KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 7



"Mas ini siapa nya santri bernama Keisya?" tanya Gus Syam sebagai pembina pondok sekaligus anak tertua kyai Rohmat.


"Saya kakak iparnya Gus, mertua saya sedang di rawat di rumah sakit, semalam saya yang berbicara di telepon" jawab Azka sopan


"Gus Hanan apa sudah menghubungi orang tua Arini?" tanya Gus Syam pada Hanan yang duduk di sebelah Azka.


"Sampun Gus, masih di perjalanan, saya sudah menghubungi pak Kardi subuh tadi" jawab Hanan


"Maaf mas, siapa namanya?" tanya Gus Syam pada Azka


"Saya Azka Gus"


"Oh iya saya panggil mas Azka saja ya biar lebih enak, jadi begini semalam Keisya itu nekat menjatuhkan diri dari lantai tiga, kebetulan saat itu santri masih banyak yang belum tidur, dan kebetulan ketua Rayon sedang ingin menemui Arini katanya, tapi saat sampai di depan kamar, Indah melihat Keisya memanjat pagar pembatas kamar, beruntung santri putri yang di lantai bawah keluar semua saat mendengar suara Indah berteriak dan mereka di pantai bawah mengambil semua peralatan tidurnya untuk menolong Keisya, karena memang keadaan darurat mereka nggak kepikiran yang lain kecuali untuk menolong Keisya agar tidak terjatuh terkena lantai beton." jelas Gus Syam.


"Apa Arini tidak di kamar Gus?" tanya Hanan


"Arini sedang keluar ke dapur sama Ummul mengambil air minum" jawab Gus Syam.


"Maaf Gus, bagaimana kondisi Keisya dan Arini sekarang?" tanya Azka penasaran.


"Keisya sudah siuman, begitu juga Arini sudah kembali beraktivitas, hanya saja Keisya menangis terus dan berulang kali nekat ingin bunuh diri, subuh tadi seandainya ummi tidak cepat mungkin Keisya sudah tidak ada mas" terang Gus Syam


"Maksudnya?" tanya Azka


"Keisya mengambil pisau lipat kecil di dalam lemari, saat petugas poskestren sedang sholat, beruntung ummi cepat datang dan mengambil paksa pisau lipat dari tangan Keisya"


Azka mendesah berat mendengar penuturan Gus Syam, apa yang ia khawatir kan terjadi juga, kondisi mental Keisya terguncang kembali.


"Lalu nona Keisya sekarang ada dimana Gus?" tanya Hanan mewakili Azka yang tiba-tiba diam saking terkejutnya mendengar cerita Gus Syam.


"Masih di poskestren, sebenarnya kami tadi hendak merujuknya ke rumah sakit, tapi menunggu kedatangan wali dan keluarganya dulu" jawab Gus Syam


"Apa boleh saya menemui Keisya Gus?" tanya Azka meminta izin


"Boleh saja, sebentar ya saya panggilkan dulu Arini, supaya mas Azka bisa mendengar cerita dari pihak Arini juga." jawab Gus Syam


"Terimakasih Gus"


"Mohon menunggu sebentar mas, Monggo di unjuk minum nya" ucap Gus Syam mempersilakan tamunya meminum teh.


"Mas Hanan, saya boleh minta tolong?" ucap Azka saat Gus Syam sudah pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu kantor


"Boleh saja tuan muda"


"Saya mau mas Hanan jadi bodyguard Keisya sampai dia benar-benar sembuh, dan sekaligus jadi guru spiritual untuknya, bisa kan?" ucap Azka dengan tatapan memohon. entah darimana pemikiran seperti itu, ia hanya berinisiatif saja dan dari sudut hatinya memang meyakini kalau Hanan orang yang tepat untuk Keisya. semoga saja.


"Ss...saya tuan muda? nggak salah?" tanya Hanan terkejut menatap tidak percaya ada permintaan Azka


"Lalu siapa lagi orang yang tepat selain mas Hanan? saya hanya mau yang terbaik untuk Keisya, sebagai seorang kakak." ucap Azka tegas


"Tapi kenapa harus saya tuan muda?"


"Karena mas Hanan orang yang tepat menurut kata hati saya"


Hanan menatap lekat wajah kebaratan milik Azka, mencoba mencari kebohongan disana, tapi tidak ia temukan. Hanan mendesah pelan lalu mengangguk mantap membuat Azka tersenyum senang.


"Terimakasih mas Hanan, setidaknya saya sudah merasa tenang, nanti saya akan bicara dengan istri saya dan mertua bagiamana baiknya, saya rasa mereka juga nggak akan keberatan dengan usul saya. biar bagaimanapun Keisya butuh sosok yang bisa mengimbanginya dan bisa menyelami jiwanya. nanti ada waktu saya undang mas Hanan kerumah untuk makan malam bisa kan?"


"Insha Allah tuan muda"


"Gus Syam mana mbak Indah?"


"Gus Syam sedang di menemui Pak Kyai di ndalem, saya di minta untuk mengantar Gus Hanan ke poskestren"


"Oh iya terimakasih, mari tuan muda kita ke poskestren"


Azka dan Hanan mengikuti langkah Indah yang berjalan jauh di depan mereka.


Azka sesekali menoleh ke kiri-kanan matanya begitu awas melihat bangunan-bangunan pondok yang berdiri menjulang tiga lantai.


"Kita sampai tuan muda, silakan masuk" ucap Hanan mempersilakan Azka masuk lebih dahulu.


"Assalamualaikum" ucap Azka saat hendak melewati pintu


", Waalaikumsalam, oh kakaknya Keisya ya?" jawab Bu Nyai Afifah mengingat Azka saat pertunangan Keisya tiga setengah bulan lalu.


"Iya Bu Nyai, Alhamdulillah masih mengingat saya"


"Tentu masih ingat, mari masuk mas, Gus Hanan sini masuk, maaf tadi Gus Syam mendadak di panggil Abah karena ada tamu penting dari kabupaten"


"Iya umi"


"Maaf Bu Nyai, langsung saja, bagaimana kondisi Keisya?"


"Keisya baru saja tertidur setelah di beri suntikan sama dokter, tadi pagi Abah memanggil dokter keluarga karena takut kalau Keisya mengamuk lagi jadi maaf terpaksa Abah meminta dokter untuk memberikan obat penenang." ujar Bu nyai Afifah merasa bersalah.


"Jangan merasa bersalah Bu Nyai, justru saya berterima kasih karena sudah bisa menangani Keisya dengan cepat, lalu bagaimana menurut dokter tentang kondisi nya?"


"Dokter Amir bilang, kalau Keisya terguncang, dan mungkin punya trauma masa lalu yang membuatnya tertekan, maaf mas, apa itu benar?"


"Diagnosa dokter tidak salah Bu Nyai, Keisya memang punya gangguan psikologis sejak kecil karena memang hidup terpisah dari keluarga mertua saya" ucap Azka.


"Maksudnya gimana ya mas, saya nggak ngerti"


Azka pun akhirnya menceritakan kisah Keisya sejak kecil yang hilang di culik hingga puluhan tahun mengalami kekerasan mental dan ancaman hingga keinginan tuan Wibowo menikah kan Keisya dengan Reno.


Hanan terdiam sembari mendengarkan cerita Azka dengan perasaan kasihan. kasihan pada hidup Keisya yang harus mengalami kekerasan mental dan ancaman bahkan menghirup udara bebas pun ia tidak bisa.


Timbul keinginan kuat dalam hati Hanan untuk menyanggupi permintaan Azka menjadi bodyguard sekaligus guru spiritual bagi Keisya.


"Astaghfirullah, saya tidak menyangka segetir itu hidup yang harus di jalani Keisya,lalu orang yang menculiknya sekarang bagaimana?" tanya Bu Nyai Afifah


"Sudah meninggal Bu, dan beruntung sebelum meninggal beliau sudah bertaubat dan meminta maaf pada keluarga mertua terutama Keisya dan istri saya."


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un saya turut berdukacita mas, oh ya tadi Abah sempat memberikan saya usul, kalau mas tidak keberatan, dan maaf sebelumnya kami tidak ada maksud untuk menyinggung mas dan keluarga"


"Apa itu Bu nyai kalau boleh kami tahu?"


"Begini mas, sebaiknya Keisya di dampingi keluarga saja terutama orang tua dan saudara kandung, demi kebaikan bersama, jika Keisya berada di lingkup orang tua dan keluarga perlahan trauma psikologis yang dia alami juga bisa sembuh secara perlahan, bukan kami tidak ingin Keisya mondok disini, tapi jika kondisinya seperti ini juga akan mengganggu santri yang lain. dan yang paling parah Keisya bisa saja mendapatkan tekanan mental lebih dalam lagi, apalagi jika ada santri lain yang merasa risih jika Keisya sewaktu-waktu nekat seperti semalam" terang Bu Nyai dengan pelan


Azka manggut-manggut mendengar penjelasan Bu Nyai Afifah, dan ia langsung setuju. memang ada benarnya jika Keisya lebih baik berada dekat dengan keluarga bukan malah berada di tempat lain yang jauh dari interaksi keluarga, belum lagi jika ada masalah internal yang sedang di hadapinya seorang diri tanpa sepengetahuan keluarga, justru itu juga akan menganggu kesehatan mentalnya.


"Saya setuju Bu Nyai, dan saya akan menunggu kedatangan paklik Kardi sebagai orang tua Arini sampai di sini. masalah ini nanti akan kami bicarakan dengan keluarga besar di sana" ujar Azka


"Alhamdulillah kalau mas setuju dengan usulan Abah, memang menghadapi orang yang memiliki tekanan jiwa agak susah, bagaimana menghadapi mental mereka yang terkadang naik turun dan berubah-ubah"


"Benar Bu Nyai" ucap Azka membenarkan ucapan Bu Nyai Afifah karena ia juga pernah ada di posisi Keisya meski tidak terlalu parah dan sekarang akhirnya bisa sembuh berkat keluarga terutama Kinara sebagai istri juga kedua anak kembarnya yang masih bayi.