KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 122



Hanan mencium kening istrinya setelah memastikan wanita itu tidur nyenyak. setelah kejadian beberapa minggu lalu di rumah sakit, Keisya lebih banyak diam dirumah dan tidak mengerjakan apapun karena rasa mual dan muntah yang berlebihan hingga membuatnya harus di infus karena kekurangan cairan.


Faras dan Kaila masih merengek untuk tidur bersama ibunya, tapi Hanan dengan sabar memberikan pengertian pada kedua anaknya.


Hanan bergantian dengan mbok Iyah untuk menjaga Keisya, saat Hanan bekerja, mbok Iyah yang menemani dan saat Hanan pulang mbok Iyah yang menggantikan pekerjaan mbak pengasuh di dapur.


Sama seperti hari ini saat tiba menjelang Maghrib, anak-anak langsung menghambur untuk di temani hingga mereka tidur, dan mbok Iyah yang menemani Keisya.


"Mbok, saya ke ruang kerja dulu ya, kalau mbok ngantuk tidur saja di kasur itu, nanti saya bangunin kalau sudah selesai kerjaan" ucap Hanan


"Baik tuan"


Hanan meninggalkan kamar menuju ke ruang kerjanya untuk membereskan pekerjaan kantor yang belum sempat ia selesaikan.


"Papa" panggil anak sulungnya di depan pintu


Anak lelakinya itu datang membawa bantal guling kecil kesayangannya dengan mata sayu.


"Kenapa berdiri di pintu? Masuk, sini duduk di dekat papa" ucap Hanan dan Faras mengikuti perintahnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Hanan


"Nggak bisa tidur" jawab Faras


"Kenapa nggak bisa tidur?" tanya Hanan lagi


"Karena ibu sakit, mama Kinar udah tau belum pa kalau ibu sakit?" tanya Faras.


"Udah kok, kenapa emang?"


"Kok nggak jengukin ibu? Apa mama Kinar udah nggak sayang Faras ya?"


Hanan menoleh mendapati pertanyaan seperti itu dari putra nya


"Mama Kinar sibuk, kakak K semuanya pada sibuk sekolah dan mama Kinar juga sibuk di kantor, mungkin belum sempat kesini" jawab Hanan


"Tapi ibu sakit masa mama Kinar nggak peduli pa?" timpal Faras


"Faras, dengar papa nak, nggak semua yang kamu pikirkan itu harus dilakukan orang lain untuk kamu, kamu harus coba mengerti juga apa yang di lakukan orang lain di luar sana juga untuk keluarga mereka, papa sudah bilang mama Kinar dan papi Azka sudah tahu ibu sakit, tapi semua kakak K berempat sedang sibuk semester di sekolah, jadi belum sempat jengukin ibu, papi Azka udah nelpon papa, akung juga udah nelpon papa, kakek juga, setiap hari mereka nelpon papa, kamu ngerti sekarang?" jelas Hanan panjang lebar


Faras hanya diam tertunduk meski sedikit tak suka dengan nasihat Hanan, anak itu memang terlalu membawa perasaan nya sendiri setiap melihat Keisya sakit.


"Pa, apa ibu sakit karena Faras?"


"Siapa yang bilang?"


"Nggak ada, tapi ibu bisa sakit karena melahirkan Faras dan Kaila, kalau nanti adek bayinya lahir ibu sakit lagi" ucap anak berusia lima tahun itu.


"Faras, kalau ibu sakit itu bukan karena Faras atau Kaila, ketahuilah sakit itu datang nya dari Allah dan sembuh juga dari Allah, mengerti?"


"Tapi kenapa Allah swt kasih kita sakit?"


"Supaya kita tahu apa itu nikmat sehat, supaya kita jadi orang baik yang selalu bersyukur dan menghargai dan menjaga kesehatan baik jasmani maupun rohani"


"Gitu ya pa, jadi ibu sakit bukan karena Faras dan Kaila?"


"Bukan. sama sekali bukan"


Faras tersenyum menatap papa nya, begitupun Hanan.


"Pa, kalau nanti adek bayi lahir Faras boleh kan tidur sama adek?"


"Boleh kenapa tidak, nanti kita tidur bareng berlima sama adek bayi, ada papa, ibu, Faras, Kaila dan adek bayi"


"Horee makasih papa"


"Sama-sama anak solehnya papa"


***


"Di tunda dulu, ada yang harus aku selesaikan di kantor cabang, nggak papa kan?" tanya Reno menatap Andin dengan rasa bersalah.


Andin hanya bisa mendesah pelan lalu mengangguk. Reni langsung berlalu pergi membawa setumpuk dokumen dan tas kerjanya.


Mereka baru menikah dua mingu lalu, tapi sampai hari ini mereka tak pernah pergi berbulan madu seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.


Keadaan kantor cabang yang terkena masalah karena salah karyawan yang berani menilapkan uang perusahaan membuat Reno akhirnya kalang kabut untuk menyelesaikan masalah ini ke ranah hukum.


Andin hanya mendesah melihat kepergian suaminya. Setelah mereka resmi menikah Reno hanya sibuk dengan pekerjaannya hingga tak ada waktu untuk mereka berduaan.


Padahal pengantin baru masih hangat-hangat nya bagi hubungan mereka,berbulan madu atau liburan kemana yang mereka inginkan dan mengesampingkan sejenak aktivitas pekerjaan.


Tapi tidak berlaku bagi andin, satu jam setelah acara resepsi mereka selesai justru Reno pergi dan tak pulang hingga esok hari.


Entah apa yang Reno lakukan di luar rumah setelah acara selesai, bahkan Reno pun tak pamit apalagi memberi kabar.


Memang seminggu sebelum menikah, Andin mendengar percakapan Reno dan ibunya soal pertemuan mereka dengan mantan calon istri Reno di masa lalu.


Awalnya Andin tak mau ambil pusing karena ia tahu Keisya sudah berumah tangga dan memiliki anak.


Dan yang Andin tahu dari cerita Dimas adik iparnya, kalau ibu Reno pernah bekerja pada keluarga Keisya, dan hingga hari ini ibu mertuanya maupun Reno masih punya hutang budi banyak pada keluarga Keisya yang banyak menolong mereka. Bahkan dulunya almarhum bapak mertua Andin, orang tua Dimas pernah menolong keluarga besar itu dari kebangkrutan.


Andin tak pernah mau mempermasalahkan masa lalu Reno, tapi hubungan yang sudah terjalin dalam keluarga mereka tak bisa di usik.


Sebagai wanita yang sudah bersuami, wajar baginya jika merasa cemburu jika suaminya masih akur dengan keluarga mantan calon di masa lalu dan itu manusiawi.


"Assalamualaikum mbak, mbak Andin" teriak Cintya istri Arkan dari pintu belakang.


Andin terlonjak kaget dan langsung berlari ke belakang untuk membuka pintu.


"Kenapa lewat belakang Cin?" tanya Andin begitu Cintya sudah masuk


"Dari rumah uwak Ujang anterin ubi makanya sekalian saya singgah kemari, mas Reno udah pergi? Kok sepi rumah" tanah balon Cintya.


"Iya udah pergi, ibu dimana?" tanya Andin


"Ke toko, udah aku larang tapi ibu tetap ngeyel, ya udah kesana si anterin mas Arka, sebentar aku nyusul kesana, mbak mau ikut?" tanya Cintya


"Nggak dulu lah, mau beresin rumah, belum kelar, ini lagi nunggu tukang yang mau buat taman mini di depan"kata Andin


"Oh, iya sih rumah Segede ini apalagi masih baru berapa hari di tempati sudah pasti banyak yang di renovasi, budgetnya lumayan juga kayaknya mbak heheh" kata Cintya


"Iya gitu lah, mau nya mas Reno sih nggak usah, gini aja cukup, tapi buat aku ya aneh aja kalau rumah polos nggak ada apa-apa nya" balas Andin memandangi langit rumah.


"Tapi emang sih mbak, ini udah lumayan bagus kalau di dalem, cuma di luar aja yang kayaknya perlu di permanis sedikit biar adem juga yang lihat"


"Haha betul juga, kamu hamil berapa bulan?" tanya Andin


"Baru tiga bulan mbak, ini pun aku nggak tahu kalau hamil"


"Kok bisa?"


"Ya nggak ngerasain tanda kehamilan, muntah mual dan sebagainya nggak ada sama sekali"


"Oh ada juga ya yang gitu"


"Ada mbak, kalau kata almarhum ibu ku, dulu juga gitu sih waktu hamil aku, nggak ngerasain yang namanya mengidam sampai aku lahir"


"Oh ya? Wah pengen deh hamil yang nggak ngerasain ngidam begitu"


"Nggak semua wanita sama mbak, ya semoga saja mbak juga gitu, emang udah ada tanda-tanda?"


"Hahah ya belom lah Cin, baru dua Minggu nikah masak langsung cus, aneh kamu itu"


"Ya siapa tahu aja"


"ahhaha"