
Kinara masih bingung dengan permintaan pamannya untuk datang ke rumah sakit. Dalam perjalanan pun ia hanya diam saja sambil sesekali melirik ke arah Azka yang tengah fokus menyetir.
"Ada apa sayang kok kamu gelisah?"
"Nggak juga, cuma aneh aja om Denis nyuruh ke rumah sakit tapi nggak ngomong siapa yang sakit, mama aku telpon juga nggak mau angkat, apalagi kak Revan" ucap Kinara kesal.
"Ya udah yang penting kita ikutin aja apa mau nya ok Denis, di suruh dateng ya dateng aja ngga usah rempong, sampai di sana nanti kita tanyain aja langsung" ucap Azka menenangkan.
"Ish kami tuh sekalinya gitu mas"
"Lagian apa yang mau di ributin sih sayang, tinggal dateng aja kenapa, siapa tahu emang om Denias tadi sedang darurat makanya nggak sempet ngomong"
"Terserah lah" ucap Kinara manyun.
Azka hanya menghela nafas kasar melihat sikap Kinara yang semakin hari semakin menggemaskan membuatnya belajar sabar buat nurunin adrenalin.
Sesampainya di pelataran rumah sakit Kinara duduk di teras yang ada di depan gerbang pintu utama. Sedangkan Azka masih memarkirkan mobil dan mengambil tas selempang Kinara.
Semenjak hamil Kinara lebih manja dari biasanya, bahkan untuk membawa tas saja terkadang harus Azka yang di minta.
"Demi anak istri" gumam Azka seraya meraih tas selempang dan menekan tombol kunci otomatis mobilnya.
Azka berjalan ke arah Kinara tengah duduk di antara pengunjung lain.
"Sayang ayok, kita ke dalam" ajak Azka lembut meraih tangan Kinara dalam genggamannya.
Kinara berdiri dan mengikuti langkah lebar sang suami dengan perasaan nano nano. Entahlah kenapa hari ini terasa berbeda.
Sesampainya di ruang ICU Kinara terkejut melihat semuanya telah berkumpul di sana termasuk kak Revan dan Vivi.
Kinara memindai satu persatu orang di depannya, mereka semua terlihat sehat tapi siapa gerangan yang sakit?pikirnya. Tak lama ia melihat sang ayah keluar dari ruang ICU dengan pakaian serba hijau.
"A,..." Baru saja hendak berucap, Kinara terkejut lagi
"Ayah aku mau pulang" ucap Keisya yang muncul di balik punggung ayahnya.
Kinara menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau Keisya baik-baik saja lali kenapa semua berkumpul disini?
Tak lama Tante Amira dan suaminya juga datang dengan wajah tegang. Kinara semakin bertambah heran. Ia lantas memegang lengan sang suami seolah memberikan kode agar sang suami bicara apa yang sedang terjadi.
"Keisya, kamu baik-baik saja nak?" Tanya Tante Amira gelisah melihat Keisya nampak pucat dan mengusap air matanya.
Keisya menghambur ke pelukan Tante Amira dan menangis. Kinara yang tidak mendapat respon dari sang suami justru semakin kesal.
Melihat ayah, kakak nya, kedua mertuanya, mbak Vivi, Rena, bahkan dokter Wawan adik ayahnya juga serta dokter Fritz dan papanya, begitu juga Tante Amira yang sibuk menenangkan Keisya serta tuan Andrew yang nampak dingin. Kinara jengah dan berjalan nekat menuju ruang ICU tanpa memakai baju pembesuk.
Dokter Djafri yang hendak kuat dari dalam ruang ICU juga nampak terkejut melihat Kinara yang tiba-tiba muncul di depan pintu seperti hantu.
"Astaghfirullah ini ada apa lagi? Biarkan pasien istirahat" ucap dokter Djafri.
Kinara yang kesal memandang tajam dokter Djafri. Ia kenal dokter tersebut dan pernah melihatnya beberapa kali saat seminar kesehatan.
Dokter Wawan hendak mencegah namun terlambat karena Kinara sudah menerobos masuk melewati dokter Djafri yang melongo tak percaya dengan ucapan gadis berjilbab mocca tersebut.
Dokter Djafri belum mengetahui jika Kinara dan Keisya adalah anak kembar.
Tuan Wibowo juga tak kalah terkejut melihat tingkah anaknya yang mirip dengan mendiang istrinya itu. Selalu tegas jika merasa tidak adil.
Tuan Denias gelagapan, bingung harus bagaimana menjelaskan pada Kinara tentang Anthony. Otaknya tiba-tiba buntu. Semalam memang ia meminta Azka mengajak Kinara ke rumah sakit untuk membicarakan hal ini pada keponakannya itu. Tapi yang terjadi pagi tadi juga di luar dugaannya.
"Mati saja kau pembunuh, tak patut kau di kasihani bajingan" ucapan sarkas terdengr dari dalam ruang ICU. Dokter Fritz dan Azka langsung berhambur ke arah pintu yang masih berdiri dokter Djafri disitu.
Namun Azka urung saat dokter Fritz memberinya kode. Dokter Fritz masuk menyerobot dan menyebabkan dokter Djafri sedikit oleng saat akan menghindar. Untung saja ia sudah berada di luar pintu.
Tak lama Kinara keluar dengan di tuntun oleh dokter Fritz yang memang sudah antisipasi memakai kaus tangan antiseptik.
Kinara menangis sesenggukan dan menghambur ke pelukan Azka. Tangisnya tambah kencang.
"Dia pembunuh ibu…dia yang sudah membunuh ibuku mas" ucapnya di sela isak tangis
"Apa?"
Semua yang ada di koridor terkejut mendengar ucapan Kinara. Untung saja mereka ada di lantai atas ruang VVIP jadi tidak ada orang lain yang mendengar
Azka juga tak kalah terkejut, jadi selama ini istrinya tahu dalang di balik kematian ibunya, lalu kenapa dia diam saja? Dan kenapa semuanya harus merahasiakan hal ini dari Kinara tanpa pernah membicarakan pada Kinara langsung.
Dokter Djafri yang hendak meminta penjelasan pada tuan Denias akhirnya memilih pergi ke ruang kerjanya. Biarlah nanti Denias sendiri yang menjelaskan padanya. Ia tak mau ikut campur terlalu jauh.
"Sayang sudah ya, kita ke tempatnya anak-anak yuk, nggak baik nangis terus kasihan anak kita, dia juga ikut sedih loh" ucap Azka mengusap lembut pucuk kepala istri yang tertutup jilbab.
Azka membawa Kinara semakin menjauh dari kerumunan keluarga. Agar kondisi mental sang istri bisa stabil.
Keisya yang terkejut mendengar ucapan Kakak kembarnya juga langsung bungkam dan berhenti menangis. Ibunya di bunuh oleh papa nya? Batin Keisya miris.
Satu persatu orang pergi meninggalkan ruangan setelah Kinara dan Azka berlalu. Hanya tinggal nyonya Amira dan suaminya serta tuan Denias.
Tuan Wibowo membawa Keisya pulang bersama Rena dan sopirnya. Ia khawatir kondisi sang anak semakin buruk jika tetap berada di sana.
Sepanjang jalan tuan Wibowo masih teringat ucapan Anthony meski terbata-bata.
"Ma..af….a…a…ku….Sa…lah" ucap Anthony sebelum akhirnya tertidur karena pengaruh obat.
"Kasihan kamu nak, kalian korban kesalahan kami, maafkan ayah dan ibu yang sudah membuat mu menderita selama ini, ayah janji akan menjagamu di sisa hidup ayah hingga aku bisa melepasmu pada pria yang tepat" batin tuan Wibowo sedih memandang sang anak yang tertidur.
Azka mengajak Kinara ke arah taman rumah sakit yang sedikit sepi. Ia tahu jika Kinara butuh meluapkan apanyang selama ini ia pendam sendiri.
Di tengah kegundahan menenangkan Kinara, tiba-tiba terlintas nama Aldo di benaknya. Apa mungkin Aldo tahu yang selama ini istrinya simpan, karena Kinara dan Aldo memang dekat dan kemanapun pergi selalu bersama sebelum akhirnya mereka berpisah saat kelulusan beberapa bulan yang lalu.
Niat menghubungi Aldo ia urungkan karena teringat jika Aldo sedang dalam masa pendidikan di kepolisian.