
Sementara itu di rumah yang ditempati oleh Keisya, nampak pria paruh baya sedang asyik menikmati waktunya bersama tanaman hias yang terpajang rapi di taman. semua orang yang bekerja tahu jika orang tersebut adalah tuan rumah sang pemilik sah rumah tempat mereka bekerja. hanya satu orang yang tak mengetahui identitasnya, Keisya. hanya Keisya saja yang tidak tahu menahu siapa pria paruh baya yang selalu berada di taman dan sesekali bergabung dengan para pekerja menghabiskan waktu.
"Pa, ini sudah siang, mau sampai kapan papa tetap berjemur sama para bonsai itu?"tanya Revan yang sudah jengah melihat aktivitas ayahnya setiap hari tiap kali datang kerumah ini.
"Sebentar lagi selesai, adik kamu sudah pulang dari mall?"
"Sudah, lagi istirahat"
"Yah, mau sampai kapan ayah terus seperti ini?" tanya Revan dengan mimik sendu sembari menyamakan posisinya dengan sang ayah yang duduk di kursi kecil.
"Ayah takut kondisi psikologis adikmu terguncang Van, ayah masih merasa bersalah padanya, ayah takut tidak bisa menjawab apa yang akan ia tanyakan nantinya"
"Apa ayah tahu, kalau Setiap hari Keisya selalu bertanya pada Rena siapa ayahnya"
"Ayah tahu, tapi ayah masih belum berani"
"Apa ayah ingin menyesal lagi? mau sampai kapan ayah?"
"Lalu ayah harus bagaimana?"
"Untuk apa ayah harus takut dengan hal yang belum tentu terjadi? apapun yang terjadi nanti itu sudah resiko yang harus kita terima, Keisya harus tahu siapa ayah dan ibunya"
"Ayah belum sanggup Van"
"Mulai malam ini, apapun yang terjadi dengan atau tanpa persetujuan ayah, aku akan mengatakan kebenaran siapa ayah pada Keisya"
"Jangan Van"
"Mau sampai kapan ayah, ayah ingin mati membawa penyesalan??"
"Kau..." ucapan Revan telak membuat tuan Wibowo tak bisa berkata apa-apa
"Maafkan aku ayah, percayalah padaku kita akan menghadapi apapun yang terjadi nanti"
"Baiklah" ucap tuan Wibowo mengalah pada keinginan sang anak
"Tuan, nona muda mencari anda" ucap salah seorang bodyguard pada Revan.
"Ada apa?"
"Saya tidak tahu tuan, hanya di perintah untuk memanggil tuan saja"
"Baiklah saya kesana, ayah pulanglah dulu nanti malam aku yang akan menjemput" ujar Revan
Setelah nya ia bergegas pergi menemui Keisya.
"Ada apa dek?"tanya Revan saat sudah tiba di ruang keluarga
"Eh kakak, sini duduk"
"Ada apa kok tumben nyari kakak?"
"Eh, kak aku pengen kerumahnya kak Kinar boleh nggak?"
"Mau ngapain, orangnya lagi pergi liburan bulan madu, rencananya mereka akan pergi ke Jerman juga"
Ada raut wajah tak biasa yang Keisya tampak kan, entah mengapa mendengar ucapan sang kakak ada nyeri di ulu hatinya.
"Kenapa dek?"
"Ah nggak papa kak, pengen aja ketemu dia tapi sepertinya dia lebih sibuk ya"
"Mereka sedang persiapan masuk ke perguruan tinggi, makanya sibuk ngurus pendaftaran, belum lagi harus melakukan tes masuk dan masih banyak lagi"
"Apa aku boleh bertemu dengannya sesekali?"
"Nantilah kalau mereka sudah pulang baru kita kesana, oh ya nanti malam mau nggak ikut kakak?"
"Kemana?"
"Ada deh, kalau kakak ngomong sekarang bukan kejutan namanya"
"Hem, terserah deh yang penting aku bisa jalan daripada suntuk di rumah".
"Oke siap-siap nanti malam ya"
"Oke"
Keisya berlalu ke kamar dengan perasaan kesal ada gelisah yang tidak menentu, ada nyeri di ulu hatinya saat mendengar Kinara dan suaminya berbulan madu. ",Kenapa hatiku sakit ya?" monolog nya dalam hati.
Keisya duduk di tepi ranjang memandang lekat foto masa kecil mereka. "Beruntung nya kamu kak, punya suami dan keluarga yang begitu sayang padamu, bahkan memperlakukan mu selayaknya seorang putri raja" batinnya.
"Andai saja aku tidak di culik papa, mungkin kita akan bersama sampai hari ini kak, tapi entah kenapa melihatmu bahagia bersama suami mu ada nyeri yang aku rasakan disini"
Keisya asik memandangi foto masa kecil mereka tanpa di sadari nya jika Rena sudah sejak tadi masuk ke kamar dan mengamatinya.
"Ehem," Rena berdehem membuyarkan lamunan Keisya
""E .eh mba Rena, masuk aja "
"Non di suruh siap-siap sama tuan Revan katanya mau di ajak dinner"
"Mbak Rena ikut juga kan?"
"Iya non, saya harus ikut udah kewajiban hehehe"
Revan yang masih asyik menikmati acara televisi tidak mendengar jika ponselnya terus bergetar sejak tadi. hingga Joni yang sedang lewat membawa sebaskom jagung rebus menegurnya.
"Tuan, hape nya bunyi tuh" ucap Joni
"E..eh nggak denger kang Joni, itu bawa apa?"
"Jagung rebus buat temen-temen di rumah belakang tuan"
"Ooh ya sudah"
Revan menghubungi kembali panggilan tak terjawab dari mama Hanna.
"Assalamualaikum Tante ada apa?"
"Hamil?"
"Alhamdulillah punya calon ponakan baru, kapan mereka datang?
"Oke nanti malam aku kesana Tante sekalian sama ayah dan Keisya."
"Waalaikumsalam"
"Siapa hamil kak?" tiba-tiba Keisya sudah ada di sampingnya
"Kinar hamil nanti malam kita kesana"
Ada raut wajah senang dan sedih mendengar kabar dari Revan tentang kehamilan saudari kembarnya.
"Kak katanya mau dinner" tanya Keisya
"Iya kita dinner dulu kakak mau kenalin kamu sama seseorang, selesai dinner kita singgah di rumah om Anderson".
"Ooh ya udah aku siap-siap dulu"
"Oke, dandan yang cantik ya, siapa tahu ada cowok yang nyantol hehe"
"Iiih kakak ada-ada saja"
Sesuai janjinya Setelah Maghrib Revan menjemput sang ayah di apartemennya, sedangkan Keisya berangkat dengan Rena dan bodyguard merangkap sopir pribadi ke tempat yang sudah Revan pesankan.
"Ini dimana mbak Rena?"
"Ini di hotel bintang lima, hotel ini milik ayah nona" jawab Rena
"Ayahku?"
"Iya, tuan besar Wibowo"
"Benarkah? apa kakak mengajak ku untuk bertemu dengan ayahku mbak Rena?"
"Iya nona, mari kita masuk, ini ruangan VVIP yang sudah di pesan, ruang ini hanya khusus untuk tamu penting dan keluarga saja."
"Wow desainnya bagus sekali mbak Rena, ayah sekaya apa sih mbak Ren?"
"Tuan besar itu orang sederhana kok nona"
"Eh udah dateng duluan dek?"tanya Revan yang muncul di belakang mereka bersama seorang pria paruh baya yang masih tampak rupawan meskipun sudah terlihat guratan-guratan halus di wajahnya.
"Ka...kak" Keisya menoleh dan terkejut melihat pria paruh baya yang memakai setelan jas yang nampak menguarkan aroma kebijaksanaan nya.
"Keisya, ini ayah nak" ucap tuan Wibowo dengan deraian air mata
"A..ayah? sep..seperti tukang kebun dirumah mba Rena, benar ini ayahku?" tanya Keisya terkejut seraya memegang erat lengan Rena.
"Benar nona, beliau tuan Wibowo ayah kandung nona"
"A..ayah, beb...benar ayahku?"
"Ini ayahmu nak, aku ayah mu, maafkan ayah selama ini menyamar menjadi tukang kebun di rumah, ayah masih belum bisa melupakan rasa bersalah ayah pada mendiang ibumu" ucap tuan Wibowo sendu. Revan memeluk erat sang ayah mencoba menguatkan.
"Sini peluk ayah dek!" ujar Revan.
Keisya memeluk Revan dan tuan Wibowo dengan deraian air mata kerinduan. mereka bertiga saling mengeratkan pelukan. ada rasa bahagia dan haru yang Rena dan Joni rasakan melihat keluarga itu akhirnya berkumpul kembali setelah puluhan tahun terpisahkan.