KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 25



POV Keisya


Sudah dua hari ini aku benar-benar istirahat total dirumah. dokter Fritz rutin datang kerumah selama dua hari melihat kondisi ku sekaligus melihat catatan kecil yang memang selalu ia berikan padaku.


Sama seperti hari ini, Dokter Fritz bahkan sudah datang sejak pukul sembilan pagi karena ada jadwal terapi dengan pasien lain siang hari.


"Jadi ini semua catatan kamu selama seminggu?" tanya nya saat kami berada di taman belakang


"Iya dok" jawabku tenang


"Em, apa yang kamu rasakan saat pertama kali mendengar wanita itu menyebutkan tentang Si dia?"tanyanya


"Shock, dadaku langsung berdebar kencang, nafasku langsung sesak, dan aku tiba-tiba lemas" jawabku jujur


"Sekarang jujur ya, apa kamu masih berharap sekali pada nya?" tanya dokter Fritz menatap ku lekat


Aku menunduk mencoba menyembunyikan perasaan ku yang sebenarnya, jemari ku sibuk memilih ujung cardigan yang kupakai.


"Aku... aku rasanya sakit disini saat mengingat dia dok" ucapku memukul dada. air mataku menetes tanpa ku minta. baru pertama kali dalam hidupku merasakan rindu seberat ini pada seseorang yang bahkan sudah menorehkan luka padaku. entah kapan perasaan ini muncul, aku benar-benar tidak tahu. yang ku rasakan hanya rasa sakit saat mengingat tentang nya.


Beberapa saat aku menangis dan dokter Fritz tetap setia duduk di samping ku sembari memainkan ponselnya. saat tangisku reda, dokter Fritz bahkan tak sungkan memberikan aku saputangan miliknya untuk menghapus sisa air mataku.


"Udah tenang?" tanya nya


Aku mengangguk seraya mengusap air mataku. "Maaf dok" ucapku membuat nya tertawa kecil.


"Andai saja aku masih bujangan, biarkan aku yang mengobati luka mu Kei, hahaha anjai nggak tuh" celoteh nya membuatmu langsung menepuk pelan lengan nya.


"Apaan sih, genit. ada Tante Hanna kalau dengar bisa di amuk dok" sahut ku tertawa


"Hahaha bercanda doang, biar kamu tertawa, melow terus sih, orang kalau baru ngerasain jatuh cinta emang gitu bawaannya melow terus hahaha" ucapnya semakin menggoda ku


"Iish apaan sih ah, jangan keras-keras ketawanya, malu di dengar orang di dalem" ucapku


"Nggak papa, biarin aja, mereka nggak akan heran apalagi Tante Hanna, jarang-jarang loh lihat aku bisa tertawa lepas hahaha" sahutnya dengan tawa lebar.


"Udah ihh aku masuk ke dalam deh" ancamku dengan wajah ngambek.


"Intermezo dulu Kei, kamu tuh ya nggak bisa banget di ajakin bercanda, tenang mereka nggak akan kepo kok, kalau ada yang cemburu bisa jadi hahahaha"


"Cemburu? aneh hahaha" ucapku tertawa sumbang


"Loh beneran kok, malah kalau dia sampai denger dan tahu perasaan kamu sebenernya, bisa jadi sampai di rumah dia yang melow" selorohnya membuat ku langsung tertawa terbahak-bahak


"Terserah tapi kalau pun omongan aku suatu saat beneran terjadi gimana?" tanyanya dengan raut wajah serius menatapku.


"Jangan main-main dok, aku belum tahu sampai kapan aku bertahan" jawabku sendu.


"Tanya hatimu, jika dia laki-laki baik dan bertanggung jawab sudah pasti dia tidak akan menyia-nyiakan wanita sebaik kamu, dan sudah pasti dia bakalan datang untuk meminta maaf mu, tapi ya sekali lagi namanya manusia isi hatinya hanya dia dan tuhan yang tahu, kita nggak bisa menebak isi hati manusia Kei, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kalau kamu sudah merasa lelah, berhentilah dan jalani hidupmu kedepannya tanpa bayangan masa lalu" ucapnya panjang lebar seperti biasa.


"Makasih dok"


"Hati kamu lembut, bahkan setelah banyak hal menyakitkan dalam hidupmu selama puluhan tahun, kamu masih bisa memaafkan orang yang telah menoreh luka pada mu dan keluarga mu" ucapnya menyanjung ku


"Itu semua karena aku sudah merasa lupa dengan semua rasa sakit yang pernah aku rasakan, dan dulu saat aku berada di titik itu, hanya satu orang yang selalu ada untuk ku, hanya nanny yang selalu mengasuhku seperti seorang anak sejak aku kecil, bahkan aku memanggilnya mommy, dia orang yang paling berjasa saat aku tengah di titik terendah yang tidak tahu apapun, tidak punya tujuan, dan tidak tahu apapun tentang dunia luar kecuali dari mulut bik Asih yang sering ku panggil mommy saat kami sedang berdua". terangku mengenang saat-saat menyedihkan dalam hidupku berpuluh tahun lamanya.


Dokter Fritz mendesah mendengar ceritaku, aku yakin dia sudah tahu banyak tentang masa lalu ku dan keluarga ku, untuk itu dia hanya diam saja mendengar aku bercerita.


"Kamu hebat, aku bangga sama kamu" ucapnya memegang erat pundak ku dengan tangannya.


"Makasih ya dok, berkat dokter aku bisa melalui ini semua, boleh aku manggil dokter kakak?" ucapku entah keberanian darimana aku meminta untuk memanggil nya kakak.


"Kakak?" serunya dengan mata membulat.


"Iya kakak" ucapku lagi dengan nada tegas


"Boleh sekali, kamu sudah aku anggap adik ku Kei, kamu, Kinara, Azka sudah seperti adikku sendiri. om Anderson adalah pamanku jadi keluarga Azka semua juga keluarga ku" ucapnya tersenyum senang.


"Tapi bener deh, kalau saja aku lebih dulu ketemu kamu, mungkin kamulah orang yang aku nikahi Kei" ucapnya lagi menggodaku


"Hahaha, anjai, jangan gitu ah, kasian istri kakak dirumah nungguin" balasku


"Hahahaha"


"Ya udah aku pulang ya, ini udah jam setengah dua belas, jam satu aku harus ketemu pasien depresi berat" ucapnya berpamitan


"Iya kak, hati-hati" ucapku merubah panggilan


"Ehm,, sarangheyo, kamsahamnida" ucapnya menirukan aksen Korea. aku tertawa lepas melihat tingkah lucunya.


Kami berjalan melewati halaman samping dan mengantarkan nya sampai ke halaman depan.


Saat melewati batas teras mataku soat bersibobrok dengan mas Hanan yang tengah menatapku lekat. dia tersenyum kikuk lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. aku hanya diam saja tanpa mau menanggapi.