
Di sudut ruangan Keisya nampak termenung, banyak hal yang membuatnya merasa perlu untuk meluruskan suatu hal meski itu tak lagi mungkin ia lakukan.
Ia teringat ucapan dokter Fritz semalam saat datang mengunjunginya secara khusus di rumah.
"Untuk apa lagi kamu usik masa lalu kei? Sudahlah, apa kamu nggak kasihan dengan Hanan? Hanan itu tulus sama kamu, nggak perlu lagi kamu ingat Reno. dia sudah bahagia dengan hidupnya tanpa kamu" ucap dokter Fritz
"Tapi masih ada hal yang belum terselesaikan kak, aku hanya mau bertemu dengan nya dan ingin mendengar permintaan maaf dari nya" mata Keisya kekeh dengan keinginannya
"Buat apa? Reno aja menolak bertemu kamu, udahlah kei, apa kamu nggak kasihan sama suami dan anak-anak mu? Apa kamu nggak mikir dengan kamu seperti ini mereka nggak merasa sedih? Sudahlah masa lalu sudah berlalu, nggak perlu lagi kamu paksa untuk kembali, udah nggak bisa" ucap dokter Fritz
"Apa salah dok?"
"Salah, untuk apa lagi kei, Reno sudah minta maaf sama om Wibowo sepuluh tahun lalu, Reno sendiri yang datang menemuinya di desa waktu itu tanpa sepengetahuan kamu, Reno sendiri yang datang kerumah tanpa suruhan siapapun termasuk ibu nya" ucap dokter Fritz membuat Keisya menggeleng tak percaya.
"Kakak bohong, kalau memang mas Reno datang kerumah ayah di kampung kenapa aku justru nggak tahu?" tanya Keisya tak percaya
"Kamu tanya aja sama ayah kamu kalau memang nggak percaya, om Wibowo sendiri yang cerita ke aku setelah kamu wisuda" jawab dokter Fritz
"Lalu kenapa aku nggak tahu kak?" tanya Keisya berteriak
"Karena Reno sendiri yang meminta untuk tidak bertemu dengan mu karena apa? Karena Reno nggak mau membebani kamu dengan sesuatu yang belum tentu bisa dia wujud kan ke kamu, Reno masih ingin mewujudkan cita-citanya, masih ingin mewujudkan mimpinya, dan dia nggak mau membebani kamu dengan semua itu, dia cuma ingin kamu bahagia dengan pilihan kamu tanpa harus membuat kamu terbebani dengan kesalahan yang sudah ia lakukan, kamu pikir mudah di usia baru sembilan belas tahun harus menjalani biduk rumah tangga tanpa memiliki kesiapan secara materi dan mental?" kata dokter Fritz membungkam Keisya
"Kakak bohong, bukan karena itu, tapi karena mas Reno mencintai mbak Kinara, cinta dalam diam meskipun mbak Kinara nyatanya sudah di nikahi mas Azka" teriak Keisya menolak kebenaran
"Kei, Reno sudah jelas-jelas nolak ketemu kamu, kenapa kamu masih ngotot? Dia sudah bahagia, Reno sudah bahagia dengan pilihannya, dia sudah punya keluarga sendiri, camkan itu" ucap dokter Fritz kesal
"Nggak" teriak Keisya memegang kepalanya dengan kepala menunduk
"Terserah, kalau kamu ngotot mau ketemu Reno silakan saja, tapi ingat suami dan anak-anak mu sebelum kamu menyesali semuanya" tantang dokter Fritz yang sudah kesal dengan sikap Keisya.
Dokter Fritz berlalu meninggalkan ruang kerja Keisya dan terkejut melihat Hanan berdiri di depan pintu dengan mimik sulit di terka.
Dokter Fritz menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Hanan seraya meminta maaf.
"Maaf mas, biarkan dia sendiri dulu" ucap dokter Fritz dan berlalu meninggalkan rumah Keisya dengan perasaan kesal.
Keisya tak tahu jika Hanan juga menangis di balik pintu, beruntung kedua anak mereka sudah tertidur. Ternyata enam tahun perjalanan rumah tangga nya tak seindah yang ia bayangkan selama ini.
Istri yang ia cintai setulus hati, ternyata masih terbebani dengan masa lalu yang belum usai. Sekeras itu kah? sekuat itu kah cinta mereka hingga membuat wanita yang sudah memberinya dua anak itu sulit untuk mencintai dirinya?
Hanan kembali masuk ke dalam kamar dan ingin memberikan waktu pada Keisya untuk merenungkan semuanya.
Hanan berhenti di kamar sang anak sulung yang tengah tertidur lelap dengan memeluk bantal guling.
"Maafkan ibu mu nak, jika suatu saat ada hal yang membuat kita berjarak, tetaplah berbakti padanya hingga akhir hayatnya, dia lah yang paling tersakiti dengan semua pengorbanan yang sudah ia lakukan untuk kita bertiga, terutama papa yang sudah menyakiti nya berkali-kali" batin Hanan menahan tangisnya karena tak ingin membuat anaknya terbangun.
Hanan pergi meninggalkan kamar sang anak setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh Faras.
Pukul tiga dini hari Hanan terbangun dan mendapati Keisya tertidur di atas sajadahnya. Ada nyeri dalam hatinya memandang wajah ayu sang istri yang lelap dalam tidurnya.
"Maafkan aku sayang, jika selama ini aku tak bisa membuat mu bahagia dengan menikahi ku, aku sudah memaksakan kehendak meski hatimu nyatanya menolak" batin Hanan
Keisya terbangun saat merasa ada yang mengusap kepalanya dengan pelan.
"Mas?" ucapnya parau.
"Kamu ketiduran, maaf mas bangunin, ini udah jam tiga, mau sholat tahajud sekalian atau tadi udah?" tanya Hanan tersenyum menatap sang istri
Keisya bangun dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menghadap Hanan.
"Aku udah sholat tadi mas, ketiduran maaf" ucap Keisya pelan.
"Ya udah tidur di atas gih, mas mau sholat dulu" ucap Hanan
"Iya" Keisya beringsut dan menuruti perintah Hanan.
Hanan memang sempurna sebagai seorang suami untuk nya, tak pernah ada cela. itu yang Keisya syukuri. tapi hingga kini perasaan nya pada laki-laki itu hanya terasa biasa saja meski sudah di karuniai dua orang anak.
****
"Ada orang yang ngirim undangan makan malam mas" ucap bang Rendi pagi itu
"Kapan di kirim?"
"Tadi pagi-pagi ada yang nganterin kesini, saya juga nggak kenal, katanya teman mas Reno"
"Oh ya udah makasih ya bang, oh ya siang nanti saya mau ke rumah sakit jemput ibu, nanti kalau ada temen saya datang kesini suruh langsung Kerumah ibu aja ya"
"Siap"
Reno masuk kembali ke dalam rumah dan melihat undangan makan malam di sebuah restoran ternama, tapi tanpa nama pengirimnya.
"Aneh banget, kenapa ada orang ngirim undangan nggak ada nama pengirimnya?" ucap batin Reno merasa aneh sekaligus waspada.
"Hem, gue harus ngajak Andin kalau gini, sama Dimas juga satu anak buah, buat jaga-jaga siapa tahu memang ada musuh di balik selimut" gumam Reno menatap ke luar jendela.
ingatannya kembali ke dua hari lalu saat dokter Fritz menghubungi nya dan meminta ia bertemu dengan Keisya.
"Apa ini Keisya? Ah nggak mungkin, gue udah bilang nggak mau ketemu dia, tapi bisa jadi sih dia pakai cara gini" ucap batin Hanan menerka.
Saking kesalnya terlalu banyak menerka tentang undangan yang ia terima, akhirnya Reno nekat menghubungi Azka dan meminta tolong satu orang pengawal dari kantor kak Revan dan Azka langsung menyanggupi.
"Semoga bukan apa-apa" batin Reno menghela nafas lega.