
Di sudut kota lain di sebuah desa terpencil, Bu Fitri dan kedua anaknya kini sudah sibuk dengan kehidupan mereka meski masih terbayang-bayang akan sosok Reno yang sudah mulai tidak ada kabarnya sejak terakhir kali memberi kabar pada Dimas.
Bu Fitri benar-benar tidak tahu apapun tentang anak sulungnya yang selalu ia rindukan setiap saat. rasa bersalah itu ia pendam sendiri, meski beberapa kali Dimas memberikan kabar tentang keadaan Keisya melalui istri Revan yang memberikan kabar hanya melalui pesan singkat saja.
Lutfiah masih berhubungan dengan Dimas tapi tidak dengan Reno. karena Lutfiah sudah berjanji tidak akan mengusik lagi kehidupan anak itu setelah ia berhasil memproses kepindahannya ke pulau Kalimantan. Lutfiah hanya berkomunikasi dengan Dimas sesekali tanpa sepengetahuan siapapun termasuk suaminya sendiri. bahkan Lutfiah membeli ponsel bekas jadul yang ia simpan di laci meja kerjanya di kampus. hanya jika ada pesan dari Dimas saja Lutfiah menggunakan ponsel nya.
Kondisi kos-kosan yang di amanahkan pada bang Somat adik sepupunya juga tidak ada kendala apapun bahkan nasib dua toko kuenya juga kini sudah bisa di kelola langsung oleh istri bang Somat. Bu Fitri memang selama ini menutup diri karena wasiat dari almarhum suami keduanya sebelum meninggal. tidak ada yang tahu seluk beluk keluarga Bu Fitri di desa selama ini karena semenjak bertemu almarhum nyonya Amina dan mengabdi sebagai asisten, Bu Fitri memang mengaku yatim piatu dan seorang janda karena ketakutannya sendiri hidup di kota dengan membawa Reno kecil saat itu.
Kini setelah bertahun-tahun merasakan pahit manisnya kehidupan di kota dan sudah sukses atas pertolongan almarhumah nyonya Amina dengan membuka kos-kosan dan toko roti, justru ia di hadapkan dengan masalah pelik seperti ini.
Kesalahannya memaksa sang anak menerima Keisya sebagai calon istri justru membuat hubungan mereka semakin menjauh. awalnya memang Bu Fitri hanya ingin membalas jasa dengan menerima permintaan tuan Wibowo tapi ia tidak menyangka jika sang anak sendiri yang justru membuat hubungan mereka semakin menjauh.
Bukan tak tahu jika anak dan menantu tuan Wibowo tengah mencarinya, Lutfiah sudah beberapa kali mengirimkan pesan jika Revan dan Azka mencari keberadaan mereka melalui Dimas. Bu Fitri tahu keluarga itu tak akan tinggal diam saja jika ada yang menyakiti anggota keluarga mereka terlebih Keisya yang selama ini justru hidupnya lebih sulit selama puluhan tahun.
mendengar tentang Keisya yang beberapa kali nekat bunuh diri, bu Fitri semakin merasa bersalah. seharusnya ia bisa pergi setelah meminta maaf dan memberikan penjelasan pada keluarga itu. seharusnya ia menebus kesalahan sang anak dengan merawat Keisya bukan malah membuatnya semakin terpuruk.
Bu Fitri hanya bisa mengikuti saja kemauan sang anak tanpa bisa mencegah. dengan alasan kesehatan sang anak tetap kekeh memintanya pergi kembali ke desa.
"Bu, makan dulu ya" ucap Dimas saat melihat ibunya duduk termenung di ranjang kecil menghadap televisi.
"Ibu nggak lapar nak, kamu sudah makan?"
"Sudah Bu, dari pagi ibu belum makan, ini sudah siang, makan dulu ya"
"Nggak nak, Arkan mana?"
"Pergi ke kebun tadi dari sekolah langsung ke rumah Bulik Sukaesih"
"Oh, gimana sekolah mu, nggak lama kalian ujian Nasional loh"
"Alhamdulillah sekolah lancar aja Bu, nggak ada kendala, bulan depan sudah simulasi kok"
"Oh ya semoga di lancarkan, ada kabar dari kakakmu?"
"Nggak kamu telpon?"
"Nomornya nggak aktif, Arzan selalu ngasih aku kabar kok, katanya mas Reno ikut papanya Arzan kerja di proyek ya Nyambi kuliah, kalau kelasnya siang, dia ikut ke proyek pagi, kalau kelas pagi dia ke proyek pas pulang kuliah, gitu terus sih, makanya nggak sempat pegang hape, hapenya aja selalu di simpan di rumah Bu, mamahnya Arzan yang selalu ngomel kalau mas Reno nggak bawa hape"
"Kapan-kapan bilangin Arzan ya kalau ibu kangen sama Tante Meri, udah lama ibu nggak ngobrol sih semenjak mereka pindah sana"
"Insha Allah Bu, oh ya maaf soal mbak Keisya, katanya mbak Vivi, mbak Keisya sekarang sudah pelan-pelan banyak perubahan semenjak tinggal sama nyonya Hanna mertuanya mba Kinara. dan mas Hanan anak kosan yang jadi bodyguardnya mbak Keisya sekarang Bu"
"Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu, tapi mereka masih nyari kita nggak?"
"Kata mbak Vivi sudah nggak, karena mbak Kinara dan mbak Vivi pernah marah besar ke mas Azka dan mas Revan karena ngotot nyari kita terutama mas Reno. dan tuan besar sekarang sudah tinggal kembali ke desa setelah sembuh"
"Alhamdulillah ini sudah dua bulan ya, semoga saja keluarga mereka selalu bahagia, ibu kangen Keisya, bilang sama Vivi ya Dim" ucap Bu Fitri sendu.
"Iya Bu Insha Allah, oh ya ibu sudah baca pesan bang Somat?"
"nggak ada tuh, kenapa?"
"Lah, ibu ini gimana, bang Somat kirim uang hasil toko sama kosan di rekening ibu, lihat sms banking nya Bu, daritadi bang Somat nelpon katanya ibu nggak angkat, trus nelpon aku tadi pulang sekolah"
"Masak sih, ya Allah ibu lupa dim, bentar ya"
Dimas memandang punggung ibunya yang sudah semakin kurus. setiap malam ia mendengar ibunya mengigau memanggil Reno dan Keisya dalam tidurnya. ia tahu aksi nekat kakak nya memang salah, seharusnya ia tegas sejak awal, tak karena ketakutannya sendiri yang membuat keadaan ibunya semakin seperti ini. sebenarnya ada keinginan Dimas untuk ke kota menemui Lutfiah, tapi itu tidak akan mungkin jika saat ini juga. ia masih tak tega meninggalkan ibunya sendiri di desa hanya dengan saudara kembarnya.
Meski ibunya masih sehat dan bugar tapi kondisi mental ibunya setelah kejadian itu yang membuatnya enggan untuk pergi ke kota. ia juga tidak bisa memaksakan keinginan pada Reno yang sudah banyak berkorban untuk mereka selama ini.
"Semoga saja kamu betah disana mas, cepet selesaikan kuliahnya dan kembali lagi kesini, ibu merindukan mu, kami merindukanmu mas" batin Dimas sedih.
Dimas berlalu ke belakang setelah menutup pintu depan rumah. Dimas akan mengawasi tukang yang sedang mengerjakan rumah baru yang di sedang di bangun di belakang bangunan rumah nenek.rumah peninggalan nenek yang mereka tempati memang tidak berubah bentuk aslinya. ibunya sengaja tidak ingin merubah apapun pada bangunan lama dan kuno dari rumah nenek yang ukurannya memang besar dan luas tetapi hanya terdapat satu kamar saja dan selebihnya ruangan luas yang hanya beralaskan lantai semen yang sudah berlubang di sana sini.
Hanya dapur saja yang terpisah, selebihnya ruang tamu dan ruang keluarga tergabung menjadi satu. rumah yang sedang mereka bangun di belakang memang tertutupi oleh rumah nenek karena di sisi kanan kiri terdapat banyak pohon-pohon besar dan rindang sehingga orang tidak akan menyadari jika di belakang rumah nenek ada satu bangunan besar dan mewah yang hanya terlihat jika masuk ke dalamnya dan dari luar hanya terlihat sebuah rumah berdinding batako saja.