
Keisya dan Hanan baru saja tiba setelah perjalanan panjang selama seharian. tuan Wibowo menyambut kedatangan putri bungsunya itu dengan senang hati.
Setelah mengantar Keisya ke rumah orangtuanya, Hanan pulang kerumahnya berjalan kaki hanya melewati jalan besar dan masuk ke lorong sekitar dua ratus meter.
Hanan menjawab sapaan tetangga yang berpapasan dengan nya di jalan.
"Sudah pulang Gus, lama di kota malah bikin pangling" ucap salah satu tetangga yang di lewati nya
"Eh nggeh pak, Alhamdulillah krasan di kota, bapak sehat?" jawab Hanan lebih sopan.
"Alhamdulillah sehat Gus, sudah dapat calon istri belum Gus?"
"Hehehe jodoh nya masih di Lauhil Mahfudz pak, belum waktunya ketemu, Monggo pak, saya permisi udah di tungguin umi" balas Hanan
"hehehe nggeh, monggo-monggo Gus"
Hanan melanjutkan langkahnya menuju kerumah orang tuanya. sampai di depan pintu gerbang ia melihat ada sebuah mobil mewah parkir di halaman rumah orangtuanya.
Hanan masuk melalui pintu samping karena tidak enak jika harus melewati ruang tamu karena sekilas ia melihat orang tuanya sedang menyambut tamu penting.
Samar-samar ia mendengar namanya di sebut-sebut saat sudah masuk ke dalam kamar.
"Kenapa lagi aku di sebut-sebut ada lagi namanya Ning Syifa juga" batin Hanan.
Hanan lebih memilih berbaring merebahkan tubuhnya di atas kasur. badannya benar-benar letih setelah seharian menempuh perjalanan jauh.
*****
"Ayah, mau kemana?" tanya Keisya melihat sang ayah berpakaian rapi
"Mau yasinan di rumah pak kades, kamu mau ikut ke rumah Bulik Sri atau disini saja?"
"Ikut, aku takut sendirian disini, tunggu ambil tas dulu yah"
"Ayah tunggu di depan ya"
Keisya masuk ke dalam kamar mengambil jaket dan tas beserta seluruh isinya lalu menyusul ayahnya ke depan.
"Naik motor yah?" tanya Keisya meyakinkan dirinya
"iya, dekat kok, ayah antar kerumah Bulik Sri dulu ya"
Keisya mengangguk dan langsung naik keatas boncengan motor. sampai di depan rumah Bulik Sri Keisya turun dan menoleh sebentar ke arah rumah Hanan yang terlihat terang benderang. sedangkan ayahnya sudah berlalu ke tempat tujuan.
Keisya mengucap salam lalu masuk, Bulik Sri dan paklik Kardi menyambutnya dengan senang hati.
"Sudah gemukan sekarang ya, Bulik senang kamu bisa kembali lagi kesini nduk, katanya bapak mu kamu mau tinggal disini mulai sekarang ya?"tanya Bulik Sri
"Hehe iya rencana mau disini saja kasihan ayah kalau sendirian cuma sama sopir" jawab Keisya
"Baguslah biar bapakmu ada yang ngurusin, cuma kamu satu-satunya anaknya yang masih gadis, bapakmu saya tawarin nikah lagi nggak mau, katanya cuma mau setia sama almarhumah ibumu saja" lanjut Bulik Sri
"Hehe lagian udah tua siapa juga yang mau Bulik, denger cerita dari mbak Kinara sih katanya di suruh nikah lagi sama Tante Ratih tapi ayah nggak mau nanggepin" sahut Keisya
"Ayahmu itu tipe orang setia, dulu aja paklik jodohin sama ibumu aja ogah-ogahan karena masih nunggu mantannya yang di luar negeri, eh tau-tau nya malah di tunggal nikah juga, nggak tau bagaimana tiba-tiba dua tahun kemudian minta sama paklik suruh ngelamarin ibu mu" cerita paklik Kardi.
"memang begitu paklik?"
"Iya tanya aja bapakmu kalau nda percaya, sudah nikah lima tahun baru ibu mu hamil, waktu itu Revan baru umur lima tahun kalau nggak salah, trus bapakmu ikut pindah ke kota tempat almarhum nenekmu pindah, ya nggak tahu ceritanya bagaimana tiba-tiba paklik denger kabar kamu hilang di culik, ibumu sakit-sakitan terus waktu ibumu masuk rumah sakit trus pindah ke Singapura, paklik sama keluarga besar disini sudah nggak tahu lagi kabar kalian" kenang paklik Kardi mengingat surat terakhir yang dia terima dari kakak seayah nya itu berpuluh-puluh tahun silam.
"Kenapa waktu itu pakde nggak nyusulin ke kota?"
"Gimana mau ke kota hidup kami di desa saja sudah sangat susah nduk, paklik mu dulu masih kerja ikut orang jadi buruh sawah, gajinya cuma lima repes sehari" lanjut Bulik Sri.
"Emang keluarga ayah cuma paklik saja toh?"
"Panjang ceritanya nduk, intinya paklik, bapakmu sama paklik mu dokter Wawan itu satu ayah tapi beda ibu, ayah kamu itu anak pertama dari almarhumah istri pertama, paklik sendiri dari istri kedua dan paklik Wawan mu anak dari istri ketiga satu-satunya orang tua yang masih hidup" teenage paklik Kardi
"Loh, jadi kakek aku nikah istrinya langsung tiga?"
"Ya nggak langsung tiga gitu, istri pertama meninggal waktu ayah kamu umur lima tahun, trus nikah lagi lahir paklik dan meninggal waktu paklik kelas dua SD, trus nikah lagi lahir lah paklik mu dokter Wawan dan sekarang ibu juga sudah sakit-sakitan ikut tinggal sama Wawan cuma sebelahan rumah saja" cerita paklik Kardi.
"Eh, pak itu rumah Gus Rohid rame Ket sore loh, Ono opo Yo?" tanya Bulik Sri menengok ke arah jendela rumah
"Iya Bulik tadi aku turun dari motor ada banyak mobil jejer-jejer baru datang kayaknya" tambah Keisya
"Keluarga besannya paling" jawab paklik Kardi berlalu masuk ke dapur diikuti Keisya dan Bulik Sri di belakang nya.
Keisya mengambil gelas dan menyeduh teh hangat, sedangkan Bulik Sri memanaskan sayur di kompor.
"Paklik yasinan dulu nduk, Bu aku mangkat sek" ucap paklik Kardi berjalan ke arah pintu samping untuk mengambil motor.
Setelah suara motor paklik menghilang, pintu rumah terdengar di ketuk beberapa kali.
"Bulik ada tamu kayaknya" ucap Keisya
"Kamu bukain dulu pintunya" perintah Bulik Sri.
Keisya berjalan ke pintu depan dan terkejut saat pintu terbuka rupanya Hanan yang tengah datang bertamu.
"Loh kok mas Hanan disini, nggak ikut yasinan, atau istirahat gitu, kita baru nyampe loh tadi sore" seru Keisya
"Nggak disuruh masuk dulu nih?" ucap Hanan tersenyum.
"Loh Gus, bukannya yasinan malah kesini?" tanya Bulik Sri yang datang dari dapur.
"Sehat bulek?" tanya balik Hanan
"Alhamdulillah sehat, bukannya datangnya bareng sama Keisya tadi, bukannya istirahat kok malah keluyuran" seru Bulik Sri
"Hehe maaf bulek saya kesini ada perlu sama nona muda" ucap Hanan
"Oh Yo wes masuk, saya bikinin teh dulu"
Hanan duduk di kursi setelah di persilahkan Bulik Sri, begitu juga Keisya.
"Ada perlu apa ya mas?" tanya Keisya tanpa ba-bi-bu
"Ehmm, maaf saya izin besok pagi harus pamit berangkat lagi, soalnya ada panggilan dari dosen kalau besok harus setor proposal penelitian" ucap Hanan
"Oh gitu, ya udah silahkan, saya juga nggak ad a rencana mau balik ke sana lagi, mau rawat ayah di sini saja" kata Keisya membuat Hanan tiba-tiba berubah rona wajah nya.
"Mau menetap disini?" tanya Hanan meyakinkan
"Iya"jawab Keisya
"Ehm, sa...saya...juga ada permintaan pribadi nona, boleh?" ucap Hanan terbata
"Permintaan pribadi? maksudnya?" tanya Keisya bingung
"Saya .... saya ... kesini ..." ucapan Hanan terbata
"Ini minumnya Gus, silahkan, saya tinggal ke dapur dulu ya" ucap Bulik Sri menaruh segelas teh hangat dan cemilan di atas meja lalu pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu
"Silahkan mas, biar nggak gugup" ucap Keisya mempersilakan Hanan meminum tehnya.
"Terimakasih" ucap Hanan sembari mengangkat gelas teh dan meminumnya sedikit.
"Bisa di ulangi tadi? mau ngomong apa mas?"
Hanan berkali-kali menarik nafas panjang dan sesekali menatap wajah ayu Keisya yang tengah menatapnya penasaran.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang nona, tapi saya mau jujur, begini.... saya...saya berniat melamar nona menjadi istri saya" ucap Hanan dengan mata tertutup.
Blam....
prang....
.........