
"Pa, apa nggak sebaiknya kita minta Johan untuk membantu?" tanya nyonya Hanna pada sang suami. tepat pukul 03.00 dini hari tuan Anderson baru saja kembali ke rumah.
"Papa udah rencana begitu ma, tapi kondisi Michele masih belum pulih pasca operasi, aku sudah pernah memintanya saat itu tapi Johan masih belum tega meninggalkan Michele dengan asisten di sana, belum lagi kedua anak kembar mereka juga sudah sekolah"
"Apa nggak sebaiknya kita bawa mereka kesini aja pa, rumah di kompleks xx kan kosong biar mereka aja yang nempatin sementara sampai kondisi Michele pulih. trus si kembar Joni dan Jane bisa sekolah di sini, lagian mereka kan masih paud"
"Bener juga sih ma, nanti lah aku bicara sama Johan, bagaimana Kinara?"
"Mama belum bisa ajak dia bicara pa, tadi Lutfiah udah cerita semua ke mama, dan mama nggak tahu harus memulai dari mana kalau harus bicara sama Kinara, mama juga merasa bersalah pa, meskipun bukan mama pelaku utamanya, aku dan anak-anak juga korban dari Anthony, mama masih belum bisa maafin dia yang udah buat Rafka meninggal, mama masih belum maafin dia pa hikks hikss"
"Sudahlah ma, ini sudah jalan takdir kita yang salah akan tetap meraih akibat dari kesalahannya cepat atau lambat"
"Mama nggak pernah tenang kalau dia belum kena karmanya pa"
"Dia udah dapat karmanya dari Sean ma, biar waktu yang akan menjawab semuanya, ma apa masih ingat dengan tuan Alfonso saat kita berkunjung ke Denhaag 4 tahun lalu?"
"Maksud papa suami Arwina Suryono?"
"Ya, bukannya dia salah satu sahabatmu saat sekolah dulu?"
"Satu minggu lalu dia menghubungi mama kami sudah membuat janji bertemu saat dia sampai di sini nanti"
"Maksud mama dia akan pulang ke Indonesia?"
"Iya, penerbangannya 2 hari lagi, emang kenapa sih pa?"
"Mama bisa tolongin papa?"
"Maksudnya?" nyonya Hanna heran melihat wajah aneh sang suami.
"Sebenernya......" terlihat Tuan Anderson menghela nafas berat.
"Apa sih pa, jangan bikin penasaran!"
"4 tahun lalu saat kita datang ke pesta ulang tahun istri tuan Frederick, papa nggak sengaja melihat salah satu tamu yang mirip banget sama almarhumah Amina beberapa detik sebelum pelayan datang bawain papa air putih waktu itu. pas papa menoleh kembali orang itu sudah tidak ada, lalu sewaktu Johan bertemu dengan teman bisnis papa di Amsterdam 2 tahun lalu nggak sengaja liat orang yang sama mirip dengan Almarhumah. awalnya papa curiga kalau Amina nggak mati tapi setelah perusahaan baru Amd group membantu untuk memulihkan kondisi perusahaan, papa jadi semakin yakin kalau orang itu bisa jadi saudari kembar Amina yang nyatakan meninggal."
"Ahh papa jangan ngaco deh..mana ada orang meninggal bisa hidup lagi."
"Ck, sampai sekarang nggak ada kan jasad Amira di temukan?"
"Hmm iya juga sih, trus mama harus bantuin apa emang?"
"Mama minta tolong sama Arwina buat nyari orang itu, mama masih punya kan foto lama Amina?"
"Oh gitu, ya udah deh mama telepon dulu siapa tahu dugaan papa benar. trus gimana dengan pak Santoso apa pak Denias sudah bertemu dengannya?"
"Hufft, sampai sekarang kami masih menuggu kabar dari asistennya ma, papa juga nggak tahu apa alasan pak Denias maksa banget mau ketemu pak Santoso"
"Tapi kondisi perusahaan sudah stabil kan pa?"
"Alhamdulillah sudah stabil karna suntikan dana dari Amd group meski baru separuh dari yang mereka janjikan, dan berita baiknya investor yang sebelumnya memutus kerjasama sepihak sekarang sudah kembali menjalin kerjasama."
"Alhamdulillah, gimana kondisi besan kita ya pa?"
"Dia shock berat ma, papa nggak tega, dia begitu tertekan dengan penyesalan dan rasa bersalahnya pada Kinara dan Keisya."
"Kita semua saling terkait dengan satu orang yang sama, mama nggak ngerti apa yang ada di pikiran Anthony."
"Sudahlah ma, biarkan waktu yang menjawab semuanya, kita pasrah pada yang maha hidup bukan berarti kita menyerah. papa yakin akan ada saatnya Anthony menebus semua kesalahan yang ia perbuat pada kita."
drrtt drrrt drrrt
"Pa telfon tuh dari Sean" ucap mama menatap layar ponsel suaminya yang berdering.
"Assalamualaikum ada apa Sean nelpon jam segini?"
"Waalaikumsalam pa, ini aku dapat laporan dari tim bayangan"
"Laporan apa selarut ini?"
"Ini soal korban kecelakaan tabrak lari anak sma 15 tahun lalu tepat di saat Keisya diculik"
"Maksud kamu gimana Sean?"
"15 tahun lalu ada korban tabrak lari seorang anak sma oleh mobil dengan plat yang sama dengan yang di pakai oleh Anthony saat melarikan diri membawa Keisya. kasusnya memang sudah lama di tutup tapi salah satu tim kita berhasil mendapatkan kasus itu."
"Maksud kamu saat Anthony melarikan diri dia menabrak seorang anak sma saat itu?"
"Yap bener pa, kita harus berterima kasih sama Beno yang berhasil membuka kembali kasus ini."
"Anak itu?"
"Papa pasti nggak nyangka kan?"
"Panggil anak itu menemui ku di kantor besok, dia hutang penjelasan padaku"
"Sip bos selamat malam menjelang subuh Assalamualikum"
"Waalaikumsalam nih anak" tuan Anderson memutus sambungan kemudian menoleh pada sang istri yang sudah terlelap.
****
"Pagi ini Kinara bangun dengan rasa malas yang mendera setelah kemarin ia mendapati kenyataan pahit yang selama ini di sembunyikan oleh orang tua, kakak serta pamannya sendiri.
Seolah tak percaya kenapa keluarganya sendiri tega membohonginya selama ini. selama bertahun-tahun ia selalu nyekar di makam sang adik kembarnya, nyatanya orang yang selalu ia kunjungi makamnya ternyata masih hidup. betapa kecewanya ia mendapati hal itu.
Bahkan ia tak berniat sedikitpun untuk melihat apalagi mengetahui adik kembarnya, baginya saat ini mereka semua sama - sama telah berhasil membohonginya.
Mengingat tragedi saat di teras rumah paman Denias kemarin membuatnya semakin merasa benci, tapi entah kebencian itu harus ia arahkan pada siapa. Bahkan ia sendiri tak tahu bagaimana menghadapi mereka semua.
Matanya menerawang langit-langit kamar tanpa berniat melihat sosok yang tidur tepat di sampingnya. saat matanya tengah menelisik tiap sudut kamar tanpa ia sadari pria di sampingnya memandangnya tanpa berkedip.
"Ra" panggil Azka dengan suara seraknya
"Hem" jawabnya tanpa menoleh sedikitpun
"Ra"
"Hem"
"Ra"
"APA?" ucapnya sarkas dengan mata mendelik tajam membuat Azka tersentak kaget dan berjingkat dari tempatnya berbaring.
"Pergi lo" Teriak Kinara seraya mendorong tubuh Azka hingga jatuh ke lantai.
"Auuh.." Azka meringis memegang pantatnya terantuk lantai.
Brak (pintu terbuka)
Lutfiah masuk begitu saja setelah mendengar Kinara berteriak sangat keras. Sejak pukul setengah empat dini hari ia memang sudah terbangun dan saat hendak melaksanakan sholat subuh mendengar teriakan Kinara ia langsung berlari menuju ke sumber suara.
Niat hati ingin tertawa melihat pemandangan tak biasa, justru ia mendapat pelototan dari Azka.
"Nih calon adik ipar lo kak, belom juga gue apa-apain udah kdrt aja. hadeuuh tulang ekor gue patah, tolongin dong kak jangan bengong aja" oceh Azka pada Lutfiah yang masih berdiri memegang handle pintu.
"Bwaahhaaaaahahaahhaaaa" Lutfiah tertawa terbahak-bahak pada akhirnya. sang tersangka rupanya sudah kabur masuk ke dalam kamar mandi.
"Issh tega lo kak" gerutu Azka
"Ini ada apaan sih masih subuh tereak-tereak" seloroh papa di ikuti mama yang juga ikut nongol di belakang Lutfiah.
"Bwahahahaahahaaahahah" papa tertawa melihat Azka meringis kesakitan terkapar di lantai.
"Kamu ngapain selonjoran di lantai, emang ini kasur nggak cukup buat kalian tidur?" celoteh mama di sela tawa nya.
"Ck, nggak mau nolongin malah ngetawain, tuh mantu mama kesurupan hantu jeruk keprok gara-gara pulang malem, gue jadi korban" Azka mendumel sembari mencoba untuk berdiri.
Lutfiah, papa dan mama memilih keluar dari kamar Azka dengan tawa yang masih terdengar.
Kinara yang masih berada di kamar mandi tak berani untuk keluar, ia sadar telah melakukan kesalahan pada Azka karna sikapnya yang tiba-tiba tidak terkontrol.
"Maaf" ucap Kinara setealh keluar dari kamar mandi.
"Hem" jawab Azka acuh meninggalkan Kinara yang masih terdiam.
Kinara mendengus pelan mendapati sikap Azka yang cuek, toh ia sudah meminta maaf ya sudahlah.
****
" Ini semua file yang tuan minta, semua hak kepemilikan saham dan perusahaan sudah saya pindah tangankan. dan ini hasil tes DNA anda dan satu lagi tuan......" ucap sang asisten menjeda ucapannya.
"Apa Gun, katakan!"
" 2 hari lalu di temukan mayat seorang wanita di pinggir sungai tak jauh dari desa itu, ciri-cirinya putih, tinggi, dan cantik, serta memiliki tanda lahir hitam di belakang lehernya."
"Apa? itukan persis seperti ciri yang di miliki istri tuan Bagas, apa kalian sudah melihat ke lokasi tkp?"
"Saya sudah menugaskan dua orang kita untuk menelusuri jejak mayat tersebut pagi tadi."
"Dari mana kau mendapatkan info ini?"
"Dari salah satu warga di desa itu yang bekerjasama dengan kita"
"Kau merekrut orang tanpa persetujuanku?"
"Hm begini ceritanya tuan, saya punya alasan kenapa saya merekrut orang di desa itu"
"Jelaskan!"
"Dia seorang petani yang baru membuka lahan di dalam hutan, terkadang ia harus meningap di dalam gubuk yang sudah ia bangun disana selama beberapa minggu. jika persediaan makanannya habis baru ia akan turun ke desa. pada saat perjalanan turun ia tak sengaja melihat segerombolan orang memasuki daerah terlarang di dalam hutan, ia sempat menegur salah satu dari mereka yang berjalan paling belakang dan berpapasan dengannya, namun mereka tak menghiraukan justru mengancam petani itu agar tak ikut campur jika ingin hidup.
"Saat tuan menugaskan saya untuk menelusuri daerah itu, saya tak sengaja bertemu dengannya di warung kopi pasar saat ia baru saja tiba dari hutan. ia bercerita pada salah satu temannya jika bertemu dengan segerombolan orang memasuki daerah terlarang di dalam hutan. saat ia pergi dari warung aku mengikutinya hingga pulang ke rumah, dan disanalah akhirnya aku menjalin kerjasama dengannya."
"Apa kau yakin dia tak membocorkan identitas kita?"
"Sampai hari ini aku belum membuka identitas kita tuan, karna aku selalu menyamar"
"Apa kau sudah menyelidiki orang itu sebelumnya?"
"Dia anak juru kunci hutan terlarang itu tuan"
"Hem baiklah, kau atur waktu, aku akan menemuinya"
"Baik tuan"
"Laporkan segera padaku jika kalian sudah mendapatkan identitas mayat itu."
"Baik tuan"
"Silakan lanjutkan tugasmu"
"Siap tuan saya permisi"
Revan duduk termenung di kursi kebesarannya. ada sesuatu yang menyesakkan dadanya saat melihat amplop putih bertuliskan nama rumah sakit tempat ia melakukan tes DNA. semua rasa bercampur jadi satu saat jarinya perlahan membuka amplop tersebut.
"Bismillah" ucapnya dengan nada bergetar
Duaar
Dunia bagai runtuh dalam sekejap mata, rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya kali ini terasa seperti di hantam ribuan bom atom saat matanya membaca hasil uji tes DNA,
"99,99% Positive"
Revan tak sanggup lagi berucap, hanya ada air mata yang menyesakkan dadanya. ia menangis tersedu mendapati kenyataan itu.
"Kenapa aku telahir dari darah pria bejat itu, Ya Allah kenapa ini harus terjadi padaku?"
"Haruskah aku membenci ayah biologis ku sendiri ya Allah?"
Tanpa ia sadari ada sesosok yang mendengar tangisnya di depan pintu, pria itu menatap iba pada atasannya yang sudah ia anggap seperti kakak sedarah nya.
"Kasihan anda tuan, semoga semua masalah yang tuan hadapi cepat berakhir, dan ibu kandung tuan bisa kita temukan secepatnya, aku pun memiliki dendam yang sama pada pria brengsek itu, sampai titik darah penghabisan aku akan tetap ada di sampingmu tuan"
To be continue
Author ucapin selamat tahun baru masehi 2022. tak lupa author ucapin triliunan terima kasih pada sahabat pembaca yang sudah setia menemani hari-hariku dan menjadi penyemangat ku dalam menulis. dan aku ucapin Triliunan maaf jika ceritanya tidak nyambung dan banyak typo. aku baru belajar menulis.
dan untuk pembaca setia Kinara-Azka ku doakan semua impian kalian yang belum terwujud di tahun ini bisa terwujud di tahun2022.
salam sayang dari ku yang kurang minum dan tukang tidur.🥰🥰🥰
Selamat tahun baru 2022 🙏🙏