
Siang itu Pak Anderson sedang sibuk memeriksa tumpukan dokumen perusahaan yang sedang mengalami beberapa kendala. Ia sendiri pun di buat bingung dengan para investor yang akan bekerja sama dengan perusahaannya tiba-tiba meminta pengunduran waktu dari waktu yang sudah mereka sepakati sebelumnya. apalagi proyek yang akan mereka kerjakan merupakan proyek dalam skala besar dan kerjasama dengan pemerintah.
"Tuan, bos besar ingin segera bertemu jika anda bisa meluangkan waktu siang ini. Beliau meminta anda menemuinya di alamat ini." ujar Yusuf pada bos nya seraya menyerahkan secarik kertas berisi alamat.
"Baik sampaikan padanya aku akan segera kesana setelah meeting. Tolong kamu siapkan ruang untuk menemui Mr.John setelah ini."
"Baik pak." Yusuf berlalu keluar menjalankan titah sang bos. Setengah jam kemudian orang yang akan di temui bos besarnya tiba tepat setelah ia mempersiapkan ruang meeting.
Setelah meeting selesai, Pak Anderson meminta Yusuf untuk mengantarnya ke alamat yang di minta bos besar. Tak butuh waktu lama mereka sampai di alamat yang di tuju. Mereka memasuki sebuah rumah minimalis sederhana namun mewah. Seorang satpam yang mengenali mereka mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang sobat..lama tak bersua... Tambah subur aja lo haha" sapa bos besar
"Ahh bisa aja lo.. 15 tahun gak ketemu lo makin suburan juga haha..." ujar Pak Anderson seraya mengambil tempat duduk di sofa.
"Ada apa manggil gua pake kirim alamat segala." tanyanya pada tuan rumah
"Ini soal Keisya juga menantu lo Kinara." jawab Pak Pranata
Pak Anderson mengatur nafas seraya memejamkan matanya. Tangannya memijit pelipis berfikir sejenak sebelum menjawab.
"Gua shock waktu dia hilang beberapa minggu lalu untung si Yusuf malamnya ngasih kabar kalo mantu gua nginap di rumah orang tuanya Yusuf. Gua gak bisa bayangin gimana marahnya Wibowo kalo sampe Kinara bertemu para dedemit itu." jelas pak Anderson
"Semua karna kesalahan orang tua gua dulu. Seandainya bapak tidak menyembunyikan kami dan ibu mungkin gak akan terjadi seperti ini. Hanya demi ambisinya sampai bapak tega membohongi Bu Wiwit istri keduanya dengan alasan kami hanya orang asing." Kenang Pak Pranata.
"Dan sekarang kita sebagai anak yang harus menanggung semuanya sampai cucu mereka yang tak tau apa-apa harus ikut menanggung kesalahan mereka pula." tambah pak Anderson
"Gimana keadaan Keisya?"tanyanya
"Dia gadis baik tapi sedikit pemurung. Saat aku menjelaskan siapa jati dirinya, responnya biasa saja. Aku tahu sudah banyak luka dan tekanan yang Anthony berikan padanya selama 15 tahun ini. Dia terluka tangannya harus di gips karna tabrakan saat melarikan diri dari kejaran dedemit Anthony." jelas Pak Pranata
"Boleh aku menemuinya?" pinta Pak Anderson
"Ayo ikut aku" ajaknya seraya beranjak menuju ke lantai atas dimana Keisya berada. Pak Pranata membuka pintu kamar dan mempersilakan sahabatnya masuk untuk melihat kondisi Keisya.
"Biarkan dia istirahat, aku akan menemuinya secara pribadi nanti saat kondisi psikisnya sudah membaik. Ckck Sekejam itu Anthony pada ponakan sendiri." ucap Pak Anderson saat melihat kondisi Keisya yang sedang terlelap. "Ayo keluar aku harus menemui klien sore ini dan harus jemput anak cucuku di rumah eyangnya malam ini." ajak Pak Anderson seraya melangkah keluar.
"Apa kau sudah menerima email dari Revan?"
"Tentang Ibu Widya? Aku sudah menerimanya. Pastikan saja kondisinya aman. Kita harus bisa menangkap Anthony secepatnya apa kau sudah mengatur rencana?"
"Jangan khawatir aku masih memegang 3 kartu As di rumah itu."
"Apa Anthony tahu?"
"Lebih tepatnya dia tidak menyadari sampai hari ini. Kartu As juga yang membantu Keisya keluar dari rumah itu."
"Hmm ya ya baiklah. Pastikan Keisya aman."
"Oh ya bagaimana dengan keponakanmu Alexa? Ku dengar dia hampir saja menyakiti menantumu saat di rumah sakit."
"Apa?" pak Anderson terkejut mendengarnya.
"Kau tidak tahu? Tanyakan pada anak mu Azka."
"Sejak kapan kau tahu ini Denis?"
"2 minggu lalu sepertinya."
"Terimakasih infonya. Aku harus meeting sekarang juga".
Pak Pranata melepas kepergian sahabat lamanya. "Maafkan keluargaku Anderson karna kau harus ikut menanggung beban masalah keluargaku."batinnya.
🌷🌷🌷
Bel berbunyi menandakan waktu belajar telah usai. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas mereka untuk pulang kerumah masing-masing.
Kinara berjalan menuju halte tempat ia menunggu Azka menjemputnya.
"Woii liat jalanan beb jangan bengong aja" ucap Cici berjalan di samping Kinara. "Lu ngapa sih kek murung gitu bawaannya dari tadi?"
"Gak papa Ci lagi capek aja pengen sampe rumah trus tidur."
"Ngeles aja teruus.. Gara-gara satu kelompok drama sama Rangga kan? Gua tau lo masih gak nyaman apalagi setelah kejadian waktu itu gua liat lo banyak murungnya. Gue bener kan?"
"Oh Tuhan ada cenayan ajaib disini. Pinter banget ya kamu makin gemeeshh deeehh... Gurau Kinara mencubit pipi tembem Cici.
"Busyet sakit ogeeeb lu kira-kira dong ini pipi bukan kue cubit." Cici merengut.
"Kinar kapan kita bisa latihan?"Tanya Vivi yang menghampiri keduanya.
"Hmm besok deh jam istirahat kita kumpul buat bahas kostum dan tentuin hari latihan kan kita di kasi waktu 2 minggu. Soal naskah besok Ririn yang bawain karna perlu di edit aja sedikit".
"Oke deh gua setuju. Btw gua denger emang bener Rangga mantan lo?" tanya Vivi pelan namun berhasil menghentikan langkah Kinara. Ia menoleh kearah Vivi. Tersenyum. "Iya itu dulu. Kenapa?"tanya balik Kinara
"Gua mastiin aja gosip yang beredar di sekolah. Ya udah deh gua duluan" pamit Vivi.
"Iishh dasar ratu kepo apa-apa di gosipin." ejek Cici
"Biarin lah gak usah peduliin. Yuk jalan kita ke gramed dulu."
"Keknya gak ada di lembar plan deh Ra...noh bodyguard lo udah nungguin. Gua di tabok sampe ikutan lo pergi ntar gua juga yang di salahin." cegah Cici. Kinara mendengus tanda tak nyaman setiap hari harus bersama 2 orang itu, Azka dan Aldo. kapan dia bisa pergi bersama teman-teman gengnya hanya untuk sekedar hangout atau nongki?.
"Mau ngapain?" tanya Azka ketus tanpa menoleh kearah Kinara yang sudah duduk di sampingnya. Aldo mendengus mendengar percakapan dua orang bosnya.
"Kenapa sih kamu?"tanya Kinara merasa tak terima dengan sikap Azka yang tiba-tiba ketus.
"Kamu yang mau ngapain kesana? Gak sekalian aja tidur disana kek gak punya rumah." sahut Azka keras
"Kamu tuh yang kenapa? Aku minta sama Aldo buat anterin ke Gramed bentar kenapa kamu yang nyolot sih?" timpal Kinara tak terima
"Aku harus kerja Kinar!" Bentak Azka
"Trus masalahnya apa kalo aku ke gramed hah?"
"Kamu harus pulang!! Ke gramed mau ketemu mantan kamu yang brengsek itu kan?"
Plaaaakk
Sebuah tamparan keras hinggap di pipi Azka. Ia meringis memegang pipinya. Baru kali ini Kinara berani menamparnya. Azka geram ingin membalas namun ia menahan pergerakannya saat Aldo meneriaki mereka.
"Woooiii sudah!! ini gua sopir disini terserah gua mau bawa mobil ini kemana. Ke ujung Samudra juga bisa kalo kalian gak bisa diem!" teriak Aldo geram
Kinara menangis tertahan tanpa berucap. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sakit. Itu yang ia rasakan saat ini. Kenapa harus sesakit ini saat Azka membentak nya terlebih harus menyebut Rangga di depannya.
"Gua anterin lo kerja baru gua anter lo juga ke gramed. Puass??!!!" sungut Aldo kemudian. "Dosa apa gue kerja sama bos kek anak TK gini. Fiiuuhhh!!" batin Aldo.
"Gua pulang malem karna ada event" ucap Azka ketus saat keluar dari mobil dan melangkah memasuki tempat kerjanya. Kinara diam tak menggubris. Hatinya masih terlalu kalut dengan sikap Azka tadi.
"Jadi gak nih ke gramed?"tanya Aldo
"Pulang!" jawab Kinara singkat. Lagi-lagi Aldo menggeleng. sudah beberapa kali terjadi setiap pulang sekolah mereka bertengkar siapa yang lebih dulu di antar. Sikap Azka yang kadang lebih temperamen dan Kinara yang lebih banyak mengalah. Lalu sekarang sudah seperti bom atom hirosima nagasaki. "Kalo perlu gua minta tambahan satu sopir deh, kalo gini ribet ngurusin mereka, gak lama pala gue yang pecah" batin Aldo
"Brenti!!" Kinara mendadak meminta Aldo berhenti tepat di depan kedai penjual es dawet. "Huh bisa gak sih nyuruhnya dari tadi gak dadakan gini? Noh liat gua hampir nabrak anak orang!" keluh Aldo tak tahan melihat sikap Kinara yang mendadak garang setelah bertengkar dengan Azka.
"Tapi gak ke tabrak kan? Sans aja lah!" oceh Kinara asal lalu keluar menuju kedai es dawet.
Aldo menggeram kesal,memegang setir dan menumbukkan kepalanya.
"Dosa apa gua mamiii... Baru 3 minggu kerja udah kek ruda paksa hikss hikss anakmu tersiksa lahir batin miii.. Mending gaji rendah tapi lahir batin gak lelah daripada gaji tinggi bikin naik tensi" keluh Aldo
"Niih minum lu haus kan??" Kinara menyodorkan secup es dawet padanya. Aldo menoleh ke belakang menerima dan langsung menenggak habis tak bersisa.
"Anter kerumah Om Denis sekarang! titah Kinara
"Hah?? Mau ngapain lagi lo kesana sembeeeb?? Gua capek ya urusin kalian berdua!"
"Pokoknya anterin!"
"Enggak Nyonya Einsley...!!"tolak Aldo menahan emosi
"Anterin Aldo!"
"Enggak Kinar!"
"Oke bye, gua pesan ojol"putus Kinara seraya memegang hendel pintu mobil
"Stop!! Iyee iye..." Aldo menahan marah di dadanya. "Gua harus laporan dulu nih sama bos 01 kalo ada apa-apa bisa-bisa gua lagi kena damprat!" batinnya seraya melajukan mobilnya.
"Assalamualaikum bos ini menantu kesayangan anda ngotot mau kerumah pak Denis!" lapor Aldo pada Papa
"Biarin aja yang penting aman. Ingat tanggung jawabmu Aldo!" titah sang bos dari seberang
"Baik bos siap laksanakan! assalamualaikum!" tuut
"Lapor aja truuuus....semua di laporin!" ucap Kinara ketus
"Ck lu tu emang gak ngerti apa **** sih?"
"Apa yang harus gua ngerti Aldo? Kalo semua gak ada kejelasan!"
"Gua tau Kinar, tapi bisa gak sih kali ini lo diem dulu gak usah banyak tanya? Lu bisa gak sih nurut dikit aja sama papa mertua lo?"
"Semua sama! Gak ada yang peduli"
"Dan ini semua demi kebaikan lo juga Kinar!"sahut Aldo geram "Lo juga salah kenapa lo gak pernah nanya langsung sama laki lo, papa mertua lo hah? Dari dulu lo gak pernah berubah selalunya diem kek batu." lanjut Aldo lagi.
"Emangnya lo tau hah?"
"Gua tau kalo lo itu batu Ruby buat keluarga lo dan Azka. Ngerti??!"
"Ciih kalo emang gua Berlian mahal kenapa harus nyembunyiin rahasia besar dari gue? Sedang gue gak tau apapun!" sahut Kinara menangis
"Strees gua ngomong sama batu!" sanggah Aldo. "Gua gak tau masalah keluarga kalian ya. Gua disini kerja buat jagain kalian berdua. Terutama lo Kinar. Berkat keahlian gua kuasai bela diri, papa mertua lo minta gua buat ngawal kalian kemanapun dan itu gak gratis asal lo tau!"lanjutnya lagi
Kinara tidak menyahut kembali, ia masih tetap menangis tanpa mempedulikan ocehan Aldo sepanjang jalan.
Sampai mobil mereka tiba di depan sebuah rumah minimalis sederhana namun tampak mewah. Kinara segera memencet tombol tak lama seorang maid membuka pintu dan terkejut melihat Kinara.
"Tu....tuaaan... Tuaaaann" teriaknya berlari kedalam rumah. Aldo dan Kinara saling pandang mereka mengeryit heran kenapa kedatangan mereka seolah seperti hantu?!!
Ada apa ya kira-kira???🤔🤔🤔