KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 108



"Saya terima nikah dan kawinnya Keisya Prameswari Wibowo dengan mas kawin uang tunai sebesar 150ribu rupiah, perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap Hanan seraya menahan nafas.


"Bagaimana saksi?" ucap penghulu


"Sah"ucap para saksi yang hadir.


Lantunan doa menggema di Amini para tamu yang hadir.


Keisya menangis haru mendengar prosesi ijab qobul yang di ucapkan Hanan lancar tanpa hambatan. Hanan sudah resmi menjadi suaminya, separuh dari bagian hidup dan jalan surga nya.


"Kei, ayo turun nak" ucap mama Hanna di depan pintu.


Kinara yang sedari tadi menemani Keisya di dalam kamar juga ikut menangis terharu. kebahagiaan yang selama ini ia harapkan untuk adik satu-satunya akhirnya terkabul.


Keisya turun di tuntun mama Hanna dan Kinara. di bawah Hanan merasa grogi melihat Keisya dalam balutan baju pengantin berwarna putih, tersenyum hangat sembari berjalan menuju ke arahnya.


Keisya duduk di kursi sebelah Hanan lalu mencium tangan Hanan dengan khidmat. umi Tin memberikan perhiasan emas tadi kepada Hanan untuk di sematkan di jari manis Keisya.


Tepukan dari para tamu undangan memenuhi ruangan saat Hanan mencium kening Keisya setelah proses penyematan cincin selesai.


Di sudut ruangan seseorang menyeka sudut matanya yang berair. sejak awal dia datang bersama rombongan pengantin pria lebih tepatnya mengekor di belakang rombongan.


Pria itu menatap haru pada kedua pasangan yang sudah naik ke atas panggung dengan selalu melempar senyum pada semua tamunya.


"Semoga kamu bahagia mbak, memang bukan takdir kalian bisa bersama, meski aku tahu mas Reno pun sama terlukanya dengan semua ini. Meskipun aku sudah berusaha untuk membuat kalian kembali beberapa waktu lalu, tapi ya sudahlah hal itu tak akan pernah terwujud dan nyatanya kalian bahagia dengan takdir kalian masing-masing" ucap Dimas dalam hati.


Pria muda itu Dimas yang sengaja datang mengikuti rombongan Hanan saat datang ke tempat acara.


Dimas menyenggol lengan kakak kembarnya yang sejak tadi hanya makan dessert hasil curi perhatian sama petugas catering.


"Apa?" tanya Arkan berbisik.


"Ayok maju ke depan, mana amplop Lo?" jawab Dimas sambil mencomot kue basah di piring Arkan.


"Astaga... nih anak, bagian gue Lo makan, gantiin nanti" ucap Arkan kesal


"Eh badut daritadi Lo makan Mulu, emang gue nggak tahu?" balas Dimas.


"Ck, entar gue lap tangan dulu" kata Arkan mengambil tisu di atas meja prasmanan.


"ya elah Arkan... lap tuh mulut Lo badut.. jorok amat sih" cecar Arkan kesal mengambil tisu lalu mengusap bibir Arkan dengan kasar.


"Bangsat lo sakit Anjai" umpat Arkan kesal.


"Dah jangan banyak bacot, ayo ke depan baru bisa makan puas"


",nyenyenye" cibir Arkan mengikuti langkah tegap Dimas.


Mereka tak sadar kalau perdebatan mereka sejak tadi di perhatikan tamu yang lain. bahkan ada yang berbisik-bisik serong kalau mereka homo.


"Eh Bu, jangan ngomong sembarangan ya, saya kenal mereka, mereka itu saudara kembar adiknya mantan calon tunangan pengantin wanita" ucap salah satu ibu-ibu yang memang mengenal Arkan dan Dimas karena pernah bertetangga dengan mereka sebelumnya.


"Hah? kembar toh, ibu kenal mereka?" tanya salah satu wanita berjilbab ungu


"Iya, kami pernah jadi Tetangga dulu sebelum suami saya pindah tugas, ibunya pemilik toko roti terkenal itu loh Fitrah bakery" jelas seseibu tadi.


"Owh ... maaf Bu kita nggak tahu, soalnya daritadi mereka berdebat kayak pasangan gitu..." ucap seseibu berjilbab hijau.


"Jangan lihat segala sesuatu dari covernya Bu, dosa"


Seseibu tadi langsung berlalu meninggalkan dua orang yang tadi asik menggibah Arkan da n Dimas.


*****


"Kenapa mas?" tanya Andin penasaran


"Ya aku nanya, kamu siap apa nggak untuk berumah tangga?"


"Tergantung sih, kalau soal siap nggak siap kalau jodohnya udah ada apa ya aku bisa nolak?" tukas Andin.


"Jadi kamu siap kalau aku lamar besok?" tanya Reno membuat Andin langsung tersedak es batu.


"Uhuuk uhhuukk..." andin memegang dadanya yang terasa sakit karena es batu tadi rupanya langsung masuk ke kerongkongannya.


Reno langsung menepuk pundak belakang Andin perlahan hingga gadis itu merasa baikan meski wajahnya masih memerah karena menahan sakit di dada.


"Maaf ndin, maaf ya bikin kamu kaget" ucap Reno merasa bersalah


Andin hanya melambaikan tangan tanda ia baik-baik saja dan Reno tak perlu khawatir.


"Mas Reno mau ngelamar aku?" tanya Andin begitu ia merasa jauh lebih baik


"Maaf, itupun kalau kamu bersedia ndin" ucap Reno menatap Andin


"Mas yakin dengan pilihan mas? kita nggak sebanding mas, kamu anak orang kaya keluarga berada sedangkan aku hanya yatim piatu yang kebetulan mendapatkan uluran tangan kamu untuk menyambung hidup" ucap Andin merasa rendah diri.


"Aku nggak peduli status kamu, kalau ibu aku senang aku akan tetap berusaha maju" ucap Reno


"Bukannya mas pulang kampung kemarin mau melamar wanita itu?" tanya Andin membuat Reno langsung terdiam.


Andin mengalihkan pandangannya ke luar jendela cafe, membahas masa lalu memang semenyakitkan ini, apalagi orang yang ia cintai.


Reno nampak menghela nafasnya berkali-kali. mengingat masa lalu memang menyakitkan, dan hari ini tepatnya Keisya dan Hanan resmi menikah. dulu ia meninggalkan luka untuk Keisya dan sekarang ia yang merasakan kembali bagaimana luka itu menyayat hatinya. menyesal pun tak ada guna.


"Kenapa diam mas?" tanya Andin setelah sekian lama mereka saling diam.


"Dia sudah menikah ndin, tapi aku sudah bertemu keluarga nya dan meminta maaf, semua sudah selesai" ucap Reno meyakinkan Andin


"Owh .. tapi hati kamu kayaknya yang belum selesai mas" tukas Andin


Reno menatap Andin dengan perasaan tak menentu, Andin begitu keras.


"Ndin, kalau memang kamu nggak mau dan nggak siap menikah ya nggak papa, aku juga nggak akan memaksa, Dan aku pamit mungkin hari ini terakhir aku nemuin kamu, aku lulus beasiswa S2 ke Mesir, bulan depan aku berangkat dan nggak tahu kapan aku bisa pulang, mohon doanya" ucap Reno tegas.


Deg


Andin yang tadi pasang wajah sok jual mahal akhirnya terkejut dengan ucapan Reno yang malah pamit mau pergi.


"Kamu serius mas?" tanya Andin


"Iya serius, dan aku ada rencana buat lanjut S3 di Maroko sekalian belajar pada guru-guru besar disana para habaib" ucap Reno menatap Andin lekat.


Andin akhirnya terdiam, entah apa yang harus ia ucapkan, beberapa menit yang berlalu Reno hendak melamarnya, tapi menit berikutnya justru kabar menyakitkan yang ia dengar.


"Ndin, maaf, mungkin niatan aku memang tergesa-gesa tanpa berpikir, tapi aku memang seserius itu mencari pasangan" ucap Reno menatap Andin serius.


"Kalaupun kita jodoh suatu saat pasti Tuhan berikan jalan mas, gapai cita-cita mu, aku juga belum siap untuk menikah, aku masih ingin belajar berbisnis seperti yang kamu ajarkan, agar kelak aku bisa menunjukkan pada dunia kalau aku bisa" kata Andin menatap Reno lekat-lekat.


"Kita saling mendukung" balas Reno


"Terimakasih Ndin, tunggu aku selesai S2 Insha Allah aku resmi melamar kamu di depan om Martin dan kakak mu" ucap Reno meyakinkan Andin.


"Jangan memutuskan sesuatu yang belum tentu akan terjadi mas, jodoh rahasia Tuhan" ucap Andin tersenyum.