
Pukul tiga sore tuan Wibowo dan Keisya sudah tiba di kediaman besannya. mama dan papa Anderson menyambut hangat kedatangan mereka.
Mereka bercengkerama di ruang keluarga membahas seputar keinginan tuan Wibowo dan rencana masa depan di tempat yang baru.
Kinara masih betah di dalam kamar meski ia tahu ayah dan adiknya datang berkunjung kerumah, bukan tanpa alasan karena Azka melarangnya untuk turun jika belum sampai kerumah.
"Mbak Reni disini aja dulu ya, kalau mas Azka udah datang baru keluar"pinta Kinara pada mbak Reni yang datang membawakan buah
"Den Azka baru aja datang, masih di bawah tuh, mau di panggilin?"
"Emm nggak usah nanti juga naik kok"
"Oke, saya turun dulu nona"
Tak lama setelah mbak Reni pergi, Azka masuk ke kamar dengan menenteng tas ranselnya, karena perkuliahan lebih cepat selesai dari jam seharusnya, Azka langsung pulang begitu mendengar mertuanya datang untuk berpamitan.
"Maaf sayang nggak langsung masuk, nggak enak sama ayah kalau aku lewati aja"
"Iya aku ngerti, turun ke bawah yuk"
"Mau mandi dulu, tungguin ya"
"Iya"
Azka berbalik ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Kinara menyiapkan pakaian untuk di pakai sang suami.
Sementara itu di ruang tamu, Keisya duduk dengan gelisah, ada hal yang membuat hatinya begitu risau sejak kejadian itu bermula dimana ia menendang kursi yang di duduki Kinara hingga akhirnya Kinara harus mendapatkan perawatan.
Rena yang sejatinya sudah tahu gelagat Keisya hanya bisa mendesah kasar, ada perasaan takut jika apa yang di rencanakan Keisya menjadi boomerang untuk keluarga besar tuan nya.
Flashback
"Mbak Rena, apa salah jika aku menyukainya?"
"Maksudnya?"
"Aku menyukai suami kakakku sendiri" ucap Keisya menunduk malu
Deg
Hati Rena terasa nyeri mendengar ucapan nona mudanya, bukan nyeri karena memiliki perasaan pada suami Kinara, tapi lebih ke rasa takut jika Keisya berbuat nekat karena kondisi psikologis nya belum sembuh total. dan ini juga hal pertama yang terjadi pada Keisya. masa pubertas dan pertama kali bagi Keisya memiliki perasaan dengan lawan jenis.
"Emm, perasaan itu nggak salah, tapi akan lebih salah kalau kita mencoba mengambil apa yang orang lain miliki meski itu saudara sendiri."
"Tapi kami kembar mbak, bukankah kalau saudara kembar itu apapun harus selalu sama?" ucap Keisya tidak terima dengan ucapan Rena
"Astaghfirullah" Rena berucap dalam hati apa yang baru saja ia dengar. berkali-kali ia menghembuskan nafas berat sebelum menjawab ucapan Keisya.
"Memang kalian kembar tapi bukan berarti pasangan juga harus dengan orang yang sama nona, ada aturan dalam agama yang mengatur tentang hal itu"
"Aturan apa lagi mbak, yang jelas karena kami kembar jadi apa yang dia miliki aku juga harus punya gitu mbak"
"Astaghfirullah, tolong hamba ya Allah swt bagaimana cara menjelaskan dengan orang yang memiliki jiwa sakit?" batin Rena
"Nona, kalau nona menyukai den Azka itu tidak salah, urusan hati itu hak nona, tidak ada yang bisa menggerakkan kecuali nona dan tuhan yang tahu, tapi bukan berarti nona harus memiliki den Azka karena dia suami kakak nona yang artinya kakak ipar nona juga. hubungan menikahi wanita yang sedarah itu tidak di perbolehkan, ada aturan dalam agama yang mengatur tentang pernikahan"
"Jadi mbak Rena nggak setuju kalau aku memiliki Azka juga?, mbak Rena udah mulai membela kak Kinara juga, udah nggak mau peduli sama aku lagi?"
"Astaghfirullah"batin Rena serba salah.
"Jadi apa yang nona inginkan?" tanya Rena tegas.
"Aku mau kak Azka juga bisa jadi milikku, karena aku dan kak Kinara itu kembar" ucap keisya dengan lantang
Rena diam seketika, mood nya tiba-tiba saja hancur dengan ucapan Keisya yang lugas tanpa rem.
"Ya Allah begini susahnya menghadapi orang yang sakit jiwanya" batin Rena sedih.
"Ya udah kalau memang itu maunya non Keisya silakan bicara langsung dengan nona muda, tapi resiko tanggung sendiri" ucap Rena tegas lalu segera pergi meninggalkan Keisya yang masih termangu di atas kasur
Flashback off.
Tak lama Kinara dan Azka turun bersamaan, Azka menggenggam erat jemari sang istri, bukan ia tidak menyadari tatapan Keisya pada mereka berdua, melainkan karena pesan mbak Rena semalam di ponselnya.
Kinara menyalami sang ayah dan memeluknya begitu juga dengan Keisya.
Kinara duduk di tengah antara sang mama mertua dan suaminya. Keisya semakin kikuk dan keringat dingin keluar membasahi pelipisnya. sementara semua orang sedang berbincang, Keisya memilih untuk diam dan mendengarkan. hingga saat hendak berpamitan Keisya memberanikan diri untuk berbicara di depan semua orang.
"Kak aku pamit ya mohon doanya semoga semua yang aku inginkan bisa tercapai"
"Selalu ada doa buat mu, yang rajin belajar nya jangan lupa kirim doa untuk almarhum ibu juga papa Anthony yang sudah merawat mu selama ini" pesan Kinara dengan mengusap wajah adiknya dengan sayang.
"Iya kak, tapi bolehkah aku minta satu hal"ucap Keisya sedikit takut
Kinara diam sesaat, tapi mbak Rena dan Azka sudah gemetar dengan wajah panik. jangan sampai Keisya nekat meminta hal yang mustahil Kinara lakukan.
"Minta apa ngomong aja?"tanya Kinara
"Aku..." Keisya diam sejenak
"Ngomong dong"desak Kinara.
"Aku...aku...."
"Apa Hem?" tanya Kinara penasaran
"Aku minta suami mu"
"Jangan" teriakan Rena bersamaan dengan ucapan Keisya.
"Coba ulangi?" tanya Kinara dengan raut wajah menahan amarahnya
"Aku hanya minta suamimu jadi milikku juga" ucap Keisya lantang.
Ruangan hening seketika
Plak
Plak
Plak
Keisya terjerembab di lantai dengan pipi memerah dan air mata yang tiba-tiba sudah jatuh membasahi kedua pipinya.
Kinara telah melayangkan tamparan di pipi mulus adiknya tanpa belas kasihan karena rasa sakit hatinya dengan ucapan Keisya padanya meminta hal yang paling mustahil.
"Berdiri Keisya" Gertak Kinara dengan amarah. Azka dengan sigap memeluk sang istri. sedangkan tuan Wibowo tidak menyangka dengan ulah nekat anak bungsunya itu.
Mama dan papa Anderson terkejut luar biasa mendengar ucapan nekat Keisya. dengan sigap mama Hanna menghalangi tubuh sang menantu karena merasa melihat jiwa psikopat Anthony ada pada diri Keisya.
"Berdiri kau Keisya" bentak Kinara tanpa peduli dengan mama Hanna yang berdiri di depan tubuhnya sedang kan Azka masih memeluk nya erat.
Rena membantu Keisya berdiri, sedangkan tuan Wibowo sudah terduduk lesu di sofa, tuan Anderson yang tahu apa yang sedang di Alami sang besan langsung duduk di samping tuan Wibowo dan mengusap pundak pria paruh baya itu dengan sabar.
"Bukankah kita kembar, jadi apapun yang kita punya harus sama?" ucap Keisya menantang
"Kau gila, kau sakit," ucap Kinara histeris
"Iya aku memang sakit karena suami mu" ucap Keisya tak mau kalah
"Kau berani menyalahkan suamiku yang tak bersalah padamu? kaulah yang bersalah Keisya . kau yang salah" sahut Kinara tak terima
"Aku tidak salah kak, bukankah aku juga berhak punya apa yang kau punya?"Ucap Keisya semakin menantang
"Kau gila, suamiku bukan barang Keisya"
"Aku hanya meminta hak ku" ucap Keisya menantang
Plak
Sekali lagi Keisya terjatuh di lantai dengan rasa sakit yang menjalar di kedua pipinya.
Kali ini bukan Kinara ataupun Azka, melainkan Rena sang asisten pribadi yang nekat memberikan tamparan keras pada pipi Keisya.
"Mulai hari ini aku berhenti menjadi asisten mu, aku menyesal telah mengabdikan diriku pada orang gila seperti mu" ucap Rena lantang lalu segera pergi meninggalkan kediaman tuan Anderson dan menyetop taksi begitu ia sampai di gerbang perumahan.
Semua yang ada di ruang keluarga terkejut melihat sikap tegas dan berani yang Rena tunjukkan. tuan Wibowo semakin shock dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Kinara meninggalkan Keisya yang masih tergugu di lantai dengan amarah yang masih membara. tuan Anderson dan Azka membawa tuan Wibowo kerumah sakit.
Mama Hanna hanya berdiri dan menatap nanar ke arah Keisya yang menangis sesenggukan di lantai. hatinya ikut perih melihat apa yang telah terjadi pada menantunya.
Tidak ada yang bisa di salahkan. Keisya hanya korban salah didik oleh seorang psikopat yang kini sudah tiada. sedangkan Kinara yang sejak kecil memang sudah mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga membuat Keisya merasa iri hingga berbuat nekat meminta hal yang mustahil untuk di wujudkan.