
"Nggak nyangka banget ya mas, Bu Santi meninggal dengan cara yang tragis, hanya karena harta sang menantu sampai tega menghabisi nyawa ibu mertua nya, bahkan istrinya pun di perlakukan seperti hewan"ucap Kinara seraya melipat pakaian
"Kita berdoa saja semoga almarhum mendapatkan tempat yang indah di sisiNya." ujar Azka tanpa menoleh pada sang istri.
Setelah pulang dari bertemu pak Usman mereka sampai di rumah pukul 10.30 malam. karena mama Hanna sudah tahu kemana mereka pergi hingga selarut itu jadi saat mereka tiba mama Hanna tidak banyak mengomel.
"Astaghfirullah Nana" ucap Azka sedikit berteriak saat membaca notifikasi pesan di grup sekolah.
"Kenapa sih mas kok kaget gitu," Kinara yang merasa penasaran pun segera menghampiri suaminya yang menatap ponsel dengan Serius.
"Apaan sih? Nana kenapa?" tanya Kinara jengkel karena di abaikan
"Buka pesan di grup sayang cepetan, nih lihat" ucap Azka menyodorkan ponselnya di hadapan sang istri
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kita harus kesana mas, Nana semakin kritis" ucap Kinara gelisah dengan linangan air mata.
"Sabar ya, aku ke kamar mama dulu, kamu disini, kalau bisa hubungi teman seangkatan yang lain, aku minta izin dulu sama mama" ucap Azka seraya berlalu
Sepeninggalan Azka, Kinara sibuk menelepon semua teman-teman seangkatan serta adik-adik kelas yang lain. berhubung ponselnya sedang di isi daya, ia menggunakan ponsel Azka.
Tak berselang lama Azka datang bersama mama Hanna ke dalam kamar.
"Ra, biar Azka aja yang ke rumah sakit sama papa, kamu di rumah aja istirahat ya, kasihan kandungan mu kalau terlalu lelah" ujar mama menasehati.
"Tapi ma,..." ucap Kinara sedih karena penolakan mama Hanna
"Udah di rumah aja, biar mama yang nemenin kamu tidur" ucap Azka melarang sang istri ikut ke rumah sakit.
"Tapi mas"
"Ini udah tengah malam sayang, lihat tuh udah setengah dua belas" ujar Azka tegas
"Azka..." mama Hanna menegur karena ucapan Azka yang di rasa sedikit keras.
"Ya udah deh, yang penting kabari aku terus" ucap Kinara akhirnya mengalah.
Mama Hanna menggenggam erat tangan Kinara agar sang menantu tenang. sementara Azka berlalu meninggalkan kamar dan pergi kerumah sakit bersama papa.
"Aku pengen lihat Nana ma" rengek Kinara dengan tangisan pilu
"Sabar dulu ya, kasihan kandungan kamu, besok pagi kita kesana sama-sama" ucap mama menenangkan
Sementara itu rumah sakit ibu Nana terlihat memprihatinkan semenjak Nana kritis, bahkan seringkali ibu Nana pingsan karena tidak tahan melihat sang anak terbaring lemah tak berdaya.
Diki, sang adik satu-satunya Nana setiap hari harus bolak-balik sekolah dan rumah sakit karena tidak tega meninggalkan ibu dan kakaknya.
"Ki, kamu mending pulang kerumah inap saja biar ibu dan Nana kami yang menjaga" ucap Rangga beberapa waktu lalu.
"Saya nggak tega mas, kasihan ibu hanya saya saja keluarga yang di miliki, keluarga kami sudah tiada semua" jawab Diki tak enak hati.
"tapi kamu harus belajar Ki, jarak rumah sakit ke sekolah lumayan jauh loh"
"Nggak apa-apa Kak, kesehatan ibu juga lebih penting lagi, karena aku bisa sekolah juga karena ibu setelah bapak tidak ada, karena aku sempat berniat untuk berhenti sekolah dan membantu ibu di pasar, tapi ibu dan mbak Nana bersikeras aku harus tetap sekolah." papar Diki.
"Insha Allah kamu sukses, mas doain, ya udah untuk malam ini biarkan kami menjaga di sini, ada kak Exel, mbak Riska, Dan yang lainnya. malam ini kamu pulang saja kerumah inap ya, nanti biar saya yang antar sekalian saya juga mau jemput paket di toko" ujar Rangga tak lagi mau menuntut Diki.
Sama halnya seperti malam ini, setelah beberapa hari Nana tersadar kini Nana kembali koma bahkan dokter sudah pasrah dengan keadaan Nana meskipun mereka tetap profesional dengan pekerjaannya.
Rangga, Exel, Riska, dan Jo sudah ada di rumah sakit sejak sore saat mendapat telpon dari Diki jika Nana tengah kritis.
Mereka tetap bergantian menjaga Nana karena ibunya juga justru di rawat karena kelelahan dan stress.
Pukul 10.00 malam detektor jantung berbunyi dengan satu irama garis lurus membuat ibu Nana yang sedang menjaga di dalam histeris dan akhirnya pingsan.
Semua tim dokter berupaya sebaik-baiknya menangani kondisi Nana dan tepat pukul 11.30 Nana di nyatakan koma.
"Ibu yang tenang ya, Nana insha Allah baik-baik saja"
"Ibu mau sama Nana nduk, antar ibu ke Nana sekarang"
"Ibu harus istirahat kata dokter, kalau ibu tambah sakit siapa yang bakalan jagain Nana? untuk saat ini biar teman-teman yang jagain Nana, ibu tenang ya karena ada Diki juga kok"
"Hiks hikss kenapa keluarga ibu harus pergi semua nduk, semenjak saudara nenek yang hilang itu di kuburkan dengan layak kenapa malah keluarga ibu yang hancur, kasihan Nana hanya kami saja yang dia miliki saat ini" tangis Bu Halim.
"Ibu yang sabar ya, semua sudah kehendak yang maha kuasa, ada kami kok Bu"
"Mana teman mu yang cantik itu nduk, yang jilbabnya modis"
"Kinara maksudnya Bu?"
"Iya, dimana dia."
"Kinara lagi hamil Bu baru aja keluar dari rumah sakit karena di rawat, belum boleh kemana-mana sama dokternya"
"Di..dia sudah menikah?"
"Iya Bu sudah setahun lebih mereka menikah"
"Loh kan kamu baru 6 bulan lulus kok mereka udah menikah setahun lebih?"
"Udahlah buk nggak usah bahas mereka, kita fokus saja Nana ya" ucap Riska mengalihkan pembicaraan.
Sementara di luar ruangan semua tengah tegang menunggu dokter keluar dari ruangan Nana di rawat.
Rangga yang sejak siang sudah berada di rumah sakit bertambah gelisah saat melihat kondisi Nana sangat memprihatikan. ia sudah mengirim pesan di grup chat sekolah dan alumni tentang kondisi Nana.
"Ngga, gimana sama Nana?" tanya Azka yang datang dengan wajah cemas bersama seorang pria paruh baya yang Rangga tidak kenal namun paras dan perawakannya mirip dengan Azka.
"Dokter di dalem, kita tunggu saja mereka keluar, semoga kabar baik yang kita dengar nanti " ujar Rangga seraya menelisik pria paruh baya itu. "Papanya Azka ya om?" tanya nya kemudian
Tuan Anderson yang mendapat pertanyaan tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Saya papanya Azka, teman mainnya juga teman berantemnya kalau di rumah hehehe" ucap tuan Anderson tertawa ringan
"hahaha ternyata om lawakan juga ya, saya Rangga om"
"Oh iya iya saya ingat, kamu pernah antar menantu saya pulang dulu ya" ucap tuan Anderson seraya melirik Azka yang berdiri di sampingnya.
Rangga terlihat kikuk karena ucapan tuan Anderson.
"Udah nggak usah sok jaim, lagian kalian kan temen satu geng ngapain mukanya pada kecut gitu hahahaha" tuan Anderson berucap seraya melirik Azka yang terlihat sebal dan Rangga yang salah tingkah.
Kriet
Pintu rawat inap Nana terbuka, dokter keluar dengan wajah yang entahlah.
"Gimana dok?" tanya Azka dan Rangga bersamaan, Diki pun maju mendekati sang dokter
"Kalian keluarganya?"
"Saya adeknya pak, ibu saya masih di rawat karena kelelahan juga"
"Maaf pasien tidak bisa kami selamatkan, bersabarlah nak doakan kakakmu mendapatkan tempat tebaik di sisi Allah swt" ucap dokter sendu. dokter itu rupanya yang menggantikan dokter Djafri malam ini untuk merawat Nana.
Semua terdiam di tempatnya bahkan tuan Anderson pun begitu shock saat tahu Nana telah tiada.
"Tidaaakk" teriak Diki lalu setelahnya ia pun pingsan.