KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
108 Kesempatan Terakhir



Hari ini sesuai janji Azka semalam akan mengajak Kinara bertandang ke rumah sakit untuk menjenguk anak-anak penyandang cancer. 


Memang sudah lama sejak terakhir kali Azka dirawat di rumah sakit karena nekat bunuh diri beberapa bulan lalu. 


Semenjak sang ibu tiada Kinara memang hanya sesekali datang mengunjungi mereka saat ada waktu senggang.


Setelah pulang dari kampus siang ini, Kinara dan Azka langsung bertolak ke arah rumah sakit. 


Malam tadi saat mereka menginap dirumah Keisya, ayah mertuanya mengajaknya bicara empat mata saat semua orang tengah terlelap.


Azka bingung mendengar permintaan sang ayah mertua agar Azka dan Kinara mencarikan jodoh untuk Keisya. Bukan tanpa alasan tuan Wibowo sebenarnya merasa khawatir jika Keisya masuk ke pesantren. Hatinya masih belum bisa melepaskan anak perempuannya itu tanpa pengawasan.


Flashback


"Jujur saja aku tidak mau memaksakan jodoh dengan siapa Keisya akan menikah ayah, jika ayah tetep kukuh silakan saja ayah yang melakukannya, aku tidak berhak untuk melarang, aku tak mau Keisya merasa semakin tertekan jika jodohkan yang bukan dengan pilihan nya." Ucap Azka malam tadi


"Tapi kalian pada akhirnya saling menerima kan sekarang, lalu apa bedanya dengan Keisya nanti nak"


"Ayah, kondisi psikologis Keisya dan Kinara berbeda, itu yang membuatku enggan melakukan itu yah, Keisya ibarat bayi yang baru belajar merangkak, jangan paksakan dia untuk cepat berlari jika belum waktunya, biarkan Keisya melakukan apa yang ia inginkan yah, sudah cukup lima belas tahun dia terpenjara tanpa pernah tahu dunia luar"


"Tapi ayah masih berat nak, ayah berat jika harus melepaskan Keisya jauh ke pondok pesantren"


"Lalu kenapa tadi ayah tidak menolaknya saat Keisya mengatakan ingin belajar di pesantren?"


"Ayah tidak kuasa melakukan nya"


"Dan jangan paksa aku untuk melakukannya ayah, maaf aku tidak berhak atas itu, kalian lah yang lebih berhak, aku hanya menantu di keluarga ini ayah, bukan aku tidak mau perduli hanya saja yang lebih berhak atas itu adalah ayah sendiri sebagai orang tua"


Flashback off


"Mas kenapa sih kok melamun terus?" Tanya Kinara


"Eh?" Azka terperangah 


"Kenapa sih, ada masalah ya?"


"Eng.. enggak ada cuma sedikit capek aja"


"Ooh, ya udah kita jemput Keisya dulu atau ketemuan di rumah sakit saja?"


"Katanya tadi pagi Keisya pergi sama ayah"


"Oh ya udah"


"Sayang, kita mampir ke supermarket dulu beli oleh-oleh buat mereka ya?"


"Iya ayok, tapi mas aja ya yang belanja, aku nungguin di bar teras ya"


"Okelah"


Drrrt drrrt


Ponsel Kinara berdering sebuah nama yang sejak lama tidak bisa ia hubungi setelah liburan beberapa bulan lalu kini tengah memanggil.


"Siapa sayang?" Tanya Azka yang fokus menyetir


"Nana telpon mas, ku pikir ganti nomor makanya nggak bisa di hubungi"


"Angkat aja siapa tahu penting" ujar Azka. 


Dengan sedikit ragu Kinara menjawab telpon. Nada bicara Kinara dengan Nana di seberang telpon langsung terlihat serius.


Azka memilih menepikan mobil di bawah pohon besar yang ada di taman tak jauh dari supermarket yang akan mereka datangi.


Dengan seksama Azka mendengar Percakapan istrinya dengan sahabat lamanya itu. Nada serius terdengar meski Azka masih belum mengerti inti percakapan mereka.


"Kalian ngomongin apa sih serius amat?" Tanya Azka saat Kinara sudah mematikan telepon


Kinara menutup mata dan menghembuskan nafas berat. Ada rasa terkejut dalam hatinya atas apa yang di alami sahabatnya yang nun jauh di luar kota.


"Loh emang ada apa?"


"Bapaknya meninggal secara tiba-tiba beberapa hari lalu setelah sebelumnya pernah hilang selama 15 hari, Nana sakit parah sudah berobat kesana kemari tapi tidak kunjung sembuh, tetua adat yang dulu pernah ikut ke kampung Nana juga meninggal satu Minggu setelah upacara pemakaman neneknya dan menyusul satu Minggu kemudian nenek Nana juga meninggal, Riska sesekali datang menjenguk kerumahnya saat senggang karena Riska juga nyambi bekerja, Nana sering nyebut nama ku mas, dia sering manggil aku dalam tidurnya bahkan semua sahabat kita dia sebut dalam tidurnya" ucap Kinara panjang lebar.


"Apa sakitnya Nana ada hubungannya dengan neneknya itu, yang ku dengar dari Fikar kalau neneknya orang pinter di kampungnya?"


"Nggak tahu juga mas, ibunya rencana mau bawa Nana berobat ke kota tapi belum ada biaya, terlebih lagi, adik Nana yang laki-laki juga nggak bisa di tinggalkan karena nggak ada yang bantu jaga toko mereka"


"Ya udah nanti libur semester kita jenguk Nana bareng-bareng, kita ajak yang lain kalau mereka bisa datang" ucap Azka menenangkan Kinara. "lanjut jalan lagi, mau belanja dulu kan tadi?" Lanjut nya tersenyum pada sang istri.


***


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, tuan Denias sedang di landa kegundahan yang amat besar, pasalnya kondisi Anthony yang semalam sudah terlihat membaik, kini semakin memburuk  tiba-tiba. 


Sejak tadi tangan nya terus bergetar karena mendadak terkejut saat mendengar dokter mengatakan kondisi Anthony memburuk. Mau tak mau ia harus meminta adik iparnya untuk membawa Keisya dan Revan pada Anthony. 


Sejak Anthony sadar semalam hanya nama Keisya saja yang di sebut, sesekali ia menyebut nama Sintya almarhumah istrinya dulu. 


"Tolong pak, segera pertemukan pasien dengan orang bernama Keisya" ucap perawat yang bertugas menjaga Anthony beberapa saat lalu.


Matanya menerawang ke atas langit-langit plafon rumah sakit, seketika ia ingat pesan almarhum bapaknya tuan Henry Wiraatmadja sebelum meninggal. 


"Bagaimana pun kejamnya Anthony pada kalian, maafkan lah dia, dia tidak memiliki siapapun selain kalian, bapak tahu kesalahan ini tidak akan mudah kalian maafkan begitu saja, tapi ingatlah satu hal suatu saat jika sudah waktunya tuhan akan membuka sendiri tabir yang selama ini tertutup, belajarlah memaafkan, kasihanilah Anthony karena dia juga korban keegoisan kami" ucap tuan Henry di detik-detik terakhir hidup nya.


Tiba-tiba terdengar bunyi sirine dari dalam ruangan Anthony di rawat, hanya beberapa detik rombongan dokter berjas putih dan perawat langsung berlari ke arah ruang ICU.


Tuan Denias semakin panik namun berusaha tetap tenang, Sobri dan Roby yang sejak tadi menghubungi tun Anderson dan tuan Wibowo juga nampak panik. Pasalnya orang penting yang mereka hubungi terjebak kemacetan parah.


Kinara yang masih asik menunggu di cafe teras supermarket sangat terkejut saat tuan Denias memintanya kerumah sakit tanpa menjelaskan siapa yang sedang sakit.


Sedang Azka yang masih sibuk membeli oleh-oleh untuk anak-anak penyadap cancer langsung menuju ke kasir saat mendapat telpon dari papanya jika kondisi Anthony semakin parah.


Azka segera berlalu keluar setelah selesai membayar di kasir. Saat keluar ia menemukan Kinara yang juga dalam kondisi panik.


"M..mas kenapa om Denias nyuruh aku ke rumah sakit??"tanya Kinara bingung


"Udah ayok, kita harus cepat" ucap Azka sedikit berjalan mendahului Kinara.


"Mas pelan dong, aku nggak bisa cepat" Kinara kesal saat Azka tak mempedulikan nya yang jalan sedikit lambat karena menjaga kondisi kandungannya.


"Astaghfirullah maaf, ayo" Azka berbalik dan menuntun sang istri menuju ke mobil.


Tuan Wibowo dan Keisya baru tiba di rumah sakit setelah lebih dari setengah jam terjebak macet karena ada kecelakaan. 


Tak lama menyusul tuan Anderson dan nyonya Hanna, serta Revan dan Vivi yang datang hampir bersamaan.


Keisya hanya diam saja saat mereka tiba di depan ruang ICU yang tertutup rapat. Entah mengapa perasaan nya kali ini tiba-tiba cemas berlebihan.


Dokter Djafri keluar dari ruang ICU dengan wajah datar dan menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya.


"Adakah diantara kalian yang bernama Keisya?" Tanya nya saat melihat Vivi dan Keisya bergantian.


Keisya mendongak terkejut dengan ucapan dokter itu. Keisya langsung memegang erat lengan ayahnya karena merasa takut melihat tatapan tajam dokter Djafri.


"Ini Keisya dok, anak saya, ada apa ya?" Ucap tuan Wibowo setenang mungkin.


"Pasien ingin bertemu dengan anda untuk terakhir kalinya" ucap dokter Djafri.


Keisya semakin mengeratkan pelukannya pada lengan sang ayah dan semakin bergeser ke belakang punggung sang ayah untuk bersembunyi.


Tuan Wibowo tahu apa yang di rasakan oleh Keisya, anak kembarnya itu memang masih fobia bertemu orang baru meski sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan luar.


Tuan Denias geleng kepala lalu menarik paksa dokter Djafri agak menjauh. Dan terjadilah perdebatan kecil antara mereka berdua.


"Oke aku mengerti, sebaiknya lakukan apa yang ku sarankan, temukan mereka sekarang, waktunya mepet bisa jadi ini kesempatan terakhir, lakukan sebelum kau menyesal Den" ucap dokter Djafri serius di akhir kalimatnya.