
Azka kembali kerumah membawa dua bungkus makanan dan minuman sesuai pesanan Kinara.
Semalam Kinara merajuk menginginkan kentang goreng dan steak ayam harus dari cafe De'Est saat sudah pukul 02.00 dini hari. dan sore ini keinginan itu baru terwujud.
Azka kembali kerumah dengan senyum mengembang berhasil mewujudkan keinginan sang istri yang sudah ngambek seharian dengan berbagai bujuk rayu akhirnya Kinara luluh juga.
"Mas, kok banyak?" tanya Kinara saat menerima kotak makanan yang abru di keluarkan Azka dari plastik pembungkus.
"Sekalian beli dua, siapa tahu nanti kamu mau nambah" jawab Azka seraya mengambil piring di kitchen set.
"Oh makasih, ini nyium baunya aja udah kenyang, aneh, masa udah delapan bulan masih ngidam juga sih kamu nak?" oceh Kinara seraya mengusap lembut perutnya.
"Anak-anak papa kan pinter" balas Azka, "pinter bikin papa kesel tiap hari" lanjutnya dalam hati.
"Mas, tadi nggak singgah kan?"
"Singgah di cafe De'Est lah buat beli ini" jawab Azka santai. Kinara mengeratkan gigi kesal dengan jawaban absurd sangat suami.
"Maksudnya nggak gitu mas iihh"
"Kamu punya jam kan? ingat tadi mas berangkat jam berapa pulang jam berapa, ini juga baru jam lima sore, mau singgah gimana ceritanya, perjalanan aja sepuluh menit, nunggu pesanan hampir setengah jam, pulang 20 menit karena macet," papar Azka panjang lebar. Kinara hanya melirik sinis karena memang ia merasa salah dan terlalu berprasangka buruk pada suaminya.
"Cepetan dimakan, nanti selesai sholat Maghrib mas mau kerumah Reno, kamu dirumah aja ya, ada yang mau mas omongin sama Reno" lanjut Azka menaruh segelas jus alpukat di depan Kinara.
"Reno kenapa sih mas, aku lihat murung mulu, besok udah tunangan tapi aku lihat story nya masih sibuk di kampus" sahut Kinara
"Ya itu yang mau mas omongin ke Reno, abis selama dua mingguan ini susah banget di temuin, kalau pas ketemu di tanya pun jawabannya nggak papa Mulu" timpal Azka
"Aku khawatir Reno merasa tertekan mas" ucap Kinara menghentikan suapannya
"Mas juga mikirnya gitu, takutnya Reno tertekan dan terpaksa nerima permintaan ayah" Azka duduk di sebelah kursinya menatap gelas berisi air putih yang hendak ia minum.
"Nanti mas kesana sekalian bawain sesuatu gitu buat Reno, aku tahu gimana Reno mas, sejak kecil kami udah terbiasa bareng, Reno itu rela melakukan apapun untuk keluarga dan bisa menekan egonya hanya demi melihat orang yang di sayanginya bahagia" Kinara mulai mengenang.
"Ya mudah-mudahan Reno di rumah nanti, mumpung belum terlambat" ucap Azka
"Undangan udah tersebar, jelas udah terlambat, kalaupun nanti gagal yang tertekan bukan cuma mereka berdua tapi ayah dan ibunya Reno mas, juga keluarga kita" sahut Kinara tak setuju dengan ucapan Azka
"Iya kamu benar sayang, mas juga sebenarnya penasaran kenapa Keisya mau aja nerima tanpa berpikir" Azka menerawang mengingat sesuatu
"Mungkin karena Keisya butuh sosok Ibu, dan Bu Fitri bisa membuatnya mendapatkan hal itu, Aku tahu Keisya tertekan dengan semua masalah yang pernah di hadapinya selama lima belas tahun, dia butuh sosok ibu yang sudah tidak di rasakannya sejak tragedi itu" Kinara menunduk sedih mengingat masa lalu Keisya yang menghilang. Azka memeluk Kinara dan mengusap pundaknya.
"Semua sudah berlalu sayang, semoga setelah hari ini Keisya bisa mendapatkan kebahagiaannya entah itu dengan Reno atau bukan, kita hanya perlu berdoa untuknya"
"Oh ya mas, aku lupa" sahut Kinara karena mengingat satu hal yang ia lupakan beberapa saat lalu.
"Apa?"
"Hanan izin pulang ke kampungnya karena berduka, neneknya meninggal dia minta cuti tiga hari dari kantor" lanjut kinara
"Trus hubungan nya sama mas apa, dia kan kerja di perusahaan kamu bukan punya mas"
"Kemarin aku kasi amanah buat jadi pendamping Reno saat lamaran besok, dia udah nyanggupin tapi berhubung ada kabar duka dia minta cuti dadakan tiga hari, minta tolong temen mas satu orang aja buat jadi pendamping Reno besok"
"Oh, Hem...siapa ya....tunggu....mas ingat sesuatu...ah ....tapi mas lupa minta nomor ponselnya " ucap Azka mengingat sesuatu
"Maksudnya?"
"Tadi mas ketemu Kriting anak matematika yang pernah juara matematika sains internasional itu di cafe, dia bareng Reno juga disana, kami sempat ngobrol pas nunggu pesenan."
Kinara mengingat sesuatu dengan ucapan Azka tentang sosok kriting yang memang sudah beberapa kali ia dengar. Kinara menggeleng lemah karena tidak berhasil mengingat.
"Nanti mas aja kalau kerumah reno minta no ponselnya, katanya dia bareng Reno tadi cafe"
"iya nanti mas usahain mudah-mudahan nggak lupa"
"okelah"
Sesuai janjinya Azka pamit pada Kinara setelah sholat maghrib untuk kerumah Reno, sebelum maghrib tadi ia sudah menghubungi Reno jika ia hendak datang ke kos-kosannya.
Begitu sampai Azka bertemu dengan dua satpam yang berjaga di pos, ngobrol dengan mereka sejenak karena Reno tengah keluar membeli sesuatu di minimarket tak jauh dari kos-kosan.
"Di dalem udah ada temennya mas Reno, kesana aja mas" ucap bang Randi salah satu satpam.
"Ah nunggu Reno aja bang, nggak enak masuk rumah orang pas orangnya keluar"jawab Azka sopan
Diam-diam bang Randi dan temannya tersenyum kagum dengan sikap santun Azka saat bertamu. mereka juga sudah tahu siapa Azka sebenarnya dari cerita Reno.
"Ya udah, bentar lagi pasti pulang tadi pamitnya mau beli minuman dingin sama Snack gitu" Sahut bang Somat
"Oh iya, itu orangnya bang, udah jalan kesini, panjang umur juga di omongin" timpal Azka.
Reno memasuki pagar kos-kosan dengan wajah masih tertekuk meski ada sedikit senyum yang sudah terpasang karena terpaksa.
Reno mengajak Azka masuk ke dalam rumah dan rupanya sebuah kebetulan yang nyata, Azka bertemu kriting dirumah Reno malam ini.
Mereka bercerita sembari main play station hingga pukul sepuluh malam. kriting sudah tertidur sejak setengah jam lalu setelah gagal berkali-kali mendapatkan gol.
Kini Reno dan Azka duduk di balkon kamar Reno di lantai dua. Azka menghisap rokoknya dalam-dalam lalu mengeluarkan asapnya mengepul di udara.
"Lo berani juga merokok ternyata" cibir Reno
"Sesekali lah kalau gue juga pengen" jawab Azka santai
"Ren"
"Hem"
"Denger ka, kenapa sih?"
Azka mematikan rokoknya yang masih tersisa separuhnya, menatap lekat sahabatnya yang juga tengah memandang gelapnya langit malam. Azka mendesah pelan, jika boleh jujur ini hal tersulit baginya saat akan menanyakan perihal privasi Reno. takut jika Reno akan tersinggung dan menjauhinya.
"Ada apa Ka?" tanya Reno lagi tanpa menatap Azka.
"Ren, jawab gue, jujur, Lo ada masalah ya?" tanya Azka hati-hati
"Namanya juga hidup pasti ada lah masalah Ka"
"Iya gue tahu, maaf kalau buat Lo tersinggung, jujur aja gue ngerasa Lo berubah selama dua mingguan ini, di kata Lo menghindar juga nggak tapi sikap Lo seolah menjaga jarak, apa Lo tertekan Ren? jawab gue" ucap Azka
Reno menatap langit dengan mata tertutup, hatinya tercubit dengan pertanyaan Azka tentang sikapnya, memang benar ia berubah dan ia menyadarinya.
"Apa yang Lo rasain waktu pertama denger Lo di jodohkan sama orang yang belum Lo kenal seluk beluknya?" Reno balik bertanya.
"Gue terpaksa karena orang tua, itu aja" jawab Azka lugas
"Dan sekarang apa yang Lo rasain?" tanya Reno lagi
"Gue bahagia karena akhirnya gue tahu kalau Kinara cinta pertama gue sejak kecil" lagi-lagi Azka menjawab dengan santai.
"Gue ada di posisi Lo yang pertama Ka" Reno menunduk memandang deretan jalanan di depan kos-kosan yang perlahan sudah sepi dari auman pengguna jalan yang wara wiri sejak langit masih gelap.
Azka terdiam, dugaannya benar, Reno terpaksa dan sudah seharusnya ia tahu itu sejak awal. tentang sikap Reno yang membatasi diri. sudah cukup jelas jika pria muda itu tengah tertekan.
"Semua butuh proses Ren, dulu saat pertama ketemu Kinara jujur aja gue benci dengan sikap sok alimnya, saat tahu dia cewek yang di jodohkan sama gue, benci itu berlipat-lipat, tapi ada satu titik dimana gue ngerasa bersalah banget, saat Kinara menghilang pulang sekolah, di situ gue menyesal karena lepas tanggung jawab" papar Azka menceritakan kisah silamnya.
"Gue belum tentu bisa kayak Lo Ka" ucap Reno
"Belajar menerima itu susah Ren, kalau emang Lo belum yakin, lebih baik akhiri sekarang sebelum semuanya terlambat" ucap Azka
"Gue nggak bisa, apa yang udah gue putusin dalam hidup gue, sebisa mungkin gue jalanin Ka" sanggah reno
"Kenapa?"tanya Azka lagi
"Karena Tuan besar dan ibu, gue nggak mau ngecewain mereka"
"Bukannya dari awal ayah mertua gue dan ibu Lo udah ngasih penawaran, kalau Lo nggak siap dan nggak mau harusnya Lo ngomong kan dari awal" Azka berujar
"Gue nggak sanggup lihat senyum ibu gue saat di rumah sakit jagain Keisya, udah lama gue nggak lihat senyum ibu sejak ayah kandung gue meninggal, dan saat bapak sambung gue juga meninggal" cerita Reno mengenang masa lalu ibunya.
"Dan Lo rela menekan ego Lo, demi ibu dan ayah mertua gue yang sakit?" tanya Azka mencoba menyakinkan pikirannya sendiri. Reno mengangguk.
Cukup lama mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Azka tahu apa yang tengah di hadapi Reno cukup pelik, berperang dengan perasaan sendiri dan di satu sisi harus lebih memikirkan orang-orang yang di sayanginya dan harus menekan egonya agar tak ada yang merasa kecewa.
Dering gawai di saku jaket Azka berbunyi. panggilan dari Kinara membuatnya sedikit menjauh dari kepenatan pikirannya saat ini.
"Ini masih di rumah Reno, bentar lagi pulang"
"Iya dia baik-baik aja, ada si Kriting yang nemenin, mas udah ngomong juga tadi kok"
"iya-iya, tidur aja duluan, nggak lama juga mas pulang, iya waalaikumsalam"
Reno menoleh sekilas sahabat nya yang sedang bertelepon dengan istrinya. Reno mendesah, hanya satu bait dia yang ia ucapkan dalam hati.
"Udah? cie sekarang makin mesra aja Lo sama Kinar" goda Reno
"Udah mau punya buntut jadi harus tetap saling sayang sampai maut memisahkan"
"Hahaha " Reno tersenyum hambar
"Gue balik sekarang, kasian Kinara kalau nunggu gue kelamaan pulang" pamit Azka
"Basi, bilang aja Lo yang nggak sanggup jauhkan, bucin bener Lo sekarang hahahaha" ejek Reno.
"Lo juga bakalan bucin nantinya, dah gue balik, jangan lupa Kriting besok harus nemenin Lo buat gantiin Hanan"
"Oke, ngomong - ngomong soal Hanan, apa Lo tau sesuatu Ka?" tanya Reno
"Gue? maksud Lo?" tanya Azka tak yakin denga pertanyaan Reno
"Iya maksud gue Lo tahu sesuatu tentang Hanan?" tanya Reno sekali lagi
"Kagak lah, emang kenapa? kalian marahan ya? kayak anak kecil marahan" cibir azka
"Bukan gitu, ini soal si sepupu Keisya yang ikut jadi korban kecelakaan itu, denger-denger Hanan tetangga mereka ya?" tanya Reno penasaran
"Ooh si Arini itu, iya itu sepupu istri gue dari pihak ayah mertua, rumah Hanan sama Arini saling berhadapan, udah itu aja yang gue tahu"
"Oh gitu"
"Emang kenapa sih Ren?"
"Nggak papa, ya udah sana pulang, ngambek bini Lo gue yang bakalan di salahin besok" ucap Reno mengusir Azka segera pulang.
"Iya iya gue pulang, jangan telat besok"
"Bawel amat Lo jadi laki, dah Sono hus huss"
"Anjir..."
............>>
to be continue