
Azka menggenggam erat tangan Kinara, mereka berjalan beriringan menuju ke kelas meski diam seribu bahasa. biarlah hati mereka yang saling berbicara. tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan tak suka.
"Masih ada kesempatan untuk ku bisa merebut hatimu Ra, sebelum undangan akad mu ku terima" batin seseorang yang sejak tadi menatap mereka berdua dengan pandangan tak suka.
***
Sudah sebulan sejak kepulangan pak Wibowo ke tanah air. sejak saat itu pak Wibowo masih menjaga jarak dengan putrinya Keisya yang selama 15 tahun tidak bertemu.
Meski mereka tinggal di atap yang sama di rumah tuan Denias Pranata, tidak pernah sekalipun pak Wibowo menampakkan diri di hadapan sang putri tercinta.
Sungguh ironis namun apalah daya, pak Wibowo belum siap untuk bersitatap dengan Keisya. bukan karna tak peduli justru karna kondisi Keisya yang masih mengalami trauma psikologis yang membuat pak Wibowo terpaksa menjaga jarak.
Setiap jam 4 pagi pak Wibowo sudah keluar rumah bersama Revan sang anak sulung, mereka pergi di waktu itu untuk menghindari bertemu Keisya. pasalnya semenjak kehadiran Rena sang asisten yang di tugaskan khusus oleh pak Denias, perlahan kondisi Keisya semakin membaik dan menunjukkan perkembangan positif yang signifikan.
Seperti hal nya hari ini, sejak beberapa hari belakangan Keisya merengek pada Rena ingin keluar rumah sekedar jogging dan bersepeda karna merasa terlalu jenuh hanya berdiam diri di rumah selama 3 bulan ini.
Rena yang memang sudah di amanahkan untuk tidak membawa Keisya keluar dari rumah, berusaha untuk selalu mencari alasan yang tepat agar sang nona muda nya tidak merengek terus menerus.
"Pak ini gimana non Keisya sudah bangun dari jam 4 subuh, minta keluar rumah mau jogging katanya" ujar Rena di telepon.
"Ajak saja keluar, tapi setelah sholat subuh ya, ingat ada bodyguard yang akan mengawasi kalian. boleh jogging hanya sekedar di taman kompleks saja,"ucap Pak Denias di seberang telepon
"Baik pak"
"Oh ya apa ipar saya sudah keluar rumah?"
"Sepertinya sudah pak, karna pintu utama sudah terbuka sejak saya bangun."
"Baiklah. lakukan tugasmu dengan benar Rena"
"Baik pak,"
Setelah berbicara dengan pak Denias, Rena segera menemui Keisya.
"Non, nona muda"
"Iya Rena ada apa?"
"Nona boleh keluar rumah tapi hanya di lokasi kompleks itupun..." ucap Rena menjeda
"Apa?"
"Itupun harus dengan pengawasan ketat bodyguard yang sudah tuan tugaskan." ujar Rena
Keisya diam, menghirup oksigen sebanyak-banyak nya lalu mengeluarkan perlahan.
"Baiklah" ucap Keisya kemudian
"Kamu cepetan siap-siap ya" lanjut nya
"Baik nona" Rena berjalan keluar kamar namun langkahnya terhenti
"Emm Rena,.."
"Iya Nona?"
"Aku sering liat kamu bergerak memakai penutup dari kepala sampai kaki itu ngapain?"tanya Keisya penasaran
"Maksud nona apa ya?"
"Itu loh yang kamu gini.." ucap Keisya seraya memperagakan orang sholat
"Oh itu namanya sholat nona" ujar Rena yang baru mengerti maksud ucapan Keisya
"Sho...sho..." ucap Keisya terpotong
"Sholat" ucap Rena sekali lagi
"Sholat. itu apa Rena?"
"Itu salah satu bentuk ibadah kita pada sang pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya. juga sebagai bentuk rasa syukur kita pada Allah swt atas segala nikmat yang sudah di berikan pada kita sebagai hamba NYA. nikmat sehat, nikmat rezeki, nikmat umur dan sebagai nya."
"Oooh.. kamu lakukan itu setiap hari?"
"Iya Nona"
"Apa kamu nggak capek?"
"Tidak, justru itu bentuk rasa syukur saya sama Allah swt."
"Apa itu harus?"
"Wajib Nona"
Keisya mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Rena.
"Allah itu siapa nya kamu?"
"Allah itu yang menciptakan kita manusia, hewan, tumbuhan dsb"
"Apa Allah swt semacam ilmuwan?"
"Bukan nona justru Allah swt juga yang menciptakan ilmuwan"
"Kalau dia menciptakan ilmuwan berarti julukan nya apa?"
Rena tersenyum mendengar ucapan Keisya.
"Ilmuwan itu kan juga manusia, tadi kau bilang Dia Allah swt yang menciptakan manusia, berarti Dia menciptakan aku, kan aku juga manusia" ucapnya menerka-nerka
"Apa nona ingin bertemu dengan NYA?" tanya Rena sebelum pertanyaan lain terucap lagi dari Keisya.
"Apa boleh?"tanya Keisya antusias
"Tentu boleh nona, dan Allah swt sangat senang jika nona mau bertemu dengan NYA" ujar Rena
"Benarkah?" Ucap Keisya senang
"Benar nona"
"Dimana aku bisa bertemu dengan NYA"
"Nona bisa ikuti saya sekarang" kemudian Rena berjalan keluar kamar dan menuju ke kamar yang berada di sebelah kamar Keisya..
"Ini kan kamar kamu Rena" ucap Keisya
"Mari Nona ikuti saya" Rena menuju ke kamar mandi dan menyalakan kran air
"Nona berdiri saja disitu sambil perhatikan apa yang saya lakukan bisa?" ujar Rena menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka lebar
"Hemm baik" ucap Keisya
Rena segera mengambil air wudlu dan Keisya memperhatikan setiap inci gerakan wudu yang di lakukan Rena.
"Itu namanya apa Rena?"
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Aku nggak ngerti"
Ucap Keisya bertubi-tubi melihat Rena selesai berwudlu dan membaca doa wudlu.
"Yang saya lakukan tadi itu namanya wudlu nona dan yang saya ucapkan setelahnya tadi itu namanya doa setelah berwudlu"
"Ooh jadi kapan aku bisa bertemu dengan Allah?" tanya Keisya
"Silakan nona lakukan seperti yang saya lakukan barusan"
"Maksud kamu berwudlu?"
"Iya nona"
"Apa boleh?"
"Wajib"
"Baiklah"
Keisya segera mengikuti arahan Rena ketika berwudlu dan Rena dengan sabar mengajari nya hingga Keisya memintanya untuk mengulangi dan mengajarkan hingga sepuluh kali.
"Nanti kamu tulis ya doa yang kamu baca, aku mau hapalin" pinta Keisya saatselesai berwudlu
"Baik nona. mari ikuti saya nona" Rena mengajak Keisya untuk melakukan sholat subuh.
Rena mengambil dua pasang mukenah dari dalam lemari dan memberikan salah satunya pada Keisya.
"Silakan nona pakai"
"Ini gimana cara nya?" tanya Keisya bingung
Rena tersenyum lalu mengambil mukenah di tangan Keisya dan memakaikan nya pada Keisya.
"Wah aku cantik" ucapnya tatkala melihat wujud dirinya di cermin
"Nona memang cantik"
"Iya nona bahkan setiap detik Allah melihat nona"
"Wah benarkah Rena?"
"Kenapa aku sesenang ini, bahkan belum bertemu saja aku sudah merasa bahagia" ujarnya kemudian.
"Ya Allah alhamdulillah terimakasih Engkau sudah membuka jalan untuk nona Keisya kembali kepadamu" Batin Rena berucap syukur
"Nona sudah siap?"
"Siap" ucap Keisya penuh semangat
Rena mulai membentangkan sajadah di depan dan di belakang.
"Nona bisa ikuti gerakan saya?"
"Bisa bisa" ucap Keisya antusias
Keisya mengikuti semua gerakan sholat Rena meski masih melirik dan tengok kanan kiri.
"Kapan aku bertemu dengan NYA Rena?" tanya Keisya saat Rena mengucapkan salam terakhir. Rena mendesis meminta Keisya untuk diam.
"sst"
Keisya diam melihat Rena yang khusuk membaca doa. Karna heran Keisya maju ke depan tepat di depan Rena dan berjongkok layaknya anak kecil yang meminta mainan baru pada ibunya.
"Apa yang kau lakukan Rena?"
"Aku membaca doa nona" ucapnya menatap manik mata Keisya.
"Hem lalu kapan aku bisa bertemu dengan Allah?"
"Apa yang nona rasakan saat mengikuti semua yang saya lakukan?"
"Aku senang"
"Apa disini bahagia?" tanya rena seraya menunjuk dada kiri Keisya.
"Iya entah mengapa aku bahagia sekali"
"Nona sudah bertemu dengan NYA"
"Dimana, aku tidak melihatnya?"
" Di hati nona"
Keisya terdiam sejenak lalu menelungkup kan kepala nya di kedua sisi kaki nya yang di tekuk. tiba-tiba Keisya menangis histeris membuat Rena kalang kabut seketika.
"Haduh gimana ini kok nangisnya malah kenceng?" batin Rena gelisah
"Nona, nona kenapa?" tanya Rena menggoyangkan tubuh Keisya yang bergetar.
klek
Pintu terbuka dan bik asih masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Ren mbok apak ke anak e uwong?" tanya Bik Asih terkejut
"Nggak aku apa-apa in yung" jawab Rena
"Lha kok iso nanges kejer ki piye?"
Rena hanya menggeleng tanda tak mengerti dengan kondisi Keisya. Bik Asih memeluk Keisya lalu melantunkan sholawat thibbil qulub yang biasa ia nyanyikan setelah sholat. Perlahan tangis Keisya mereda, Rena mengambil segelas air lalu memberikannya pada Bik Asih.
"Non Keisya minum dulu ya?" pinta bik Asih
Keisya mengangguk dan mengambil air yang di berikan bik Asih.
"Apa non Keisya sudah merasa lebih baik?"tanya bik Asih
"Hem" Keisya mengangguk
"Kata tuan Nona mau jogging ya?" tanya bik Asih lagi
"Iya, aku bosen di rumah terus" jawab Keisya menunduk
"Ya udah siap-siap dulu ya, biar Rena yang temani nona jogging, mau bibik buat kan sarapan apa nanti?"
"Aku pingin makan yang bik Asih masak untuk om Denis" pinta Keisya yang masih mengingat makanan kesukaan tuan Denias.
"Maksud nona yang mana?" tanya Rena penasaran
"Bibik nggak ngerti non, makanan yang mana?" tanya bik Asih bingung
"Yang itu ada daun warna hijau, ada daging seperti sayur terus ada ikan yang warna kuning di siram di piring yang ada jeli bentuknya dadu"
"Hah......??🤔🤔🤨🤨🤨 bik Asih dan Rena semakin bingung di buatnya.
"Daun ijo, daging, ikan warna kuning, jeli bentuk dadu?" batin Rena berpikir tentang jenis makanan yang di sebut Keisya.
"Non bibik nggak ngerti!" ucap Bik Asih
"Hu'um aku juga" ucap Rena juga yang menopang dagu sambil memikirkan teka teki ucapan Keisya
"Itu loh yang biasa di pesan sama om Denias, aku pernah kok nggak sengaja dengar Om Denias ngomong ke bibik"
"Memang tuan ngomong apa?" tanya Rena
"Bik buatin seperti biasa ya, gitu ngomong nya"
"Oooohh" Bik Asih dan Rena ber oh ria lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Lontong sayur" ucap Bik Asih dan Rena bersamaan di tengah tawa mereka.
"Kok kalian ketawa sih?" Keisya bingung plus sebal.
"Abis non Keisya lucu sih" Ucap Rena di sela tawa nya.
"Terus kapan non Keisya liat tuan makan lontong sayur?" Rena bertanya
"Pas sarapan aku nggak sengaja liat dari atas tangga"
"Ya udah sana siap-siap Rena, biyung mau masak dulu hahaha" ujar bik Asih masih tertawa lalu meninggalkan mereka menuju ke dapur.
Beberapa saat kemudian Rena dan Keisya sudah siap dan para bodyguard yang di tugaskan tuan Denias juga sudah bersiap di depan pintu utama.
Sementara itu di rumah belakang terjadi kasak kusuk percakapan dua orang beda usia yang sedang memperbaiki mesin motor mereka yang tiba-tiba tidak mau menyala.
"Mana ada bengkel buka jam 4 subuh ayah, orang masih pada enak tidur" ucap Revan pada ayah nya.
"Ya masak kita pergi jalan kaki, mana kunci mobil ketinggalan di kantor lagi" pak Wibowo menggeleng sambil garuk kepala yang tidak gatal.
"Ayah sih kenapa bisa lupa"
"Kan kamu juga yang ngajak buru-buru pulang kemarin Van" Pak Wibowo menggerutu
"Ck ya udah lah kita minta tolong pak Ucup aja yah daripada nggak keluar ntar keburu Keisya bangun" ucap Revan berlalu melangkah meninggalkan rumah.
Pak Denias memang sengaja membuat sebuah rumah lagi di belakang rumah utama sebagai tempat tinggal para asisten yang bekerja di rumah itu juga untuk para satpam dan bodyguard untuk beristirahat.
Pak Wibowo menyusul langkah sang anak yang mendahului nya
"Pelan dong Van, ayahmu udah nggak muda lagi" ucap pak Wibowo pelan namun dapat di dengar oleh Revan.
"Hem mau di gendong nggak yah?" tawar Revan
"Nggak" jawab Pak Wibowo melewati Revan begitu saja. Revan menyusul dan mensejajarkan langkah nya sampai sebuah suara dari belakang menghentikan langkah mereka.
"Kalian siapa?" tanya gadis muda yang tak lain adalah Keisya yang berjalan hendak menuju ke gerbang utama.
Pak Wibowo dan Revan sontak menoleh ke arah belakang.
Deg
"Kalian siapa?" tanya Keisya sekali lagi
Pak Wibowo dan Revan tertegun, Rena dan para bodyguard diam membisu pasalnya mereka tak ada yang berani bicara jika berhadapan dengan bos 01 mereka.
"Em, kami tinggal di rumah belakang berhubung jadwal sif kami sudah habis jadi kami akan pulang nona" ucap Revan beralasan.
"Ooh " ucap Keisya mengerti seraya memperhatikan penampilan Pak Wibowo dan Revan dari atas ke bawah tanpa berkedip.
"Kalian mau pulang pakai baju seperti itu apa tidak dingin?" tanya Keisya lagi.
"Ti..tidak karna rumah kami tidak jauh dari kompleks ini, kami hanya berjalan kaki saja" ucap Revan lagi.
"Oh baiklah" Keisya mengangguk lalu pergi meninggalkan pak Wibowo dan Revan yang masih menata detak jantungnya.
"Kei, ini ayah nak" batin pak Wibowo merasa teriris. Revan merangkul sang ayah, ia tahu betul apa yang dirasakan ayah nya saat ini.
"Andai waktu bisa terulang kembali" batin Revan