
Sesuai janjinya, tuan Keenan mulai ronda malam di temani salah satu aparat desa setempat. setelah mendengar ucapan Azka pagi tadi saat mereka berada di kebun teh, sore harinya ia mendatangi rumah kepala desa dan pemangku adat setempat menceritakan perihal yang dialami keponakannya.
Dengan senang hati kepala desa dan pemangku adat menyetujui keinginan tuan Keenan karena biar bagaimanapun rumah yang tuan Keenan tempati memanglah rumah tetua adat tempo dulu yang sudah meninggal. meskipun sudah mengalami renovasi besar-besaran tetap saja aura mistis yang ada di rumah itu tetap terasa.
"Memang sejak dulu desa ini di kenal angker dan tidak banyak orang yang berani masuk ke desa jika sudah menjelang malam, selain jalanan yang terjal, lebatnya pepohonan yang menjulang membuat aura tersendiri bagi mereka yang memang punya mata batin, terlebih jika orang tersebut taat beribadah" ujar kepala desa sore itu
"Saya akan mengecek dahulu ke rumah setelah Maghrib pak Keenan, sebagai salah satu anak tetua sebelumnya memang sudah seharusnya saya juga berbuat sesuatu agar desa ini aman, terlebih lagi jika ada warga yang mempunyai tamu penting dan menginap, saya sebenarnya sejak awal mereka tiba kemarin siang ada perasaan tidak enak dan di tuntut untuk segera datang kerumah pak Keenan"
"Terimakasih bapak-bapak kalau begitu bolehkah saya meminta salah satu aparat desa menemani saya Ronda mulai malam ini, sebenarnya keponakan saya itu sudah menikah sejak lama dan datang kesini selain untuk silaturahmi juga mau bulan madu lah cerita nya. tapi berhubung anak saya itu suka sekali keramaian maka di panggil lah semua sahabat keponakan saya"
"Sepertinya mereka masih SMA pak Keenan?" tanya tetua adat
"Baru lulus pak, keponakan saya itu menikah karena di jodohkan"
"Oh begitu, ya sudah nanti saya akan minta pak Rojali yang menemani pak Keenan untuk ronda karena satu-satunya aparat desa yang kuat begadang sampai pagi cuma dia seorang pak" ucap kepala desa
"Baik terimakasih bapak-bapak kalau begitu saya permisi dulu"
Setelah Maghrib kepala desa dan tetua adat datang ke rumah tuan Keenan ditemani Rojali. Fritz terkejut saat mendapati tetua adat datang ia langsung menebak jika ada sesuatu yang terjadi, bukan tidak mungkin jika papanya memanggil mereka datang ke rumah.
Setelah tetua adat dan kepala desa pamit pulang, ia mencecar papanya di dalam kamar. hanya jawaban "Jangan khawatir biar papa yang ronda sama Rojali malam ini, lagian mereka masih ada beberapa hari lagi disini kasihan kan kalau mereka kesini pulang membawa trauma" ucap tuan Keenan saat Fritz bertanya.
"Ah ini salah ku pa, seharusnya aku nggak ngajak mereka liburan kesini, kalau seperti itu, apa Azka yang bicara sama papa?"
"Iya, rupanya semalam teman-teman nya yang lain juga mengalami hal yang sama, hanya saja mereka tidak berani bicara karena menghormati mu dan papa"
"Kalau gitu aku percepat aja lah kepulangan mereka, besok lusa mereka harus pulang, aku yang bakal di cecar om Anderson kalau ada apa-apa sama mereka, aku takut kejadian seperti Safira terulang lagi pa"
"Ya sudah kalau itu memang lebih baik, papa setuju saja" tuan Keenan menjeda ucapannya sejenak
"Fritz, papa boleh bicara?" tanya nya perlahan
"Kok malah nanya sih, ngomong aja lah pa"
"Em papa mau pergi dari desa ini, papa sudah bicara dengan Tante mu Alana, papa akan kembali mengurus perusahaan yang kakek dan nenek mu wariskan padamu"
"Hah? beb...benarkah?"
"Sudah lama papa pikirkan, kebun teh, sawah dan semua properti dan tanah yang papa miliki, sudah papa serahkan ada adik laki-laki mu untuk mengurusnya, dia sudah setuju, untuk adik perempuan mu, dia tidak ingin tinggal di sini dia lebih memilih untuk tinggal di daerah lain dan membuka usaha disana, dia hanya ingin mandiri, jadi tidak ada alasan untuk papa melarangnya toh dia juga sudah bersuami"
"Ya sudah lah apapun itu aku hanya ikut saja pa, Besok lusa papa bisa nggak ikut ke rumah om Anderson?"
"Boleh, papa sudah puluhan tahun tidak bertemu dengannya, sejak kamu pergi dari kami"
"ck sudahlah pa, emang jalan ceritanya sudah di buat seperti itu sama penulisnya, nggak usah sedih"
***
"Eh om ada tamu rupanya" ucap Aldo yang baru selesai sholat isya
"Eh iya sini duduk, kita ngobrol, mana yang lain?
"Cecan lagi nangkring di kamar nonton Drakor om abis sholat isya jama'ah, kalau cogan masih pada wiridan tuh di kamar, aku keluar duluan karena hawanya panas di dalem kayak terbakar" ucap Aldo membuat Rojali menghentikan isapan rokok nya.
"Adek kenapa malah keluar?" tanya Rojali dengan ada sedikit keras membuat Aldo kaget, tuan Keenan yang menyadari hal tak mengenakkan menepuk pelan bahu Rojali.
"Ah maaf tuan saya keceplosan" ucap Rojali seketika.
"Em maaf om kalau saya salah, emang ada apa ya kok sepertinya serius sekali?"
"Ah nggak papa nak Aldo, besok lusa kalian sudah pulang ya, saya kebetulan sudah bicara sama papa nya Azka kalau akan ikut kalian pulang"
"Pulang? om bule belum ngomong tuh om, Karen rencana nya bakalan di sini selama satu Minggu"
"Di majukan sepertinya, karena saya lihat tadi pagi Fritz mondar mandir dapet telpon dari pihak rumah sakit" ujar tuan Keenan berdalih
"Iya sih tadi selesai sholat subuh om bule sibuk nelpon mulu, sebenarnya bagus sih kalau di percepat pulangnya hehehe"
"Emang kenapa?" tanya Rojali yang ikut faham kemana arah pembicaraan Aldo.
"Hehe engap bang, maaf ya bukan maksud menyinggung tapi emang bener sih dari awal aku datang rasanya engap, hawanya kayak nggak biasa"
"Oh wajarlah tapi nggak usah takut ya, ada kami disini yang bakalan jagain kalian, kalau mau tidur jangan lupa baca doa dulu supaya nggak di ganggu"
"hehe iya om"
"aaaaaaaaa" terdengar teriakan dari arah dapur
brak
kluntang
semua yang mendengar berlari menuju ke dapur dan mereka shock saat melihat Nana sudah pingsan tergeletak di samping rak piring dengan pisau masih dalam genggamannya.
"Astaghfirullah Nana" teriak Kinara menepuk-nepuk pipi Nana
"Tolong di angkat bawa ke ruang tengah" titah tuan Keenan. Reno mengangkat tubuh kurus Nana dan membawanya keruang tengah. lalu membaringkan di kasur.
"Ada apa ini pa?" tanya Fritz yang baru saja tiba
"Nana pingsan om" ucap Kinara
"Kok bisa sih?" Fritz kemudian memeriksa nadi Nana dan memberikan minyak kayu putih di sela lubang hidungnya. tak lama Nana terbangun namun langsung menjerit histeris
"Apa sih Na, disana mana, nggak ada orang kok" ucap Ririn lembut, Cici dan Riska sudah saling mengeratkan pelukan karena mereka juga takut melihat Nana seperti orang kesurupan.
"Disana Rin, orangnya disana gantung diri" ucap Nana dengan Isak tangis, semua yang mendengar merinding dan merasa ketakutan. Azka langsung meraih Kinara dalam pelukannya.
Rojali langsung pergi memangil pemangku adat dan kepala desa setelah mendapatkan kode dari tuan Keenan. sedangkan Fritz tampak frustasi karena teringat Safira yang juga pernah mengalami hal mistis seperti ini saat mereka baru menikah, bahkan lebih parahnya Safira sempat hampir bunuh diri karena trauma.
Tak lama kepala desa dan Pemangku adat datang dengan wajah tegang.
"Bagaiman ini pak?" tanya Fritz pada pemangku adat
"Sabar dulu pak dokter, boleh saya masuk ke kamar yang di ujung sana?" tanyanya pada tuan Keenan.
"Silakan pak, kamar itu juga tidak pernah di tempati selama ini dan selalu kosong sesuai amanat bapak dulu sebelum saya merenovasi nya."
"Baik terimakasih" setelahnya pemangku adat berlalu masuk ke dalam kamar yang di maksud.
Nana masih berteriak histeris ketakutan membuat semua yang ada di dalam rumah itu larut dalam ketakutan mereka sendiri.
"Semalem pas gue bangun buat sholat malam gue liat perempuan masuk ke kamar itu" ucap Reno lirih, Beno dan Fikar yang ada di samping kiri dan kanannya langsung menoleh horor.
"Kok sama?" ucapan Fikar telak membuat bulu kuduk Reno dan Beno merinding.
"Lo juga liat?" tanya Beno meyakinkan
"Suwer" jawab Fikar
"Gue malah denger orang nangis arahnya dari kamar itu" ucap Beno
"Kenapa jadi gini sih, niat liburan kita malah jadi sinema uka-uka" timpal Reno
"btw om Keenan apa nggak takut ya tinggal di sini sendiri lagi" sahut Beno
"Orangnya nggak pernah tidur disini, tapi di rumah satunya yang rumah kedua kita lewati pas masuk desa" jawab Reno
"Kok Lo tau?" tanya Fikar
"Orangnya sendiri tadi pagi ngomong pas kita ke kebun teh" jawab Reno
"Serem ih, mending kita pulang besok pagi deh, takut gue lama-lama disini"ujar Beno
"Iya nanti kita ngomong sama om bule mending di cepetin aja pulangnya," sahut Fikar
"Kemarin pas kita masuk ke rumah ini ngucap salam kan ya" ujar Reno
"Nggak ingat gue" sahut Beno
"Eh tapi yang gue denger cerita nya kalau nenek nya Nana itu orang pinter loh di kampungnya" Fikar berucap
"Masa sih? ternyata Lo luas jangkauan juga" timpal Beno
"Secara nenek sepupu gue tetanggaan sama orangtuanya Nana di kampungnya sana" jawab Fikar
"Oh ya?" Reno penasaran dengan cerita Fikar
"Iya beneran gue pernah kesana soalnya pas melayat pak Lik nya sepupu gue, disana gue ketemu orang tuanya Nana gue juga sempet liat neneknya juga sih dari jauh" cerita Fikar
"apa jangan-jangan Nana juga punya ilmu begituan ya dari neneknya, soalnya dari kemarin sejak kita dateng mukanya Nana pucat kayak mayat hidup gue liat" ucap Beno
"Lo sampe segitu perhatiannya Ben,haha" timpal Reno
"Gue beneran anjir, masa sih Lo nggak ngerasain ada yang aneh gitu?" sahut Beno
"Kalau Nana nggak kalau auranya ini rumah iya" ujar Reno
"Ck, eh tuh udah keluar orangnya, mukanya kok kusut gitu kayak orang abis di hajar sumo" bisik Beno. mereka bertiga akhirnya terdiam saat tetua adat datang menghampiri kerumunan yang mengelilingi Nana.
"Adek ini siapa namanya pak Keenan?" tanya sang tetua adat
"Nana pak" jawab Kinara setelah tuan Keenan memberikan kode padanya untuk menjawab.
"Apa dia dari sebuah desa yang jauh dari sini?"
"Iya pak, dia merantau kesini karena dapet beasiswa dari sekolah kami, anaknya pintar" jawab Kinara
"Apa ada yang tau siapa nama orang tuanya?"
"Maaf pak, saya kenal orang tuanya di desa sana" ucap Fikar
"Oh adek kenal? siapa namanya?"
"Biasa di panggil pak Agus juragan kambing, kalau ibunya Bu Rumini penjual kelontong di pasar" ucap Fikar.
"apa adek dekat dengan orang tuanya?"
"Tidak pak, saya hanya sekedar kenal saja karena satu desa dengan sepupu saya"
"Oh ya sudah terimakasih dek, biar dek Nana saya obati dulu"
pemangku adat lalu membaca mantra dan doa-doa yang hanya ia saja yang tau, tak lama setelah itu Nana kembali sadar dan kebingungan.
Kinara mengajak Nana masuk ke dalam kamar mereka, Ririn, Riska dan Cici juga menyusul karena masih ketakutan.