KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
24 About Keisya



"Maaf mbak saya di mana ya?" tanya seorang gadis pada wanita berusia 30an yang sedang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu hangat. Sudah 15 hari gadis itu terbaring lemah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Nona sudah sadar, alhamdulillah ini saya bawain sarapannya." sapa wanita itu tanpa menghiraukan pertanyaan gadis muda yang masih tergeletak di atas ranjang.


"Saya dimana mbak?" tanya gadis itu sekali lagi


"Nona ada di rumah tuan Pranata." jawabnya "jangan takut nona anda aman disini" lanjutnya saat melihat wajah gadis itu tampak takut.


"Apa saya mengenalnya? Kenapa saya bisa ada disini? Kemarin saya......" ia tak melanjutkan ucapannya saat mengingat kejadian sore itu saat melarikan diri dari rumah papanya. Bukan. Dia bukan orang tua kandung. 


"Anda baik-baik saja nona? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak mbak. Makasih ya. Tapi apa boleh saya bertemu dengan pemilik rumah?"


"Beliau sendiri yang akan menemui anda nanti karna beliau sudah berpesan pada saya agar anda tetap berada di rumah ini sampai beliau tiba."


"Hmm baiklah mbak." ia melihat sekeliling kamar bercat putih hanya ada 2 bingkai foto yang tergantung di sisi kanan kamar. Foto 2 balita perempuan kembar memakai baju yang sama dengan rambut cepol salah satunya berpita merah dan satu berpita biru. Lamat ia melihat foto balita berpita merah yang memiliki tahi lalat di dagunya sama persis dengan tahi lalat yang dia miliki.


"Mbak itu foto siapa ya?" tanyanya kemudian. Si mbak yang masih merapikan meja segera menoleh. Lalu tersenyum. "Itu ponakan tuan Pranata nona mereka kembar tapi salah satu dari mereka katanya meninggal. Gitu cerita yang saya dengar sih." ujar si mbak.


Gadis itu mengangguk faham mendengar penjelasan si mbak "Aneh kok tahi lalatnya mirip aku?"batinnya


"Non tuan Pranata akan menemui anda. Saya permisi dulu ya non. Beliau sendiri yang akan datang kesini." pamit si mbak setelah mematikan sambungan teleponnya. Keisya mengangguk tanda mempersilakan.


"Keisya boleh saya masuk?" suara itu terdengar di balik pintu kamar. Gadis itu menoleh lalu mengangguk setelah itu ia mengambil posisi duduk di ranjang.


"Maaf tuan Pranata ya? Ter........." ucapannya terpotong saat pria 50an itu memeluknya sangat erat. "Paman bahagia akhirnya kamu kembali setelah 15 tahun nak." ucap pria itu. Keisyaa hanya diam membisu. Dunia nya seakan berhenti di satu titik. sebuah relung kosong yang selama ini ia cari. Jati dirinya. Ah pria ini mengatakan dia pamannya. Apa benar foto itu adalah dia?"


Pelukan itu melonggar dengan sebuah senyum menyambut di bibir tebal pria yang mengatakan dirinya paman. Keisya masih bungkam dengan ribuan pertanyaan yang berkelebat di otaknya tanpa mampu terucap dari bibirnya. "Paman tahu kamu terkejut maafkan paman nak." ucapnya memegang bahu Keisya.


"Pa....paman?"


"Ya aku paman mu Denias Pranata" ucapnya tegas. Keisya masih diam otaknya masih belum bisa mempercayai ucapan pria di depannya ini. Tapi hatinya bisa merasakan relung yang kosong itu kini terisi. Ia menemukan jati dirinya. Ia butuh penjelasan. Penjelasan mengenai dirinya. Bisa saja pria ini membohonginya dan ingin melakukan hal-hal buruk padanya. Lagi-lagi otaknya tak bisa menerima.


"Saya tahu kamu bingung. Baiklah maafkan paman nak. Coba kamu lihat foto balita kembar itu!" tunjuknya pada bingkai foto yang terpasang di sisi kanan kamar. Keisya melihat foto itu seksama. Ya balita berpita merah itu memiliki tahi lalat sama seperti dirinya.


"Foto itu di ambil saat ulang tahun ibumu 15 tahun lalu. Saat itu usia mu baru menginjak 3 tahun. Hari itu juga kejadian naas terjadi, kamu menghilang tanpa jejak saat acara berlangsung. Ayah ibumu mencarimu tapi tidak menemukanmu. Bahkan bertahun-tahun lamanya mereka tetap tidak berhenti mencarimu. Sampai ibumu jatuh sakit karna terus memikirkan mu. Paman menemukan jejakmu setelah setahun kemudian ibumu meninggal. Dia berpesan pada paman untuk membawamu kembali apapun caranya. Rumah ini ibumu hadiahkan untukmu dan saudara kembarmu saat usia kalian 15 tahun berharap jika kelak kamu kembali, kalian akan menempati rumah ini. Dan sekarang kamu sudah kembali tanpa melihat ibumu." cerita paman masih dengan isak tangisnya.


"Lalu saudara kembarku?"


"Dia masih hidup dan sekarang sudah bersama mahramnya. Dia tidak mengetahui apapun tentangmu yang masih hidup karna kami merahasiakan darinya. Kami tidak ingin membuatnya sedih karna kehilanganmu jadi kami mengarang cerita bahwa kamu sudah meninggal."


"Mahram? Maksudnya?"


"Dia sudah menikah atas wasiat dari ibumu sebelum meninggal. Dia pun tak tahu menahu tentang semua itu. Karna ibumu yang meminta kami merahasiakan. Ibu dan ayahmu sudah menjodohkannya setahun setelah kamu menghilang. Suaminya juga seumuran dengan kalian. Ibumu takut jika suatu hari orang yang menculikmu kembali dan menyakiti saudara kembarmu setelah mengetahui kalian kembar."


"Siapa namanya?"


"Kinara. Kinara Saraswati Wibowo. Dia tumbuh menjadi gadis yang penurut dan penyayang, tidak pernah mengeluh, pintar dan sholihah. Ibumu sangat bangga padanya. Dia selalu berandai jika kau tidak menghilang ibumu juga akan bahagia melihat kalian tumbuh dan besar bersama tanpa terpisah. Setiap malam ibumu menangis memikirkan mu. Itu yang membuat jantung ibumu makin hari makin lemah."


"Jadi ibu tahu yang menculikku?"


"Ya dia tahu. Sangat tahu. Awalnya ibumu tidak ingin mengatakannya pada kami. Ibumu berusaha sendiri meminta pada penculik mu untuk bisa mengembalikanmu. Tapi usahanya sia-sia. Bahkan penculik itu tidak segan mengancam ibumu juga menghancurkan perusahaan ayahmu. Awalnya ayahmu marah besar setelah mengetahuinya tapi ibumu berusaha meredam semua. Itulah awal mula ibumu jatuh sakit. Setelah itu ibumu memberi amanah pada ku untuk mencari jejakmu dan setahun kemudian paman baru bisa menemukanmu. Karna penculikmu selalu berpindah dari satu negara ke negara lain untuk memyembunyikan mu. Dia juga memalsukan dokumen kewarganegaraannya dan juga paspor yang dia miliki. Bahkan dia tega membuat suster yang merawatmu menjadi pesakitan dirumah sakit jiwa selama 15 tahun lamanya. Dia juga menyembunyikan bukti pembunuhan seorang sopir taksi yang membawanya saat menculikmu. Tapi untungnya dia tidak tahu jika kalian kembar. Dan itu melegakan setidaknya salah 1 nyawa kalian masih selamat hingga kini."


"Apa....apa boleh aku bertemu Kinara?"


"Tidak!! Kamu tidak paman izinkan keluar dari rumah ini sebelum penculik itu bisa kami tangkap. Hingga saatnya tiba nanti kalian pasti bertemu. Kinara juga aman bersama keluarga barunya Insha Allah."


"Tapi apa paman tidak butuh bantuan ku untuk menangkapnya?"


"Kami tidak mau melibatkanmu lagi. Kami tidak ingin kehilanganmu kedua kali. Sudah cukup kami berusaha bertahun-tahun untuk mencarimu dan memastikan keadaanmu baik-baik saja."


"Baiklah jika itu mau paman. Tapi aku juga akan siap membantu jika paman membutuhkannya."


"Apa Anthony memperlakukanmu dengan baik?"


Keisya diam. Entah apa yang harus dia katakan tentang pria yang ia panggil papa selama ini. Pria yang menyiksa batin dan kebebasannya untuk sekedar menghirup udara segar. Pria yang selalu mengurungnya di dalam rumah bersama para maid dan bodyguard yang selalu standby 1x24 jam serta guru home schooling yang dia sediakan untuknya tanpa harus ke sekolah. Benar-benar hidup yang memuakkan. Mengingat itu jiwa nya seakan teriris kembali saat bagimana pria itu mengancam akan membunuhnya jika melanggar aturan.


"Tidak paman. Selama ini dia sudah merawatku dengan sangat baik".


Paman nya tersenyum hampa ia tahu keponakannya itu berbohong. Ia tahu semua luka yang sudah di alami gadis itu bahkan bukan hanya sekali dua kali pria bedebah itu mengancam akan membunuhnya. Ia tahu semua kelakuan buruk pria yang notabene masih sedarah dengannya. Hanya karna cinta buta pada saudara sendiri membuat mata hatinya tertutup akan kebenaran. Semua juga berawal dari kesalahan orang tua mereka dahulu. Hingga anak cucu mereka kini yang harus menanggungnya.


"Paman harus kembali ke kantor nak. Jaga dirimu baik-baik dan ingat jangan pernah melangkah keluar untuk saat ini sampai paman memberimu ijin."


"Baik paman. Terimakasih sudah menolongku. Aku berhutang budi pada mu"


"Ahahha kau ini nak.. Itu sudah tugasku sebagai walimu. Istirahatlah agar lukamu segera sembuh. Oh ya wanita yang sudah menolongmu waktu itu juga sudah kembali pada keluarganya. Dia juga seorang pelarian. Sekarang dia aman bersama anaknya seorang polisi. Berterima kasihlah padanya jika nanti dia mengunjungimu."


"Ooh ba-baiklah paman. Terimakasih"


"Sama-sama."


Setelah sang paman keluar dari kamar. Keisya segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Memejamkan mata berusaha mencerna kembali semua yang di ceritakan pamannya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ku di masa lalu sampai harus aku yang menanggung semuanya? Siapa ibuku? Siapa ayahku? Saudara kembarku? Kenapa papa nekat menculikku? Apa salah orang tuaku?" arrrgghh semua rumit semakin rumit.


Dering telpon di ata nakas membuyarkan lamunannya. Ia meraih gagang telpon menjawabnya.


"Iya dengan si....oh mbak yang tadi ya? Kok nelpon mbak?"


.........


"Beliau sudah kembali ke kantor mbak. Saya kan bisa aja turun ke bawah. Jadi gak usah repot-repot mbak"


"......."


"Gitu ya. Ya udah deh aku nurut aja kalau itu maunya paman"


"........."


"Makasih loh mbak." tuut telpon terputus. " Kirain bisa bebas ternyata masih harus di penjara lagi. Tapi ini lebih nyaman dari pada di rumah papa. Ah bagaimana kabar papa? Apa dia sudah makan? Apa dia baik-baik saja tanpaku?" begitu pikirnya. Meski ia tahu pria yang ia panggil papa sudah sangat menyiksanya. Tapi hati kecilnya tetap tak bisa membenci.


Suatu hari saat tengah malam ia tak sengaja mendengar pria itu menangis tersedu-sedu menyebut sebuah nama "Sintya" seraya meminta maaf. Saat itu ia hendak ke dapur ingin mengambil air mineral saat melihat pintu kamar papanya terbuka sedikit ia tak sengaja menguping dan mendengar semuanya. Saat itulah ia tahu jati dirinya sebenarnya bahwa ia bukan anak kandung tapi anak yang di culik dari seorang wanita bernama Amina.


Sejak hari itu ia berusaha mencuri-curi informasi dari kamar papanya saat pria itu sedang bekerja. Ia sempat melihat sebuah foto lama yang menampilkan 2 orang pria bersama 2 orang wanita sedang tersenyum ke arah kamera. Salah satu dari mereka ia kenali itu papanya di masa muda.


"Sebaiknya aku tidur, Semoga semua akan baik-baik saja saat aku bangun". Keisya segera menutup mata meleburkan semua penat tentang jati dirinya yang baru ia ketahui hari ini. Andai boleh ia bisa memilih untuk tidak lahir ke dunia jika harus menanggung rasa sakit selama ini jauh dari orang tua dan keluarga kandungnya.


"Tidaaaaakkk ja....jangan... jangan sentuh dia....!" Keisya terbangun dengan nafas terengah-engah dan peluh keringat membasahi piyama yang ia kenakan.


"Permisi Nona, maaf saya langsung masuk soalnya takut dengar nona teriak-teriak. nona gak apa-apa kan?"


"Bisa minta air putih bik?"


"Ini non,"


"Bik paman ada?"


"Tuan sudah pergi setengah jam lalu Non".


"Boleh tahu kemana bik?"


"Saya juga gak tahu non, beliau cuma berpesan untuk tidak keluar rumah dan gak boleh bukain pintu sebelum tuan datang."


"Hmm baiklah bik, saya mau mandi dulu. bik bisa minta tolong siapin sup iga untuk makan malam saya nanti?"


"Bi...bisa Non. ya udah saya permisi"


"Kenapa mimpi itu selalu datang? dan siapa wanita itu??"batin Keisya


NB:


Nah bab ini sengaja aku bahas tentang Keisya saudari kembar Kinara yang di nyatakan meninggal. padahal mah enggak.... mau tau lanjutannya?? vote dong...