
"Kenapa kamu nggak nolak Kei, aku nggak mau kamu terpaksa, aku.........." belum sempat melanjutkan ucapannya, Keisya memotong dengan pandangan tajam.
"Aku menerima karena ingin ayah bahagia, karena ingin ibu mas Reno juga bahagia" Ucap Keisya menatap lurus kedua bola mata Reno.
Reno menunduk menatap pada lantai keramik yang bercorak garis lurus vertikal dengan mulut terkunci. perolehan satu sama, ia juga tak tega melihat senyum ibunya memudar, juga tuan Wibowo yang banyak berjasa dalam hidupnya.
"Mas, kalau memang mas belum bisa, aku akan menunggu sampai mas Reno meminta aku untuk berhenti baru aku akan berhenti, jika Kinara saja bisa melakukan sudah seharusnya aku juga bisa" sanggah Keisya
"Kei, Aku nggak mau kamu terpaksa dan akhirnya tertekan, aku tahu bagaimana sulitnya hidupmu sebelum ini, aku ti......."
"Aku yakin bisa mas" potong Keisya cepat
"Ya sudah, maaf kalau aku meragukan mu, terimakasih sudah bisa ngembaliin senyum ibuku, aku berhutang budi atas itu"
"Mas nggak perlu berlebihan, tidak ada hutang piutang antara anak dan orang tua, aku hanya ingin meyakinkan hatiku jika aku juga bisa menerima keadaan mas"
"Kei, jika suatu saat kita hanya berhenti di persimpangan, apa kau juga akan bisa menerima? kita bahkan baru mengenal setelah permintaan orang tua menjodohkan kita, segitu mudahnya kamu menerima tanpa memikirkan resiko yang akan kita hadapi nantinya, sekarang kamu bilang yakin bisa, jika suatu saat aku atau kamu tidak bisa menepatinya, apa yang akan kamu lakuin kei?" Reno kesal karena Keisya tidak memberikannya jawaban yang ia inginkan
"Aku....ak..." Keisya tergagap karena ucapan Reno membuatnya tak bisa berucap sepatah katapun.
"Jawab Kei"
"Aku...aku hanya ingin melakukan apa yang di lakukan Kak Kinar mas, kalau dia bisa menerima kenyataan di jodohkan dan sekarang berakhir bahagia, aku juga harus bisa seperti dia mas, bukankah kami kembar?" ucap Keisya berapi-api
"Astaghfirullah kei..... arrgh, susah banget ngomong sama orang udik kayak Lo, Lo pikir karena kalian kembar, apapun itu harus sama kei? Lo bego atau apa sih?" sungguh baru kali ini Reno merasa kesal dengan seorang wanita dan berujung umpatan yang tak faedah.
"Belum apa-apa mas Reno udah ngatain aku macam-macam, apa salah kalau aku juga harus bisa seperti kak Kinar mas?"
"Arrghh.... terserah Lo deh, gue terpaksa nerima perjodohan kita karena ibu gue, dan karena balas jasa sama mendiang ibu Amina, ibu kandung Lo, gue nggak bisa hidup dengan orang yang nggak dewasa sama sekali, ingat kei, jangan pernah melihat segala sesuatu dari satu sisi yang Lo lihat aja, jangan pernah menjadikan orang lain sebagai pondasi biar Lo bisa mencontoh mereka, jadilah diri Lo sendiri tanpa perlu mencontoh perilaku dan kehidupan orang lain buat hidup Lo , Lo sama Kinara tetap dua orang yang berbeda meski kalian terlahir dalam waktu yang sama" setelah berucap demikian Reno pergi meninggalkan Keisya di cafe seorang diri.
Keisya masih bergeming mencoba mencerna ucapan Reno yang bagai sembilu di dadanya. apakah ia salah selama ini? hanya melihat orang lain dan ingin menjadi seperti mereka? benar-benar sikap kenakan. sepersekian detik Keisya merutuki kesalahannya setelah sedikit mengerti ucapan Reno tentang jadi diri sendiri. tapi tetap saja ia belum bisa menelaah lebih dalam. ia benar-benar buntu akan satu hal.
Sore itu Mala datang dengan wajah tergopoh-gopoh karena takut tejadi apa-apa pada Keisya. tapi setelah sampai di alamat yang di berikan Keisya, Mala sedikit tenang karena bertemu Reno di parkiran. tanpa ba-bi-bu Mala masuk ke dalam cafe dan mengajak Keisya segera pulang.
Setelah memastikan kedua wanita muda beda usia itu pergi, Reno mengemudikan mobilnya ke arah lain untuk menemui seseorang. sejatinya Reno tadi tidak berniat meninggalkan Keisya seorang diri di dalam cafe, hanya saja ia benar-benar merasa kesal dan tak ingin lebih menyakiti gadis itu, cukup sekali saja ia sudah memakinya tadi karena lepas kontrol dan Reno langsung menghubungi Mala sesaat setelah di rasa tenang. meminta wanita Lina tahun di atasnya itu untuk tidak mengatakan apapun saat datang ke cafe, dan beruntungnya Keisya justru lebih dulu menghubungi Mala untuk menjemputnya.
"Ren, gue nggak tahu harus ngomong apa, karena gue nggak pernah ada di posisi Lo, kondisi ayah memang sudah tidak stabil sejak pamitan hendak ke desa saat itu, jika aku bisa menyalahkan Keisya, memang benar dia juga salah tapi kondisi psikologis nya yang membuatnya seperti itu, memang permintaan ibu sebelum meninggal meminta ayah untuk mencarikan jodoh untuk Keisya jika dia sudah kembali pada kami, tapi keadaan saat ini tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya Ren, harusnya Lo bisa lebih sabar menghadapi Keisya" ujar Pria yang selalu tampil maskulin itu.
"Aku lepas kontrol kak, dan aku memang nggak biasa dan belum pernah menghadapi seorang wanita dengan beban psikologis seperti itu" ucap Reno dengan rasa bersalah
"Belajar sama Fritz atau sama dokter Rahma, Lo calon guru, harusnya Lo belajar ilmu kejiwaan, ilmu konseling itu penting juga Ren, apalagi yang bakal Lo hadapi anak orang dengan berbagai macam sikap dan sifat yang mereka miliki, kalau Lo dapat siswa macam Keisya, masak iya mau Lo kasi smash kalau nggak bisa Lolos tes olahraga, bisa-bisa Lo kena pasal berlapis" nasihat pria muda yang tak lain adalah Revan.
Bagi Reno saat ini hanya Revan satu-satunya yang bisa di mintakan pendapat tentang persoalan yang sedang di hadapinya. jadi ia memutuskan untuk langsung menemui Revan saat pergi meninggalkan pelataran cafe.
"Kalian sama-sama di paksa oleh keadaan bukan kemauan, Dari sini Lo bisa belajar menghargai kekurangan orang lain terutama pasangan Lo Ren, jangan selalu menghakimi orang lain dengan kekurangan yang dimilikinya, ingat Lo juga nggak sempurna, Lo juga punya kekurangan, kalaupun suatu saat kalian memutuskan untuk berhenti, bicarakan dengan kepala dingin jangan selalu melihat hanya dari satu sisi ego Lo aja, wanita juga punya perasaan yang harus lebih kita jaga sebagai pria sejati Ren" nasihat Revan
"Gue masih berat nerima kenyataan kak" sanggah Reno
"Masih berat karena Lo masih belum move on dari Kinara kan? ingat dia adik gue, udah punya suami, berhenti mengharapkan dan menjatuhkan harapan yang bukan hak Lo" potong Revan membuat Reno seketika mendongak menatap tak percaya pada ucapan orang yang tidak lama lagi jadi calon kakak iparnya.
"Kenapa?" tanya Revan santai
"Ngaco deh" sanggah Reno
"Gue kenal lo sejak gue masih SMP dan Lo masih SD baru mau naik kelas empat Ren" timpal Revan
"Trus?" tanya Reno sedikit kesal karena merasa kalah telak dengan ucapan Revan
"Ya terserah Lo dah, gue udah kasih nasihat, belajar buka hati Lo untuk Keisya, dan sehari sebelum tunangan tugas Lo jadi pengawal pribadi adik sama ipar gue selesai, gue nggak mau Lo jadi benalu di rumah tangga adik gue, ngerti??" cecar Revan tegas
"Iya, maaf kak," ucap Reno menunduk karena rasa bersalah nya dan juga karena membenarkan ucapan Revan.