
Sejak pagi Kinara sudah pergi ke kampus bersama Azka. bahkan menjelang kepergian sang ayah siang tadi pun ia tidak pergi mengunjungi sang ayah dan adiknya untuk terakhir kalinya.
Sejak insiden kemarin lusa, Kinara merasa enggan meski sekedar menanyakan Keisya. hatinya masih sakit mengingat perlakuan Keisya saat itu.
Disisi hatinya ia tahu jika kondisi psikologis Keisya belum sembuh total, masih banyak hal-hal yang belum Keisya fahami secara logis. tetap saja rasa sakit saat mendengar permintaan terakhir Keisya masih membekas begitu dalam di lubuk hatinya.
Pagi saat sang ayah sudah pulang dari rumah sakit, Kinara hanya berbicara sekedarnya saja saat sang ayah menghubungi nya melalui sambungan telepon. Beruntung sang ayah tidak membahas apapun yang telah terjadi kemarin, hanya menanyakan keadaannya dan calon cucunya saja.
Kinara tahu apa yang tengah di rasakan sang ayah meski pria paruh baya itu tidak mengucapkan secara gamblang. Mengingat masa lalu yang sudah mereka lalui selama ini membuat sudut hatinya merasa bersalah saat sang ayah justru mengirimkan pesan permintaan maaf saat berpamitan akan pergi.
Sejatinya sekuat-kuatnya Kinara menyimpan luka dan air mata tetap saja ia butuh sandaran. mengetahui gelagat Kinara yang selalu murung Azka langsung menemani sang istri bahkan sebelum Kinara selesai jam perkuliahan.
"Kamu nggak ada jam mas?" tanya Kinara saat ia keluar dari kelas dan mendapati Azka duduk dan kursi depan kelas.
"Udah selesai setengah jam lalu makanya aku nungguin kamu disini" jawab Azka sembari menggamit jemari Kinara
"Eheeekk...haduh masih sore pak, nggak sabaran amat" seloroh Saipul teman sekelas Kinara yang tergabung dalam satu komunitas mahasiswa dengan Azka.
"Jomblo minggir hus huss" timpal Azka seraya mengibaskan tangannya di depan Saipul.
"Gini-gini jomblo terhormat gais" Sahut Saipul berlari meninggalkan pasangan muda itu yang tertawa melihat tingkahnya.
"Kita ke kantin atau kemana?" tanya Azka
"Ke galeri mau kan?"
"Galeri?" tanya Azka tak mengerti pasalnya selama ini sang istri tidak pernah mengatakan perihal galeri padanya.
"Kantor ibu"
"Apa nggak sebaiknya besok saja sayang, ini udah sore, gimana kalau ke yayasan panti Deket taman kota?"
"Hem ide bagus, ayok lah nanti kita sholat magrib disana sekalian"
"Mas, gimana kondisi Nana sekarang?"
"Nana masih koma, Rangga yang selalu setia ngasih kabar ke grup, bahkan adik Nana juga sudah pindah kesini ke sekolah kita berkat Rangga" ucap Azka menjelaskan
"Ooh gitu, besok kita kesana ya?"
"Boleh tapi pagi ya" ucap Azka sedikit tak enak hati
"Kok pagi sih? kan aku ada kuliah pagi besok"
"Hemm, aku bisanya pagi soalnya, kuliah ku siang jam satu"
"Ck, ya udah aku kesana bareng yang lain aja deh pulang kuliah"
"Eeh ya jangan gitu dong," ucap Azka merayu, nggak mungkin kan kalau ia mengatakan bahwa ia masih cemburu dengan Rangga
"Trus mau mu apa sih mas?"
"Ya udah deh, pulang kuliah kalau gitu" akhirnya Azka mengalah demi menjaga gengsi agar tidak ketahuan jika ia masih saja menyimpan cemburu pada Rangga.
"Gitu dong" Kinara senang.
"Udah mau ketawa sekarang, udah baik lagi moodnya hehehe" goda Azka.
"Apaan sih"
Mereka akhirnya berjalan beriringan keluar kampus karena memang saat berangkat tidak membawa mobil melainkan di antar jemput oleh sopir pribadi.
Kinara dan Azka menaiki angkot menuju ke yayasan panti asuhan tak jauh dari taman kota. berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti sudah hal yang lumrah dan wajib mereka lakukan setiap ada waktu senggang.
"Siapa yang nelpon mas?" tanya Kinara setelah mereka sampai di depan gerbang yayasan. memang sejak turun dari angkot Azka mendapatkan telpon dari sang mertua, dan ia memang sedikit menjauh dari sang istri.
"Ayah" jawab Azka singkat
"Kenapa mesti menjauh gitu kalau ayah yang telepon".
"Mas nggak menjauh tuh, kan kamu jalan duluan di depan lagian ini di pinggir jalan jadi suaranya bising nggak kedengaran" ucap Azka santai
"Beneran?"
"Iya sayang, kenapa harus bohong sih, emang ayah yang nelpon tadi karena berisik pinggir jalan raya, makanya mas berhenti sebentar, lagian ayah cuma nanyain kamu, dari tadi ditelepon nggak kamu jawab"
"Oh ya udah maaf"
"Kamu kenapa sih? masih sedih?" tanya Azka mengelus pundak Kinara
"Iya sih, ayah udah jauh Keisya juga jauh, kak Revan sibuk dengan karirnya, siapa lagi tempat aku mau manja-manja?" ucap Kinara sedih menitik kan air mata.
"Pundakku selama ini apa nggak ada artinya?" ucap Azka menggoda Kinara.
"Ck, paan sih ah" ucap Kinara malu-malu dengan wajah memerah membuat Azka semakin gemas.
Kinar membuka gerbang yayasan lalu masuk ke dalam di ikuti Azka yang berjalan di belakangnya. suasana tampak lengang tidak ada aktivitas apapun di dalamnya. saung tempat anak-anak bermain pun tampak kotor.
Kinara dan Azka melihat sekeliling yayasan yang tampak sepi. tidak seperti biasanya. memang sudah hampir setengah tahun mereka tidak datang berkunjung ke yayasan ini. meskipun yayasan ini bukan milik mereka tapi mereka tetap menjadi donatur disini.
"Kok sepi ya mas?" tanya Kinara yang menatap bangunan dua lantai di depannya.
"Hei, kalian ngapain masuk kesini?" suara seorang pria dari arah belakang mereka.
Kinara dan Azka sontak menoleh pada sumber suara.
"Bapak siapa?" tanya Kinara.
"Loh harusnya saya yang nanya, kalian ini siapa?"tanya bapak bertubuh gempal dengan tinggi sekitar 175cm itu.
"Kami mau berkunjung kesini pak, kebetulan sudah sangat lama kami tidak datang"ucap Azka
"Apa kalian donatur?" tanya bapak itu lagi
"Iya kami donatur tetap di yayasan ini pak," jelas Kinara lagi
Tampak bapak bertubuh gempal itu mengusap kasar wajahnya dan meraup udara dengan rakus.
"Ada apa ya pak, kok seperti gelisah? tanya Kinara yang menyadari perubahan raut wajah bapak itu.
"Karena waktu sudah sore dan menjelang Maghrib alangkah baiknya kita sholat dulu di masjid yang ada di taman sana, nanti setelah sholat saya akan ceritakan segalanya" ucap bapak itu dengan wajah permohonan.
Kinara dan Azka saling pandang lalu pada akhirnya mengangguk.
"Terimakasih, saya yakin kalian orang baik, dan saya seperti pernah melihat wajah si Eneng, kalau gitu hayuk kita ke masjid dulu" ucap bapak itu merasa lega.
"Baiklah pak, kami ikut"
ketiganya berjalan keluar dari yayasan dan beriringan menuju ke taman kota.
"Penasaran nggak sih mas?" bisik Kinara
"sebenarnya iya, tapi kita hargai permintaan bapak itu saja."
"Aku jadi sedih mas, teringat Keisya" ucap Kinara tiba-tiba.
"Ck, udah, doakan saja Keisya baik-baik saja, jangan lagi di ingat apa yang sudah terjadi kemarin-kemarin, maklumi Keisya dia belum bisa mengolah emosi dan logikanya "
Kinara mengangguk samar seraya mengusap sudut matanya dengan ujung jilbab. beberapa hari ini ia memang terlalu sensitif.