan pasti Allah akan memberi jalan kita menemukan jodoh masing-masing, maafkan saya bapak, ibu mas Hanan saya menolak karena memang belum siap untuk menikah dan masih trauma dengan hal itu" ucap Keisya pelan
Gus Hanan tersenyum begitu juga Gus Rohid, di hanya umi Tin yang masih tetap terdiam sembari menatap wajah ayu Keisya dalam terangnya lampu.
"Saya benar-benar minta maaf Gus, bapak ibu mohon maaf sebesar-besarnya" ucap Keisya sekali lagi.
"Nggak apa-apa memang belum waktunya, kami menerima apapun keputusan kamu nduk, karena kalian yang akan menjalaninya bukan kami, pada hakikatnya menikah itu sekali seumur hidup sebagi bentuk ibadah kita kepada Allah, karena salah satu ibadah terpanjang di dunia salah satunya adalah pernikahan" ucap Gus Rohid berbesar hati.
"Terimakasih atas pengertiannya bapak" ucap Keisya.
"Sama-sama, kalian masih bisa berteman baik soal jodoh biarkan Allah saja, saya menyerahkan semua pada Hanan, dengan siapapun dia akan menikah nanti itu hak nya, dan saya juga baru tahu kalau selama ini anak saya sudah diam-diam punya niatan menikahi seorang gadis, padahal selama ini saya tidak pernah tahu dia dekat dengan gadis manapun kecuali Arini sahabatnya sejak kecil hehehe" ucap Gus Rohid.
Umi Tin terdiam, dalam hati ia sedikit lega karena Keisya menolak lamaran anaknya, sedih membayangkan jika sang anak pada akhirnya kelak tetap memilih Keisya sebagai pendamping hidup, umi Tin merasa minder dengan kepribadian tuan rumah dan anaknya yang begitu luwes dan terbuka dengan dengan mereka yang sudah jelas berbeda strata.