KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
61 Sebuah Fakta



Sudah empat hari Azka di rawat di rumah sakit dan hari ini sudah di perbolehkan pulang. papa sudah memutuskan agar Azka tinggal kembali di rumah utama tidak lagi bersama empat sekawan yang lain karna papa masih khawatir Azka akan berbuat nekat lagi jika dia dalam posisi tertekan. Keempat sahabat yang lain pun hanya menurut saja dengan keputusan yang papa buat. toh, mereka tinggal bersama juga karna papa yang meminta dan menjamin mereka serta keluarga mereka.


Dan sesuai kesepakatan mereka berempat tetap menempati rumah kontrakan itu dengan pengawasan yang ketat. Awalnya mereka sedikit merasa terganggu dengan usulan papa namun karna kak Sean berhasil membujuk mereka pada akhirnya mereka setuju dengan syarat mereka tidak di batasi ruang geraknya. apalagi sisa beberapa hari lagi mereka menghadapi ujian nasional otomatis mereka juga perlu ketenangan.


"Terimakasih dokter Hanum, om Wawan, dokter Arif, dan semua yang sudah membantu merawat saya 4 hari ini." ucap Azka pada jejeran dokter dan perawat yang berada di ruangannya.


"Sama-sama tuan muda, semoga lebih cepat pulih" ucap dokter Hanum.


"Dan ingat tiap sore gue dateng kerumah mau buat onar, ya kan Fritz?" ujar dokter Hermawan alias om Wawan.


"Yoi.." jawab Kak Fritz singkat


"Haiish mulai deh, dapet temen baru disini udah berubah lo om tua, belum lagi kalau si odong-odong ikutan ngerumpi kayak emak-emak kompleks" oceh Azka seraya membenarkan sepatunya.


"Hahahahahah" mereka semua tertawa mendengar ocehan Azka.


"Udah jangan ketawa mulu, gigi lo kering!" tegur Azka sembari berjalan hendak menarik koper.


"Lo mau pindahan lagi? emang nggak sanggup bayar kontrakan?" Seru kak Sean di depan pintu. Azka berdecak kesal melihat tingkah absurd kakaknya, bisa nggak sih sehari aja nggak ngajak ribut. batin Azka sebal.


"Odong-odong datang, pendek umur lo baru aja gue omongin" sahut Azka


plak ( kak Fritz memukul dahi Azka)


"Paan sih om tua, seneng banget deh geplak geplek, emang dahi gue gaplek?" sungut Azka


"Kakak lo itu," tegur Kak Fritz


"Kok tau, udah pernah kenalan emangnya?" sahut Azka yang membuat jiwa kegemesan Fritz akhirnya keluar


"Nih anak, bagusnya di kasih makan apa ya!" ucap Fritz yang menahan kekesalan dengan menggertakkan giginya.


"Hahahhaa, udah tau nih anak radak sableng masih aja lo sambut" sahut Sean.


"Ah lo juga sama" tukas Fritz


" Udah ayo keluar, yang lain udah pada keluar tuh" ajak om Wibowo.


"Bawain noh tas gue, kakak yang baik" perintah Azka pada Sean yang langsung dapat cibiran hangat.


"Haiish adik lucknut lo, maen perintah, gue coret dari daftar pewaris baru tau rasa lo" sungut Sean


"Gue nggak pusing, bodo amat toh saham terbesar juga punya gue kali" sahut Azka


"Lebih besar saham punya bini lo kelleees, mau ape lo...."


"Mau-mau gue doong lah..wleek🤪🤪"


"DIAM" teriak Kak Fritz dan Om Wawan. hahaha akhirnya mereka gerah juga liat tom and jerry satu produsen itu. Azka dan Sean hanya cengar-cengir saja. mereka melanjutkan langkah menuju ke arah parkiran rumah sakit. hari ini memang mama dan papa mengutus mereka bertiga untuk membawa Azka pulang karna khawatir dengan kondisi Azka yang belum pulih total dan satu alasan pasti karna papa tahu anak buah musuhnya sudah mulai mendeteksi jejak Azka.


Sepulang sekolah Kinara berencana mengunjungi kantor ayahnya, karna sudah sejak lama ia tak pernah datang berkunjung kesana sekaligus melepas rindu pada ayahnya yang sudah hampir tiga bulan mereka jarang bertemu karna kesibukan masing-masing.


"Lo mau mampir kerumah sakit jemput Azka nggak?" tanya Aldo sebelum melajukan mobil.


"Nggak, kan udah ada yang di tugasin papa buat jemput dia, gue mah manut aja" Jawab Kinara.


"Ya udah terus kita mau kemana ini?"


"Ke toko kue happy bubby, mau pesen cake kesukaan ayah"


"Heh, lo mau rencana kemana lagi sembeb, jangan bikin gue panik" sahut Aldo terkejut.


"Nggak kemana-mana kok, tenang aja cuma ke kantor pusat aja kasi kejutan buat ayah"


"Ck, lo mah gitu selalunya ngomong dadakan"


"Ck bawel lo, eits jaga itu mata, ada hati yang harus dijaga" tegur Kinara melihat Aldo bersiul pada seorang adik kelas yang tengah melewati mereka.


"Ceramah mulu lo, hati gue masih satu tetep utuh buat lo eh salah buat Ririn hehehehe"


"Kalau buat gue udah telat, lo nya kelamaan nyimpen jadi basi"


"Ye elah, biarpun basi tetep aja satu kagak ada gantinya"


"Udah buruan jalan, ngoceh mulu lo kayak kereta api"


"Lo juga"


Kedua nya masih melanjutkan perdebatan hingga sampai di tempat toko kue yang mereka tuju.


"Selamat siang kak Rindi" ucap Kinara pada seorang pelayan toko


"Eh nona muda selamat siang, apa kabar lama banget nggak mampir kesini"


"Ehhee maaf kak sibuk 2 hari lagi ujian, mohon doanya ya"


"Oh iya nona semoga di mudahkan sampai selesai amiiin,"


"Amiiin"


"Nona mau pesan apa?"


"Pesen cake yang biasanya aja ya kak buat ayah"


"Oh oke sip silakan di tunggu nona muda"


"Eh, lo kenal dia. cantik juga ya!" celetuk Aldo yang berdiri di sampingnya.


plak


"Njir maen pukul mulu lo" sungut Aldo


"Jaga mata jaga hati, ingat calon bini" ucap Kinara di telinga Aldo.


"Ck, buat nyedepin mata doang" gerutunya


Kinara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah genit Aldo pada semua pelayan toko kue terlebih lagi pada pelanggan yang terlihat bening.


Setelah beberapa saat menunggu, pesanan mereka sudah datang, Aldo dan Kinara langsung pergi meninggalkan toko kue menuju ke kantor pusat perusahaan ayahnya.


"Lo nunggu disini apa mau ikut ke atas?" tanya Kinara saat mereka sudah tiba di lobi kantor.


"Emm ikut aja lah" jawab Aldo sembari meraih paper bag di tangan Kinara. mereka melanjutkan langkah menuju ke lantai 7.


"Assalamualaikum mbak Arum, ayah ada di dalem?" tanya Kinara pada sekretaris ayahnya.


"Waalaikumsalam Maaf nona muda, Tuan sedang ada di ruang rapat"


"Lama nggak ya mbak?"


"Kalau rapat jajaran direksi sudah selesai 15 menit lalu nona mungkin beliau sedang berdiskusi dengan tuan besar"


"Oh papa Anderson dan Om Denis ada di dalem ya?"


"Iya nona"


"Ya udah saya kesana aja, makasih mbak Arum"


"Iya sama-sama nona".


Kinara memutar langkah menuju ke ruang rapat . tak henti-henti nya ia tersenyum dan menyapa para karyawan yang berpapasan dengannya.


"Ra gue ke toilet dulu.. nih bawa.." pamit Aldo begitu mereka hampir sampai di ruang rapat.


"Ya udah jangan kabur lo.."


"Sampai kapan kita harus menyembunyikan Keisya? dia sudah tahu tentang Kinara apa kita harus mempertemukan mereka? atau ada cara lain?"


"Sampai saat ini anak buah Anthony masih berkeliaran di sekitar kita demi mencari Keisya dan Azka"


"Lalu apa kita harus abaikan keselamatan Kinara juga?"


"Kondisi psikis Keisya sudah banyak kemajuan sekarang mungkin kita bisa menggali informasi darinya dimana keberadaan Anthony."


"Tidak semua hal bisa kita gali, kau lebih tahu kalau Keisya selama ini terkekang tak pernah melihat dunia luar"


"Sampai hari ini kita belum menemukan apapun tentang Anthony, kita tidak tahu bagaimana kondisi istri tuan Bagas hingga saat ini."


"Ah sejak awal aku sudah curiga dengan sikap otoritermu pada Azka dan Kinara, lalu kenapa kau baru menceritakan ini semua pada kami?"


"Aku hanya tak ingin menambah beban kalian dan ku pikir dengan cara ini Azka bisa sembuh dan keselamatan Kinara bisa terjamin"


"Lalu sekarang? kau lihat bagaimana kondisi Azka yang hampir bunuh diri bahkan Kinara tak tahu apapun karna kalian hanya diam seolah semua baik-baik saja"


"Ku pikir tidak ada salahnya jika Keisya bertemu saudara kembarnya, sudah lima belas tahun mereka tak pernah bertemu, dengan ribuan kebohongan yang terus aku ucapkan di depan Kinara bahwa adik kembarnya Keisya sudah meninggal sejak mereka kecil. apa kali ini aku harus berbohong lagi? besok adalah hari peringatan kematian Keisya, sudah pasti Kinara akan berziarah ke makam, nyatanya makam itu kosong"


"Ku pikir itu solusi cukup bagus, lebih cepat mereka bertemu kurasa lebih baik daripada Kinara harus menelan kekecewaan yang kita buat selama ini"


"Van, kapan kau ada waktu? atur bagaimana caranya Keisya bisa bertemu Kinara tanpa sengaja meski itu juga campur tangan kita"


"Aku paham dan lebih tahu siapa adikku Kinara, jika kalian seperti ini apa tidak sama saja kalian dengan pengecut? kalian tak sanggup menerima kemarahan Kinara bukan?"


Hening


"Aku tanya sekali lagi ayah, paman dan om Anderson apa kalian tak sanggup menerima kemarahan Kinara saat ia tahu adik kembarnya ternyata masih hidup?"


"Apa kalian pikir selama ini aku tak pernah merasa bersalah telah menyembunyikan kenyataan ini dari Kinara?"


"Lalu sekarang kalian ingin membuat pertemuan untuk mereka seolah itu tak sengaja?"


"Apa kalian fikir jika nanti Kinara mengetahui semua kebenarannya tidak semakin marah pada kalian?"


"Dan Om Anderson, kenapa om sembunyikan hal sebesar ini dari Kinara? apa om tahu apa yang adikku rasakan? kenapa sejak awal kalian tidak menceritakan ini semua pada kami bahkan Kinara. apa kalian seolah sanggup melakukannya sendiri?


"Aku lebih tahu siapa adikku, tanpa kalian minta aku yang akan membuka semua kebenaran ini padanya sekarang juga, karna aku sudah lelah".


Brak (Paper bag jatuh)


Semua orang yang berada di dalam ruang rapat menoleh ke arah pintu.


Kinara berlari sekencang mungkin dengan deraian air mata yang menetes membasahi pipi putih nya.


"Loh Ra....eh ngapain sih lari-lari?" teriak Aldo saat mereka berpapasan. Aldo segera mengikuti langkah Kinara.


"Kerumah om Denias sekarang juga" titah Kinara saat sudah memasuki mobil. Aldo yang bingung dengan sikap Kinara juga merasa serba salah.


"Tap...tapi.... gu....."


"Gue udah izin ayah, cepetan!!" teriak Kinara di sela isak tangisnya.


Aldo lebih memilih diam sembari fokus menyetir mobil. jelas sudah ia bingung apa yang terjadi dengan sahabatnya padahal baru sebentar ia tinggalkan pergi ke toilet.


"Kita sampai... lo mau....." ucapan Aldo terhenti seketika


Baamm (suara pintu mobil tertutup)


"Pak bukain pintunya" teriak Kinara. terlihat mang Ucup dan seorang kawannya berlari kearah gerbang dengan tergesa-gesa.


"Nona muda..tuan nggak ada di rumah" ucap Ucup


"Saya tahu, buka pintunya!" gertak Kinara membuat kedua satpam itu kaget dan tak berkutik lalu membuka kunci. Aldo yang tak biasa melihat sikap Kinara yang seperti itu menjadi penasaran apa yang terjadi pada sahabatnya saat ia tinggalkan tadi.


"Ra lo apaan sih?" tegur Aldo memegang lengan Kinara


"Diam" bentak Kinara


"Ya tapi nggak harus ngebentak mereka juga lah, mereka lebih tua dari kita biarpun mereka disini kerja buat lo, hargai mereka sedikit, nggak biasanya lo kayak gini" omel Aldo memegang kedua pundak Kinara


"Hikss hikss hikkkssss" Kinara menunduk sambil terus menangis.


"Lo kenapa sih, cerita lah"


"Maaf den, masuk dulu atuh, nggak enak dilihat tetangga nanti. mobilnya biar saya aja yang masukin ke dalem" ucap Mamat pada Aldo


"Oh iya maaf bang, maaf ya, mobilnya masih nyala tuh mesinnya belum di matiin" jawab Aldo


" Ya udah den bawa masuk aja nona muda" Sambung Ucup meskipun ia sendiri merasa khawatir pasalnya mereka di wanti-wanti agar Keisya tidak bertemu Kinara.


Aldo memapah Kinara yang masih menangis sesenggukan, mereka duduk di teras. Aldo membiarkan Kinara menangis ia sengaja memberi nya ruang sampai Kinara merasa lega.


Di sudut pos satpam rupanya Ucup dan Mamat saling sikut.


"Ini gimana kalau bos besar tahu kita bisa berabe"


"Lo sih Cup ngapain bukain pintu, biarin aja lah"


"Pe'a lo ya Mat, itu bos kita masak mau di biarin di luar mana tereak-tereak marah-marah,"


"Lha trus kita harus gimana Cup?" Mamat komat kamit sambil mondar mandir di depan Ucup.


"Bisa diem nggak sih Mat, lama-lama kayak setrikaan lo" tegur Ucup.


"Mikir Cup, mikir!"


"Iya gue juga mikir lo jangan ganggu konsentrasi gue dong, cari tempat lain kek kalau mau mondar-mandir jangan di depan gue juga"


"Hiiiiihhh" geram Mamat lalu meninggalkan Ucup seorang diri. saat sudah beberapa langkah Mamat berhenti dan balik menemui Ucup


"Ngapain lagi lo" bentak Ucup


"Gue punya ide" ucap Mamat dengan senyum manis menampilkan deretan giginya yang terang bagai lampu neon.


"Apaan?"


"Telpon pak Asep sama si Mbok Jum sekarang!" ucap Mamat antusias


"Bener juga lo, ya udah sono lo telpon lah"


"Kok gue sih Cup?"


"Ya lo lah, kan lo yang punya ide, lo juga yang tahu harus ngomong apa panjul!"


"Ah lo mah lemot Cup. tinggal ngomong aja susah!" gerutu Mamat dengan langkah tegap masuk ke dalam pos dan menghubungi pak Asep.


Beberapa saat kemudian pintu utama terbuka dan seorang gadis dengan rambut sebahu muncul dari balik pintu.


"Maaf siapa ya...?" ucapnya


Aldo dan Kinara sontak menoleh dan


Prang


trak


tak


tak


......... bersambung