KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
150 Keisya Koma



Hanan bernafas lega, tapi otaknya terus berfikir siapa yang bersama dengan Arini, kenapa bisa Arini kenal dengan bodyguard yang ia tahu anak buah bosnya, lalu yang mereka sebut nona muda siapa?.


Pertanyaan itu timbul tenggelam dalam benak Hanan. hingga akhirnya Hanan memilih duduk di atas kursi tunggu depan pintu IGD. pria berseragam hitam tadi juga tengah duduk menunggu sembari menghubungi entah siapa.


Setengah jam kemudian rombongan Reno dan anak buah Revan yang lain datang. karena acara di aula masih belum usai tuan Wibowo dan yang lainnya masih tetap di aula hingga tamu pulang.


Azka dan Kinara datang bersama ibu Fitri yang tadi hendak pulang bersama kedua anak kembarnya akhirnya batal setelah mendengar kalau Keisya kecelakaan saat di perjalanan hendak ke hotel.


Hanan yang masih duduk sembari menatap layar ponselnya tidak menyadari kehadiran Kinara dan yang lainnya.


"Gimana Keisya bang?" tanya Kinara pada bodyguard yang duduk tak jauh dari Hanan. sontak Hanan menoleh saat mendengar suara Kinara.


Hanan mengerjap beberapa kali, memastikan yang ia lihat dan dengar tidaklah salah, jika Keisya disini, lalu nona muda di dalam yang bersama Arini siapa? darimana Arini mengenal keluarga bos tempatnya bekerja.?


Hanan menatap bingung pada orang-orang yang ada di depannya, ibu kos nya yang notabene ibu kandung Reno juga datang, lalu siapakah sebenarnya mereka ini. jika tuan besar Wibowo adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, lalu siapa lagi nona muda yang mereka sebut sejak tadi.?


"Hei, kenapa bengong?" Azka menepuk pundak Hanan yang masih belum menyadari jika ia sudah berdiri di sampingnya.


"E...eh mas Azka maaf tuan, saya lagi bingung soalnya yang di dalem juga tetangga depan rumah saya di kampung yang bareng nona muda kata nya"


"Oh jadi mas tetangganya Arini? sepupu istri saya?"tanya Azka terkejut.


"Em bukannya nona muda istri tuan, trus yang di dalem sama tetangga saya siapa?" tanya Hanan dengan raut wajah bingung


"Yang di dalem Keisya adik ipar saya, saudara kembar istri saya" ucap Azka lurus


"Apa?" Hanan terkejut dengan pernyataan Azka yang di dengar nya.


"Kenapa mas?" tanya Azka heran mendapati reaksi Hanan yang baginya lucu


"Jadi Keisya itu kembar? saya kira Keisya itu istri tuan muda" ucap Hanan dengan polosnya.


"hahahaha jadi mas sudah kerja sebulan di perusahaan istri saya belum tahu nama aslinya pemilik perusahaan?" Azka tersenyum


"I...iya pantas saja waktu pertama kali saya datang ke kampus saya pikir istri tuan muda itu Keisya tetangga baru depan rumah saya"


"Oowh jadi mas Hanan sudah kenal Keisya sebelumnya?"


"Nggak kenal cuma lihat karena rumah Arini depan rumah saya"


"Ooh gitu, sekarang udah tahu kan, kalau Keisya itu kembar, istri saya Kinara, Keisya itu adik kembarnya, lain kali jangan salah mengenali ya mas, oh ya panggil Azka aja mas jangan tuan muda, kita cuma beda setahun doang kok"


"Ii...iya tuan, eh Azka "


Tak lama kemudian dokter Djafri keluar dari ruang IGD dengan raut wajah sedih. ia menatap Kinara dan Azka bergantian lalu tatapannya beralih pada sosok ibu paruh baya yang bersama mereka.


"tuan muda bisa kita bicara?"tanyanya pada Azka


",Bisa dok"


"Baik kita bicara di ruangan saya saja"


"Dok, adik saya baik-baik saja kan?" tanya Kinara dengan raut wajah khawatir


Dokter Djafri menarik nafas berat lalu menatap Kinara lekat, ada rasa kasihan pada sosok wanita muda di depannya.


"Nona muda baik-baik saja, temannya masih belum siuman, beruntung dia masih sadarkan diri sesaat setelah kecelakaan tapi setelahnya pingsan hingga sekarang belum siuman, begitu juga dengan sopirnya Alhamdulillah hanya luka kecil di bagian kepala tapi tidak menyebabkan luka dalam" ujar dokter Djafri pelan..


"Syukurlah, boleh saya masuk dok?"


Kinara menelan kecewa saat dokter Djafri melarangnya masuk melihat Keisya. tapi Bu Fitri langsung memeluknya erat agar Kinara merasa tenang.


Reno yang sejak tadi hanya duduk diam menyimak akhirnya angkat bicara "Sebaiknya Lo pulang deh Ra, biar Keisya gue yang jaga sampai tuan besar dan kak Revan datang lagian acaranya juga udah mau selesai kok"


"Nggak bisa Ren, gue belom tenang kalau belum lihat Keisya hiks hikss"


"Ya udah kalau Lo kekeuh nggak mau pulang biar ibu gue yang jagain Lo disini, Lo bisa istirahat di ruang kerja Lo sendiri kan?"


"Iya" Kinara hanya menjawab singkat, meskipun ia memilih pulang rasanya berat terlebih Azka tidak ada bersamanya.


Ibu Fitri akhirnya menuntun Kinara berjalan ke ruang kerjanya yang ada di lantai lima. tak berselang lama azka juga keluar dari ruangan dokter Djafri dengan wajah kusut dan sedih.


"Gimana Ka?" tanya Reno khawatir


"Keisya kemungkinan untuk bisa bangun belum dapat dipastikan, kepalanya terbentur benda keras saat mobil terguling, dan ia mengalami luka gesekan aspal yang cukup parah di kaki kanannya beruntung tidak ada luka dalam. kemungkinan akibat trauma di masa lalu membuat kondisi psikis nya dalam tekanan berat hingga membuatnya...." ucapan Azka berhenti, ada sesak saat ingin mengatakan hal sebenarnya karena ia takut dengan kondisi kesehatan Kinara jika mendengar tentang Keisya.


"Kenapa Ka?" tanya Reno penasaran


"Keisya koma"


Deg


"Tidak mungkin" teriakan itu menggema di lorong IGD. suara itu tidak lain adalah tuan Wibowo yang datang bersama besannya, Tante Ratih, serta Revan dan Lutfiah.


"Anakku tidak mungkin...anakku... Keisya jangan tinggalkan ayah nak" tangis tuan Wibowo akhirnya pecah di depan pintu IGD.


"Ayah sudah kita berdoa semoga Allah kasih keajaiban untuk Keisya" ucap Revan memeluk sang ayah yang menangis histeris.


"Ayah belum bisa bahagiain adikmu Van, ibu mu pasti kecewa karena ayah tidak menepati janji, ayah belum sanggup kehilangan lagi Van" tuan Wibowo meracau di pelukan Revan.


Semua orang menatap iba pada tuan besarnya yang terkenal sabar dan murah hati itu. tanpa mereka sadari air mata menggenang di sudut mata mereka. bahkan Hanan yang terdiam setelah percakapan singkat nya dengan Azka juga ikut menangis karena haru.


Pakde Rowi dan istrinya juga ikut menangis karena hari ini hari bahagia untuk keluarga mereka namun harus mendapati musibah seperti ini.


Azka menuju keruang kerja sang istri setelah Reno memberitahu nya. Azka berjalan gontai dengan pikiran kacau tak karuan. ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Kinara tentang kondisi Keisya sebenarnya.


Tuan Wibowo duduk di kursi tunggu depan pintu UGD. kecemasan mendalam serta rasa bersalahnya satu Minggu yang lalu saat Keisya merengek minta ikut namun tuan Wibowo menolak dengan lembut karena merasa tidak enak dengan pak kyai meskipun pak kyai sendiri mengizinkan. Baru sebulan lebih Keisya masuk pesantren harus izin dua Minggu lebih untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya. sudah pasti ia akan ketinggalan pelajaran lebih jauh lagi.sedangkan peraturan di pesantren santri hanya diberi izin paling banyak 3-4 hari saja.


Seorang perawat perempuan keluar dari ruang IGD.


"Sus bagaimana anak saya?"


"Tuan besar" perawat itu menunduk memberikan hormat lalu setelahnya menjawab" Nona muda masih kritis tuan, kalau temannya sudah siuman".


"Arini sudah siuman sus?" Hanan menyahut dengan wajah lega


"Apa tuan keluarga nya?"


"Saya tetangga depan rumahnya sus"


"Arini keponakan saya sus, boleh saya masuk untuk melihat mereka?" tanya tuan Wibowo


"Silahkan tuan, tapi hanya satu orang saja saat ini"


"Baiklah terimakasih sus, Van temui dokter Djafri di ruangannya" ucapnya pada Revan.


Hanan mengucap syukur jika kondisi Arini sudah sadar, tapi Keisya dan seorang sopir mereka masih belum sadarkan diri. semoga saja Tuhan memberi mereka berkah dan kesempatan untuk masih melihat dunia.