KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 28



"Jadi ini yang mau kamu tunjukkan ke saya semalam?" tanya dokter Fritz saat kami sedang makan siang di cafe.


"Iya kak, kemarin pagi benar-benar hari bersejarah pertama kali dalam hidupku, aku tergerak begitu saja saat lihat mas Hanan menunduk hormat dan meminta maaf pada pengemis, jiwa sosialnya begitu besar" ucapku antusias dan dokter Fritz mengangguk.


"Jadi pengemis itu jadi karyawan di butik sekarang?" tanyanya lagi


",Iya, dan Alhamdulillah mbak Kinar dan mama Hanna setuju, karena memang dari awal bang Umang minta resign mau ikut istrinya ke luar pulau, mereka sudah sibuk nyari pengganti, tapi belom dapat"terangku.


"Ya baguslah kalau gitu, rencana kamu hari ini apa? obat yang saya resepkan masih ada kan?" tanya dokter Fritz


"Obat anti depresan masih ada, aku mau beralih ke hidup sehat kayak mama Hanna, konsumsi herbal dan obat-obatan alami" kataku.


"Bisa sih, yang penting kamu sembuh dulu ya, belajar menata hati dulu, kakak mau kamu sehat lahir batin dulu oke?" ucapnya membuatku terharu.


"Aku udah sembuh kok" elakku


"Kalau udah sembuh harusnya bisa tenang dan move on pelan-pelan, tapi baru berapa bulan loh ini, sekali denger kabarnya kamu langsung drop" ejeknya.


"Hahahaha" aku tertawa ingat kejadian beberapa waktu lalu saat mendengar kabar tentang mas Reno.


"Kalau kamu mau mengikuti pola hidup sehat, sehatin dulu hati kamu biar nggak melow, percuma kalau badan sehat tapi hati kamu lagi sakit, percuma" tambahnya lagi membuatku tertawa hingga menarik perhatian pengunjung cafe yang lain.


"Maaf kak, tapi akhir-akhir ini aku merasa jauh lebih baik kok dari sebelumnya" ucapku kemudian


"Yakin? masih nggak ngarep dia lagi?" tanya nya membuat ku bingung harus menjawab bagaimana.


"Ck, lebih ke berusaha lupa aja sih, meskipun sulit hehe" ucapku jujur.


"Aku juga pernah ada di posisi kamu dulu, saat ingin mendapatkan Syifa istriku, seringkali berusaha lupa tapi tetap aja sakit saat mengingat dia harus di lupakan, aku dulu terhalang restu dari orang tua dan keluarga Syifa karena perbedaan agama" cerita dokter Fritz.


"Jadi kakak mualaf?"tanya ku terkejut


"Ya, tiga tahun sebelum aku bertemu Syifa, aku sudah memutuskan masuk Islam mengikuti keyakinan almarhum ibuku, karena ayah ku juga dulu seorang Kristen yang taat" ujarnya


"Tapi kenapa keluarga mereka menolak?" tanyaku penasaran


"Karena mereka belum tahu kalau aku sudah mualaf sebelum bertemu Syifa, bahkan aku sudah bisa mengaji sejak kecil hanya saja aku masih beragama Kristen mengikuti keyakinan orang tua angkat ku, bahkan mereka juga yang setiap seminggu dua kali mendatangkan seorang ustad untuk mengajariku mengaji dan adzan" kenangnya.


"Aneh ya, kok ada gitu orang tua beragama lain, tapi kok mengajarkan Islam ada anak angkatnya?" ucap ku


"Karena mereka tidak mau aku melupakan asal usul ku, aku lahir dari rahim seorang wanita muslimah dan Alhamdulillah sekarang orang tua angkat ku masuk Islam tiga tahun setelah aku dan Syifa menikah" ungkapnya.


"Subhanallah, benar-benar kuasa Allah itu nyata ya, dulu mereka yang mengajarkan Islam sama kakak karena mereka nggak mau kakak melupakan asal usulnya, justru sekarang Allah bukakan pintu hidayah untuk mereka ya,, benar-benar Masya Allah" ucapku terharu mendengar cerita tentang hidupnya.


"Ya, yang kamu lihat aku sekarang seperti ini, tapi kamu nggak tahu apa yang terjadi dengan hidupku 38 tahun lalu hahaha, kei, nasib hidup dan ujian setiap manusia itu berbeda-beda, Allah nggak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri," ucapnya menasihati ku


"Kita sama-sama belajar, oh ya Hanan gimana sih orangnya menurut kamu?" tanyanya membuat ku tersedak jus mangga yang sedang ku minum.


"Mas Hanan? kok malah nanyain dia, emang ada apa?" tanyaku penasaran


"Ya aku bertanya menurut kamu Hanan orang nya gimana sih?" tanyanya lagi


"Biasa aja sih buat ku" kataku setelah menenggak habis jus mangga ku.


"Yang lebih spesifik gitu loh kei" ucapnya membuatku langsung berfikir


"Spesifikasi seorang Hanan menurutku ya biasa aja lah, namanya juga laki-laki, mau nya kakak gimana?" omelku.


"Ya, baik, murah senyum atau apalah gitu, menurut kamu Hanan gimana orangnya?" tanyanya lagi


"Oh, kalau baik malah baik banget, sopan, menjaga marwah wanita terutama pandangan, kalau di butik pas gabung sama karyawan ya dia lebih milih gabung sama karyawan laki-laki daripada berinteraksi dengan karyawan perempuan itu aja sih kak" ucapku.


Ku lihat dokter Fritz hanya mengangguk saja tanpa menanggapi lagi.


"Kalau misalnya kamu di lamar sama orang yang memiliki sifat persis seperti dia apa kamu mau?" tanyanya membuatku terkejut


"Hah?x mulutku menganga mendengar pertanyaan aneh dari dokter Fritz.


"Aneh, mana ada orang mirip satu sama lain di dunia ini kak" omelku.


"Ya kan aku bilang seandainya, gimana sih?" ucapnya lagi.


"Seandainya ya, ya mau lah, kan manusia langka yang kayak gitu mah kak hahaha" ucapku tertawa.


"Bisa aja kamu Kei, hahaha"


"Emang kakak kenapa sih, dari kemarin-kemarin yang di bahas pasti ada mas Hanan nya, emang kenapa sih dengan kalian?" tanyaku akhirnya.


"Ya nggak ada, cuma kalau aku melihat kamu sama Hanan bareng itu cocok banget, auranya kayak jodoh gitu kei" ucapnya sok tahu


"hahahaha aku? sama mas Hanan? ya kali ada yang bilang cocok, no lah.. aku lagi nggak mau bahas soal cowok dingin kayak dia" elakku


"Kalau aku lihat nih ya Kei, Hanan itu sikapnya kayak beda benget kalau pas lagi sama kamu, apalagi beberapa kali aku nggak sengaja lihat Hanan serius banget natap kami sampai nggak kedip" kata dokter Fritz.


"Hahahaha, aneh deh, nggak mbak Kinar nggak kamu ngomong nya gitu semua ihh soal mas Hanan"


"Hahahaha, sengaja biar kamu lupa buat bahas Reno hahaaa"