
Siapa yang tidak merasa senang dengan akhir pekan?? Istirahat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan selama seminggu, melakukan aktivitas yang bisa menenangkan fikiran ato sekedar bermalas-malasan di kamar berharap hari senin tak segera kembali dengan cepat.
Kinara menghabiskan akhir pekannya dirumah bersama mama dan Kak Rania, sekedar merawat tanaman di taman belakang, memasak bersama Bik Suti dan asisten lainnya setelahnya baru ia membersihkan kamar yang ia tempati bersama Azka.
Kinara menggeleng saat melihat tumpukan baju Azka yang kotor di keranjang. "Jadi ini alasan dia melarang Bik Suti membersihkan bajunya" gumam Kinara lalu mengambil semua pakaian Azka dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Sejam kemudian ritual beberes kamar selesai, Kinara langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur tak butuh lama ia terlelap karna kelelahan sejak pagi.
Tepat pukul 4 sore Azka kembali dari bengkel tempatnya bekerja saat ini meski sebenarnya Kinara tak mengetahui kalo ia sudah bekerja. Saat memasuki kamar yang ia dapati wajah lelah Kinara yang terlelap dalam mimpi.
Azka segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri karna seharian bergelut dengan oli dan ***** bengeknya. Untung saja ia punya sedikit keahlian dengan pekerjaannya saat ini. Pengalaman yang pernah ia peroleh di bengkel milik saudara sepupunya di Jerman sedikit banyak membantu pekerjaannya saat ini. Sudah banyak pelanggan bengkel yang puas dengan kinerjanya. Dan tentunya membuat pemilik bengkel merasa sangat senang padanya.
"Ra bangun udah sore" Azka menepuk-nepuk pipi Kinara pelan dan merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan berharap gadis di depannya segera bangun. Sejenak ia tertegun saat Kinara mengecap bibirnya, hawa panas langsung merajai seluruh tubuhnya, ia gugup detak jantungnya tak beraturan, dengan reflek ia berdiri sedikit menjauhkan diri,memegang dadanya Mengambil nafas dan mengeluarkannya pelan.
"Ekheeem " sengaja ia berdehem agak keras agar Kinara segera bangun, rupanya jurus itu berhasil membuat Kinara bangun. Karna masih merasa gugup Azka masuk ke ruang ganti.
"Eughhh jam berapa ini?" Kinara mencari-cari ponselnya di kasur dan tidak mendapatinya ia mendongak melihat jam di dinding menunjukkan pukul 4.30 menit. "What?? Selama itu aku tidur? Omaigaaatt" ia berteriak lalu beranjak dari kasur lalu masuk ke kamar mandi.
"Mas Azka..Mas.. Tolongin dong ambilin handuk "Kinara sedikit berteriak didalam kamar mandi.
Azka yang baru keluar dari ruang ganti berhenti sejenak mendengar teriakan Kinara. "Kamu ngapain di dalem?" tanya nya sembari menggedor pintu kamar mandi. "ambilin handuk baru di lemari aku lupa handuknya masih aku jemur" titah Kinara. Azka segera membuka lemari dan mengambil handuk kimono. "Buka pintunya Ra" pinta Azka setelah pintu terbuka sedikit ia menyodorkan handuk dan Kinara meraihnya. Azka segera berlalu mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Kinara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang terurai ia lupa meminta Azka membawa handuk kecil untuknya. Azka meneguk saliva nya berkali-kali saat melihat Kinara berjalan melewatinya, tubuhnya menegang seketika, matanya membulat sempurna seakan ingin menerkam mangsanya. Akal sehatnya kembali saat Kinara masuk ke ruang ganti.
"Istighfar. . Istighfar ini gak boleh di biarin belum waktunya tahan dulu." batinnya mengelus dada. Azka segera turun ke bawah untuk menetralkan detak jantungnya bisa gawat jika ia terlalu lama di dalam kamar. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan kiri agar isi dalam otaknya kembali normal meski dalam hatinya ia tau itu sangat wajar toh ia juga pria normal.
"Dek kamu ngapain geleng-geleng kepala gitu?" tanya Papa yang baru saja datang dari jumpa klien.
"Ehehe gak papa pa kepala Azka sedikit pusing dari pagi gak stirahat" jawab Azka menggaruk tengkuknya
"Gimana kerjaan mu di bengkel?"
"Ya alhamdulillah bengkelnya lumayan rame pa apalagi kalo pas weekend gini pencuciannya makin rame" papar Azka
"Pa aku udah beli apartement rencana 3 hari lagi aq tempati." ujar Azka lagi
"slruuupph....Serius dek? Mau pindah? Secepat ini?" tanya papa tanpa jeda setelah menyeruput tehnya dan hanya di balas anggukan oleh Azka.
"Ya udah kalau itu maumu papa gak bisa ngelarang, lagian gak ada salahnya kamu belajar lebih mandiri dari sebelumnya."ujar papanya " cuma papa minta kamu pandai jaga diri terutama istri kamu, masih banyak halang rintang yang akan menghadang dan satu lagi kasi papa cucu secepat mungkin" tambah papa memicingkan sebelah matanya dengan senyum jahilnya.
"Ishhh papa ahh bikinin Azka adek lagi biar kalian gak kesepian" sahut Azka
"Tergantung mama sih mau enggaknya papa sih oke waee ya gak maa??" ucap Papa sengaja menggoda istrinya yang sedang membawa setoples cemilan
"Ogah malu ma umur" sahut mama sewot dan berlalu ke dapur.
"hahaahahhhahaa" mereka berdua tertawa bersama.
Drrtt drrrtt bunyi ponsel Azka.
"Assalamualaikum halo Kak, ada apa?"
"..........."
"Apa? Ok gua kesana sekarang share lokasi lu kak". Tut panggilan ia matikan lalu menyambar kunci mobil di atas meja " Pa aku pergi dulu" pamitnya sembari berlari. Azka segera mngeluarkan mobil dari garasinya dan melaju menuju ke tempat yang ia tuju.
"Tuh anak dari dulu gak pernah bisa diem di rumah" Sean mendumel sendiri saat Azka melewatinya tanpa menoleh. "baru pulang udah pergi lagi gak inget apa punya istri dirumah?" tambahnya sewot sembari mencomot kue dari toples.
"Anaknya siapa" sanggah papa santai tanpa menoleh dari koran yang ia baca.
"Anaknya Anderson Cucunya Handoko Cicitnya William...terusin sendiri dah" sahut Sean segera berlalu menemui Rania istrinya yang sedang menyiram bunga. "My lovely wife emmuach" sapanya pada sang istri. (lebay ya keluarga ini😅😅)
Setelah selesai sholat isya Kinara kembali berjibaku dengan tumpukan buku di atas meja. Apalagi kalau bukan tugas sekolah yang makin hari makin menumpuk tiada henti. Memikirkannya saja membuat sekujur tubuh lelah, Baginya tak terlalu sulit mengerjakan setumpuk tugas selagi semua dengan niat baik.Sedang Azka?? Entahlah kemana perginya sejak sore tadi Kinara tak lagi melihatnya. Mungkin masih stay di depan stik bersama Aldo dan Reno ato hangout berlima menghabiskan sisa weekendnya. Sesederhana itulah pemikiran Kinara saat ini.
Selama sebulan lebih menikah dan tinggal bersama orang tua Azka. Tak pernah sekalipun Kinara melihat Azka pulang tepat waktu, setelah memastikan ia pulang di rumah Azka langsung pergi lagi dan baru akan pulang saat tengah malam. Dan itu juga yang membuat hubungan keduanya kurang intens, mereka hanya berbicara seperlunya saja.
"Huuuh legaaa....akhirnya selesai juga time for sleep." Kinara meregangkan semua ototnya yang terasa kaku menelungkupkan kepala nya di atas tumpukan buku. Jam menunjukkan pukul 11 malam ia segera beranjak menuju ke balkon rumah sekedar melihat indahnya langit malam hari.
Terdengar suara deru mobil berhenti di depan pintu gerbang rumah. Kinara melihat ke bawah mencoba melihat siapa gerangan yang datang tengah malam begini. Pandangannya tertuju pada sosok yang sangat ia kenal dan seorang gadis yang tidak terlalu terlihat wajahnya karna pencahayaan yang kurang. Ia menyipitkan matanya untuk memastikan siapa gadis itu.nihil. ia tetap tidak bisa melihat wajahnya. Azka memasuki rumah setelah sebelumnya memeluk gadis itu erat. Setelah Azka masuk ke dalam rumah gadis itu di hampiri seorang pria muda yang menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Jutaan pertanyaan berputar di kepalanya siapa gadis itu dan ada hubungan apa dengan Azka. Kemana Azka selama ini yang selalu pulang saat tengah malam dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang berputar di memorinya.
Kinara langsung menutup pintu dan berlalu menuju ke kamar mandi hendak membersihkan diri sebelum tidur. (bukan mandi tapi cuci muka, sikat gigi dan wudlu).
"Assalamualaikum" Azka memasuki kamar membawa sebotol air minum dan gelas lalu menaruhnya di atas nakas. Terdengar suara gemericik dari kamar mandi, Azka segera mengganti bajunya lalu melihat jadwal mapel esok hari. Setelahnya ia menyiapkan semua perlengkapan sekolah dan memasukkan ke dalam tas.
"Baru pulang?" tanya Kinara saat keluar dari kamar mandi.
"Hmm" jawab Azka singkat
"Tugas biologi besok udah kamu kerjainkan?" tanya Kinara sembari merapikan tempat tidur mereka.
"Sudah" lagi-lagi di Azka menjawabnya singkat membuat Kinara mendengus sebal.
"Kamu dari mana?" tanya Kinara sekali lagi. Kali ini pertanyaan terakhir kalau jawabannya masih sama ya sudahlah ia tidak akan menanyainya lebih lagi.
"Apartemen" Jawab Azka. Mendengar jawaban singkat itu Kinara langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi miring menyamping kanan menghadap tembok kamar. Sungguh menyebalkan ia sendiri tak tau kenapa bisa sekesal ini saat Azka hanya menjawabnya singkat. Padahal sebelumnya biasa saja. Bahkan ia sendiri yang lebih sering menjawab singkat saat Azka bertanya.
Kinara merapalkan doa sebelum tidur memejamkan mata agar segera tertidur tapi nyatanya tidak semudah itu.
Bayangan Azka saat memeluk gadis itu tadi kembali terngiang di benaknya berjuta pertanyaan kembali muncul yang membuatnya semakin sesak. Ia menghela napas panjang berharap semua yang terlintas di benaknya hilang.
Azka duduk selonjor di atas ranjang, ia menoleh memperhatikan Kinara yang tidur membelakanginya, refleks ia menyentuh kepala Kinara dan membelainya lembut. Nyatanya itu mampu memberikan ketenangan di hati Kinara
"Ra udah tidur?" tanyanya pelan
"Hemm apa?" jawab Kinara tanpa merubah posisinya.
"3 hari lagi kita pindah ke apartemen" Ucap Azka menatap Kinara yang masih membelakanginya
"Hmm ya sudahlah apapun keputusan mas aku ngikut aja " Kinara memejamkan matanya dan menghela nafas berat.
Mau menolak rasanya tidak etis, masih terlalu berat rasanya jika ia harus berpisah dari orang tua dan keluarga. Meski ia menyadari ini baru permulaan dan masih akan ada badai yang sewaktu-waktu bisa menghantam keras biduk rumah tangga mereka. Mungkin dengan hidup terpisah jauh dari orang tua ia bisa lebih baik lagi mengabdi pada Azka yang menjadi jalan ibadahnya. Siap tidak siap ia harus bisa menjalani ini semua. Toh semua akan indah pada waktunya.
"Jadi kamu setuju?" tanya Azka
"Besok pun kita pindah aku gak masalah, tapi apa kita gak akan ngerepotin papa dan mama angkut barang ini itu" Ujar Kinara seraya bangkit menyamakan posisinya dengan Azka
"Bawa yang perlu aja, lagian semua udah siap di sana, kita tinggal beli keperluan yang lain aja, barang yang disni gak perlu di bawa kan sewaktu-waktu kita bakal nginep juga disini." jelas Azka.
"Hmm ya udah deh besok pulang sekolah kita mampir aku mau lihat apartemen yang akan kita tempati." Kinara kembali berujar.
"Sip Nyonya Azka hehehe" Ucap Azka sembari mengacak rambut Kinara
"Ishh ruwet rambut aku nanti mas, tidur gih" titah Kinara sembari merubah posisi membelakangi Azka.
"Hanya memandangnya bisa bikin hati gua adem, ternyata seindah ini kalo udah halal, mau ngapain dapet pahala, gak repot keluarin duit buat kencan gak jelas, ah mikir apa sih gue??☺☺" batin Azka yang membenarkan posisi tidurnya, ia menoleh kembali melihat Kinara yang membelakanginya. Ia cium wangi rambut Kinara yang mampu memberinya sensasi berbeda.
"Fabiayyi aalairobbikumaa tukadzibaan Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan? Batinnya lagi merapalkan doa tidur.