
"Hari ini jadwal aku terapi siang jam 01.30, sore nya setoran hafalan juz 30, malam ngaji kitab Ta'lim sampai jam 22.00, besok pagi jam 05.00 jogging, jam 08.00 ke yayasan, jam 10.00 belajar persiapan masuk kuliah tahun ajaran baru" gumamku saat melihat jadwal yang sudah di atur oleh mbak Kinar.
Sudah dua bulan lebih aku tinggal bersama mbak Kinar. dan selama dua bulan itu juga interaksi ku dengan keluarga mertuanya juga semakin akrab.
Bukan hanya itu hubungan baikku dengan mas Hanan juga sudah seperti adik kakak. tidak jarang kami saling melempar candaan saat aku baru selesai setoran hafalan surah pendek atau setelah mengaji kitab yang dia sendiri sebagai guruku.
Sama seperti hari ini, setelah sarapan pagi memang aku tidak kemanapun. setelah semua orang pergi dengan kesibukan masing-masing aku hanya berdua dengan bik Siti membersihkan bunga-bunga koleksi mama di taman belakang.
Setelah renovasi rumahnya selesai, mbak Kinar berencana akan pindah ke rumahnya sendiri. saat ku tanya jawabannya hanya "Suatu saat kamu akan mengerti saat kamu sudah menikah Kei".
Terkadang aku juga merasa kesal dengan saudara kembar ku itu. setiap ada hal yang ku tanyakan selalu memberiku jawaban abu-abu sehingga aku harus mencari jawaban sendiri. alhasil aku selalu menanyakan segala sesuatu yang ingin aku tahu ada mas Hanan. karena dia selalu memberikan aku jawaban yang begitu logis dan realistis meskipun aku tidak langsung memahami apapun ucapannya.
Pernah suatu ketika aku bertanya tentang mas Reno pada mas Hanan saat kami tengah nongkrong di cafe sore hari sepulang aku terapi. entah itu hanya perasaan ku saja atau bukan raut wajah mas Hanan berubah kesal dan setiap aku bertanya sesuatu padanya ia hanya menjawab seperlunya dan sedikit ketus, dan itu berlanjut selama satu minggu lamanya.
Semenjak hari itu aku sudah tak mau lagi bertanya tentang mas Reno pada mas Hanan karena Arini pernah mengingatkan aku jika harus berhati-hati dengan sikap mas Hanan jangan sampai membuat nya marah.
Aku meminta maaf padanya satu Minggu setelahnya tapi tanggapannya justru di luar dugaanku. Mas Hanan yang lebih dulu meminta maaf karena sudah bersikap buruk padaku, dan merendahkan diri jika ia tidak pantas menyandingkan dirinya dengan Reno.
Karena aku yang merasa aneh dengan sikap mas Hanan, saat pria itu pamit pulang ke kosan, aku bercerita pada mbak Kinara dan ia hanya tersenyum lalu berkata, "Hanan menyukaimu Kei, mbak bisa tahu itu dari sorot matanya saat kalian sedang bersama entah mengaji atau apalah, ada tatapan mendamba dan mencinta dari kedua matanya saat menatap mu".
Sejak saat itu kini aku menjaga jarak dengan mas Hanan, meskipun sesekali aku menanggapi candaannya saat kami baru selesai murojaah atau mengaji kitab.
Bukan aku menjauh karena membenci atau merasa risih, aku hanya merasa belum terbiasa untuk di kagumi oleh seseorang. terlebih lagi saat mbak Vivi menanyakan tentang perasaan ku yang sebenarnya pada mas Reno. aku mulai bimbang semenjak saat itu.
Dan hari ini karena jadwal ku terapi siang hari, pekerjaan ku membantu bik Siti bersih-bersih juga sudah selesai. aku memutuskan untuk membuka akun sosial media yang baru beberapa bulan ini aku miliki karena mbak Kinara yang meminta ku dan mengajariku membuatnya.
Ku buka laman aplikasi berwarna biru dan melihat beberapa notifikasi yang masuk ke beranda ku. ada satu notifikasi di kolom komentar status ku yang ku buat pagi tadi saat hendak bersih-bersih di taman belakang.
Salah satu akun mengomentari foto bunga yang ku posting di status berandaku.
"Secantik orangnya neng, nggak akan rugi laki-laki yang bisa dapetin kamu kecuali pecundang ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£" tulis salah satu akun bernama Rinscorpio.
Sedikit geli membaca komentar nya tapi tetap saja aku balas " makasih pujiannya om". tulisku pada balasan komentar nya. terserah aja mau orangnya marah sekalipun karena ku sebut om, toh aku juga nggak kenal, sedangkan foto profilnya aja hanya ikon kartun Jepang.
Ku tutup akun aplikasi berwarna biru itu dan beralih pada aplikasi berwarna hijau. ku lihat beberapa chat dari beberapa temanku di luar negeri yang pernah secara kebetulan bertemu dengan ku saat di bandara untuk pindah ke negara lain.
Dulu aku memang sering mencuri-curi waktu berkenalan dengan orang yang aku temui di bandara tanpa sengaja. karena bik asih yang menjadi nanny ku yang mengajarkan aku hal itu secara diam-diam bahkan bik Asih juga yang mengenalkan aku dengan dunia luar tanpa sepengetahuan papa Anthony.
Aku memang pernah menyimpan beberapa nama dan alamat serta nomor ponsel beberapa orang yang pernah aku temui di bandara saat kami berkenalan tanpa sengaja dan rupanya itu juga berfungsi saat ini.
Aku jadi memiliki banyak teman baru dan hal-hal baru setelah mbak Kinara membantu ku membuat beberapa akun media sosial.
Saat tengah asik berkirim pesan dengan sahabatku di luar negeri, ada sebuah pesan misterius dari nomor yang tidak aku kenal.
📩
"Jika suatu saat kau lelah, berhentilah untuk menunggu sesuatu yang belum bisa kau raih, bisa saja itu memang bukan menjadi takdirmu untuk memiliki nya. Dan jika ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk kau genggam saat kau jatuh, maka genggam erat tangan nya. bisa saja ia memang sudah di takdir kan untuk mu. Selamat pagi menjelang siang"
Aku merasa aneh mendapatkan pesan seperti itu, gegas ku tekan nomor tak di kenal untuk menghubungi nya. tapi rupanya nomor telah di nonaktifkan. aku sedikit kesal tapi untuk apa. isi pesannya benar-benar mewakili perasaan ku saat ini. aku memang sedang meyakinkan diriku bahwa aku memang sudah mulai jatuh hati pada mas Reno, setelah kami benar-benar berpisah dan tak saling tahu satu sama lain.
"Apa mungkin mas Reno mulai menyesal?" batinku saat aku ingat beberapa malam lalu aku memimpikan dirinya tengah menangis di sebuah tempat yang jauh yang tidak aku tahu.
Panggilan dari mbak Kinara membuyarkan lamunanku, aku melihat ponsel yang menyala lalu menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum kei, kamu dirumah?"
"Kita nggak jadi liburan ke tempatnya ayah, karena besok ayah bakalan datang kesini sama Bulik Sri dan paklik Kardi"
"Beneran mbak?"
"Iya, ya udah gitu aja aku cuma mau ngabarin doang, ingat ya jam satu siang kamu terapi, oh ya sekalian singgah ke butik nanti kalau pulang dari rumah sakit ya, ada baju pesanannya teman mama katanya mau datang kerumah, jadi sekalian aja kamu ambilin bawa pulang, bisa kan?"
"Oke sip, mbak jam berapa pulang?"
"Mungkin habis Maghrib baru pulang karena mau singgah dulu kerumah kak Sean sebentar"
"Oh ya udah hati-hati".
Setelah panggilan terputus aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang, nggak lama lagi masuk waktu sholat dhuhur,. mau tidur juga tanggung banget, akhirnya aku beralih mengambil beberapa kertas dan pena untuk membuat sketsa baju. hobi yang sejak kecil aku sukai, menggambar berbagai desain rumah, baju dan lainnya.
***
"Reno kenapa ma?" tanya Gito saat selesai menghabiskan sarapan plus makan siangnya di dapur.
"Nggak tahu, lagi kangen sama mantan tunangan nya kali" sahut Tante Meri tanpa menoleh
"Ahh salah sendiri sih, giliran udah pisah baru ngerasain jatuh cinta, hahaha" seloroh Gito.
"Huss kamu itu belum ngerasain jatuh cinta, wong kerjamu cuma nguliti tubuh orang" sahut Tante Meri
"Calon dokter ya gitu ma, udah resiko sih, dua hari lagi aku berangkat ke Makassar ma, jadi nggak bisa lama-lama dirumah" ucap Gito
"Mau di bawain apa? kamu kuliah sisa satu semester kan ya, nggak lama lagi ujian profesi"
"Kayak biasanya aja, kan cuma itu yang aku suka dari dulu"
"Ya udah nanti sore kamu yang belanja sama Reno, sesekali ajak dia ngobrol jangan tidur mulu kerjaan mu kalau pulang kampung, biaya kuliah mu mahal, belum lagi ongkos tiketmu ke Makassar, biaya hidup kamu disana, kos-kosan, jajan, uang diktat, uang praktek, belum isi bensin motor mu ....belum isi...."
"Iya mama, ceriwis ah" sahut Gito yang langsung berlari menjauh
"Gitoooooo" teriak Tante Meri yang membuat Reno langsung keluar dari dalam kamar.
"Kenapa sih Tan?" tanya Reno
"Tuh kakak mu, banyak omong tiap pulang kampung, banyak di minta tapi kerjanya cuma tidur terus" cerocos Tante Meri.
"Namanya juga anak tan, mau aku bantuin?"
"Nih, kamu gulung-gulung pisangnya pake adonan ini yang rapi, kayak yang pernah Tante kasih contohnya. Tante mau nyatet keperluan yang mau di bawa Gito berangkat ke Makassar dua hari lagi". ucap Tante Meri menyerahkan adonan roti pisang coklat pada Reno lalu pergi masuk ke dalam kamar.
Di sela menggulung adonan, Reno menyempatkan mengirim pesan pada Keisya memakai nomor baru yang selama ini memang tidak pernah ia gunakan sama sekali. tiga hari yang lalu ia sempat mendapat telpon dari mbak Vivi istri Revan. mereka banyak bercerita tentang perkembangan psikologis Keisya setelah Reno memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Dari Vivi ia tahu Keisya mengalami banyak hal menyakitkan setelah hari itu. berkali-kali nekat bunuh diri hingga Azka berkorban untuk membawa Keisya kembali ke Jakarta agar bisa berobat dan menjadikan sahabat baru nya Hanan sebagai bodyguard sekaligus guru spiritual bagi Keisya.
Jauh di lubuk hatinya ia menyadari perasaannya selama ini yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. entah sejak kapan rasa itu hadir, yang ia rasakan setelah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka hanyalah rasa bersalah terus menerus yang menghantuinya setiap saat.
Reno tersenyum saat membaca balasan komentar Keisya pada status gadis itu yang ia komentari beberapa jam lalu. setelah berhasil mengirimkan pesan, Reno langsung memblokir nomor Keisya.