KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 48



"Kamu sudah mau kembali besok nan?" tanya Gus Rohid pada Hanan saat mereka tengah berjalan pulang kerumah dari kebun melihat tanaman dan memetik sedikit sayuran.


"Iya Abah, kemarin cuma izin cuti empat hari" jawab Hanan sembari membenahi letak kayu di punggungnya di bantu sang abah.


"Bapak sudah menduga kamu bakalan ngelakuin apa saja untuk membatalkan perjodohan dengan Ning Syifa, beruntung waktunya memang tepat, Abah pikir kamu hanya menjadikan Keisya pelarian, ternyata enggak toh" kata Gus Rohid tersenyum


"Ya mau bagaimana lagi bah, kepala sudah puyeng badan capek jalan seharian, baru sampai rumah udah denger acara kayak Siti Nurbaya, yang terlintas di pikiranku ya cuma non Keisya" balas Hanan berjalan di belakang sang ayah.


"Abah juga pernah muda nan, Abah tahu kamu pulang waktu itu hanya saja ibumu dan para tamu nggak ada yang menyadari, Abah yakin kamu nekat melamar nggak cuma main-main" tambah Gus Rohid membuat Hanan sedikit terhenyak tapi tetap bersikap biasa.


"Kalau memang jodoh suatu saat pasti Allah swt berikan jalan bah, doakan saja, aku juga sebenarnya belum siap untuk menikah, tapi ya daripada aku Nerima Ning Syifa ujungnya malah mas Safiq dan Ning Syifa sakit hati mending tolak aja sekalian" ujar Hanan tersenyum


"Abah bangga sama kamu, yang penting kamu jangan mengambil sikap gegabah, itu nggak baik, Abah cuma bisa bantu doa semoga saja suatu saat kalian berjodoh, toh kalaupun tidak Abah harap kamu bisa ikhlas" nasihat Gus Rohid


"Abah sama ibu dulu apa di jodohkan juga? kalau aku lihat ibu seperti tertekan selama ini" tanya Hanan spontan membuat Gus Rohid berhenti dan menoleh ke belakang melihat raut wajah sang anak lalu berhenti dan duduk di bawah pohon mangga.


"Kamu mau dengar cerita Abah?" tanya Gus Rohid pada sang anak yang masih berdiri dengan terbengong.


"Hem, maaf bah kalau Abah tersinggung" ucap Hanan merasa bersalah


"Nggak usah minta maaf, kamu nggak salah, sudah seharusnya Abah cerita pada kalian, selama ini dua kakakmu belum ada yang tahu cerita kami, baru kamu saja yang berani untuk bertanya" kata Gus Rohid memberi kode pada Hanan untuk duduk di sampingnya.


"Oh ya? aku mau dengar bah" balas Hanan dengan senang mengambil posisi duduk menyalami abahnya.


"Dulu, ibumu sudah di lamar oleh pak Sarni orang tua almarhum mbak iparmu Rurin, karena tugas akhirnya pak Sarni pindah ke kota lain dan bertahun-tahun tidak ada kabar, ketika mendapat tugas kembali ke kotanya tiba-tiba dia sudah membawa istri dan memiliki seorang bayi kecil perempuan namanya Rurin. saat itu ibumu tidak percaya dengan omongan orang-orang kalau pak Sarni sudah beristri dan punya anak......"


"Ibumu nekat pergi ke kabupaten dan menemui pak Sarni di kantornya, ibumu pingsan di sana setelah tahu jika omongan orang-orang itu benar, ibumu di rawat sampai sebulan hingga pada akhirnya orang tuanya menyerah dan menemui pak Sarni untuk menjadikan ibumu istri keduanya, tapi pak Sarni menolak mentah-mentah, istrinya juga tidak menerima karena itu sebuah aturan seorang abdi negara tidak boleh beristri dua."


"Pak Sarni akhirnya menemui Abah dan meminta Abah untuk menikahi ibumu, awalnya Abah menolak karena Abah berencana akan melamar anak pak RT tempat Abah mengajar ngaji, tapi pak Sarni memohon-mohon terus akhirnya mau tidak mau Abah menyanggupi meskipun Abah berat hati, saat. itu yang bisa Abah lakukan hanya bermunajat dan meminta restu dari Romo kamu"


"Dan benar saja setahun setelah kami menikah mas mu Hanif lahir, dan ibumu langsung menagih janji pada pak Sarni dan istrinya, mereka hanya diam saja menyetujui meskipun sebenarnya berat hati".


"Hingga suatu hari saat mas mu sudah lulus kuliah dan mendapatkan gelar cumlaude di Mesir, pak Sarni tiba-tiba datang melamar dan meminta pernikahan di percepat, Abah kaget begitu juga ibu mu, tapi kami akhirnya menanyakan pada mas mu dan ia menyetujui, enam bulan setelah menikah, Abah baru tahu kalau mbak mu Rurin menderita kanker rahim, kedua menyimpan rasa bersalah karena kematian laki-laki yang pernah akan melamarnya sebelum mas Hanif mu melamar Rurin, setelah Rurin meninggal Abah juga baru tahu kalau pria yang pernah akan melamar Rurin sebelumnya yang juga di usir oleh pak Sarni adalah cucu dari orang yang pernah membunuh orang tua pak Sarni. pak Sarni punya dendam pribadi pada keluarga mereka karena bertahun-tahun mereka masuk DPO kasus perampokan"


"Astaghfirullah, trus bagaimana dengan ibu saat itu?"


"Selama menikah ibumu tidak pernah mengeluhkan apapun sama Abah, mengurus kalian dengan baik meskipun beberapa kali ibumu terlibat cekcok yang Nyai umi saat kami sowan ke ndalem, tapi ibumu selalu mengalah, Abah tahu ibumu menderita karena tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri bahkan untuk meraih impiannya menjadi seorang guru ibumu tidak bisa karena keterbatasan ekonomi keluarganya, ibumu sudah banting tulang sejak kecil itulah sebabnya ibumu selalu ingin semua kemauannya di turuti karena ibumu tak ingin anaknya merasakan apa yang ia rasakan, tapi rasa putus asa dan kecewa ibumu telah membuat nya menjadi sosok yang egois pada kalian terutama mas Hanif dan almarhum mbak mu Rurin" cerita panjang lebar Gus Rohid.


"Ternyata ibu punya luka dimasa kecil yang bikin ibu selalu ngotot apapun keinginannya harus di turuti"kata Hanan kemudian


"Itulah sebabnya Abah tak pernah memarahi ibumu meski Abah sendiri tak pernah setuju, tapi melihat keberanian kamu lusa kemarin membuat ayah yakin kamu bisa mengambil langkah, Abah tak mau membawa penyesalan hingga mati nan, sudah cukup mas mu Hanif yang merasakan penyesalan hingga detik ini, mbak mu Khusnul juga menyesal tidak sedari awal mengatakan semuanya pada Abah dan mas Hanif karena saking takutnya pada ibumu jika marah" lanjut Gus Rohid


"Ya ya ya, Hanan sekarang mengerti arti marahnya ibu, lalu apa hubungannya Ning Syifa dengan ibu?"


"Nggak ada hubungan apa-apa, hanya dulu almarhumah ibunya Ning Syifa teman kecil ibu, lulus SD ibumu tidak lanjut sekolah hanya mondok saja di pesantren di kotanya, sedangkan ibunya Ning Syifa lanjut mondok di kota lain. mereka bertemu sekitar lima tahun lalu saat nenek Ning Syifa meninggal, di sanalah rencana ibumu menjodohkan kamu dengan Ning Syifa"


"Ternyata seperti itu, dan kebetulan aku sama Ning Syifa pernah satu almamater jadi dari sana rencana ibu menjodohkan aku iya kan bah?"


"Ya seperti itu, tapi apapun yang kamu tahu hari ini, tolong jangan ungkit di depan ibumu, jangan pernah menyinggung apapun di depan ibumu, biarkan ibumu menyadari kesalahannya seiring waktu, Abah cuma minta kamu serius kuliah, kalau sudah siap untuk menikah kamu bilang, biar urusan ibumu jadi urusan Abah saja" nasihat Gus Rohid.


"Iya Abah, ya udah ayok lanjut ini sudah mau sore, kasihan ibu nungguin"


"Hahaha ayo"


mereka berdua meninggalkan kebun luas itu dengan perbincangan yang menyenangkan. tak pernah ada yang tahu kisah apa yang akan terjadi di masa depan Hanan jika ia tetap memilih Keisya nantinya.