
Hari ini Keisya di temani Hanan menjenguk Bu Fitri di rumah sakit seperti apa yang di sampaikan kinara beberapa hari lalu.
Meskipun Hanan sedikit merasa cemburu, tapi ia tetap tak bisa egois karena jauh sebelum mereka bertemu, keluarga Reno sudah lebih dulu pernah menjadi asisten almarhumah ibu mertua nya.
Bu Fitri bukan hanya menjadi asisten pribadi nyonya Amina tetapi juga merangkap sebagai pengasuh Kinara sewaktu kecil. Bahkan soal Keisya dan perjuangan nyonya Amina menemukan Keisya dan membawanya pulang kembali juga Bu Fitri lebih dari sekedar tahu.
Rasanya tak etis jika Hanan melarang Keisya menjenguk mantan asisten almarhumah ibunya itu.
Di rumah sakit Keisya hanya bertemu dengan Arkan dan istrinya, sementara Dimas siang hingga sore sibuk bekerja di salah satu kantor kepegawaian pemerintah juga sibuk mengurus bisnis ibunya.
"Anak-anak nggak di ajak mbak?" tanya Arkan memecah kesunyian yang terjadi d antara mereka. Karena Bu Fitri sedang tertidur setelah minum obat.
"Yang besar sekolah yang kecil di rumah sama mbak nya, istri kamu sudah hamil berapa bulan?"
"Belum mbak, doakan aja semoga di segerakan sama Allah"
"Amiin, jadi kalau siang kamu yang jaga ibu? Dimas kerja?"
"Iya Dimas harus kerja, maklum lah PNS, saya ngurusin kosan sama toko roti yang satunya, kalau siang baru istri saya yang jaga, karena saya harus ke kampus ngajar"
"Oh kamu dosen?"
"Asisten dosen, masih sementara lanjut S2 insha Allah tahun depan wisuda, doakan ya mbak"
"Iya semoga lulus predikat cumlaude"
"Amiiin"
Mendengar percakapan Keisya dan Arkan Hanan merasa lega karena baik Arkan ataupun Keisya tak membahas soal Reno.
Meski Keisya sudah menjadi istrinya, tetap saja Hanan masih cemburu jika mengingat Reno.
Pernah suatu ketika sebulan setelah pernikahan, Hanan tak sengaja membaca buku diary Keisya. Bahkan pernah tanpa sengaja membaca sebuah pesan dan ponsel istrinya itu dari nomor tak di kenal. Hanan yakin jika pengirim pesan itu Reno.
Memang butuh waktu beberapa bulan hingga Keisya mau menjadi istrinya secara utuh. Butuh perjuangan bukan hanya materi namun juga secara mental.
Lebih setengah jam mereka akhirnya pamit pulang pada Arkan.
"Mas aku ke toilet dulu ya" ucap Keisya meminta izin suaminya
"Iya,mas tunggu di mobil aja"
"Iya"
Keisya berjalan ke arah toilet umum untuk membasuh wajahnya yang terasa kebas setelah keluar dari ruang rawat Bu Fitri. Keisya memang tak terbiasa memakai AC semenjak kembali di Indonesia.
Bruk
"aduh maaf mas" ucap Keisya memegang ponsel orang yang tak sengaja ia jatuhkan karena ayunan tangannya.
"Iya nggak papa?" ucap seorang pria yang membuat jantung Keisya seolah berhenti berdetak.
Tangan mereka saling bertaut,meski sang pria tak sempat melihat wajah perempuan yang menabraknya.
"Mas Reno?" ucap Keisya tertahan menatap wajah Reno yang sudah banyak berubah itu.
Reno mendongak, sangat terkejut mendapati wanita yang menabraknya tidak lain adalah Keisya. wanita yang begitu sulit membuatnya untuk membuka hati pada wanita lain.
Reno hanya diam membisu, lisan yang ingin berucap seolah kaku tanpa bisa di gerakkan.
pada akhirnya Reno lebih memilih tersenyum tulus. Ada Rona bahagia di hatinya melihat wanita yang ia cintai hidup bahagia.
Reno mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan mengukir senyum.
"Maaf mas saya tadi nggak sengaja" ucap Keisya tersenyum
"Nggak papa, apa kabar?" tanya Reno balik
"Kabar baik mas Alhamdulillah"
"Alhamdulillah, saya permisi dulu" ucap Reno pamit.
"Iya silahkan" jawab Keisya memberi jalan.
Reno segera berlalu melewati koridor rumah sakit menuju ke ruang perawatan ibunya. Keisya menatap sendu pada punggung Reno Yang semakin menjauh.
"Terimakasih mas setidaknya kamu sudah berusaha keras untuk mewujudkan keinginan ku, meski pada akhirnya kamu pun menyesalinya dan memendam sakit itu sendiri hingga kini, maafkan aku yang tak mampu mengenali mu, maaf karena aku tak berbuat banyak untukmu kala itu" batin Keisya seraya mengusap sudut matanya yang berair.
Saat merasa langkahnya sudah menjauh Reno terduduk di salah satu sudut taman rumah sakit dan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja terasa sangat berat membasahi pipinya.
"Akhirnya aku bisa melihat mu, terimakasih sudah hidup bahagia kei, maafkan aku" batin Reno terisak pelan.
Tanpa seorang pun tahu, di sudut ruangan lain seorang wanita memperhatikan interaksi mereka tanpa sengaja. Ia pun menangis dalam diam.
Sekian purnama telah berlalu, tapi rupanya hati mereka sama-sama masih menyimpan rasa itu di sudut hati terdalam. Tak mudah melupakan.
Keisya berjalan tanpa arah setelah hatinya begitu teriris melihat Reno yang hingga kini masih memilih sendiri. Benar apa yang ia dengar dari kakak dan suaminya jika Reno memang masih sendiri.
Keisya terduduk di kursi tunggu depan tempat pengambilan obat. Duduk di antara pasien lain yang sedang mengantri.
Hanan yang lelah sejak tadi menunggu istrinya tak kunjung kembali akhirnya memilih masuk ke dalam rumah sakit dan mencari Keisya di toilet umum.
"Mbak lihat istri saya pakai gamis warna navy?" tanya Hanan pada salah satu pengunjung toilet yang sedang berada di tempat wudhu.
"Orangnya tinggi mas? putih? Cantik? Pakai jilbab abu-abu?" tanya wanita yang tak lain adalah Andin.
"Iya mbak benar sekali, mbak lihat?" tanya Hanan
"Tadi sih jalan ke arah pintu keluar, coba kesana aja siapa tahu ada di loket pendaftaran" jawab Andin memberikan arahan.
"Terimakasih mbak, saya permisi" ucap Hanan tersenyum.
Hanan berjalan ke arah pintu keluar dan benar saja ia melihat istrinya sedang melamun berada di antara beberapa pengunjung rumah sakit yang sedang mengantri obat.
Sudut hati Hanan terasa tercubit, mungkinkah ada yang terjadi dengan Keisya?