
Kinara segera duduk di kursi yang berada di pojokan. ia memanggil pelayan dan memesan makanan tak lupa ia juga menulis pesanan Aldo.
Kinara mengedarkan pandangan dan matanya tertuju pada gadis yang di tabraknya tadi sudah berbalik dan menatapnya. kedua netra mereka bertemu ada sesuatu yang berbeda yang Kinara rasakan.
Gadis itu langsung menunduk dan memutar arah lalu pergi meninggalkan restoran. Ia membenarkan topi dan masker serta kacamata yang ia gunakan.
"Rena, apa dia tahu aku adiknya?" tanya Keisya saat mereka sudah berada di parkiran.
"Kurasa tidak nona" jawab Rena
"Tapi mata kami bertemu, aku yakin dia tahu kalau aku saudara kembarnya." sanggah Keisya
"Seperti tidak nona, karna tadi saya lihat nona Kinara sangat cuek"ucap Rena
"Benarkah, ah mungkin hanya perasaan ku saja" Keisya mengelus dada.
"Pak Asep ayok jalan," titah Rena
Mereka berlalu meninggalkan mall, sepanjang jalan Keisya berusaha menata detak jantungnya yang berdegup kencang sejak tadi. tepatnya saat kedua netra mereka bertemu.
"Apa ini yang namanya ikatan batin ya?" batin Keisya merasa gelisah.
"Nona baik-baik saja?" tanya Rena yang menyadari kegelisahan nona mudanya.
"Tidak apa Rena, aku baik-baik saja" Keisya berucap
"Baiklah"
**
"Ada apa ini, sepertinya jantungku bermasalah" Kinara merasa gelisah, sejak menatap bola mata milik gadis yang di tabraknya tadi.
Aldo yang menyadari sikap Kinara menautkan kedua alisnya.
"Kenapa lo?" tanya nya.
"Nggak papa" ucap Kinara pelan sembari mengaduk-aduk minuman.
"Lo nggak makan?" Aldo kembali bertanya.
"Makan kok" Kinara segera meraih piring yang berisi nasi goreng ikan asin pesanannya. sesekali ia menyeruput es teh untuk melancarkan pencernaannya.
Aldo hanya diam menghabiskan makanannya sembari sesekali melirik Kinara yang sepertinya gelisah.
"Lo mikirin apa sih Ra?" tanya Aldo saat sudah menyelesaikan makannya.
"Nggak ada"
"Ck, mau gue yang suapin?" tawar Aldo yang juga gerah melihat sikap Kinara sejak tadi yang hanya mengaduk makanan tanpa minat.
"Ishh pa'an sih!" Kinara berseru
"Ya elah dari tadi lo makan cuma sesendok doang. lo kenapa sih?" tanya Aldo penasaran
"Ck, udah gue bilang gue nggak papa Aldo" ucap Kinara ketus
"Yah, gitu aja marah, udah sini gue suapin jangan nolak, gerah gue liat lo daritadi duduk nggak tenang, lo nggak kasian tuh nasi sama ikan asin nya daritadi manggilin?"
"Hahaa pa'an sih lo" Kinara tertawa pelan mendengar ocehan Aldo.
"Beneran, tuh denger"
"kakak makan aku dong jangan di liatin mulu" ucap Aldo tertawa
"Hahaaha bisa aja lo..emang lo cenayang bisa tau mereka ngomong??" Kinara ikut tertawa.
"Aldo gitu loh.... buka mulut aaaaaa...." Aldo mengangkat satu sendok nasi goreng ke arah Kinara.
Kinara meraih sendok itu dengan tangannya dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. lalu menyerahkan sendok itu kembali pada Aldo.
"Gitu dong ahh dari tadi kek"! Aldo tersenyum lalu menyendokkan nasi dan memberikan pada Kinara
Mereka tertawa lepas di sela-sela Kinara makan, bahkan sesekali Aldo memberikan tisu pada Kinara untuk menghapus noda makanan di bibirnya.
"Gue bahagia bisa liat lo ketawa lepas seperti ini lagi Ra, semoga seterusnya dan selamanya lo bisa tertawa meskipun bukan sama gue" batin Aldo tersenyum penuh arti.
"Aargh kenapa gue baper lagi sih, ya Allah ampunilah hamba yang sudah menyakiti hati Ririn."batinnya lagi merasa bersalah.
Rupanya keberadaan mereka tak luput dari pandangan seseorang yang tanpa sengaja melintas dan melihat mereka. "Bullshit" batin orang tersebut.
**
"Ada apa Suf?" tanya pak Anderson saat keluar dari ruang rapat.
Yusuf memberikan ponsel tuan nya dan memberitahukan signal pelacak dari Aldo.
"Mereka di mall sekarang" ucap pak Anderson setelah melihat titik keberadaannya Aldo dan Kinara
"Maaf tuan, sebelumnya mereka berada di rumah bos besar tapi sepertinya mereka tidak bertemu dengan beliau dan mereka memutar arah ke mall" ucap Yusuf.
"Oh ya sudahlah biarkan mereka sesekali refreshing sebelum ujian seminggu lagi." ujar pak Anderson.
"Halo Rena, apa kalian sudah di rumah?" Revan yang baru saja keluar dari ruang rapat berbicara melalui telepon, Pak Anderson dan Yusuf juga heran melihat wajah panik Revan.
"........."
"Ahh syukurlah kalau mereka tidak bertemu, lain kali jika Keisya meminta keluar beritahu sebelumnya pada ku Oke"
"........"
"Ya baiklah" tut Revan memutuskan sambungan teleponnya. lalu melihat ke arah pak Anderson dan Yusuf yang juga sedang memandangnya penuh tanya.
"Apa mereka sempat bertemu?" tanya pak Anderson pada Revan
"Justru sudah" jawab Revan
"APA?" pak Anderson terkejut
"Selooow om..selooowww...." Revan berucap
"Mereka sempat bertemu di mall tadi, dan hanya Keisya saja yang menyadari jika ia bertemu dengan Kinara." ucap Revan lagi
"Maksud kamu apa Van?"
"Keisya keluar dengan penutup wajah alias masker, kacamata dan topi jadi Kinara tidak menyadari keberadaan Keisya saat mereka bertabrakan di restoran lantai atas" papar Revan
"Ahh legaa syukurlah kalau mereka tidak bertemu dulu" ucap Pak Anderson mengelus dada.
"Jadi bagaimana dengan pihak Amd Group?" tanya pak Anderson
"Clear, Pak Santoso sudah menyalurkan separuh dana nya pada kita, sisa nya menunggu keputusan dari pemilik sebenarnya" ucap Revan
"Sudah setuju, sekretaris nya yang akan memberikan info tempat dan tanggalnya".
"Lalu besan ku ngapain masih di ruang rapat?" tanya pak Anderson disertai tawa renyahnya.
"Lagi video call sama Mr.Vallas temannya di Singapura" jawab Revan.
"Jujur sih aku penasaran sama Mr. Edward kok mau-maunya dia bantuin kita" ucap Revan
"Itu juga yang jadi tanda tanya selama 2 hari ini, apa ini ada hubungannya dengan saudara kembar ibu mu yang hilang Van?" pak Anderson berucap
"Ahh mana mungkin sih om, tante Amira kan udah meninggal sejak remaja". sanggah Revan
"Tapi sampai hari ini belum di temukan jasadnya kan?" pak Anderson berujar.
"Om jangan ngaco deh" Revan berdalih
"Bisa jadi wanita yang ku lihat di Den Haag 4 tahun lalu itu Amira!"batin Pak Anderson
**
"Jadi benar dia saudara kembar ku bik?" tanya Keisya pada bik Asih sore itu
"Iya non.. dia non Kinara istrinya den Azka" Jawab bik Asih.
"Apa aku boleh menemui nya?" tanya Keisya lagi
"Tergantung tuan Denias kalau mengizinkan" sahut Rena yang sibuk memotong sayuran.
"Kenapa sih harus izin segala kan dia saudara aku sendiri bik?"
"Kalau sampai ada apa-apa sama non Keisya tanpa izin dari tuan, sudah pasti bibik, Rena, dan semua pegawai kena marah tuan, masih mending kalau cuma gaji kami di potong, kalau kami di pecat trus gimana sama keluarga kami di kampung non?" ucap Rena panjang lebar membuat Keisya seketika diam.
Keisya melangkah pergi meninggalkan dapur tanpa merespon ucapan Rena. tak dapat dipungkiri ia bahagia bisa bertemu dengan saudara kembarnya namun kenapa seolah ada sekat yang menghalangi mereka untuk bertemu.
"Ah entahlah" batin Keisya sedih.
Bik Asih menyenggol lengan Rena. "Kenapa harus ngomong gitu sih Ren?" tanya bik Asih
"Abisnya banyak nanya mulu, tinggal nurut aja apa susahnya sih bik?"
"Ya tapi nggak ngomong gitu juga kali Ren!"
"Non Keisya itu harus di jelasin pakai logika baru bisa ngerti bik, biar dia bisa mikir nggak akan berbuat nekat. aku aja takut setengah mati waktu di mall gara-gara ulahnya yang selalu ngilang kesana kemari." ucap Rena panjang lebar
"Ya maklum lah selama ini dia hidupnya cukup tertekan jadi wajar kalau liat dunia luar seneng nya bukan main." bik Asih berujar
"Tetap aja kita khawatir bik, kalau Rena nggak kasi signal pelacak sama bos Revan bisa-bisa kita semua kena amuk bos besar kalau sampe non Keisya kenapa-napa".
"Hemm yang sabar ya!" ujar bik asih menghela nafas.
"Sabar nggak ada batasnya tapi kemampuan manusia ada batasnya bik"
"Kamu marah?"
"Sebel aja bik"
"Ya sudah cepetan di masak jangan marah-marah terus nanti nggak dapat jodoh"
"Doanya jelek amat sih bik?"
"Bibik liat akhir-akhir ini tuan dokter sering datang kemari ya bawain apa aja. padahal mah tuan besar jarang ada di rumah, biasa nanyain kamu juga sih." bik Asih berujar
"He?" Rena menoleh seketika
"Bener Ren, pak dokter itu sering nanyain kamu kalau datang kesini"
"Apaan, emang aku emaknya di tanyain mulu"
"Naksir kamu kali ya..." ucap bik Asih
"Iishh pa'an sih Yung" Rena merasa malu.
Sementara itu di belahan dunia lain tepatnya di negara Belanda, sepasang suami istri sedang terlibat percakapan yang sangat serius.
"Apa kamu yakin akan menemui kakak mu?" tanya sang suami
"Dear, aku udah yakin akan menemuinya tapi bukan dalam waktu dekat, aku akan menemui nya saat Anthony sudah mendekam di penjara."
"Anthony itu pria licik dengan segudang kelicikan nya, kalau saja saat itu papa tidak menceritakan permasalahan di perusahaan pada mu mungkin saat ini kita sudah gulung tikar."
"Aku hanya berusaha semampu ku dear" ucap sang istri merendah.
"Jadi kakak mu sudah meminta waktu untuk bertemu dengan pak Santoso?" tanya sang suami
"Yah, pak Santoso memang meminta pendapat ku untuk mengiyakan atau tidak, pasalnya ia juga takut jika tanpa sengaja membuka kebenaran siapa aku" ujar sang istri
"Aku akan mendukung apapun keputusan mu, karna selama ini kau sudah banyak mengabdikan dirimu pada keluargaku,mendidik dan mengayomi anak-anak kita tanpa memikirkan kebahagiaan mu sendiri, sudah saat nya kau raih kebahagiaan mu yang telah lama hilang. aku akan membantu mu menyeret Anthony untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya." ucap sang suami seraya memeluk tubuh istri tercinta nya.
"Terimakasih dear, aku mencintaimu sangat menyayangi mu"
"Cup"
"Cup"
"Cup"
"Helloooo I'm here" ucap anak laki-laki bernama Darren.
"Ckck abg kurang bahagia" ucap salah seorang anak perempuan berambut pirang bernama Steffy.
"Hahahaa kalian udah pulang?" tanya sang mama melepas pelukan suaminya.
"Jadi kapan kita liburan ke Indonesia mom?" tanya Darren
"Setelah kalian menyelesaikan ujian tingkat akhir" ucap Papa
"Ck lama dong" ucap Darren
"Bentar 6 bulan lagi kok" sanggah Steffy
"Lamaaaa" ucap Darren.
"Udah kalian siap-siap kita akan berkunjung kerumah opa, oma sangat merindukan kalian" ucap sang istri pada anak mereka.
"Terimakasih sudah hadir dalam hidup ku sayang" ucap sang suami mengecup kening istrinya begitu kedua anak mereka telah pergi.
"Sama-sama dear" keduanya tersenyum bahagia.