
"Mbak kenal Reno anak pendidikan semester dua?" tanya salah satu anak buah Azka yang mencari Reno di kampus
"Si reno yang atlet basketball itu ya mas?"
"Iya mbak"
"Udah lama nggak lihat dia latihan sih, biasa kalau jam begini dia latihan basket sama club' nya"
"Oh ya, mbak tadi udah ke tempat latihannya?"
"Iya ini mau pulang, udah lama memang Reno nggak gabung latihan kan ya, denger-denger dia keluar dari club' gitu sih"
"Beneran mbak?"
"Iya mas, coba tanya cowok yang rambutnya kriting itu mas, biasa sih Reno sama dia kalau pas ada agenda rapat di BEM" tunjuk gadis itu pada Kriting yang sedang sibuk mengetik di bawah pohon beringin bersama temannya.
"Makasih mbak"
"Iya sama-sama"
Kedua anak buah Azka berjalan ke arah Kriting sedang duduk bersama dua orang temannya.
"Assalamualaikum maaf mas mengganggu, boleh nanya?"
"Waalaikumsalam ada apa ya mas?"
"Gini, mas liat Reno anak pendidikan nggak, yang jurusan olahraga semester dua"
"Oh Reno, nggak tahu mas, udah lebih sebulan dia nggak ke kampus, ya kan peng?" tanya kriting pada temannya.
"Iya mas, la kita-kita aja bingung nyariin dia, udah lama banget Reno nggak masuk kampus, malah denger-denger dia keluar dari club' basket, temennya pada nyariin juga" jawab pria yang di panggil peng
"Mas ada keperluan apa nyariin Reno?" tanya Kriting menatap lekat dua pria di depannya yang berpenampilan seperti seorang detektif.
"Saya ada urusan penting sama dia mas, mau bayar utang tapi orangnya nggak pernah ketemu" bohong salah satu anak buah Azka
"Oh mau bayar utang, kerumahnya aja mas, atau di rumah kosannya."
"sudah kesana tapi nggak ada mas, kos-kosannya bukan punya Reno lagi katanya"
"Masak sih? lah ini temen saya ngekos disana ya kan Jo?" tanya Kriting pada satu teman yang duduk di sampingnya.
"Mas Reno udah sebulan lebih memang nggak di kos, dan kos-kosan sekarang memang sudah berpindah tangan, bang Somat petugas yang jaga kos sekarang jadi pemiliknya,"
"Beneran Lo Jo?" tanya Kriting kaget " kok Reno nggak pernah cerita sih? udah lebih sebulan juga gue nyariin dia tapi nggak ketemu". sahut Kriting
"Gue juga nggak tahu Ting, saya juga baru kemarin sore di kasih tahu pak satpam katanya kos-kosan punya bang Somat udah di beli mas, coba deh mas ke sana lagi ketemu sama bang Somat siapa tahu Nemu petunjuk"
"Lah Lo anak kos aja kagak tahu kemana perginya yang punya?" sahut Kriting
"Gue di kos cuma malem, tidur makan mandi pergi lagi" balas Jo.
"Oh ya udah makasih mas-mas, kami pergi dulu, terimakasih infonya"
"Sama-sama bang"
Kedua anak buah Azka pergi meninggalkan Kriting dan temannya. mereka memutuskan pergi dari kampus setelah merasa gagal mendapatkan informasi tentang Reno.
"Dam itu bukannya istri nya bang Revan?" tanya salah satu anak buah Azka
"Mana Ben?"
"Yang lagi ngobrol sama orang-orang berdasi"
"Oh iya, maklumlah dia kan dosen terbang juga, lagian dia nggak ngajar cuma di satu kampus kok, setau ku dia juga dosen terbang karena adek ku juga pernah di ajar sama dia"
"Masak sih? bukannya dia ngajar di kampus yang elit itu?"
"Nah apa bedanya sama kampus ini, kampus ternama satu-satunya di Indonesia Dam, aneh Lo, dah yuk cari makan, kita harus laporan lagi"
Mereka akhirnya berlalu meninggalkan pelataran kampus dan menyebrang ke tempat warung makan lesehan tempat Azka biasa bekerja.
***
Sementara itu di rumah Bulik Sri, Azka dan tuan Denias sedang bersiap-siap memasukkan barang ke dalam bagasi mobil. hari ini mereka akan kembali ke kota bersama Keisya, dokter Fritz sudah lebih dahulu pulang ke Jakarta sehari setelah Keisya selesai di ruqyah.
Keisya sudah tidak lagi melakukan aksi nekat bunuh diri seperti beberapa hari lalu, tetapi kali ini lebih banyak diam dan menangis. saat di ajak sholat oleh Bulik Sri dan mbak Rasti, Keisya juga sudah mau beranjak.
"Saya pamit mas, mbak, bude, pakde" pamit Azka pada pak Kardi dan keluarga.
"Hati-hati di jalan, kalau ada waktu luang Kinara ajak jalan-jalan kesini mas, saya Lo belum pernah ketemu Kinara, cuma dengar cerita nya aja dari bapak sama ibu" ucap mbak Rasti pada Azka.
"Insha Allah nanti lebaran ngumpul disini semua kalau rumah ayah sudah di tempati"
"Mertua mu suruh nikah lagi, biar nggak kesepian, di sini tinggal sendiri siapa yang mau ngurusin, kalau anaknya semua di Jakarta?" Seloroh pakde Kardi.
"Hahaha pakde aja yang nyariin jodoh"
"Ndisek seng njodohke Karo Mina sopo jal?" sahut tuan Denias. (dulu yang jodohin sama Amina siapa coba?)
"Ndisek cuma kebetulan, lak Saiki wes Podo tuo, Yo isin to ape njodohke, ancen i" balas pakde Kardi. (Dulu cuma kebetulan, sekarang sudah sama-sama tua, ya malu lah).
"Hahaha nduwe isin to?" ucap tuan Denias
"Stok koyok Amina ki langka Den, opo Yo ape Karo Amira? di jagal bojone Kon"(Stok seperti Amina itu langka Den, apa ya mau sama Amira? di hajar suaminya nanti)
"Hahahaha"
"Keisya, jaga sholat nya ya nduk, banyakin dzikir, sholawat, nggak usah mikir yang aneh-aneh, semua akan baik-baik saja" ucap Bulik Sri memeluk Keisya dengan linangan air mata.
"Bulik nggak usah nangis, nanti aku kangen"
"Kalau kangen ya nggak usah pulang, disini saja ya"
"om Den marah nanti,"
"Hillih, yang penting kamu kasih uang nggak mungkin marah nduk" sahut pakde Kardi tertawa ringan
" gundul mu wi mas, ancen i" ucap tuan Denias ikut tertawa.
"Ya udah yuk kita berangkat, semua sudah siap, mas Hanan sampean yang nyupir ya" ucap Azka
"Sip bos"
****
"Darimana kamu Vi , sore begini baru pulang, ini udah setengah enam" tegur Revan saat melihat sang istri keluar dari mobil. Revan memang sengaja menunggu sang istri di teras samping dekat bagasi mobil.
"Assalamualaikum, baru pulang dari seminar mas" ucap Lutfiah mencium punggung tangan suaminya.
"Nggak biasanya kamu seminar sampai jam segini, kamu mampir kemana?" tanya Revan ketus
"Astaghfirullah mas, dari kampus emang kemana lagi, kamu pikir aku jalan-jalan kesana kemari kayak cabe-cabean?"
"Terus ngapain kamu pulang selarut ini Vi? apa benar kalau kamu sering ke kampus ketemu Reno?"
"What? Reno? urusannya sama aku apa mas?"
"Ini lihat , ini bukti kan?" bentak Revan memperlihatkan foto Istri nya sedang bergurau dengan beberapa orang dosen di kampus Reno yang kebetulan mereka sedang berada di depan ruang dekan fakultas pendidikan.
"Ini foto tadi siang kan, aku memang disana untuk seminar, dan aku yang jadi pembicara mas, kamu dapat foto ini darimana?"
"Nggak usah ngelak kamu Vi, di bayar berapa kamu sama Reno huh?"
"Astaghfirullah mas, kamu tega nuduh aku yang bukan-bukan hanya karena masalah Reno sama adik kamu, nggak mikir banget sih jadi orang"
"Kamu itu yang nggak mikir, ngapain juga kamu kesana nyariin Reno, apa jangan-jangan kamu yang bantu dia sembunyi dan lari dari tanggungjawab huh?"
Plak
Plak.
Dua tamparan keras menghantam kedua pipi Revan dalam sekejap. Lutfiah menangis dalam diam menatap nyalang pada sang suami yang terkejut dengan wajah memerah menahan amarah.
"Tuduh aja sepuasmu mas, ceraikan aku sekarang juga atau aku yang bakal laporin kelakuan kamu sama orang tua kita" ucap Lutfiah lantang.
"Harusnya dari awal kamu yang tegur orang tuamu mas, nggak perlu jodohin anak. ini bukan jaman Siti Nurbaya, jangan mentang-mentang kamu mau balas Budi, lalu semua hal kamu benarkan dan kamu setujui, tanpa memikirkan bagaimana perasaan yang lainnya. kalian sudah tahu kalau Keisya punya tekanan mental sejak kecil, harusnya kalian lebih banyak luangkan waktu untuk Keisya supaya sembuh, dari segi mental Keisya belum siap untuk menikah, apalagi Reno mas, bukan aku mau sok tahu urusan kalian, tapi aku tahu bagaimana rasanya ada di posisi mereka, karena mas nggak pernah ngerasain gimana sakitnya melakukan sesuatu yang bukan keinginan kita sendiri. lebih baik mas tanya Azka, dia tahu semua tentang Reno, nggak perlu nuduh aku sesuka mu tanpa pernah mau mendengar penjelasan ku, kalau mas masih tetap ngotot nyalahin aku, mulai malam ini aku minta pengacara buat urus surat cerai" ucap Lutfiah dengan mata basah dan berlari ke dalam kamar.
Brak.
Revan sedikit berjingkat mendengar pintu di tutup keras oleh Lutfiah. Revan bergeming, rasa panas akibat tamparan Lutfiah masih membekas di kedua pipinya.
Revan mengaku salah telah menuduh Lutfiah dengan tidak rasional. sejak dulu ia sudah tahu kalau Lutfiah memang dosen tetap di salah satu kampus ternama bahkan seringkali menjadi pembicara seminar di kesempatan lain.
Revan menyesal tidak mencari tahu lebih dulu sebelum menuduh sang istri yang tidak-tidak. seharusnya ia bertanya pada anak buahnya untuk mencari lebih detail sebelum berasumsi yang berlebihan.
Lutfiah orang yang tegas tapi lembut, sikapnya tidak pernah main-main, apapun yang ia ucapkan selalu ia lakukan tanpa pernah mau mendengar alasan apapun yang dapat merugikan nya.
Sementara di dalam kamar Lutfiah menangis karena tuduhan Revan padanya yang tidak masuk akal. walau sebenarnya ia tahu tuduhan Revan tidak sepenuhnya salah, ia ikut andil dalam misi Reno menyembunyikan diri. karena rasa kasihan melihat Reno yang tertekan mengingat kan ia pada almarhum sepupunya yang meninggal karena bunuh diri tidak terima atas perjodohan yang dilakukan orang tuanya.
Lutfiah membuka ponselnya yang bergetar menampilkan sebuah pesan dari nomor tak di kenal.
+62....
📩
"Mbak aku sudah sampai dua hari lalu, kabar Keisya gimana?" Dimas.
"Ya Allah aku lupa dim, besok aja lah di balas" batin Lutfiah lalu menyimpan kontak Dimas dengan nama inisial karena memang ponsel yang ia gunakan ada dua, untuk keperluan kampus dan untuk ponsel pribadi.
Revan memilih tidur di kamar tamu karena tak ingin merusak perasaan istrinya yang masih marah. besok pagi ia akan meminta maaf untuk kesalahannya kali ini.