
Suara adzan Maghrib menggema di masjid yang tak jauh dari rumah kos. para bapak-bapak dan anak-anak serta remaja beriringan menuju ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Bang Rendi yang seharian sejak jam empat subuh tadi di beri tugas mbak Indah untuk menjaga Reno kini tengah bersiap-siap ke masjid dan mengenakan pakaian lengkap.
Langkah lebarnya mampu mengusik ketenangan Reno yang masih tertidur pulas sejak ia pulang subuh tadi.
"Udah bangun mas?" tanya bang Rendi pelan
Reno masih mengerjap dan berakhir tidur kembali. bang Rendi hanya menghela nafas pelan.
"Kirain bangun beneran, semalam habis berapa botol sih?" bang Rendi bergumam seraya tangannya meraih gagang pintu.
Bang Rendi meninggalkan Reno dalam kondisi tidur, meskipun ia tahu kalau sudah waktunya Maghrib itu tidak baik. bang Rendi memanggil salah satu temannya yang menjaga di pos untuk sementara menjaga Reno sampai ia pulang dari masjid.
"Engko mbak Indah nesu lak ponakan e di tinggal Dewe nek kamar, Ndang Rono" titahnya
"Yo wis" kata satpam bernama Sapto itu.
Sedangkan di dalam kamar Reno tiba-tiba terbangun dan muntah setelah kepergian bang Rendi. beruntung bang Sapto langsung datang dan menolongnya yang berjalan sempoyongan ke kamar mandi.
"Ini jam berapa bang?" tanya Reno lirih setelah berganti baju di bantu oleh bang Sapto.
"Udah magrib mas, mau sholat? atau saya buatin madu hangat dulu?" tanya Sapto.
"Perutku.....auchh... hooeeeek...."
Baru saja Sapto hendak beranjak Reno kembali memuntahkan isi perutnya dan berakhir pingsan.
"Astaghfirullah, mbak indah...... Titin...."teriak Bang Sapto dari dalam kamar. berhubung kamar terletak di atas dan mbak indah di bawah, bang Sapto segera membuka jendela kamar dan memanggil penghuni kos yang bisa mendengar suaranya.
Tak butuh waktu lama anak-anak kos sudah masuk ke dalam rumah dan naik ke kamar membantu bang Sapto membawa Reno kerumah sakit.
"Mbak Indah kemana Jung?" tanya bang Sapto pada salah satu penghuni kos
"Ke masjid, kalau Titin udah pamit pulang ke kampung jenguk emaknya" jawab pria yang biasa di panggil Jung itu.
"Ya udah kalian jaga kosan ya, nanti kalau mbak indah sama bang Rendi pulang suruh nyusul ke rumah sakit" titah bang Sapto di pintu mobil.
"Okeee" jawab penghuni kos bersamaan.
Sementara itu di rumahnya sejak subuh Kinara sudah uring-uringan dan bertengkar hebat lagi dengan Azka, yang pada akhirnya membuat Azka akhirnya pergi meninggalkan rumah tanpa bicara dan tidak kembali hingga malam menjelang.
"Mbak maaf loh, aku dengar semua pertengkaran kalian, termasuk anak-anak untung tadi mbak nya sigap dan ngajak mereka pergi ke mall" kata Keisya saat tengah memasak mi telur kesukaannya.
"Maaf Kei, kalau udah bikin kamu nggak nyaman, selama menikah aku nggak pernah lihat mas Azka mabuk, baru kali ini dan ini yang bikin aku naik tensi"kata Kinara membela diri.
"setidaknya bicarakan baik-baik lah mbak, kalau yang aku lihat mas Azka lagi banyak pikiran, dan aku lihat wajahnya kayak bukan orang yang habis minum mbak" cuap Keisya mencoba memberi pengertian.
"Nggak mungkin bau alkohol kalau nggak minum" sanggah Kinara dengan egonya.
"Biarpun nggak minum, kecipratan sedikit aja udah bau loh mbak" ucap Kinara dengan stigmanya
"Terserah, kalau nggak mau berubah dan minta maaf jangan harap bisa kembali, aku yang bakal gugat cerai" ucap Kinara kesal
"Astaghfirullah mbak, cuma gara-gara begini mau gugat cerai? coba tanya mas Azka baik-baik dulu jangan emosian mbak, nggak kasihan sama si kembar? pendek sekali pikiran sampean mbak" cibir Keisya yang kesal mendengar ucapan kakak kembarnya
Dalam hati Kinara juga membenarkan ucapan adiknya tapi mau bagaimana lagi, ia paling tidak suka dengan orang yang suka minum-minuman keras.
"Mbak kalau saranku mending sekarang tenangin diri dulu, jangan ambil keputusan di saat sedang marah, coba mbak tanya ke teman-temannya mas Azka yang datang kesini kemarin. siapa tahu mereka tahu dimana suami mbak semalaman nggak pulang" kata Keisya memberi nasihat.
Kondisi rumah memang masih sepi, sore tadi mbak pengasuh anak-anak pamit untuk ngajak si kembar nginap di rumah neneknya beberapa hari.
Kinara berulang kali menghela nafas berat, semua ucapan Keisya ada benarnya. tidak seharusnya ia langsung marah pagi tadi.
Tanpa pikir panjang, Kinara meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja makan. tangannya sibuk memencet tombol panggil nama ke tiga sahabatmya yang datang kerumah kemarin sore.
Satu persatu ia hubungi tapi tidak satupun yang menjawab panggilan. hingga di menit selanjutnya sebuah panggilan telepon dari salah satu nomor tak di kenal menghubungi nya.
"Maaf ini temannya Reno?" tanya suara laki-laki di seberang telepon.
"Reno siapa ya?"
"Reno Andriyansyah, saya salah sambung maaf" Tut.
Kinara langsung teringat Reno dan menghubungi kembali nomor tadi. tak ada jawaban sama sekali. tapi Kinara tak pantang menyerah. setelah beberapa kali panggilan, akhirnya terjawab.
"Saya Kinara temannya Reno, ini siapanya reno?" tanya kinara hati-hati
"Oh Alhamdulillah atuh, saya satpamnya, boleh nanya mbak? apa semalam mbak komunikasi sama mas Reno atau sekedar tahu? karena mas Reno tadi subuh pulang dalam kondisi mabuk berat dan sekarang harus di opname di rumah sakit Citra Husada, ada peradangan pada lambungnya"
"Astaghfirullah... Reno pulang mabuk tadi subuh?"
"iya mbak, saya dan seorang teman yang membuka pagar rumah kok, kondisinya benar-benar prihatin mbak"
"Oke, kirim nomor kamarnya saya ke sana sekarang"
"Masih di IGD mbak"
"Oke"
Sambungan telepon terputus, tapi Kinara tiba-tiba teringat dengan Azka yang subuh tadi pulang dalam kondisi mengantuk dan bau alkohol.
"Apa jangan-jangan, ..... ah nggak mungkin,
... tapi kok orang ini bisa nelpon gue sih?
.. ini penipuan atau emang beneran Reno?.... astaghfirullah...." batin Kinara bergejolak.
Di rumah sakit Reno harus di rawat inap karena kondisi lambungnya yang mengalami peradangan akibat alkohol semalam. mbak indah dan bang Rendi menyusul ke rumah sakit setelah mendapat laporan dari anak kos sepulangnya dari masjid.
Mbak indah belum memberikan kabar apapun pada keluarga di kampung karena tidak ingin membuat kakak iparnya banyak pikiran. hanya Dimas beberapa kali menelpon tapi tetap urung ia jawab.
Bang Sapto masih berusaha mengutak-atik ponsel Reno yang terkunci berusaha mencari titik terang permasalahan yang di hadapi Reno. karena ia pernah bekerja di perusahaan ponsel sebelumnya selama hampir dua tahun, bang Sapto sedikit banyak tahu semua fitur-fitur Yang ada dalam setiap ponsel dan bagaimana mengutak-atik database nya.
"Bisa To?"
"Ini masih aku cari, kayaknya mas Reno ini diam-diam seorang hacker kayaknya, ponselnya aja susah gue utak Atik daritadi" keluh bang Sapto.
"Masa sih? saya mah nggak tahu yang gitu-gitu To, emang nggak ada panggilan darurat di setel di situ?"
"Cuma nama Kinara aja mas yang ada di sini, barusan aku telpon, orangnya lagi otewe, aku nggak tahu itu siapa"
"Oh tungguin aja kalau gitu, yang penting jangan hubungi keluarganya dulu, kata mbak Indah"
"Sip lah"