KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 101



Di teras, Azka memeluk erat sahabatnya, setelah banyak hal yang mereka lalui di masa lalu bagi Azka sahabat tak akan pernah tergantikan dan Azka berhutang Budi banyak pada Reno di masa lalu.


"Gue pamit, salam buat Kinara dan anak-anak assalamualaikum"


"Waalaikumsalam hati-hati Lo"


"Sip" ucap Reno mengacungkan jempol berjalan pelan meninggalkan pelataran rumah minimalis bergaya modern itu.


Reno berjalan tanpa melihat arah dan berakhir menabrak seseorang saat tiba di pintu gerbang.


"Mas Reno?" sapa laki-laki berbadan tegap memakai kaos abu dan celana jeans panjang serta menenteng ransel di pundaknya.


Reno mendongak dan terkejut pria yang menyapanya adalah Hanan, calon suami Keisya.


"Mas Hanan ya?" ucap Reno setelah terdiam beberapa saat. penampilan Hanan sudah berubah sejak empat tahun lalu mereka bertemu. Hanan tampak lebih dewasa dan macho tapi tetap agamis.


"Mas Reno lupa saya? apa kabar mas, saya Hanan anak kos mas dulu" ucap Hanan sopan meski ada nyeri di hatinya mengingat Keisya masih mencintai pria di hadapannya ini.


"Hehe...maaf saya pangling mas Hanan, soalnya mas Hanan udah berubah empat tahun nggak ketemu, saya baik mas, masih kerja di perusahaan ya?" tanya Reno basa-basi seolah ia tak tahu apapun yang telah terjadi di antara mereka.


"Alhamdulillah masih mas, ini lagi mau ketemu bos besar" ucap Hanan menutupi keadaan sebenarnya.


"Owh gitu, ya udah selamat bekerja, saya duluan ya,ada keperluan lain, sampai jumpa di lain kesempatan jika masih berjodoh" ucap Reno tersenyum hangat tanpa sengaja ia menoleh ke arah rumah dan sempat bertatap mata dengan Keisya yang melihatnya dari arah jendela kamar lantai dua.


Reno tersenyum lalu menunduk dan langsung pergi, meski begitu ia sempat pamit pada satpam.


Hanan memperhatikan langkah Reno yang menghilang di balik pagar. terbersit rasa bersalah di hatinya. setelahnya Hanan hanya bernapas sembari menggigit bibir bawahnya.


"Maafkan saya mas Reno, saya tahu Keisya masih menunggu sampean hingga saat ini, entah ini takdir atau apa, aku berdoa sampean selalu di iringi bahagia dunia akhirat" batin Hanan


Ia memutar langkah dan menatap ke arah rumah, tanpa sengaja ia melihat siluet Keisya yang menutup tirai jendela.


Perih


Wanita yang ia cintai masih mencintai masa lalunya. berjuang sendiri ternyata melelahkan. tak mungkin juga ia mundur justru itu akan menyakiti mereka berdua dan keluarga.


"Bahkan kamu masih melihatnya meski sudah menjauh" batin Hanan menatap jendela kamar Keisya.


Hanan melangkah dengan mantap dan menyembunyikan kegilaan hatinya sore ini. meski mulut tak pandai berucap tapi hati masih tetap merasakan perihnya.


Hanan masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. ia duduk di sofa setelah Azka mempersilakan.


"Baru pulang mas?" tanya Azka sopan


"Iya tuan, ini saya bawa laporan audit keuangan tiga bulan berjalan, tadi nyonya minta suruh bawain kerumah karena buru-buru pulang" kata Hanan.


"Oh iya, tunggu sebentar ya, atau mau ke belakang dulu, Keisya lagi main sama anak-anak di belakang, Kinara masih sholat kayaknya" kata Azka tersenyum hangat.


"Oh ya udah, saya ke belakang dulu, laporannya ada disini" kata Hanan menaruh map biru di atas meja.


"Oh sini sekalian saya bawa ke dalam, mas ke belakang aja ya"


"Iya tuan" kata Hanan sopan.


Azka masuk ke dalam membawa laporan sedangkan Hanan keluar dan berjalan' melalui arah samping rumah.


Keisya tengah bermain dengan si kembar Keenan dan Keana di halaman belakang. Hanan mengehentikan langkah dan menatap ketiga nya dari sudut rumah tanpa Keisya sadari.


"Apakah aku bisa memiliki senyum dan tawa itu setelah kita menikah? masih kah ada ruang untuk ku setelahnya? apa aku bisa membuat mu tersenyum dan tertawa nantinya?" batin Hanan.


tanpa terasa air mata mengalir membasahi kedua pipinya. ia tahu betul bagaimana perjuangan nya selama ini dan bagaimana kekeuh nya Keisya menolak lamarannya berkali-kali hanya demi masa lalu yang ia tunggu tanpa kabar.


"Mas?" sapa Keisya yang terkejut melihat Hanan datang menemuinya


"Lagi asyik main nih, maaf ya om datang ganggu waktu main kalian" sapa Hanan pada si kembar tanpa menghiraukan sapaan Keisya.


Entah kenapa mulutnya benar-benar terkunci, hendak berucap pun begitu sulit meski hanya menyapa. cemburu? apa kah ini yang di sebut cemburu?


Si kembar nampak antusias kedatangan Hanan yang selalu asik saat mereka ajak bermain. Keisya mundur perlahan karena ia tahu jika anak-anak selalu merasa lebih nyaman dengan Hanan yang dewasa dan momong.


"Mas, mau minum apa?" tanya Keisya sekali lagi. Hanan menoleh dengan wajah datar.


"Kayak biasanya aja air putih" ucapnya sekilas lalu kembali asyik berbincang dengan si kembar.


Keisya masuk ke dapur dengan perasaan tak biasa. sikap Hanan tiba-tiba berubah tidak seperti biasanya. dingin dan datar. entah apa yang terjadi dengan laki-laki yang tak lama lagi menjadi suaminya itu.


"Kei, anak-anak mana?" tanya Kinara yang datang membawa sekeranjang buah-buahan dari kebun rumah mama Hanna.


"Di belakang sama mas Hanan, mbak dari rumah mama?"


"Nggak, ini Reni barusan bawain kesini, katanya mama panen di bagiin ke tetangga, dan kita dapat sisanya, sisa gaiss sisaaaaa, mama tuh kebiasaan sama mantu kesayangan selalu di belakangin" oceh Kinara menaruh buah-buahan di wadah untuk di cuci.


"Kayak suaranya pak kyai, orangnya ada datang?" tanya kinara lagi.


"Iya tuh sama anak-anak"


"Oh ya udah, anteng gue kalau ada dia, anak-anak nurut banget sama Hanan plus betahnya minta ampun, kalau sama emak bapaknya ogah-ogahan" ucap Kinara menatap anak-anak bermain dari jendela dapur yang terbuka.


"Emak bapaknya sibuk sama duit" seloroh Keisya berlalu meninggalkan kakaknya mengoceh sendiri di dapur.


Kinara hanya mencebik mendengar ucapan adiknya. memang benar sih terlalu sibuk mengurus perusahaan dan kuliah sempat membuat nya jauh dengan anak-anak meski mereka tetap bersikap layaknya anak-anak jika di tinggal pergi. minta oleh-oleh ini itu dan sebagainya.


"Mas ini air minum nya" kata Keisya menaruh segelas air putih di atas meja. Keisya lebih memilih duduk di kursi dan menatap Hanan yang sejak datang mengacuhkannya.


Bukan Hanan tak menyadari sikapnya, tapi ia tak bisa menahan diri dari rasa cemburunya. Hanan berusaha tetap tersenyum dan tertawa dengan si kembar meski ia juga ingin menyapa Keisya dan menatap wajah cantik yang ia rindukan setiap waktu itu.


"Double K, ayo masuk nak siap-siap ke masjid sama papa, om Hanan mau pulang" panggil Kinara dari pintu dapur


"Kayak anak Lo nggak punya nama aja sih mbak? manggil nama kek, jangan inisial gitu" tegur Keisya yang selalu kesal saat Kinara memanggil anak-anaknya dengan sebutan lain bukan dengan nama mereka masing-masing.


"Diem Lo, gue doain anak Lo kembar empat sekaligus, oceee" sentak Kinara yang juga kesal karena Keisya selalu menegurnya.


"Hiiss" Keisya mencebik kesal.


Keenan dan Keana langsung menurut saat ibu mereka sudah memanggil, dan benar saja Azka sudah berdiri dengan pakaian sholat lengkap di belakang ibu mereka.


"Mama om anan apan tidul cini? Nana au bobok cama om anan, au gambal oneka" tanya Keana dengan logat cadelnya membuat Kinara langsung kesal.


"Anak-anak gue Lo racunin apa nan?" sungut Kinara sembari membersihkan baju anaknya dengan usapan tangan.


"Nggak pernah bawa racun nyonya" kata Hanan tersenyum.


Azka yang sudah hapal dengan omelan istrinya langsung mengangkat kedua anaknya masuk ke dalam rumah.


Kinara mengikuti dengan wajah kesal dan mulut komat-kamit tak karuan.


Hanan duduk d kursi dan meminum air putih lalu menatap Keisya sekilas.


"Aku pamit langsung pulang" kata Hanan lalu beranjak pergi meninggalkan Keisya dengan beribu tanda tanya.