KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 109



Hari berlalu silih berganti dari tahun ke tahun tanpa terasa kini Reno sudah mulai di sibukkan dengan tugas akhir pasca sarjana yang ia ambil di universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.


Di tengah kesibukan nya sebagi mahasiswa tingkat akhir Reno juga sibuk membuka cabang baru bagi usaha yang sudah dua tahun lalu ia kembangkan di bidang pendidikan dan IT.


Bahkan Reno sudah mendapatkan panggilan di beberapa lembaga pendidikan untuk mengisi kebutuhan guru yang sedang kosong dalam artian membutuhkan tenaga guru yang mau mengajar di salah satu lembaga di tanah air.


Reno membuka usaha bidang kuliner bersama Andin di ibukota provinsi tempat mereka tinggal, dan Andin yang memegang kendali. selain itu Reno juga membuka sekolah khusus untuk anak-anak penyandang disabilitas yang seringkali di kucilkan karena di anggap tidak bisa berbuat apa-apa. di samping itu ia juga membuka salah satu kursus ilmu komputer yang berada di desa tempat om Danu tinggal. karena banyaknya anak-anak yang belum tahu dan paham tentang penggunaan komputer, selain itu jaman juga sudah berubah, dan di tuntut untuk bisa menguasai IT.


"Akhi, ada tamu yang berkunjung" ucap Ahmad sekamar nya di kontrakan.


"Tamu? siapa? tengah malam begini sudah izin dengan tuan Zain?" tanya Reno pada Ahmad.


"Tuan Zain yang menerima, beliau menunggu di bawah" jawab Ahmad.


"Baiklah, sebentar saya sudahi dulu murojaah nya satu menit" ucap Reno


"baik, saya ke kamar akhi Jindan dulu" ucap Ahmad berpamitan.


Reno langsung mengakhiri murojaah nya dan mematut diri di depan cermin terlebih dahulu.


Reno berjalan menuruni anak tangga hingga di ujung tangga terakhir, ia terdiam.


Suara itu, suara yang amat ia kenal, sahabat lama yang sudah lima tahun tidak bertemu. Reno mengusap sudut matanya yang tiba-tiba berair. menatap si pemilik kontrakan yang juga tengah menatapnya heran karena melihat nya menangis.


Si pemilik rumah pamit dan Reno langsung memeluk bersalaman dengan Azka.


"Kaifa haluk akhi?" tanya Reno dengan bahasa Arab membuat Azka bingung.


"What is your mean?" tanya Azka dengan bahasa Inggris.


"Eh maaf, ya Allah terbiasa bicara pakai bahasa Arab disini jadi maaf aku lupa Azka" ucap Reno merasa bersalah.


"Oh... iya nggak papa aku ngerti, kamu sekarang udah berubah ya, makin dewasa, pokok nya banyak berubah lah" ucap Azka tersenyum


"Ahhaha ya nggak juga sih sebenernya, cuma lama hidup di negara orang jadi harus bisa menyesuaikan diri, meskipun banyak lupa nya sih kalau ketemu sesama orang Indonesia" ucap Reno merendah.


"Ada apa gerangan berkunjung ke Mesir? kok tahu saya ada di Mesir? tanya Reno dengan nada sedikit kaku.


"Masya Allah sahabat gue udah benar-benar berubah, bicara aja kaku banget hehe" ucap Azka tertawa pelan.


Reno hanya garuk - garuk kepala, mendengar celotehan Azka.


"ya maaf lah, ya itu tadi saya ...eh gue...eh saya bilang astaghfirullah " ucapnya membuat Azka akhirnya tertawa


"Gue kesini dalam rangka ada kerjasama bisnis dengan salah satu rekan bisnis papa, selain itu gue denger dari Beno kalau Lo tinggal dan menetap disini, makanya gue berusaha nyariin alamat Lo sesuai dengan yang di kasi Beno" ucap Azka.


"oh iya, Beno apa kabar? udah lama nggak pernah ada kabar, terakhir ketemu pas di Jakarta dua tahun lalu, saya pulang pas akikah anaknya bang Somat"ucap Reno


"Oh kenapa nggak singgah kerumah? udah lupa temen" cibir Azka


"Bukan gitu, waktu itu kebetulan dapet cuti pulang cuma satu minggu jadi disana cuma dua hari aja langsung pulang lagi kesini karena di kejar deadline juga dari kampus" kata Reno


"Oh gitu, besok gue pulang Jerman, jemput anak-anak sama ibunya, mumpung disini makanya gue singgah sekalian, Lo kapan pulang lagi ke tanah air?"


"Selesai wisuda, Insha Allah, mau ambil S3 mungkin jarak setahun setelahnya" ucap Reno


"Iya, Alhamdulillah karena memang itu syaratnya bisa masuk Al-Azhar" jawab Reno


"wow deh, gue benar-benar nggak kenal Lo lagi, diantara semua teman, Lo paling beda sekarang, Aldo udah jadi Kapolsek sekarang, Fikar, udah buka praktek dan masih di rumah sakit juga, Beno sibuk sama usaha furniture nya."


"Udah pada nikah ya"ucap Reno


"Alhamdulillah udah punya buntut semua, Lo udah punya anak berapa?" tanya Azka


"Belum nikah"


", what's? are you serious?"


"Yup, saya serius belum nikah"


"Ren, gue denger adik Lo Arkan udah nikah, Lo malah belom?"


"Ya emang belom, hehehe"


"Masih belum move on atau gimana?"


Deg


"Astaghfirullah belum kepikiran aja buat nikah, meskipun ibu maksa terus, masih fokus membangun usaha dulu yang udah mulai berkembang" ujar Reno.


"Setidaknya punya calon kan?"


"Alhamdulillah, doakan saja Allah mudahkan"


"Amiiin, jangan lupa undangan nya ya"


"Insha Allah"


"Ya udah gue pamit, nggak enak bertamu terlalu lama, pemilik rumahnya baik ya ramah sekali"


"Hem ya memang adat kami disini seperti itu, kurasa di tanah air juga lebih ramah"


"Heheh iya, salam dari Hanan, dia pernah lihat kamu nggak sengaja di bandara Soetta"


" oh ya? salam balik, udah berapa anaknya?"


"Alhamdulillah baru dua, okelah gue permisi dulu, baik-baik di negara orang jangan lupa kampung halaman" ucap Azka menepuk pundak Reno.


"Hehe iya"


Reno mengantar Azka hingga ke depan gerbang rumah, setelah mobil Azka berlalu si pemilik rumah bertanya padanya.


"Dia dari Indonesia?" tanya tuan Fauzan


"Iya Sir, from Indonesia"


"Oh iya, saya masuk dahulu, jangan lupa kunci gerbang nya"