KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
155 Om Melamar ku?



Pagi tadi tuan Wibowo sudah bertemu dengan dokter Djafri untuk mengetahui hasil CT-scan Keisya yang sudah di lakukan kemarin.


Dan siang ini Keisya sudah di dipindahkan ke ruang perawatan khusus VVIP mengingat kondisinya memang masih belum pulih total.


Arini juga sudah di pindahkan keruang perawatan tepat di sebelah kamar rawat Keisya. sedangkan sopir mereka rencananya hari ini juga akan melakukan CT-scan mengingat saat kecelakaan kedua kakinya sempat terjepit. beruntung bagian tubuh lainnya tidak mengalami luka parah. bahkan sang sopir sudah bisa di ajak berbicara.


hanya Arini yang sampai saat ini masih belum bisa di ajak berbicara, anak itu hanya diam saja dan memandang kedua orangtuanya bergantian. bahkan Kinara yang sejak awal datang saat ia baru sadar pun masih belum berani mengajaknya berbicaralah banyak saat sedang berada di ruang perawatan Arini. gadis itu trauma dan sesekali menangis tanpa sebab. Bulik Sri hanya memandang prihatin sembari mengusap bahu anak gadisnya.


Reno yang sejak awal sudah mencuri dengar percakapan ibunya dan tuan Wibowo beberapa waktu lalu, sengaja menjaga jarak pada Keisya ataupun Kinara dan Azka. ia hanya tidak ingin jika harus berurusan dengan yang namanya perjodohan. setiap kali Azka atau Hanan mengajaknya kerumah sakit ia selalu menolak dengan alasan ada tugas dari dosen atau ada jadwal latihan untuk turnamen basket yang akan berlangsung sebulan lagi, atau sedang di luar ada urusan dengan teman sekelasnya.


Reno tak menampik jika Keisya memang cantik parasnya, tak jauh beda dengan sang kakak yang cantik alami, tapi entah kenapa justru Reno merasa tak suka dengan niatan orang tua untuk menjodohkan nya. Reno hanya tak suka karena memang ia tak menyimpan rasa apapun pada Keisya. ia juga tahu betul apa yang sudah terjadi pada Keisya selama ini, jujur saja ia sebenarnya juga merasa iba pada Keisya yang hidup dalam kurungan seperti burung dalam sangkar. tak pernah bebas apalagi melihat alam bebas.


Bahkan setelah ia mendengar cerita dari Azka tentang Keisya yang pernah meminta Azka pada Kinara membuat sisi jahilnya mencemooh Keisya yang begitu dungu baginya. "Masih ada cewek sedungu itu jaman sekarang" batinnya kala itu saat mendengar Azka menceritakan tentang permasalahan nya dengan adik iparnya itu.


Reno mendesah kesal karena sejak pagi tadi ia hanya bolak balik di kamar rumah yang ia tempati terpisah dari kos-kosan yang lain. rumah minimalis yang berada lima meter dari bangunan lantai dua yang saling berhadapan itu hanya di huni olehnya dan empat orang pekerja yang bertugas merawat dan menjaga kos-kosan nya. dua orang satpam dan dua orang lagi yang bertugas mengecek kondisi kos-kosan jika ada penghuninya yang mendapatkan masalah dengan kamar kos yang di tempati nya. selain itu mereka juga bertugas menyeleksi calon penghuni baru yang akan menyewa.


Reno memang sengaja mematikan ponselnya sejak semalam karena ia sempat mencuri dengar dari ibunya semalam saat ia datang berkunjung kerumah. kalau tuan Wibowo akan meminta untuk bertemu dengannya membahas rencana mereka untuk menjodohkan nya dengan Keisya.


Reno jengah dan juga malas bahkan moodnya sudah berubah sejak beberapa hari lalu. seandainya ia bisa banyak bicara di depan ibunya ingin sekali ia mengatakan "aku menolak perjodohan ini Bu". tapi ia tetap tidak bisa. mengingat bagaimana perjuangan ibunya sejak kecil merawatnya seorang diri dan setelah ayahnya meninggal ibunya tetap berusaha susah payah hanya untuk sesuap nasi hingga setelah menikah kembali ibunya harus kehilangan sosok pendamping untuk kedua kalinya. ia tahu dan sangat tahu ibunya kesepian dan butuh sandaran. pernah ada keinginan untuk mencarikan ibunya suami lagi tapi sang ibu menolak mentah-mentah karena berat dengan kedua anak kembarnya Arkan dan Dimas yang saat itu masih kecil.


"Bos ada tamu nyariin tuh di depan pos" ucap bang Randi yang membuka pintu kamar nya sedikit dan hanya memperlihatkan kepalanya yang sedikit menyembul kedalam.


"Siapa bang, kalau orang mau nyari kos urusannya sama si Somat" kata Reno dengan malas. kepalanya masih ia telungkup kan pada bantal dengan posisi tengkurap.


"Orangnya pake jas bos, gagah berwibawa kayaknya pimpinan bos di perusahaan itu deh" kata bang Randi lagi. Reno terhenyak sesaat lalu menegakkan tubuhnya menghadap bang Randi yang kepalanya hanya menyembul sedikit saja.


"Orangnya tinggi besar? putih? hidungnya mancung, mirip orang blasteran timur tengah?" tanya Reno beruntun.


"Iya semua bos" jawab bang Randi singkat karena ia memang sangat teliti dengan para tamu penghuni kos-kosan bahkan seujung kuku pun ia hafal meski hanya dalam satu kedipan mata memandang.


Gubrak


Reno membanting gitar lawasnya di kasur dan sedikit menyenggol sisi dinding hingga berbunyi Ting Ting. bang Randi langsung menutup pintu seketika. ia tahu dan sudah di pastikan dugaannya benar.


"Bang ajak orangnya masuk kerumah, gue mau mandi" teriaknya dari dalam kamar mandi.


Bang Randi bergumam " bener kan tebakanku udah pasti kalau orang penting kebirit-birit". lalu meneruskan langkahnya ke arah pos satpam.


Tak butuh waktu lama bang Randi sudah menggiring tamunya ke dalam rumah minimalis itu dan mempersilakan duduk. saat ada Somat melintas ia langsung meminta untuk di buatkan minuman untuk tamu sang bos. Somat yang baru saja mengecek kamar kos no 20 karena mengeluh lampu kamarnya sedu sedan kayak lagi konser organ tunggal di diskotik.


"Silakan duduk pak, saya buatkan minum dulu" ucap Somat ramah.


"Air mineral saja ya jangan yang aneh-aneh, saya bukan orang lain kok saya juga orang tua Reno, ibunya dulu asisten pribadi almarhum istri saya." ucap pria itu yang tidak lain adalah tuan Wibowo.


Tak berselang lama Reno datang menghampiri tuan Wibowo, mencium santun punggung tangan orang yang sangat berjasa pada dirinya dan ibunya dulu hingga kini. Somat sudah berlaku ke dapur sedangkan bang Randi sudah kembali pada tugas pokoknya menjaga pintu perbatasan antar kos-kosan dan jalan besar yang ramai hiruk pikuk suara kendaraan saling sahut menyahut sapaan satu sama lain.


"Si Emon mana bang?" tanya Reno saat Somat menyuguhkan sebotol air mineral dan gelas serta secangkir teh tanpa rasa alias tanpa tambahan pemanis untuk Reno.


"Lagi nyari tukang ledeng mas, ada kamar yang rusak wastafelnya, air di kamarnya juga tersumbat kayaknya karena nggak bisa ngalir" jawab Somat sopan


"Ya udah nanti sore saya cek kesana,kamar nomor berapa?"


"Nomor 17 mas bos, kalau gitu saya permisi mau beli lampu bohlam untuk kamar nomor 20"


"Iya silakan, sekalian cek penghuni nya yang pulang malam siapa soalnya ini hari Rabu ibu mau datang bawa makanan"


"Siap bos"


"Ibu kamu masih konsisten yan nganterin makanan tiga kali seminggu untuk penghuni kost" ucap tuan Wibowo saat Somat sudah berlalu.


"Ibu memang begitu tuan, saya sudah pernah meminta untuk berhenti saja daripada capek tapi ibu selalu menolak dengan alasan mumpung ibu masih hidup, kita juga pernah susah dulu sebelum ketemu dengan almarhum nyonya besar," kata Reno menirukan ucapan ibunya.


"ya...ya... saya tahu itu makanya almarhum sangat berterima kasih dengan ibumu bahkan diantara asistennya yang lain hanya ibumu yang punya tempat spesial di hati istri saya nak Reno"


"Oh ya tumben tuan datang ke kos-kosan saya, ada hal apa gerangan?" tanya Reno sedikit kikuk


tuan Wibowo mendesah pelan lalu menatap Reno dengan tatapan tegas dan penuh permohonan.


"Apa nak Reno punya pacar?" tanya tuan Wibowo pelan


Reno menggeleng dengan tatapan serius dan apa yang sudah tertanam di pikiran nya bisa ia pastikan kebenarannya sesaat lagi.


"Syukurlah " ucap tuan Wibowo lega


"Ada apa ya om?" tanyanya pura-pura meski tahu tujuan tuan Wibowo repot-repot datang ke kosan


"Begini nak, saya dan ibumu sudah sepakat ingin menjodohkanmu dengan anak saya Keisya" ucap tuan Wibowo


"Apa?" Reno memasang wajah terkejut.


"Maaf nak kalau ini membuatmu terkejut, sebenarnya sejak dulu saya sudah ada rencana menjodohkan anak saya Kinara dengan mu tapi masih sebatas angan saja karena saat itu kalian masih SD. dan sewaktu almarhum meninggal saya juga sempat akan menjodohkan Kinara dengan teman kolega saya tapi batal setelah pengacara istri saya tuan Darwis membacakan surat wasiat almarhum saat Kinara berumur tujuh belas tahun dan sekarang setelah Keisya kembali saya ingin menunaikan wasiat terakhir almarhum untuk mencarikan jodoh Keisya dan satu-satunya yang memenuhi kriteria yang almarhum inginkan ada padamu, dan ibumu sudah tahu sejak dulu, almarhum sangat menyukai kepribadian mu" ucap tuan Wibowo panjang lebar.


"Jadi om melamar saya ceritanya ini?" tanya Reno tanpa tedeng aling-aling bahkan panggilan tuan yang ia sematkan hilang dalam sekejap.