
"Bagaimana hasil pencarianmu Ben?" tanya Revan pada Beni sang sahabat
",Susah banget, ciri-ciri yang Lo kasih ke gue nggak ngena sama sekali"
"Ini udah berapa lama, kenapa nggak bisa ketemu sih?"
"Gue kira Lo udah pernah minta asisten baru Lo mau jenguk orang tuanya yang sakit?"
"Masalahnya gue nggak ada waktu, apalagi banyak tender yang gue tanganin, belum lagi soal Investasi dari AMD group yang baru separuh, akhir bulan ini rencana mereka akan cairkan lagi separuhnya"
"Nasib jadi CEO hahahaha"
"Ck Lo mah bisanya ngumpat, harus kemana lagi gue nyari ibu kandung gue?"
"Coba Lo tanya deh sama bokap Lo, soal masa lalu Lo"
"Gue nggak berani, kasihan ayah gue nggak mau nambahin beban"
"Atau Lo tanya tuan Denias"
"Bisa-bisa gue yang di embat sama dia, ceramah dari pagi sampai pagi"
"Ck, Lo nggak ke panti ikutan syukuran disana?"
"Nggak lah, semaleman gue udah kerumah om Anderson"
"Gimana kalau gue aja yang nemuin orang tua asisten Lo itu?"
"Ide bagus"
"Ya berdoa aja semoga ciri-ciri nya sama, bisa jadi itu ibu kandung Lo yang selama ini hilang"
"Tapi jangan sampai ada yang tahu loh"
"Beres, lagian apa sih yang Lo cari lagi semua udah kelar, tinggal ngesahin Vivi doang hahahah"
"Ck, bisa aja Lo ngomong"
"Mau sampai kapan Lo nunggu, lagian Vivi udah kelar S2 nya, mau nunggu anak ketiga gue lahir?"
"Ck, basi Lo, mentang-mentang udah punya 2 buntut"
"Ya lagian, Lo CEO, mapan, gagah, tampan meski masih banyakan gue, orang tua lengkap, apa lagi sih?"
"Gue belum bisa kalau belum nemuin ibu kandung gue, gue sadar gue bukan anak kandung ayah ibu, sejak bayi gue di asuh mereka sampai sekarang, gue cuma pingin balas Budi sama ayah ibu dan nemuin ibu kandung gue, selagi gue masih hidup dan punya kesempatan untuk merawat nya seperti merawat ayah dan ibu selama ini".
"Ya ya ya, kalau gitu sampaikan sama asisten Lo kalau gue yang bakal gantiin Lo nemuin orang tuanya"
"Beres, btw semua aset dari si brengsek itu udah Lo simpen kan?"
"Udah, tenang aja, semua udah berpindah Ats nama Lo kok tanpa sepengetahuan dia, itu bokap kandung Lo asal Lo ingat biar bagaimanapun Lo lahir juga karena dia"
"Gue belom bisa maafin kelakukan nya nyakitin keluarga gue"
"Semua butuh waktu, sama halnya dia juga di sana udah mulai berubah dan mulai sadar kesalahannya selama ini"
"Darimana Lo tahu?"
"Kan gue detektif, lagian gue kenal baik sama suami Tante Lo, dia rekan kerja om gue dulu"
"Jadi Lo tahu semua dari tuan Andrew?"
"Hem, pas nyokap gue sakit om gue dateng sama temennya gue kira siapa ternyata Mr.Andrew"
"Dunia sempit ya hehehe"
"Makanya cepetan nikah, sebelum di tikung penjual somay"
"Hahaha basi Lo, ayah udah ngelamar duluan tanpa gue tahu, rencananya bulan depan sih calon mertua gue mau silaturahmi ke rumah sekalian mau nentuin tanggal"
"Cie cie cieeee, ternyata Lo kalah sama om Wibowo hahahaha, yang mau nikah siapa yang duluan ngelamar siapa hahahaha"
"Basi Lo ah hhhaaaa, entahlah ayah selalu begitu dari dulu, gercep nggak pake rem. kita aja yang anak-anak nya kadang nggak peka"
"Syukurlah kalau gitu, gue ikutan seneng"
"Oh ya siapa nama asisten baru Lo itu?"
"Mala"
"Hemm cepet atur jadwalnya soalnya gue juga ada job lain lagi di luar kota, nggak bisa lama- lama kalau bisa dalam Minggu ini oke"
"Okelah, nanti biar Mala aja yang ngabarin Lo"
"Oke, gue cabut dulu, harus ke rumah sakit lagi jenguk mami"
"Oke makasih banyak ya, salam buat Tante Wini"
"yuhu, jangan lupa transferannya hahahh"
"Dasar mata duitan"
"Haruslah, dah gue pergi dulu"
Setelah kepergian Beni, Revan masih termenung di kursi kebesarannya, terlalu banyak berfikir membuatnya tertidur hingga malam.
tok tok tok
"Tuan ini sudah malam, apa boleh saya pulang?" suara Mala di depan pintu ruangan CEO
tok tok tok
"Tuan, boleh saya pulang?" sekali lagi Mala mengetuk pintu tapi tak mendapat jawaban apapun
"Apa aku panggil satpam aja ya, sapatau di dalem ada apa-apa" ucapnya sembari berlari menuju ke lantai satu menemui satpam yang berjag disana.
"Mang, tolong dong bukain pintunya pak direktur, dari tadi siang nggak keluar-keluar saya khawatir ada apa-apa, soalnya ini sudah lewat jam delapan malam tuan belom keluar juga"
"Masa sih mbak, ya udah ayok, Edi, Lo ikut gue ke ruang pak direktur utama"
Mereka bertiga naik ke lantai 17 tempat ruangan CEO berada. perlahan satpam bernama Edi membuka pintu yang tidak terkunci. terlihat Revan masih bersandar pada kursi nya dengan mata tertutup dan nafas yang teratur.
"Ed, cek nafasnya masih ada nggak?" ucap salah satu teman nya
"Brisik Lo" ucap Edi sembari menaruh telunjuknya di antara lubang hidung Revan
"masih bernafas Met"
"Tuan, tuan bangun" Edi membangun kan Revan. setelah beberapa saat kemudian mata Revan mengerjap dan terbuka.
"Astaghfirullah kalian...." Revan terkejut kala menyadari siapa yang ada di hadapannya.
"Maaf bos ini sudah jam 8 malem dari siang bos nggak keluar jadi kami khawatir" ucap Edi
"Ini udah malem?"
"Iya bos jam 8"
"Astaghfirullah maaf aku ketiduran, ya udah kalian pulang duluan aku menyusul nanti"
"Baik bos"
"E..eh Mala disini kamu, atur jadwal untuk besok teman saya Beni mau mengunjungi ibu kamu di rumah sakit"
"besok tuan?"
"Iya besok"
"Ba..baik, akan saya atur jadwalnya besok"
"Baiklah, kamu mau pulang naik apa?"
"Naik motor tuan"
"ya sudah hati-hati"
Mala keluar dari ruangan Revan dengan membawa ribuan pertanyaan di benaknya perihal permintaan Revan jika rekannya akan mengunjungi ibunya di rumah sakit.
Revan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruangannya, setelah itu bergegas pulang ke apartemen.
Drrt drrrt drrt
Ponselnya bergetar, nama Vivi tertera di layar. Revan menjawab panggilan dan mengaktifkan loud speaker.
"Assalamualaikum mas, dimana?"
"Waalaikumsalam ini jalan mau pulang, kenapa Vi?"
"Bapak masuk rumah sakit, kecelakaan pas pulang dari masjid"
"Innalilahi, ya udah share lock aja, aku langsung kesana ya"
"iya mas aku tunggu"
Revan bergegas menuju rumah sakit tempat calon mertua nya dirawat. tak lupa ia memberi kabar pada ayah dan Kinara.
Sesampainya di depan UGD ia bertemu dengan Vivi dan ibunya yang sedang duduk gelisah menunggu dokter keluar dari UGD.
"Gimana keadaan bapak Vi?" tanya nya setelah menyalami ibu Vivi dan adiknya.
"Masih di dalem mas, semoga saja bapak selamat"
"Gimana ceritanya bisa kecelakaan bu?"
"Bapak jalan kaki sama temennya, dari belakang ada motor kenceng dan dari arah depan ada mobil. motor tadi nggak nyalain lampu sein pas mau belok, akhirnya tabrakan dan motornya terlempar ke trotoar tempat bapak dan temannya jalan. bapak dan temannya tercebur ke dalam parit tapi kepalanya terbentur badan drainase, kalau temennya bapak masih sempat pegangan sama tiang lampu."
"Astaghfirullah dimana sekarang semua korbannya Bu?"
"Ada di dalem semua, yang paling parah orang yang bawa motor karena dia sempat terlempar jauh."
"Ya udah sabar ya Bu, kalian udah makan?"
"Belum sempat mas" jawab Vivi
"Ya udah kalian disini dulu, saya beli makanan dulu di kantin" ucap Revan
Revan berjalan menuju ke arah kantin, tanpa sengaja netranya menatap seseorang yang sangat di kenalnya sedang menyuapi seorang wanita.
"Mala" ucapnya lirih tanpa sadar kakinya melangkah menuju ke sebuah bangsal yang masih terbuka pintunya.
"Assalamualaikum, Mala"
"Astaghfirullah, waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh tu....tu...tuan??" ucap Mala sangat terkejut mendengar suara memanggilnya.
"Maaf membuatmu kaget, ini siapa?"
"Ini...ini ibuku tuan"
"Ibu?" Revan menelisik wajah wanita paruh baya itu yang masih terlihat terawat meski sudah tak lagi muda. Mala memang sangat merawat ibunya meski itu bukan ibu kandung.
"Maaf, kalau boleh tahu siapa nama ibumu?"
"Ratih Purwasih tuan"
Deg
Revan memegangi dadanya, ada sesak menyeruak di sana, benarkah ini ibunya? ibu kandung yang selama ini di cari keberadaan nya.
"Tuu..tuan kenapa tuan? Mala bingung melihat Revan yang terkejut
"Apa benar ibumu dulu di temukan oleh seorang pria dan di rawat setelah itu di nikahi?"
"I...iya tuan, bapak saya yang menemukannya 26 tahun lalu bapak juga yang merawatnya dan bapak juga yang menikahinya"
"Ap..apa kau mengenal pak Somat?"
"Abah Somat maksudnya tuan?"
"Entahlah aku memanggilnya pak Somat, dia juragan ayam"
"Oh iya aku mengenalnya dulu kami pernah bertetangga sebelum bapak mengajak kami pindah ke kota ini"
"Ada apa ya tuan?"
"Maaf Mala, aku mencari ibu kandungku yang hilang sejak aku lahir" ucap Revan sedih
"Apa??" Mala menutup mulutnya tak percaya
"Apa ibuku ini tuan?"
"Bisa jadi, boleh aku mengambil rambutnya untuk sampel tes DNA?"
"Ba..baiklah tuan si...silakan" ucap Mala sedih.
Revan menghubungi Beni saat itu juga untuk datang kerumah sakit menemui nya.
"Mala, ada rekanku yang akan datang sebentar lagi, dia Beni yang tadi siang bertamu ke kantor, jika dia kemari tolong kerjasamanya, jangan takutkan apapun, besok temui aku di ruangan ku"
"Ba..baik tuan"
Revan berlalu pergi dengan perasaan sedih melihat wanita yang selama ini ia cari ternyata lemah tak berdaya. sampai Revan lupa apa tujuan awalnya hingga tiba di depan UGD i baru teringat.
"Loh mas kok lesu?" tanya Vivi
"Bapak gimana Vi?"
"Bapak udah siuman, ibu ada di dalem, loh mana makanan nya?"
"Aku lupa Vi,"
"Kok bisa?"
"Mas ada masalah?" tanya Vivi yang tahu betul bagaimana Revan. "Ya udah yuk kita cari makanan dulu, lagian Adit sudah pulang tadi di jemput sama tetangga. kasian kalau rumah kosong" ujar Vivi kemudian.
Revan mengikuti langkah Vivi dengan perasaan nano nano. Vivi dengan sabar menggandeng lengannya menuju ke arah warung tenda tak jauh dari rumah sakit.
\=\=> note
di bab ini udah di paparkan ya bagaimana harta benda Anthony ludes tanpa di sadari olehnya. ternyata pelaku nya adalah anak yang pernah ia buang dan tidak pernah ia tahu keberadaannya selama ini 😁👉 staytoon ya next bab bakalan banyak yang di kupas.