KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 87



POV Keisya


Sudah hampir empat tahun berlalu kisah kelam yang di tinggalkan oleh orang yang ku cintai setelah dia memutuskan untuk pergi.


Aku yang sempat depresi dan ingin mengakhiri hidup berkali-kali, pada kenyataannya aku masih mampu melewati semuanya berkat pertolongan Tuhan dan dukungan keluarga.


Sejak kecil aku hidup dalam pengasingan dan sikap tidak toleransi yang di terapkan oleh orang tua angkat ku. aku yang tak pernah tahu menahu asal usul ku, selalu di doktrin dengan sikap keras dan tidak membaur dengan dunia luar.


Saat usia delapan belas tahun aku kembali ke tanah air menurut bibi yang merawat ku sejak kecil. aku tak tahu apa itu tanah air ,yang aku tahu dari buku-buku yang ku baca kalau aku pulang kampung.


Sebelum memutuskan untuk pulang kampung aku memang sudah mendengar langsung cerita tentang keluarga kandungku dari bibi. dan saat papa_orang tua angkat ku_ memutuskan untuk pulang kampung aku dan bibi mengatur strategi untuk bisa lepas dari jeratan papa Anthony dan itu berhasil meski aku sempat mengalami luka-luka parah dan stress dan depresi berlebihan berlangsung hingga lebih dari setahun.


Terlalu banyak luka yang ku alami sejak kecil membuat ku menjadi pribadi yang pemilih dan takut untuk berkomunikasi dengan orang lain apalagi membaur dengan banyak orang.


Hingga suatu hari aku memutuskan untuk ikut pergi bersama ayah kandung ku kembali ke desa sembari menuntut ilmu di pesantren.


Nasib seseorang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan yang sudah menentukan, aku sempat mengalami kecelakaan saat pesta pernikahan kakak laki-laki ku.


Setelah kecelakaan itu justru ayah menjodohkan aku dengan salah satu sahabat kakak kembarku. Reno namanya.


Hubungan kami awalnya baik-baik saja meskipun mas Reno sendiri terkadang bersikap kurang baik padaku. tapi hubungan ku dengan ibunya sangat baik seperti ibu dan anak kandungnya.


Banyak cara aku lakukan untuk mencair kan hubungan kami meskipun kami tak pernah saling kenal sebelumnya. tapi sikap mas Reno tetap dingin seperti es.


Hingga suatu hari disaat hari pernikahan kami sudah di tentukan dan semua hal sudah siapkan, tanpa ku duga mas Reno malah membatalkan pertunangan kami.


sejak hari itu aku semakin terpuruk, berkali-kali aku nekat mengakhiri hidupku karena tak sanggup menerima kenyataan pahit yang ku terima.


Setelah hari itu mas Reno pun menghilang bagai di telan bumi. tak pernah sekalipun aku mendengar kabar tentang nya. setiap hari aku mencari kabar tentangnya dari mbak Kinar dan semua keluarga tapi mereka benar-benar tak tahu apapun.


Akhirnya aku pun lelah, meski hatiku masih mengharap kan kehadirannya. entah kenapa aku tak bisa membenci nya sedikitpun. mas Reno seolah sudah terpatri lekat dalam hatiku.


Berulang kali aku mencoba untuk melupa, namun tetap tak bisa, netra indah dan senyum hangatnya selalu menghiasi alam bawah nalar ku.


Semakin aku ingin melupakannya justru aku semakin mencintainya. betapa bodohnya aku yang mencintai meski sudah sangat tersakiti.


Kini Hampir empat tahun berlalu, aku mulai membuka diri dengan pria lain, meski aku tahu sudah sejak lama rasa itu ada untukku, tapi aku tetap merasa biasa tak tak terpengaruh dengan apapun yang di lakukan nya.


Hanan namanya.


Seorang pria berwibawa, berwajah adem, senyum manis dan sikap yang sopan serta memiliki kecerdasan di atas rata-rata. mampu berbicara dalam beberapa bahasa dengan sangat fasih, hafidz Qur'an 30 juz, seorang ahli bidang IT dan tentunya keturunan dari seorang kyai.


Wanita mana yang mampu menolak pesona seorang Hanan? jawabku tak ada!


Dengan segala kelebihan yang ia miliki malah sebaliknya tak mampu membuat hatiku bergetar seperti saat aku sedang merindukan mas Reno.


Pada kenyataannya takdir tak ada yang tahu, dua kali mas Hanan melamar ku secara pribadi dan semuanya aku tolak.


Dan setelah sekian purnama akhirnya ia tetap gigih melangkah untuk melamar ku ketiga kalinya. Bimbang?


Jelas aku merasa bimbang, dari sekian banyak teman pria yang aku kenal di kampus hanya mas Hanan saja yang nyatanya berani menghadapi keluarga ku terutama ayah dan kedua kakakku.


Di satu sisi aku masih dengan keyakinan ku akan sosok mas Reno. tapi di sisi lain aku tak ingin menyalahi takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk ku.


Dengan hati penuh kebimbangan aku bermunajat kepada yang maha pemberi hidup. aku tak ingin salah melangkah, jika memang orang yang ku harapkan bukan tercipta untukku, aku akan ikhlas menerima kenyataan pahit untuk melepaskan dan menerima pinangan laki-laki lain.


Sekian purnama ku lewati, pada akhirnya pilihan ku jatuh pada mas Hanan. meski di sudut hati ada luka tak berperi saat mendengar kenyataan mas Reno sudah menikah dengan wanita pilihannya.


Inilah jalan yang harus ku jejaki, melupakan masa laluku dan membuka lembaran baru di masa depan ku. dengan bismillah aku menerima pinangan dari mas Hanan.


****


"Ndin, maaf aku boleh pamit?" tanya Reno pada Andin setelah gadis itu menghabiskan makan malamnya.


Suster Ainin yang bertugas sudah keluar sejak Andin menghabiskan sisa nasi di piringnya. tinggallah mereka berdua di ruangan itu.


Meski sudah tujuh hari Reno menemani Andin, tapi mereka tetap tak ada yang mau berbicara ataupun membuka topik. meski Andin sudah siuman, sikapnya tetap acuh pada Reno.


Dan malam ini Reno berencana untuk pamit ke Andin karena harus pulang kampung yang sempat tertunda karena harus menjaga Andin.


"Kenapa mesti pamit ke aku mas? aku bukan istri kamu, juga bukan keluarga ataupun saudara kamu, kalau mau pulang ya pulang aja" kata Andin cuek meski sudut hatinya merasa sakit saat mengucap kata-kata itu.


"Iya kamu memang bukan keluarga ku apalagi istriku, tapi aku merasa berhak untuk pamit karena administrasi rumah sakit ini atas namaku sebagai wali mu. jangan kamu salah pahami sikapku ndin, kalau memang kamu masih marah sampai hari ini, nggak apa-apa, aku juga nggak nuntut apapun ke kamu, maafkan aku karena sudah membuat hidupmu semakin rumit. aku memang salah, aku harus pulang karena ibuku sakit" balas Reno menatap Andin yang menunduk seja tadi.


"Maaf kalau ucapan ku menyakiti perasaan mu mas, salah buat ibu kamu" ucap Andin setelahnya.


Reno menatap Andin dengan perasaan tak karuan. rasa bersalah telah menyakiti wanita itu dan menyeretnya ke dalam kesalahan yang ia perbuat.


Kalau saat ia pergi dan Andin bertemu dokter Fritz, apa yang akan Andin katakan?.


Bukan itu yang Reno khawatirkan, tapi lebih ke sikap dokter Fritz jika tahu bahwa ia telah berbohong, akankah pria berdarah Jerman itu mau memaafkan kesalahannya? atau kah justru memberondong nya dengan banyak petuah sesuai dengan profesinya sebagai seorang terapis mental?


Arrh memikirkan itu membuat denyut nadi Reno berdebum keras. jika saja masa lalu bisa di ulang, ia tak akan melakukan kesalahan fatal.


Bisa jadi kini ia hidup bahagia dengan Keisya dan buah hati mereka. sikap tergesa-gesa dan tak tidak komitmen nya membuat ia terseret kesalahan yang fatal hingga kini.


Tetapi kembali pada takdir. hanya Tuhan yang tahu jalan hidup manusia.